
"Lilith Rachet..."
Lagi-lagi suara yang berasal dari mimpi Sena membuatnya terbangun. Suara aneh yang tidak ia kenali. Ia selalu lupa dengan suara itu kala matanya terbuka namun terus mencoba mengingat apa yang telah ia dengar di mimpinya. Sekuat apapun Sena mencoba mengingat, tak sedikitpun melekat di ingatannya tentang suara di mimpi itu. Tubuh Sena bermandikan keringat, bajunya menjadi basah karena keringatnya. Ia seperti mengalami mimpi buruk yang nyaris tak bisa membuatnya terbangun lagi. Mimpi apa, Sena tak bisa mengingatnya. Selalu seperti itu, namun Sena lebih memilih untuk mengabaikannya.
Pagi ini Sena tak pergi bekerja, ia menjalani shift malam hari ini. Jadi ia memutuskan untuk pergi ke toko mencari boneka kutukan terkuat yang dimaksud oleh Satan. Shigeyo sempat menghubunginya untuk menonton film dirumahnya bersama Kana namun Sena harus menolaknya dengan alasan sibuk. Misinya hari ini lebih penting daripada menonton film.
Sena menaiki bis untuk mencapai pusat kota. Ia sudah memasuki 3 toko untuk mencari boneka itu namun sejauh ini tak ada hasil yang ia dapatkan. Sekarang Sena sedang menuju toko keempat kala ia turun dari taksi itu. Ia mulai merasa sedikit kelelahan, apakah Satan atau Lucifer sama sekali tidak ada niat untuk membantunya dalam hal ini? Setidaknya mudahkan Sena melakukan misi ini. Bicara tentang Lucifer, Sena kembali teringat pertemuan terakhirnya dengan iblis itu kemarin. Ia berpikir apakah Lucifer marah padanya? Hari ini ia masih belum melihat Lucifer. Lupakan soal Lucifer, Sena merasa bahwa apa yang ia lakukan saat ini adalah benar.
Sena berjalan menuju lift untuk menuju lantai atas dari toko itu. Ia sudah menyusuri setiap sudut lantai bawah namun tetap tidak ia temukan boneka yang ia cari. Seseorang terlihat berdiri didepan lift mematung hingga membuat pintu lift terus terbuka dan tertutup karena pria itu tidak masuk ataupun pergi.
"Permisi, apa kau akan masuk?" Sena berdiri di samping pria yang masih tak bergerak itu. Penampilannya seperti anak muda seumurannya pada umumnya, kacamata yang ia gunakan membuat Sena menebak bahwa ia seorang mahasiswa yang teladan. Ya, kira-kira seperti itulah kesan Sena terhadap orang berkacamata. Teladan.
Pria itu tak bergeming sama sekali melainkan hanya menatap pintu lift yang terus terbuka dan tertutup berulang-ulang. Sena tak memperdulikannya lalu masuk ke dalam lift. Ia belum menekan tombolnya menunggu apakah pria itu juga akan masuk atau tidak.
"Apa kau akan masuk?" Sena bertanya sekali lagi.
"Mengapa pintunya bergerak sendiri?" Apa katanya? Jawaban pria itu membuat Sena bingung. Apakah ia belum pernah naik lift sebelumnya? Ah, tidak mungkin, penampilannya bukan seperti orang yang gagap teknologi.
"Luar biasa! Dunia ini mengesankan!" Pria itu berkata lagi. Ia seperti terkagum-kagum namun ekspresi wajahnya tetap datar.
Sena berusaha tak memperdulikan pria aneh ini dan segera menekan tombol lift. Pria itu tidak akan naik. Namun saat ini Sena perlu mencapai lantai atas. Sena keluar dari lift itu dan segera menyusuri kios-kios yang ada di lantai ini. Namun tetap sama saja, ia tak menemukan tanda-tanda keberadaan boneka itu. Lelah berkeliling akhirnya Sena memutuskan untuk bertanya kepada salah satu pelayan kios.
"Permisi, apa boneka tupai trend itu masih ada?"
__ADS_1
Nona itu paham boneka yang dimaksud oleh Sena. Siapa yang tidak tau, itu boneka yang sangat trend dikalangan manapun.
"Wah, toko kami baru saja menghabiskan stok terakhir kemarin, mungkin kau bisa mencarinya ke toko lain"
"Begitu ya" Sena berlalu setelah nona pelayan itu membungkuk sekilas padanya sambil tersenyum. Sia-sia ia menyusuri seluruh penjuru toko ini. Sepertinya memang sebaiknya Sena bertanya kepada pelayannya terlebih dahulu saat akan ke toko selanjutnya lagi nanti.
Diwaktu yang bersamaan saat Sena sudah keluar dari toko itu, Lucifer datang ke rumah Sena. Ia sudah berdiri didepan pintu rumah Sena menekan bel pintu. Sudah suara bel ketiga saat Lucifer telah menekan bel itu dua kali namun sang penghuni rumah tak kunjung keluar. Melainkan seorang wanita tua yang berjalan dengan tongkatnya keluar dari rumahnya yang berada tepat disamping rumah Sena lantas menatap Lucifer dari seberang pagar kayu itu. Lucifer dan wanita tua itu bertatapan beberapa detik sampai akhirnya wanita itu melotot dengan teriakan tak bersuara nya, ia seperti akan sekarat. Lucifer bingung dengan reaksi wanita itu lalu segera wanita itu berlari sekuat tenaganya dengan tongkatnya itu, masuk ke rumahnya kembali.
Lucifer menggaruk kepalanya. Lantas ia melihat bayangan dirinya di kaca jendela rumah Sena. Ah! Pantas saja, ia belum merubah bentuknya yang menyeramkan ini. Tunggu? Wanita itu bisa melihatnya?. Segera Lucifer berpindah kesamping rumah Sena untuk berjaga-jaga jika seandainya wanita itu keluar dan melihatnya lagi. "Sepertinya aku harus lebih mendalami karakter Shigesada" gumam Lucifer sendiri.
Lucifer segera terbang dari sana setelah memeriksa rumah Sena melalui kaca-kaca jendelanya. Tak ada tanda-tanda bahwa rumah itu berpenghuni saat itu jadi Lucifer memutuskan untuk pergi.
Devildom yang selalu diselimuti awan hitam dengan kilat-kilat yang tercipta akibat gesekan listrik yang dihasilkan awan-awan itu. Sudah 100 tahun sejak menghilangnya Lucifer dari Devildom membuat raja Diavolo harus mulai memikirkan untuk bertindak. Ia berpikir bahwa putra pertamanya melarikan diri setelah peristiwa perang Royale yang tak terduga itu. Walau bagaimanapun juga, raja Diavolo telah mengetahui betul bagaimana hubungan Lucifer dan Lilith. Jadi wajar saja ia berpikir bahwa Lucifer memutuskan untuk pergi karena merasa tidak menerima keputusan ayahnya untuk berselisih dengan Celestial Ray.
"Sungguh aku mulai merasa bosan. Kapan kita akan mendapatkan misi seperti Levi dan juga Satan?. Mereka bisa dengan bebas menikmati dunia manusia disana sedangkan kita harus terjebak di dunia yang membosankan ini"
Asmodeus melipat kakinya sembari memperhatikan kuku-kukunya. Ia baru saja selesai mengecat kukunya.
"Eehh? Levi juga datang ke dunia manusia?!" Mammon menanggapi Asmodeus.
"Hm! Kudengar pencariannya terhadap Lucifer sudah mencapai dunia manusia, karena tidak ada tanda-tanda Lucifer di Witcher Realm, Beast Royale, apalagi Celestial Ray" Asmodeus menjawab santai.
"Asmo! Turunkan kakimu!" Belphegor menegur posisi Asmodeus yang tak sedap dipandang kala berbicara didepan ayah mereka seperti itu.
__ADS_1
"Jika itu benar, sepertinya Lucifer, Levi, dan juga Satan akan bertemu disana!" Mammon menyimpulkan.
"Ahh! Aku semakin iri. Mereka bisa berbelanja dan makan makanan enak disana. Kau tau? Kudengar barang-barang di dunia manusia itu sangat menarik!" Asmodeus kali ini menurunkan kakinya. Nada bicaranya terdengar lebih bersemangat.
"Makanan?!" Beelzebub yang sejak tadi hanya memperhatikan kini bersuara dengan matanya yang berbinar-binar.
"Barang-barang menarik?! Aku suka itu!" Mammon terlihat sangat bersemangat kala mendengar kalimat Asmodeus. Sungguh avatar keserakahannya telah aktif kembali.
Belphegor hanya memperhatikan obrolan ampas saudara-saudaranya ini. Apa boleh buat, sejak Satan dan Leviathan pergi ia tak punya teman untuk banyak mengobrol. Biasanya ia punya Satan tempatnya bergosip tentang hal-hal buruk soal Lucifer. Namun ia masih bersyukur setidaknya masih ada saudara kembarnya Beelzebub.
Mammon dan Asmodeus tampak berpegangan kedua tangan sembari melompat dan berputar-putar. Mereka tengah membayangkan bagaimana serunya jika mereka bisa sampai di dunia manusia. Menikmati segala fashion dan juga hal menarik lainnya.
"Cukup, kalian berdua!" Suara lantang raja Diavolo sontak membuat Asmodeus dan Mammon langsung berhenti.
"Aku mengirim Satan dan Leviathan bukan tanpa alasan. Jika hanya untuk bersenang-senang seperti itu lebih baik berdiam diri saja di Devildom sebagai iblis tak berguna!" Mammon dan Asmodeus kali ini benar-benar tak berkutik lagi. Beelzebub dan Belphegor menatap kedua saudara mereka datar. 'Sudah kuduga' batin Belphegor.
"Barbatos, tentukan tempat untuk menggantung mereka berdua!" Perintah raja Diavolo kepada tangan kanannya itu.
"Dimengerti, tuanku" Barbatos membungkuk penuh hormat lalu raja Diavolo segera meninggalkan singgasana dengan tangannya yang memijat pelipisnya.
Mammon dan Asmodeus akan segera digantung. Ya, hukuman semacam itu sudah biasa dilakukan jika ada yang membuat masalah. Catatan, biasanya tugas menggantung ini dilakukan oleh Lucifer, itulah mengapa saudara-saudaranya sangat segan kepadanya.
Badan mereka akan diikat dan digantung sepanjang malam. Itu artinya mereka juga akan tidur dengan posisi tergantung bahkan terbalik, tergantung bagaimana Barbatos yang menentukan posisi tidur mereka. Mammon dan Asmodeus saling bertatapan lantas menelan ludah. Mereka dalam masalah. Tatapan mereka memelas kala Barbatos mendekat dan memerintahkan untuk ikut padanya.
__ADS_1