CELESTIEAL RAY "Loving You Is A Sin"

CELESTIEAL RAY "Loving You Is A Sin"
KUTUKAN NOST Part 1


__ADS_3

Kring!...


Lonceng yang terpasang di atas pintu itu bersuara ketika daun pintu dibuka. Itu artinya seorang pelanggan telah masuk ke bar kafe tempat Sena bekerja paruh waktu, Kana juga bekerja disini bersamanya. Sejujurnya hari ini ia merasa sedikit mengantuk karena tak terlalu banyak tidur semalam. Kejadian yang ia alami kemarin sore terus membayang di kepalanya, menebak-nebak apakah itu hanya halusinasinya saja atau kenyataan.


"Selamat datang!" Sena menyambut pelanggannya dengan senyuman yang memang harus dimiliki seorang barista ketika pelanggan datang.


Pelanggannya kali ini terlihat agak berbeda, Sena tak dapat menebak profesi orang ini, apakah dia seorang mahasiswa atau sudah bekerja. Tanpa sadar Sena terus memandang wajah pelanggan yang berdiri didepannya yang sedang melihat-lihat menu yang terpajang di atas meja kasir. Tampan sekali, batin sena. Namun suara hati itu langsung buyar seketika kala suara pelanggan itu tertangkap oleh telinga Sena.


"Teh melati nya satu, ya". Ucap pria bertubuh atletis itu. Sepertinya tubuhnya terawat sempurna.


"Baik, akan segera siap" Sena mengatur tingkahnya layaknya seorang barista. Pria itu berlalu lalu duduk di salah satu meja setelah melempar senyum sekilas kepada Sena.


Sena meraih gelas dan segera menuju mesin teh yang berada dipojok kiri disamping mesin kopi.


Kana datang menghampiri nya setelah selesai dari toilet.


"Ini, berikan pada pria yang duduk disana". Sena memberikan nampan berisi teh yang sudah ia buat kepada Kana. Memang begitu pembagian kerja mereka. Kadang Sena yang bertugas melayani pelanggan sementara Kana membuatkan pesanan. Namun hari ini adalah giliran Sena yang membuat pesanan. Mereka berdua sengaja mengatur sistem bekerja seperti itu supaya adil.


Kana menerima nampan itu dan segera berjalan ke meja pria yang dimaksud.


"Silahkan di nikmati". Sena meletakkan gelas teh itu dimeja.


"Terimakasih". Pria itu tersenyum sekilas lalu kembali fokus pada buku yang sedang ia baca. Kana tidak dapat menebak buku apa yang sedang ia baca, apakah pria ini mampir ke bar kafe mereka hanya untuk membaca buku?. Lagipula itu bukan urusan Kana.


Kana menghampiri Sena di meja kasir dengan memeluk nampan yang sudah kosong.


"Hei, kau mengenalinya?". Bisik Kana pada Sena yang masih sibuk membersihkan meja.


"Tidak, aku baru kali ini melihatnya". Sena menjawab tanpa berpaling dari pekerjaannya.


"Dia tampan sekali, ya, andai dia datang setiap hari"


Tangan Sena berhenti mengelap meja seraya menyunggingkan senyum masam menatap temannya itu. Kana selalu terlalu jujur jika melihat pria tampan, sudah seperti maniak saja.


"Tidak sopan menatap pelanggan seperti itu, cepat bersihkan meja yang disebelah sana". Sena menarik nampan yang dipeluk oleh Kana lantas gadis itu merengut kesal karena Sena tak mengerti suasananya.


Dengan berberat hati Kana meninggalkan meja kasir dimana itu adalah posisi paling pas untuk bisa melihat pria itu. Ia harus membersihkan meja lain yang sudah ditinggal oleh pelanggan.


Kring!...


Lonceng di atas pintu itu kembali bersuara. Satu lagi pelanggan yang datang.


"Selamat datang!". Seperti biasa Sena menyambut.


"Uwah! Lelah sekali. Sena, berikan aku kopi dingin". Ternyata ini Shigeyo. Ia langsung duduk di bangku yang menghadap langsung ke meja kasir sembari menyibak-nyibakkan kaosnya yang sudah sedikit basah karena keringat.


Shigeyo memang sering datang ke bar kafe tempat Sena dan Kana bekerja. Ia bilang ia bosan karena tidak memiliki teman lain, jadi ia memutuskan untuk mengunjungi mereka saat bekerja.


"Tertinggal bis lagi?". Sena mengambil gelas cup lalu mengisinya dengan es batu.


"Aku tertidur di halte saat bis yang aku tunggu berhenti. Dan kejar-kejaran pun terjadi"


Sena tertawa kecil mendengar cerita temannya ini. Dan kopi dingin yang dipesan oleh Shigeyo telah siap.


Shigeyo langsung menyambar gelas cup itu lantas menyeruput sedotannya.


"Kau tau? Di samping rumahku sekarang sedang sangat ramai"


"Terjadi kasus pembunuhan tetangga kami". Lanjut Shigeyo setelah menyeruput kopinya.

__ADS_1


"Pembunuhan? Zaman sekarang masih ada kasus seperti itu". Sena menanggapi cerita Shigeyo.


Kana yang baru datang ikut mendengarkan setelah menaruh gelas-gelas kotor itu di wastafel.


"Apa polisi sedang menyelidiki nya?". Tanya Kana ikut membaur.


"Ya. Orangtuaku diikut sertakan sebagai tersangka"


"Apa?!". Sena dan Kana sedikit meninggikan suara mendengar penuturan Shigeyo barusan.


"Ada apa dengan ekspresi kalian, tersangka bukan berarti pelaku. Mereka hanya butuh penjelasan dan kerjasama orangtuaku karena kami tinggal bersebelahan dengan korban". Jelas Shigeyo.


"Apa mereka yakin itu kasus pembunuhan?. Maksudku, apakah ditemukan semacam benda tajam atau hal lain? Bisa saja dia melakukan bunuh diri, kan?". Sena bertindak seolah dia adalah detektif.


"Aku tidak tau". Shigeyo mengangkat bahunya lalu kembali menyeruput kopi dingin nya. Tentu saja ia tidak tau, dia pergi dari sana tanpa merasa penasaran dengan kasus itu. Pria ini sangat santai walaupun dia tau orangtuanya sedang berhadapan dengan kasus sekarang.


"Bukankah seharusnya kau tidak disini? Kau membiarkan orangtuamu menghadapi polisi sedangkan kau malah minum kopi disini". Sekarang Kana menasehati temannya ini.


"Mau bagaimana lagi, aku tidak tahan ingin melihat barista cantik seperti kalian ini".


Sena dan Kana menyeringai masam. Mereka tidak tau perkataan Shigeyo ini memuji atau mengejek.


"Lagipula aku yakin mereka tidak bersalah, mereka akan bisa mengatasi ini. Rumahku kosong seharian kemarin, jadi tidak mungkin pelakunya adalah kami. Ayahku hanya mencoba membantu polisi-polisi itu. Kalian tenang saja"


Shigeyo kembali menyeruput kopi dinginnya.


Sena dan Kana kembali ke posisi masing-masing, semakin siang pelanggan semakin ramai. Shigeyo jadi ikut membantu mereka melayani pelanggan. Baguslah, daripada ia hanya menjadi pajangan di bar kafe ini.


"Permisi, aku ingin membayar". Pria tampan yang tadi memesan teh melati menghampiri Sena di meja kasir.


"Oh, semuanya ¥1020". Ujar Sena setelah menekan-nekan mesin yang ada didepannya.


Kring!...


Lonceng itu berbunyi kala pria tinggi itu keluar dari bar kafe mereka.


"Dia sudah pergi". Ucap Kana dengan wajah kecewa yang entah sejak kapan ia ada di samping Sena.


"Kana!". Sena menggertak kecil hingga Kana akhirnya keluar dari meja kasir dan segera membersihkan meja lain.


Shigeyo? Jangan tanya dia, ia sekarang tengah menebar pesona pada para gadis yang duduk menunggu pesanan sembari menawarkan menu-menu andalah kafe bar ini. Sena tersenyum kecil melihat tingkah narsis temannya itu. Shigeyo cukup membantu dalam menarik pelanggan. Pria berkulit putih dengan tinggi badan ideal dengan postur tubuhnya yang sempurna, wajahnya cukup tampan untuk menarik perhatian para gadis. Kira-kira sudah sekitar 4 kali Shigeyo bolak-balik ke meja kasir untuk menyampaikan pesanan pelanggan kepada Sena, kemudian Kana yang menghantarkan pesanan sementara Shigeyo melanjutkan aktivitas narsisnya untuk menarik pelanggan.


Pukul 6 sore Sena terlihat tengah menyapu halaman depan bar kafe mereka. Sekarang sudah saatnya untuk mereka berganti shift dengan karyawan yang lain. Setelah mengganti pakaian Sena dan Kana keluar dari bar kafe, tak lupa mereka berpamitan pada bos pemilik bar kafe itu.


Hari ini mereka cukup senang karena mendapat bonus lebih dari bos mereka karena penjualan kopi dan teh hari ini lebih banyak dari hari-hari sebelumnya. Ini berkat Shigeyo yang datang membantu mereka bekerja, walaupun pelanggan mereka hari ini lebih banyak para gadis SMA. Namun itu tak menjadi masalah, yang penting penjualan hari ini memuaskan.


"Wah, sudah lama sekali aku tidak mencium aroma ini". Kana mencium amplop yang berisi uang bonus itu dengan senyumannya yang sangat lebar.


"Terimakasih, Shigeyo. Berkat kau kami jadi dapat bonus dari bos". Sena mengacungkan jempolnya kepada Shigeyo.


"Ah, bukan apa-apa. Menyenangkan bisa bekerja seperti kalian, aku jadi bisa berinteraksi dengan banyak orang".


Sena dan Kana terdiam kala mendengar tanggapan Shigeyo. Mereka baru sadar bahwa Shigeyo tidak memiliki kebebasan hidup yang sama seperti mereka. Meski terlahir dari keluarga kaya, Shigeyo tak sepenuhnya menikmati, ia terlalu banyak dibatasi oleh orangtuanya. Bahkan hanya untuk mencari kesenangan seperti bekerja paruh waktu seperti Sena dan Kana orangtuanya tak mengizinkan dengan alasan mereka sudah cukup bercukupan untuk memenuhi kebutuhan Shigeyo tanpa harus pria itu mencari pekerjaan paruh waktu. Tapi bukan itu yang Shigeyo inginkan, ia hanya ingin berbaur dengan teman-temannya. Terkadang hidup di keluarga kaya belum tentu mendapat kebahagiaan seperti yang diharapkan.


Merasa tak ingin mengubah suasana, Sena merangkul bahu Shigeyo yang lebih tinggi darinya itu. "Mau ku traktir makan malam?".


"Ah, aku setuju. Shigeyo, kami akan mentraktirmu makan malam ini, bagaimana?". Kana setuju lalu ikut merangkul bahu Shigeyo.


Shigeyo menatap Sena dan Kana bergantian. Dua gadis itu tengah bergelayut di bahunya kiri dan kanan. Tiba-tiba ponselnya bergetar dari dalam saku celananya.

__ADS_1


"Ah, sebentar". Sena dan Kana melepas rangkulan mereka membiarkan Shigeyo menjawab teleponnya.


Shigeyo merogoh saku celananya lalu menempelkan ponsel itu di telinganya.


"Halo, bu?". Setelah itu Shigeyo diam mendengarkan apa yang dikatakan wanita yang ia sebut ibu di telpon itu.


"Oh, begitu. Baik, aku segera pulang". Setelah mengucapkan itu Shigeyo mematikan telepon nya.


"Aku harus pulang, teman-teman. Traktiran nya lain kali saja, ya". Ujar Shigeyo setelah menyimpan ponselnya kembali disaku celananya.


"Hm, begitu. Apa terjadi sesuatu?". Kana bertanya.


"Tidak, ayahku akan segera berangkat ke luar kota malam ini, jadi ibuku memintaku untuk segera pulang"


Sena dan Kana mengangguk mengerti. Ayah Shigeyo memang seorang pebisnis yang sangat sibuk.


"Kalau begitu sampai jumpa, ya". Shigeyo melangkah duluan meninggalkan mereka. Sena dan Kana melambaikan tangan saat Shigeyo sudah menaiki bis dan berlalu.


"Haruskah kita makan malam bersama?". Sena menanyakan kepada Kana yang masih bersama nya di halte.


"Um...sepertinya tidak malam ini, Sena. Ibuku pasti sudah menungguku dirumah, dia sendirian karena adikku menginap dirumah temannya untuk tugas kelompok. Aku melihat pesan dari ibu saat keluar dari bar kafe tadi"


"Oh, begitu. Ya sudah tidak apa-apa, lain kali saja. Kita harus menepati janji untuk mentraktir Shigeyo juga, kan"


"Kau benar"


Keduanya tertawa kecil. Bis berikutnya telah berhenti, Kana naik untuk pulang menuju rumahnya.


"Kau belum pulang, Sena?"


"Aku harus ke pusat perbelanjaan dulu, stok bahan masakanku kebetulan habis"


"Baiklah, sampai jumpa"


Sena melambaikan tangan sembari bis yang Kana tumpangi telah berlalu. Sekarang ia harus berjalan ke pusat perbelanjaan yang tak jauh dari halte tempat ia berdiri sekarang.


Sena masuk ke pusat perbelanjaan dan segera membeli persediaan yang ia butuhkan. Ia membeli daging dan sayuran, tak lupa juga ia membeli beberapa macam cemilan dan minuman untuk mengisi kulkasnya yang sudah mulai kosong. Sena sudah tinggal sendirian sejak ia lulus SMA. Ibunya sudah meninggal sejak ia SMP, sekarang ia hidup bersama ayahnya. Tidak ingin merepotkan ayahnya, Sena memutuskan untuk hidup sendiri. Ia juga tak bisa selamanya bergantung pada ayahnya yang hanya bekerja di kedai makanan laut yang ada di kampung halamannya. Jika mendapat bonus lebih, Sena mengirim separuh uang hasil paruh waktunya kepada ayahnya. Sekarang ini hanya itu yang bisa Sena lakukan untuk sedikit meringankan beban ekonomi keluarganya.


Sena keluar dari pusat perbelanjaan membawa barang-barang belanjaannya. Sekarang ia berjalan menuju bank untuk mentransfer uang kepada ayahnya.


"Bagaimana kabar ayah?". Sena menempelkan ponsel itu di telinganya setelah ia duduk di halte untuk menunggu bis sekitar beberapa menit yang lalu.


"Ayah baik-baik saja, nak. Bagaimana dengan pekerjaan mu?". Suara pria paruh baya terdengar setelah Sena menanyakan itu.


"Sangat baik. Aku sudah mengirimkan uang, hari ini aku mendapat bonus dari bos ku". Sena mengulum senyumnya.


"Benar begitu?. Maafkan ayah, nak, seharusnya ayahlah yang bisa mengirimkan mu uang saku untuk kebutuhanmu disana"


"Ayah, jangan bicara seperti itu. Aku bahagia dengan pekerjaan ku saat ini, ini sudah lebih dari cukup. Apa ayah sudah makan?"


"Ya, bagaimana denganmu? Kau makan dengan teratur?"


"Jangan khawatirkan aku. Aku selalu makan dengan baik". Sekarang Sena tertawa kecil, disahut juga dengan suara tawa ayahnya di telpon.


Hujan turun saat Sena masih menunggu bis di halte itu. Telepon dari ayahnya sudah dimatikan sejak 2 menit yang lalu. Sena mendecih kesal karena hujan yang tiba-tiba turun. Ia jadi sedikit kebasahan karena atap halte yang tak sepenuhnya melindungi. Sekarang kantong belanjaannya juga ikut basah. Sena merutuki bis yang tak kunjung datang sementara hari sudah semakin gelap. Bisa ia tebak bahwa sebenarnya ia sudah terlambat untuk menyiapkan makan malam jika tiba dirumah nanti. Namun ia tak perlu khawatir soal itu, tak ada yang menunggunya dirumah, tidak masalah jika terlambat makan malam jika hanya untuk dirinya sendiri. Tak sadar Sena tersenyum kecil, ia membayangkan ayahnya akan memarahinya jika tau ia menyepelekan soal terlambat makan malam, padahal baru saja ia mengatakan di telepon kepada ayahnya bahwa ia makan dengan baik.


Sena menatap layar ponselnya membuka akun sosial medianya. Postingan gambar yang ia posting kemarin ternyata sudah banyak disukai. Juga banyak komentar-komentar dibawahnya, itu dari teman-teman SMA Sena. Tak sedikit yang menyatakan iri kepada mereka karena masih setia menghabiskan waktu bersama walaupun sudah tidak di masa sekolah lagi. Tak sedikit pula yang mengomentari penampilan Shigeyo yang semakin tampan. Sena tersenyum membaca komentar -komentar itu. Tak dipungkiri, Sena harus mengakui bahwa temannya itu memang tampan.


Seseorang melintas didepan Sena lalu berdiri disamping nya. Sena tak memperhatikan karena masih sibuk mengutak-atik ponselnya.

__ADS_1


__ADS_2