
Lucifer tertidur di meja makan dirumah Sena setelah usai bercerita. Saat kembali dari dapur membawa sepanci sup ayam didapati oleh Sena Lucifer yang membenamkan wajahnya di meja itu. Sena meletakkan panci sup itu di atas meja lantas mendekati Lucifer memastikan bahwa ia benar-benar tidur.
"Ternyata iblis juga bisa tertidur" Sena melambai-lambai kan tangannya didepan wajah Lucifer namun pria itu sama sekali tak berkutik.
Sena melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 10 malam. Sontak ia membulatkan matanya lalu kembali menatap Lucifer yang masih tertidur di meja makannya itu. Bagaimana bisa Sena membawa seorang pria datang kerumahnya. Tak peduli apapun yang terjadi hari ini yang menyebabkan Lucifer sampai ke rumahnya, tapi sebaiknya Lucifer harus segera pergi sekarang.
"Luc-...Shigesada..." Sena menggoyang-goyangkan bahu Lucifer berniat membangunkan pria itu.
Lucifer bergerak, lantas kepalanya terangkat perlahan setelah menyadari seseorang membangunkannya.
"Sudah malam, bukankah sebaiknya kau pulang?" Sena tidak enak mengatakan itu karena terkesan seperti mengusir Lucifer. Tapi ia terpaksa melakukan itu.
Lucifer tak berkata apapun. Pulang? Kemana dia harus pulang?. Selama 100 tahun sejak ia datang ke dunia manusia Lucifer selalu mengembara tak tentu arah. Pulang ke Devildom? Itu tidak mungkin Lucifer lakukan sekarang jika tidak ingin mati di tangan raja Diavolo, ayahnya sendiri. Lucifer yakin penghianatan nya telah terbongkar sejak lama. Hal itu Lucifer sadari sejak kedatangan Nost dan juga Satan. Terlebih lagi Satan mengatakan bahwa Leviathan dan lainnya sedang bersiap-siap untuk mencari Lucifer.
Sena mengusap tengkuknya, ia merasa tidak enak namun tak bisa menyarankan apapun juga. Ia juga bertanya-tanya kemana pria iblis ini akan pulang, apakah ia memiliki rumah sejak datang ke dunia manusia?.
"Dimana kau tinggal?" Akhirnya Sena memberanikan diri menanyakan itu.
Lucifer menoleh pada Sena, ia tak mengatakan apapun. Sebaliknya tatapan itu seolah mengatakan bahwa 'apakah gadis ini tak mengerti apa yang aku ceritakan?'.
"Ah! Em-... Iya iya, kau tidak mungkin pulang ke Devildom, aku mengerti" Sena menyeringai masam. Ia semakin merasa tidak enak, ia tak menyangka ternyata iblis juga sangat sensitif.
Lucifer kemudian beranjak dari duduknya. "Aku akan pergi" Lucifer sudah mengeluarkan kembali sayapnya, sekarang ia sudah menghadap jendela untuk segera terbang.
"Eh! Tunggu dulu!" Suara Sena tak dihiraukan oleh Lucifer lantas iblis itu telah terbang menjauh meninggalkan rumah Sena.
"Huh! Setidaknya lewat pintu, mengapa harus lewat jendela!" Sena mengomel sendirian setelah Lucifer hilang dari pandangan matanya. Sena berbalik menatap panci sup yang ia taruh di atas meja lantas meraihnya.
"Sup nya jadi sia-sia. Tapi, aku membuat ini, apakah dia bisa memakannya?" Sena menepuk jidatnya sendiri. Sungguh ia merasa semakin gila sejak bertemu Lucifer. Bagaikan terjebak di dunia fantasi, namun semua ini sungguh nyata.
-
Kring!...
__ADS_1
Lonceng pintu bar kafe itu berbunyi untuk kesekian kalinya. Sudah tengah hari pelanggan semakin banyak. Wajah Sena terlihat lesu saat ia mengelap gelas-gelas yang sudah ia cuci sebelumnya. Bukan karena kelelahan akibat pelanggan yang semakin banyak, namun ia lelah berkutat dengan pikirannya. Pagi ini sena bangun seperti biasa, namun segera ia mengingat kejadian-kejadian yang telah ia alami semalam. Lagi-lagi pikirannya mengajaknya berpikir bahwa itu semua hanya mimpi, tapi naluri Sena menolak sebaliknya mengatakan bahwa itu semua adalah kenyataan. Oleh karena itulah, Sena memutuskan jika ia bertemu Lucifer atau Satan lagi hari ini, maka semua itu bukanlah mimpi. Namun hingga saat ini, saat matahari tepat berada di tengah-tengah bumi, tidak ada tanda-tanda bahwa ia akan menemui kedua mahkluk itu lagi. Sena berkali-kali menepuk jidatnya seraya menyunggingkan senyum meremehkan pikirannya. Orang yang sangat realistis seperti Sena sangat sulit mempercayai hal semacam itu.
"Tidak mungkin, sudahlah" Sena bergumam sendiri.
"Apanya yang tidak mungkin?" Suara Kana mengejutkan dirinya hingga tangannya hampir terpeleset melepaskan gelas yang ia pegang.
"Huh! Kana kau mengagetkan ku" Sena mendengus kesal.
"Apa terjadi sesuatu? Aku Perhatikan sejak pagi kau tidak fokus"
"Apa terlihat seperti itu? Aku hanya sedang memikirkan sesuatu"
"Hm? Kau bukan tipe orang yang mudah stress karena pikiran, Sena. Beri tau aku, apa yang membuatmu tidak fokus?"
"Kau tau? Kemarin aku-..."
Kring!...
Lonceng pintu bersuara kembali disertai suara seseorang yang sangat mereka kenali. Itu Shigeyo, dia datang lagi.
"Kopi dingin, Tuan?" Kana menghampiri Shigeyo yang sudah duduk beberapa saat yang lalu.
"Kau sudah hapal, nona" Shigeyo terkekeh menanggapi akting Kana yang seperti kepala pelayan yang setia.
Segera Kana mengisi gelas dengan es batu dan segera berjalan ke mesin kopi. Setelah siap ia langsung menyajikan kepada pelanggan tampannya itu. Tunggu, ya baiklah, Shigeyo memang tampan.
"Hm? Ada apa dengan temanmu itu?" Shigeyo mengalihkan perhatian pada Sena yang masih sibuk dengan gelas-gelas basah itu dengan wajah yang masih kusut.
Kana mengangkat bahunya, ia tidak tau. Namun segera Shigeyo menggoda Sena.
"Hei hei, penolakan sekali saat pertama kali mengungkapkan perasaan itu adalah hal yang wajar, kawan. Jangan hancurkan masa muda mu dengan romansa cinta yang seperti itu"
Segera Sena melempar lap yang ia gunakan untuk mengelap gelas ke wajah Shigeyo yang sibuk mengoceh. Shigeyo bahkan tak mengerti permasalahannya. Ya, tapi bukan Shigeyo namanya jika tidak seenaknya saja menebak. Shigeyo mengusap wajahnya yang dilempar lap oleh Sena lalu mengerucutkan bibirnya kesal.
__ADS_1
"Wajah tampanku terlalu berharga untuk dilempari seperti ini!" Shigeyo mengembalikan lap itu kepada Sena dengan melemparnya kembali. Kana hanya diam memperhatikan kedua temannya ini.
Kring!...
Untuk kesekian kalinya lonceng pintu kembali bersuara. Kali ini Kana yang menyambut karena ia tau Sena sedang di suasana hati yang buruk.
"Selamat datang!"
Pria itu masuk dan memesan langsung ke meja kasir. Kana membisu setelah melihat siapa pelanggan mereka ini.
"Teh melatinya satu" Ucap pelanggan itu setelah mencapai meja kasir.
Menyadari Kana yang tak bersuara lagi setelah itu, Sena membalikkan badannya memeriksa apakah temannya itu masih hidup atau tidak. Namun ia juga membisu kala melihat pelanggan mereka. Itu... Satan?!. Pantas saja Kana terdiam, sejak kemarin ia selalu memuja pria tampan ini.
Satan terlihat tersenyum kepada Sena seolah mengatakan 'kita bertemu lagi'.
"Wah! Apakah reaksi kalian selalu seperti itu saat melihat pria tampan?" Kini Shigeyo bersuara setelah melihat reaksi dari teman-temannya terhadap pelanggan itu.
Tidak, tidak, tidak. Sena mengerjapkan matanya berkali-kali memastikan bahwa ini bukan ilusi. Jadi yang ia alami sejak dua hari belakangan ini bukanlah mimpi?!. Satan sungguh nyata, itu artinya Lucifer juga nyata.
Kana segera menyiapkan pesanan Satan sementara Sena masih mematung. Satan tersenyum sekilas lalu segera duduk di bangku samping Shigeyo karena seluruh meja telah penuh. Shigeyo menatap Satan penuh selidik, ia merasa asing bahkan tak pernah melihat pria ini sebelumnya.
"Mengapa kau sangat tampan daripada aku?" Kalimat Shigeyo membuat Satan menoleh lalu menanggapi dengan senyuman tipis. Hal itu membuat Kana semakin tak karuan. Senyuman Satan sungguh membuatnya merasa terbang.
Tak lama kemudian Kana datang dengan nampan berisi teh melati yang dipesan oleh Satan.
"Kau sangat menyukai teh melati, ya?" Kana berusaha basa-basi untuk memulai pembicaraan pada pria idamannya ini. Basa-basi Kana hanya ditanggapi senyum oleh Satan. Walaupun begitu, Kana senang bukan kepalang.
"Aku Shigeyo, jika kau berteman denganku, kau akan mendapat banyak penggemar" Shigeyo menyodorkan tangannya didepan Satan. Entah apa yang membuatnya ingin berteman dengan pria yang baru saja ia temui ini. Shigeyo mulai serakah jika ia memiliki teman tampan seperti Satan, ia akan mendapat lebih banyak penggemar wanita.
"Berhenti menganggu pelanggan seperti itu!" Sena datang setelah beres dengan gelas-gelasnya. Shigeyo dan Kana mengerucutkan bibir dimarahi oleh Sena.
"Apa kabarmu, Sena?" Satan tersenyum menatap Sena. Mata Sena membulat saat Satan berkata seperti itu. Apa yang Satan pikiran? Mengapa ia malah menyapa Sena didepan teman-temannya seperti ini?!. Apa yang akan Sena katakan.
__ADS_1
'Dasar iblis! Persetan kau, Satan! Tidak bisakah kau pura-pura tidak mengenaliku?!' Batin Sena.
Ingatan Satan cukup kuat untuk mengingat dirinya, bahkan Satan mengingat nama Sena walaupun belum pernah berkenalan. Hanya mendengar dari Lucifer.