CELESTIEAL RAY "Loving You Is A Sin"

CELESTIEAL RAY "Loving You Is A Sin"
MENCINTAIMU ADALAH DOSA


__ADS_3

Lilith telah menaiki mimbar kematian. Ezekiel tak mampu melihat adiknya yang berdiri di atas mimbar itu. Ingin rasanya dia terbang lalu membawa Lilith pergi dari sana sejauh mungkin. Namun hal itu tak mungkin ia lakukan.


Pidato raja Victorus telah berakhir beberapa menit yang lalu. Tangan, sayap dan kaki Lilith sudah diikat sedemikian rupa. Matanya juga ditutup dengan selendang putih. Raja Victorus telah mengangkat tongkat nya untuk memanggil awan kematian. Terlintas keraguan diwajahnya kala ia mengangkat tongkatnya namun segera ditepis oleh pikirannya.


Seketika langit menghitam dan suara petir terdengar berkali-kali. Tubuh Ezekiel serasa akan ambruk saat mendengar petir yang saling bersahutan seolah siap menerkam tubuh Lilith. Tak hanya Ezekiel, keenam saudara Lilith tak mampu melihat adiknya terikat sendiri di atas mimbar itu. Yang bisa mereka lakukan sekarang hanyalah menutup mata mereka. Mereka tak ingin melihat hal yang tak akan pernah bisa mereka lupakan.


Di tengah-tengah upacara hukuman mati Lilith,  Lucifer datang menyerang para malaikat yang menghadiri upacara tersebut untuk membuat keributan agar bisa membawa Lilith pergi dari sana. Ia terbang mengitari mimbar kematian tempat Lilith berada. Seketika upacara tersebut menjadi terganggu karena keributan yang dilakukan oleh Lucifer.


Tentu saja hal itu membangkitkan kemarahan Raja Victorus. Ia tak percaya Lucifer masih memiliki keberanian menunjukkan rupanya setelah menerima jiwa dari Lilith.


"Lucifer!"


   


Ezekiel dan keenam saudaranya yang lain berusaha menghentikan Lucifer yang terus menyerang rakyat Celestial Ray. Ezekiel menciptakan penjara untuk mengurung Lucifer tanpa peduli Lucifer memberontak. Lucifer berkali-kali melempar kekuatannya pada besi-besi yang mengitarinya itu namun hal itu sia-sia. Penjara yang diciptakan oleh Ezekiel terlalu kuat.


Bersamaan dengan itu Raja Diavolo datang bersama dengan keenam putranya yang lain. Mereka mengikuti Lucifer yang tiba-tiba pergi saat berhadapan dengan raja Diavolo untuk menjelaskan segala hal yang dialami oleh Lucifer. Namun Lucifer pergi begitu saja saat belum selesai menceritakan semuanya.


Melihat Lucifer yang diperlakukan buruk oleh Ezekiel dan keenam putra Ray yang lain, Raja Diavolo murka dan menciptakan kekacauan di sana. Ia menyangka bahwa mereka sengaja menyerang Lucifer karena peristiwa yang telah terjadi antara Lilith dan Lucifer.


Leviathan, bersama dengan kelima saudaranya yang lain mencoba membantu Lucifer dari perangkap yang diciptakan oleh Ezekiel. Terjadi lah perang besar di tanah Royale tempat upacara hukuman mati Lilith.


   


Lucifer berhasil keluar dari perangkap Ezekiel karena bantuan dari saudara-saudaranya. Bentuk mereka sudah berubah. Sayap hitam bangsa iblis sudah merekah, tanduk mereka bermunculan tanda mereka sudah siap menyerang, inilah bentuk sesungguhnya. Hal yang sama juga terjadi terhadap bangsa malaikat, sayap putih bersih dan berkilau membentang tanda mereka siap dengan serangan ini.


   


Sementara saudara -saudara dan ayahnya berperang, Michael Luke, putra keenam Raja Victorus menyelamatkan Lilith dari mimbar kematian. Ia segera membawa Lilith terbang menjauh dari sana, inilah kesempatan baginya untuk membebaskan Lilith dari hukuman mati ini.


Saat membawa Lilith terbang untuk segera menjauh dari medan perang, sayap Luke terkena serangan oleh Asmodeus, putra kelima Raja Diavolo. Itu membuat Luke kehilangan keseimbangan dan Lilith terlepas dari pelukannya. Mereka berdua terjatuh dan terpisah cukup jauh.


"Luke! Lilith!"


Ezekiel melihat itu dan segera terbang untuk menyelamatkan Luke. Saat sudah mendapatkan Luke, ia berusaha terbang secepat mungkin untuk dapat meraih Lilith yang hampir mencapai tanah. Hanya sedikit lagi Ezekiel akan meraih Lilith, namun kilat merah secepatnya melesat didepan matanya. Ezekiel terpejam karena silau kilat yang menyakiti matanya. Namun, setelah ia membuka kembali matanya, didapatinya Lilith dengan cairan merah yang memenuhi sayap dan gaun putih indah miliknya.


"Li-lith!... Adikku.." Ezekiel senyap melihat hal yang terjadi begitu cepat didepan matanya. Cengkraman tangannya kepada tubuh Luke semakin kuat. Ezekiel kemudian kehilangan keseimbangan lalu jatuh bebas bersama Luke. Sayapnya terasa lemas dan tak sanggup untuk terbang.


Benda yang menancap di dada Lilith, itu adalah anak panah milik Satan putra keempat Raja Diavolo. Satan telah membidik Lilith dari bawah sana. Sekejap perang terhenti setelah melihat Lilith yang jatuh bebas di udara. Raja Victorus menjadi kaku tak percaya. Putrinya telah tiada namun bukan karena hukuman mati yang ia jatuhkan. Seketika hatinya terasa sesak melihat Lilith yang jatuh bebas di udara. Ada perasaan menyesal yang amat mendalam yang dirasakan oleh raja Victorus.


"Tidak! Lilith!"


Lucifer segera terbang untuk meraih Lilith. Didapatinya Lilith yang sudah tak bernyawa saat sudah berada di pangkuannya. Sayap putih indah milik Lilith perlahan menghilang meninggalkan bulu putih yang berterbangan. Lucifer tak kuasa menahan tangis.


"Tidaaakkk!!!! Aaaaahhhrrggg!!!!" Lucifer memeluk tubuh dingin Lilith yang sudah tak bernyawa. Ia tak percaya Lilith meninggalkannya tanpa kata-kata sepatah pun.


Melihat itu Raja Diavolo semakin murka. Ia segera memerintahkan Leviathan dan Mammon untuk segera menarik Lucifer untuk menjauh dari Lilith, jika tidak Raja Victorus akan segera menyerangnya.


Lucifer memberontak saat Mammon dan Leviathan menariknya untuk menjauh dari Lilith. Namun segera Satan, Asmodeus, Beelzebub dan Belphegor membantu lalu segera membawa Lucifer pergi dari sana.


Semua bangsa iblis telah meninggalkan tanah Royale. Tak ada pemenang atau kekalahan di perang ini. Perang yang terjadi karena kesalahpahaman. Raja Victorus mengira Lucifer datang untuk sengaja menyerang rakyat Celestial Ray atas perintah dari Raja Diavolo. Dan raja Diavolo merasa murka saat melihat Lucifer diperlakukan buruk oleh rakyat Celestial Ray saat mereka datang.

__ADS_1


   


Seperti itu perang usai. Lilith meninggal bukan karena hukuman mati yang dijatuhkan oleh ayahnya, melainkan sebagai korban perang antara dua kerajaan besar di tanah Royale ini. Kisah cinta terlarang antara Lilith dan Lucifer harus berakhir tragis meninggalkan dendam antara kedua bangsa mereka.


   


Tragedi yang menimpa putri bungsunya ini, membuat Raja Victorus menyesali perbuatannya dan bersumpah untuk tidak akan pernah bersekutu dengan bangsa iblis. Dan ini menjadi awal mula permusuhan antara Celestial Ray dan Devildom.


_


_


_


Kematian Lilith Rachet menyebabkan duka mendalam terhadap kerajaan Celestial Ray yang memicu penutupan diri oleh Raja Victorus Ray dari dunia luar. Semua sistem kerajaan ditutup hingga tak sedikitpun berhubungan dengan dunia luar. Tak ada hal lain yang boleh dilakukan selain berduka. Rakyat Celestial Ray dituntut untuk menanam bunga higanbana disetiap halaman rumah mereka. Itu sebagai simbol kedukaan atas meninggalnya keturunan terakhir Celestial Ray. Warna merah pada bunga itu menandakan sebagai darah suci Lilith yang terbuang sia-sia. Hal tersebut membuat keenam putra bersaudara merasa sedih dengan keputusan ayah mereka. Mereka juga menyesal atas kepergian Lilith yang sangat diluar dugaan mereka.


    


Ezekiel tak bisa tinggal diam. Hal yang menimpa kerajaannya ini merupakan hal yang tak bisa diacuhkan begitu saja. Ezekiel memutuskan untuk menemui rekannya yang berasal dari Witcher realm. Itu adalah dunianya para penyihir. Ia meminta Elfa Secioria untuk mengembalikan jiwa Lilith yang sudah menghilang.


"Kau ingin menghidupkan kembali Lilith?" Elfa. Sosok penyihir yang rupanya sama sekali tidak indah namun ia tak seburuk itu. Hidung nya yang mancung bak penyihir jahat, telinga lancipnya beserta rambut putihnya. Elfa adalah penyihir yang memiliki hubungan yang sangat baik dengan Celestial Ray. Dia memiliki hubungan dekat dengan tiap anak dari raja Victorus termasuk Lilith.


"Aku yakin kau sudah mengetahui beritanya". Ezekiel duduk di bangku kayu dekat tungku perapian milik Elfa. Di atas tungku itu terdapat kuali besar yang berisi entah ramuan apa. Ezekiel juga tak tertarik untuk menanyakan, bukankah benda seperti itu wajar ditemukan di kediaman para penyihir?.


"Aku turut sedih atas kepergian Lilith. Dia malaikat yang sangat besar hati, tapi aku juga tidak menyangka ia juga bisa melakukan dosa besar seperti itu. Apakah Lucifer-..."


"Elfa! Aku tidak datang untuk membahas Lucifer" Ezekiel memotong perkataan Elfa sesegera mungkin saat nama Lucifer dituturkan.


"Tuan muda, aku tidak bisa membantumu"


Mendengar penuturan Elfa, Ezekiel berdiri dari duduknya.


"Mengapa?! Kau bisa melakukan segala hal!" Ezekiel meninggikan suaranya hingga penyihir-penyihir yang lalu lalang di depan rumah Elfa dapat mendengar suara Ezekiel dari luar sana.


"Aku mungkin bisa melakukan segalanya tapi aku tidak bisa menghidupkan jiwa yang sudah tiada, tuan muda. Para malaikat juga sama halnya, bukan? Kalian hampir bisa melakukan segala hal tapi satu, jangan hidupkan jiwa yang sudah tiada. Itu mutlak dan tak bisa dilanggar. Kami juga memiliki peraturan yang sama di Witcher Realm. Tuan muda Ezekiel Elliott, dengan hormat aku mengatakan padamu bahwa aku tidak bisa melakukan apapun, tuan."


Mendengar perkataan Elfa, untuk kesekian kalinya Ezekiel merasa gundah. Apakah ia benar-benar tidak bisa melakukan apapun lagi? Apakah ini adalah takdir yang harus diterima?. Jika ini memang sebuah takdir sulit rasanya mempercayai kepergian Lilith. Semua yang Elfa katakan adalah kebenaran, jika saja Lilith berpikir sama seperti Elfa saat ini, mungkin ia tidak harus mengalami ini.


Ezekiel terduduk kembali di bangku itu seraya mengusap wajahnya. Hatinya benar-benar terasa kacau. Mengembalikan jiwa Lilith adalah suatu kesalahan besar, ini adalah dosa besar yang tidak boleh dilakukan oleh para malaikat seperti mereka. Sebagai putra tertua Ezekiel sangat bimbang. Namun disisi lain ia tidak tega melihat sikap tertutup ayahnya. Tapi jika seandainya ia melakukan ini sendiri, menghidupkan kembali Lilith, ia akan  menjadi penghianat besar bagi Celestial Ray. Ia tak ingin kekecewaan ayahnya terjadi dua kali.


    


Ezekiel pulang dengan perasaan bimbang. Diam-diam ia mengambil keputusan dihatinya. Dia akan menyerahkan separuh jiwanya kepada Lilith, sama seperti yang Lilith lakukan kepada Lucifer. Ia tau itu adalah pelanggaran dan penghianatan. Tapi tidak ada hal lain yang bisa dipikirkan oleh Ezekiel saat ini. Namun tetap, ia akan membicarakan hal ini kepada saudara-saudaranya.


Kembalinya Ezekiel dari Witcher Realm disambut oleh seluruh saudaranya. Mereka telah menanti cerita dari Ezekiel. Mereka berkumpul di ruang utama kastil mereka.


"Elfa tidak bisa membantu kita"


Kalimat Ezekiel ditanggapi dengan ekspresi kecewa dari masing-masing mereka. Sungguh ini sangat mengecewakan. Suasana hening setelah penuturan Ezekiel, mereka tak tau harus berkata apa. Protes pun tak akan membantu, karena mereka juga mengerti mengapa Elfa tak bisa membantu mereka. Mereka tak bisa melayan keegoisan mereka.


"Aku sungguh baik-baik saja". Luke bersuara setelah beberapa saat kemudian. Pandangan tertuju pada putra keenam yang sangat dekat dengan Lilith itu. Mereka mengerti apa yang Luke rasakan bahkan lebih sakit daripada yang mereka rasakan. Luke dan Lilith seperti satu jiwa yang menyatu.

__ADS_1


"Jika Lilith benar-benar tidak bisa kembali, aku akan mencoba untuk menerimanya. Lilith akan selalu ada di hatiku, dia tidak akan pernah hilang" Luke melanjutkan perkataannya.


Kalimat Luke semakin membuat mereka merasa sakit. Hati mereka sangat sesak, mereka paham betul apa yang Luke rasakan.


"Ezekiel, aku menghargai usahamu untuk mengembalikan Lilith. Tapi kita bukan tuhan. Biarkan Lilith pergi dengan tenang. Lilith tidak akan pernah hilang, dia selalu ada di hati kita semua". Walaupun berkata seperti itu namun air mata Luke tak bisa ia tahan. Bulir bening itu mulai berjatuhan di pipinya.


Raphael yang duduk disampingnya menyentuh pundak adiknya itu, ia berusaha menguatkan Luke. Ezekiel berdiri lalu berjalan mendekati Luke.


"Aku minta maaf, andai saat itu aku bisa lebih cepat, Lilith tidak akan meninggalkan kita"


Ia memeluk Luke. Bukan Lilith yang ada di pelukannya saat ini, namun Ezekiel bisa merasakan sisa-sisa aroma Lilith saat memeluk Luke.


"Aku tau ini akan membutuhkan waktu yang sangat lama, tapi kita harus melangkah maju. Lilith akan sedih jika kita terus meratapi kepergiannya". Eden, putra keempat kali ini ikut menguatkan hati yang hancur di ruangan ini.


Perkataan Eden ditanggapi dengan anggukan dari saudara-saudaranya.


Mereka mendekat pada Ezekiel dan Luke lalu memeluk mereka. Ruangan yang biasanya selalu dipenuhi tawa dan candaan itu sekarang terasa sangat sendu dan dingin. Ruangan tempat mereka menghabiskan waktu bersama, bercanda dan menjahili satu sama lain. Berbagi kasih sayang dan cerita.


-


Ezekiel berjalan menyusuri lorong menuju kamar ayahnya. Ia ingin memastikan keadaan ayahnya.


"Ayahanda, aku datang untuk bicara denganmu"


Ezekiel mengetuk pintu kamar ayahnya namun tak ada sahutan. Ezekiel menghela napas pelan lalu segera ia raih gagang pintu indah itu lalu pintu terbuka.


Didapatinya ayahnya sedang tertidur pulas di tempat tidur bak singgasana itu. Ezekiel tersenyum tipis. Ia senang ayahnya istirahat setelah beberapa hari tidak tidur. Namun saat akan beranjak pergi, Ezekiel mendengar suara ayahnya yang menyebut nama Lilith.


"Lilith... Maafkan ayah" Suara ayahnya lirih. Tangis Ezekiel tak tertahankan melihat ayahnya yang menyebut nama Lilith di tidurnya.


Ezekiel bisa melihat penyesalan yang sangat mendalam pada wajah ayahnya yang sudah tak muda lagi. Kerutan di wajah ayahnya menambah kesedihan Ezekiel tatkala membayangkan jika pria yang sangat ia sayangi ini pergi suatu saat nanti. Ayahnya sudah berjuang keras untuk Celestial Ray. Ia dikenal pemimpin yang adil dan ramah terhadap semua rakyat Celestial Ray. Ezekiel sangat mengangumi ayahnya ini. Ezekiel bermimpi untuk menjadi seperti ayahnya, pemimpin yang akan melakukan segala hal untuk rakyatnya. Namun Ezekiel seolah ditampar oleh kenyataan bahwa bahkan saat ini ia tak bisa melakukan apapun saat Celestial Ray membutuhkan sosok pemimpin.


Ezekiel berjalan meninggalkan kamar ayahnya dengan pipi yang basah. Ia kemudian masuk ke kamar Lilith. Masih bisa ia rasakan kehadiran Lilith dikamar itu, segala hal yang ia lihat disana seolah seperti Lilith sedang menyambut kedatangannya. Tangisan Ezekiel sungguh tak bisa ia tahan lagi. Tangisannya pecah kala dia terduduk di kasur milik Lilith dan membenamkan wajahnya di telapak tangan nya. Sesekali bayangan menyakitkan saat ia tak bisa menggapai Lilith di medan perang itu melintas di kepalanya yang membuat ia semakin menyesal.


"Lilith... Maafkan aku. Aku sungguh bukan kakak yang baik untukmu"


Ezekiel telah berdiri di dekat jendela kamar Lilith, melepas pandangannya pada pemandangan Celestieal Ray yang terhampar dari kamar Lilith. Kerajaan ini telah berubah total, tanahnya berubah menjadi merah karena bunga higanbana yang ditanam oleh seluruh rakyat.


Perasaan Ezekiel tak tertahankan, walaupun saudara-saudaranya telah memutuskan untuk merelakan kepergian Lilith, ia tau bahwa tak ada satupun dari mereka yang bisa menerima itu. Ia memutuskan untuk menemui Elfa lagi dan meminta cara lain. Kali ini ia sungguh tak peduli jika ia memang harus berhianat sekalipun. Keputusan Ezekiel sudah bulat. Ia mencengkram pinggiran jendela kamar Lilith menatap Celestial Ray yang terhampar didepannya saat ini.


"Ezekiel".


Suara itu membuat Ezekiel menoleh. Suara yang ia kenali. Itu adalah Sebastian, kepala pelayan sekaligus tangan kanan ayahnya.


"Aku akan segera mengunci kamar Lilith, segala hal yang ada dikamar ini akan ditutup dengan kain putih. Itu adalah perintah Raja" Sebastian melanjutkan perkataannya.


Ezekiel mengangguk mengerti, kamar Lilith akan segera menjadi ruangan putih tak berpenghuni.


"Pastikan kau menutupnya dengan baik, Sebastian" Ezekiel tersenyum tipis menyentuh bahu Sebastian.


Sebastian membungkuk memberi penghormatan lalu Ezekiel segera meninggalkan kamar Lilith membawa keputusan yang telah ia putuskan sendiri.

__ADS_1


    


__ADS_2