
Lucifer berhenti didepan sebuah rumah. Segera ia menurunkan Sena dari pelukannya. Sena terlihat terhuyung ke kiri dan kanan saat Lucifer menurunkannya lalu segera ditangkap oleh Lucifer.
"Kau baik-baik saja? Maaf, kau pasti tidak terbiasa dengan ketinggian". Lucifer merasa bersalah.
Sena tidak mengatakan apapun selain memegang kepalanya yang pusing. Namun segera ia beranjak kala teringat soal Kana. Ya, mereka mengunjungi rumah Kana duluan. Saat akan menekan bel rumah Kana, Sena teringat akan bentuk Lucifer.
"Lucifer, bisakah kau bersembunyi?"
"Shigesada, jangan panggil aku seperti itu"
"Hm?"
"Panggil aku Shigesada, itu nama yang aku kenalkan padamu, bukan Lucifer"
"Baiklah". Seketika Sena merasa tidak enak saat melihat ekspresi Lucifer yang sedikit terganggu saat Sena menyebutnya Lucifer. Padahal dia biasa saja saat Satan memanggilnya Lucifer tadi, bukan Shigesada. Sena jadi bingung yang mana namanya yang benar.
"Kau tidak perlu khawatir, dia tidak akan bisa melihatku" Lucifer melangkah kesamping Sena lalu menekan bel rumah Kana.
"Tunggu-.."
"Hanya kau yang bisa melihatku, Sena"
Meskipun Lucifer berkata seperti itu, tetap saja Sena khawatir jika seandainya Kana melihat Lucifer.
Tak ada jawaban dari suara bel yang sudah berbunyi beberapa detik yang lalu. Sena menekan kembali berharap seseorang keluar membuka pintu. Wajahnya semakin panik saat pintu tak kunjung terbuka.
"Kana... Ini aku Sena, apa kau dirumah?" Sena kali ini berteriak sembari mengetuk pintu.
Tak lama kemudian suara seseorang membuka kunci pintu dari dalam, seseorang membukakan pintu.
"Sena? Ada apa kau kemari?"
Sena merasa lega bukan main mendapati Kana yang baik-baik saja. Segera ia memeluk temannya itu.
"S-sena? Kau ini kenapa?" Kana tersenyum bingung saat Sena menyambar dirinya memeluknya erat.
Bukannya menjawab, Sena menerobos masuk ke rumah Kana. Tujuannya adalah untuk mengambil boneka itu. Lucifer mengikuti Sena dibelakangnya tanpa terlihat oleh Kana.
"Kana, bawa aku ke kamarmu". Sena dengan wajah paniknya tanpa memikirkan apa tanggapan Kana.
"Kau mau menginap?"
"Ayo, ke kamarmu"
Sena menarik tangan Kana untuk masuk ke kamar Kana. Saat Lucifer akan mengekor Sena segera menghentikannya dengan tangannya berada tepat di depan wajah Lucifer. Akhirnya Lucifer hanya berdiri di depan pintu saja.
Ekor mata sena terus mencari-cari keberadaan boneka yang diberikan oleh Shigeyo. Akhirnya ia dapati boneka itu tertata di meja kecil disamping rak buku milik Kana.
"Boleh kubawa ini?" Sena meraih boneka itu.
"Hm? Kau kemari hanya untuk mengambil itu?"
"Em, aku suka warnanya, saat aku ke toko untuk membeli boneka ini juga, tidak ku dapati warna yang sama seperti ini". Alasan Sena, entahlah Kana akan mempercayai itu atau tidak.
Kana tiba-tiba tertawa "baiklah, baiklah, Sena aku mengerti. Kau menolak saat Shigeyo menawarkan boneka itu karena gengsi mu". Kana menepuk-nepuk bahu Sena.
Bukan seperti itu, sebenarnya memang Sena tidak membutuhkan itu saat Shigeyo menawarkannya. Tapi saat ini, berbeda. Tapi syukurlah Kana tidak curiga tentang apapun dengan sikap Sena.
"Terimakasih, aku bawa ini, ya. Akan ku ganti dengan yang baru besok, selamat malam, Kana"
Sena lalu keluar dari kamar Kana membawa boneka itu.
Sekarang mereka sudah ada di depan rumah Kana, Lucifer masih ada dibelakang Sena.
"Kau bisa saja menelpon ku jika ingin boneka itu, Sena. Akan kubawa saat kita bertemu" Kata kana saat menghantar Sena keluar.
"Kebetulan aku lewat, jadi kupikir langsung saja"
"Hm? Memangnya kau dari mana?"
"Em-... Kana, aku pulang, ya. Ini sudah semakin malam". Sena mengalihkan pembicaraan karena sudah kehabisan ide untuk berbohong. Sena sudah cukup banyak berbohong hari ini.
"Baiklah, kau hati-hati dijalan, ya"
Sena tersenyum menanggapi lalu segera berlalu dari rumah Kana.
"Berikan padaku". Lucifer meminta boneka itu dari Sena. Kini mereka berjalan menyusuri jalanan komplek perumahan Kana.
Sena memberikan boneka itu. Dia juga tidak tau caranya melenyapkan kutukan yang dimaksud oleh Satan. Lucifer memperhatikan boneka kutukan itu. Sena menunggu-nunggu boneka itu akan segera terbakar ditangan Lucifer, sama seperti hal yang ia lihat pada Satan tadi.
__ADS_1
"Aku tidak bisa melakukannya"
"Apa?"
Sungguh Sena kecewa. Jujur saja ia menunggu-nunggu melihat pertunjukan seperti yang dilakukan Satan. Itu membuatnya merasa seperti hidup di dunia fantasi sungguhan.
"Hanya Satan yang boleh melakukan ini, karena tugas ini ditujukan padanya"
"Jadi kita harus mencari Satan?"
"Aku disini". Suara itu berasal dari belakang mereka seolah menjawab perkataan Sena. Itu Satan.
"Apa kalian sedang membantuku?" Satan berjalan mendekat kepada mereka beberapa langkah setelah mendarat di jalanan.
"Aku hanya ingin menghindari hal buruk yang mungkin akan terjadi pada teman-temanku" Sena bersembunyi dibelakang Lucifer. Entahlah, Satan terlihat agak berbahaya baginya walaupun Satan tidak melakukan apa-apa.
"Dan aku mencoba menghentikan rencana Nost"
Lucifer menyambung.
"Sejak kapan kau tertarik dengan urusan orang lain, Lucifer?" Satan menanggapi Lucifer santai.
"Urusan Devildom, urusan ku juga"
Satan mengambil boneka itu dari Lucifer "apa itu artinya urusan Celestial Ray juga menjadi urusanmu?"
"Satan!" Lucifer melantangkan suaranya. Ia terlihat sangat sensitif setiap kali Satan membahas tentang Celestial Ray. Apa itu sebenarnya?.
"Sejauh mana yang kau ketahui tentang ku?" Lucifer melanjutkan perkataannya.
"Segalanya". Perkataan itu membuat Lucifer membulatkan matanya. Bagaimana bisa Satan mengetahui segalanya, apa dia juga mengetahui tujuan Lucifer datang ke dunia manusia?.
Satan berbalik dan segera akan berlalu. Sayap hitamnya sudah membentang, ia akan segera pergi membawa boneka itu.
"Tunggu!" Sena maju selangkah dari belakang Lucifer untuk menghentikan Satan.
Satan berhenti dan menghadap Sena. Gadis itu akan mengatakan sesuatu padanya. Meski terlihat takut kepada Satan, Sena memberanikan diri untuk berbicara.
"Ada satu lagi temanku yang menyimpan boneka kutukan itu, maukah kau menunggu sampai aku mengambil itu juga?"
Satan diam sejenak. Segera Satan menyetujui permintaan Sena. "Akan ku ambilkan untukmu".
Sena terdiam. Ternyata Satan diam-diam memperhatikan mereka di bar kafe tadi siang, buktinya ia sampai mengingat teman-teman Sena dengan sangat baik.
Segera Satan terbang meninggalkan mereka. Angin yang berhembus akibat kibasan sayap Satan mengibarkan rambut Sena. Hening setelah Satan berlalu meninggalkan tempat itu.
Sekarang Sena merasa tenang karena kedua temannya akan baik-baik saja. Ia berhasil menyingkirkan boneka kutukan itu dari dekat mereka. Sekarang tidak ada yang perlu ia khawatirkan lagi, namun tetap saja ia merasa cemas jika saja suatu saat akan ada hal-hal lain yang membuat mereka berada dalam bahaya.
"Sepertinya kau dan Satan sudah saling mengenal". Suara Lucifer membuyarkan senyap Sena.
"Tidak, aku bertemu sekali dengannya saat dia datang ke bar kafe tempat aku dan Kana bekerja"
"Dan dia mengingatmu dengan sangat baik"
"Jangan mempercayai Satan, kau harus ingat itu baik-baik" Lucifer melanjutkan perkataannya.
Sena tidak menanggapi perkataan Lucifer. Sekarang sudah malam, sebaiknya dia segera pulang.
"Aa! Barang belanjaanku!" Sena tiba-tiba teringat akan barang belanjaannya yang ia tinggalkan begitu saja. "Itu stokku untuk satu bulan ke depan" lanjut Sena.
Lucifer mendengus pelan karena merasa diabaikan oleh Sena saat membahas tentang Satan dan malah membahas barang belanjaan.
"Aku harus segera pulang, mungkin itu masih ada disana". Sena mempercepat langkah kakinya namun tiba-tiba kakinya melayang di atas jalanan. Lucifer kembali meraihnya dan membawanya terbang.
"### Aaaku rasa aku juga harus punya sayaaappp"
Sena terus menjerit saat Lucifer membawanya terbang semakin tinggi. Itu sedikit menakutkan, ia tidak tau kapan saja tangan Lucifer bisa keram lalu menjatuhkan dirinya dari ketinggian.
-
Mereka kembali mendarat di perempatan jalan kecil tempat Sena meninggalkan barang belanjaannya. Benar saja, barang-barangnya masih ada disana. Jasad tadi? Satan sudah menanganinya entah bagaimana. Tentu saja Satan tidak punya waktu untuk mengurusi barang belanjaan Sena.
"Masih ada disini" Sena segera turun dari pelukan Lucifer dan memeriksa barang belanjaannya "semuanya masih baik-baik saja".
Sena mengangkat kantong belanjaannya dan segera dibantu oleh Lucifer. 'Sungguh kantong-kantong ini sangat penting baginya' batin Lucifer.
"Kali ini akan ku antar kau pulang sampai rumahmu" ucap Lucifer setelah mengangkat kantong belanjaan itu.
Lagi-lagi Sena menjadi kaku, tidak dipercaya ternyata sandiwara ini masih berlanjut.
__ADS_1
"B-baiklah" Sena tak bisa menolak, ia kehabisan alasan.
"Rumahmu bukan berada di jalan ini, kan?" Perkataan Lucifer mengejutkan Sena. Apakah sangat terlihat bahwa ia berbohong?
"Rumahmu disana. Apa aku benar?" Lucifer menunjuk satu rumah yang berada beberapa meter dari tempat mereka saat ini.
"I-iya. Aku tidak bermaksud membohongi mu" Sena menunduk tidak enak karena ia telah ketahuan berbohong pada Lucifer.
"Aku tau" Lucifer tersenyum tipis lalu berjalan mendahului Sena. Itu kali pertama Sena melihat wajah Lucifer yang selalu serius itu tersenyum. Ya walaupun sebenarnya ia tak pantas mengatakan itu karena mereka baru saja bertemu hari ini.
Mereka berjalan santai menuju rumah Sena dengan masing-masing membawa kantong belanjaan. Tiba-tiba Sena merasa tertarik dengan sayap hitam milik Lucifer. Walaupun gelap, itu terlihat indah mengkilat.
"Apa itu tidak berat?" Sena bertanya pada Lucifer yang tetap fokus menghadap depan.
"Hm? Sama sekali tidak berat". Yang Lucifer bicarakan adalah tentang barang belanjaan yang ia bawa, namun bukan itu yang Sena maksud. Ia bertanya soal sayap Lucifer.
Sena diam saja, ia tau Lucifer tidak tau hal apa yang ia tanyakan. lagipula agak tidak sopan jika ia bertanya soal itu sekarang.
"Apa kau tidak takut padaku?" Tiba-tiba perkataan Lucifer membuat Sena menoleh. Sekarang mereka sudah berada didepan rumah Sena. Langkah mereka sudah berhenti sejak Lucifer menanyakan hal itu.
"Takut? Bagaimana aku bisa takut?" Sena berusaha terlihat biasa saja. Sebetulnya ia juga masih tak percaya dengan segala hal yang ia alami malam ini, tentu saja ia takut.
"Apa kau terbiasa melihat mahkluk halus?" Pertanyaan Lucifer kali ini membuat Sena mengulum tawanya. Apakah Lucifer mengira bahwa dia adalah indigo?.
"Tidak" Sena tetap menahan tawanya.
"Sungguh kau tidak takut?" Lucifer tau Sena sedang mengejek dirinya.
"Awalnya aku takut, karena aku pikir kau penjahat yang akan merampokku" sekarang Sena tertawa kecil.
"Kau menemukanku kemarin disamping rumahmu dan jelas kau terlihat sangat ketakutan hingga tak sadarkan diri". Lucifer tak menanggapi tawa Sena.
"Wah! Jadi yang kemarin itu benar-benar kau?"
"Aku terluka karena diserang oleh Nost" Lucifer menceritakan kejadian sebenarnya kepada Sena.
"Nost? Apa itu sebenarnya?"
Lucifer mengubah bentuknya kembali. Sayap dan tanduk hitamnya telah menghilang, ia telah kembali seperti sedia kala saat pertama kali Sena bertemu dengannya. Shigesada.
Tanpa disadari mulut Sena terbuka kala melihat hal yang terjadi didepan matanya ini. Ini sungguh seperti sulap. Lucifer melihat wajah Sena yang berbinar-binar menatapnya. Seperti anak kecil yang sedang menonton pertunjukan sirkus.
"Ada apa dengan ekspresimu itu" Lucifer merasa tidak enak karena Sena memandangnya seperti itu.
"M-maaf, bukan apa-apa" Sena segera mengatur sikapnya. Ia sadar telah membuat Lucifer tidak nyaman.
"Kau ingin tau tentangku?" Tiba-tiba Lucifer mengatakan itu yang membuat Sena kembali menatapnya.
"Kau manusia pertama yang bisa melihatku, jadi kurasa kita akan sering bertemu"
"Sering bertemu?"
"Apa kau takut?"
"### T-tidak, aku tidak takut sama sekali" Sena berlagak berani padahal sebenarnya ia masih takut pada Lucifer. Terlebih lagi jika dengan bentuk asli Lucifer.
-
"Aku Lucifer. Aku iblis yang diutus untuk menjalankan misi penting di dunia manusia. Aku datang ke dunia ini sejak 100 tahun yang lalu"
Lucifer mulai menceritakan tentang asal usulnya kepada Sena. Sekarang ini mereka berada di ruang makan rumah Sena.
"Apa?! 100 tahun?"
"Ya. Kau jangan bertanya berapa umurku"
Tepat sekali. Memang itu yang akan Sena tanyakan namun Lucifer sudah menebaknya duluan, jadi ia urungkan saja.
"Kalau aku boleh tau, apa misi mu itu? Bukan untuk melukai manusia, kan?" Sena memberanikan diri untuk bertanya, namun ia juga tak berharap Lucifer memberitahu nya karena ia tau itu sedikit lancang.
"Aku mencari reinkarnasi Lilith untuk ku bawa pulang ke Celestieal Ray"
"Siapa Lilith?" Kini Sena makin tertarik pada cerita Lucifer.
Seketika wajah Lucifer berubah menjadi sedih. Seolah Lilith adalah hal yang tak mampu ia jelaskan kepada Sena. Namun Sena segera mengerti itu, ya, walaupun ia tak mengerti permasalahannya tapi ia tau bahwa hal itu sedikit menyinggung perasaan Lucifer. Ia tak menanyakan itu dua kali lagi, ia tak berharap Lucifer akan melanjutkan ceritanya lagi. Sena tau ia sudah sedikit merusak suasana hati pria ini.
"Putri ketujuh dari kerajaan Celestieal Ray yang meninggal dalam perang. Berbeda denganku dia sosok malaikat yang sangat besar hati. Aku dan Lilith sangat bertolak belakang sehingga memunculkan kesalahpahaman antara kedua kerajaan kami. Devildom dan Celestieal Ray"
Lucifer melanjutkan ceritanya. Sena hanya mendengarkan tanpa tau harus bereaksi seperti apa. Ia hanya kagum ternyata dunia seperti itu memang benar-benar ada.
__ADS_1
Sena mendengarkan dengan seksama, terkadang ekspresi nya sedih, kemudian tegang, lalu biasa saja. Lucifer menceritakan semua hal tentang dirinya kepada Sena mulai dari awal mengapa ia bisa sampai di dunia manusia.