
Lucifer berdiri didepan Sena menghadang penglihatan Satan dari gadis itu. Satan membuang muka kesal karena ia terkesan seperti sedang menyakiti Sena padahal bukan itu yang akan ia lakukan. Sikap Lucifer yang selalu ikut campur urusannya mengingatkan Satan pada kejadian saat ia hampir saja membunuh Ezekiel. Jika saja Lucifer tidak datang saat itu, Ezekiel sudah mati ditangannya, dan Lucifer tidak akan pernah melakukan penghianatan ini.
"Setelah segalanya, kau memutuskan untuk menyakiti manusia juga?" Lucifer masih menatap Satan tajam.
"Sebaiknya jangan ikut campur jika kau tidak mengerti apapun, Lucifer"
Sena melangkah ke hadapan Lucifer untuk menghentikan pertikaian Lucifer dan Satan.
"Shigesada, Satan tidak melakukan apapun, aku hanya tersandung sendiri" Sena berusaha menengahi.
Lucifer mengubah bentuknya ke bentuk manusia, segera Satan melakukan hal yang sama. Tidak ada gunanya mereka bertikai perihal yang tidak penting. Satan menghela napas kasar lalu melangkah lebih dekat menuju Sena, tetap Lucifer berwaspada menghadang kan tangannya didepan Sena kala Satan mendekat.
"Aku membutuhkan bantuanmu" Satan berbicara pada Sena yang masih sedikit ketakutan disamping Lucifer.
Sena mengerutkan keningnya. Apa ia tidak salah dengar? Satan meminta bantuannya? Untuk apa?.
"Untuk apa?" Sebelum Sena menanyakan itu, Lucifer terlebih dahulu mendahului.
Satan kembali menghela napasnya kasar, ia sudah cukup muak dengan sikap Lucifer yang selalu mencampuri urusannya. Ia merasa tidak bebas berbicara dengan Sena sejak kedatangan Lucifer.
"Tidak semua hal harus kau ketahui, Lucifer. Urusi saja urusanmu. Sejak kapan kau tertarik dengan urusan orang lain?"
"Apa yang bisa ku bantu untukmu? Sena kembali mengambil satu langkah didepan Lucifer menghadap Satan. Kali ini Lucifer tak menyangkal melihat keberanian Sena.
"Bantu aku mendapatkan kutukan terkuat yang disebarkan oleh Nost"
"Maksudmu boneka itu?"
"Ya"
Sekarang Sena sudah melangkah lebih dekat pada Satan. Lucifer sempat mencegahnya namun segera Sena menatapnya sejenak untuk membuat iblis itu yakin.
__ADS_1
"Apa yang bisa aku lakukan?" Sena bertanya lagi.
"Jadilah umpanku"
"Kau pasti bercanda!" Lucifer sungguh menyangkal perkataan Satan. Jika rencana Satan tidak berjalan seperti yang diharapkan maka nyawa Sena akan berada dalam bahaya.
Satan tak menghiraukan sangkalan Lucifer tetap fokus pada Sena.
"Dapati boneka terkuat itu sebelum orang lain mendapatkannya. Aku mengandalkan mu" Tanpa mendengar keputusan Sena Satan telah mengubah bentuknya kembali lalu segera terbang meninggalkan tempat itu.
Lucifer sudah merubah bentuknya dan akan segera mengikuti Satan, ia tak bisa membiarkan Satan yang memutuskan segalanya sendiri. Namun segera Sena menghentikan Lucifer untuk tidak mengikuti Satan.
"Jangan! Jangan pergi!" Suara Sena mengurung niat Lucifer.
"Kau akan membantu nya?. Sena sudah kubilang jangan pernah mempercayai Satan jika kau tidak ingin berakhir buruk!" Lucifer sudah mengubah bentuknya lagi sembari mengucapkan kalimat itu.
"Satan sudah membantuku. Shigeyo baik-baik saja itu karena Satan"
Lucifer melunak. Sena bukan iblis yang penuh dengan dendam dan pemberontakan bahkan kepada saudaranya sendiri. Sena hanyalah seorang manusia yang bisa menjadi sebaik malaikat namun juga bisa menjadi bengis seperti iblis.
Beberapa saat Sena menatap punggung Lucifer yang berjalan menjauh, sebuah bis sudah berhenti di halte itu beberapa saat yang lalu.
"Apa kau akan naik?" Suara supir bis itu membuyarkan Sena yang hampir tak menyadari bis yang berhenti didekat nya. Segera ia mengangguk lalu menaiki bis dan berlalu meninggalkan halte.
-
Sena turun di halte area komplek perumahannya. Ia teringat kembali perkataan Satan tentang boneka kutukan terakhir itu. Jika boneka itu tidak segera dilenyapkan mungkin korban akan bertambah lagi. Sena menghentikan langkahnya, ia merasakan seseorang mengikutinya lantas Sena segera berbalik.
"Satan?" Sena kaget mendapati Satan yang mengikuti dirinya. Sejak kapan? Mengapa Sena tak menyadarinya.
"Oh, aku bukan Terada lagi?" Satan berjalan mendekat pada Sena yang sudah menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Mengapa kau mengikuti ku?" Wajah Sena mulai panik. Ia takut Satan akan benar-benar melakukan sesuatu kepadanya.
"Mengapa kau sangat takut padaku? Aku tidak akan melukaimu" Satan telah berhenti beberapa langkah didepan Sena.
Segera Sena mengatur sikapnya menunjukkan bahwa ia tidak takut sama sekali pada Satan.
"Kau tidak menjawab pertanyaan ku"
"Tentu saja untuk mendengar keputusan mu. Aku tau Lucifer tidak akan setuju denganku, itu sebabnya aku pergi mengakhiri percakapan kita tadi" Jelas Satan kepada Sena.
Sena melepas pandangannya ke trotoar yang ada disampingnya. Sedikit merasa bersalah karena ia sempat berpikir bahwa Satan memutuskan segalanya sendiri tanpa mempertimbangkan keputusannya.
"Mengapa bukan kau saja yang melakukan itu? Kau bisa saja berpura-pura menjadi manusia dan membeli boneka terkuat itu"
"Nost akan menyadari bahwa itu adalah aku. Kutukan itu tidak bisa menyerang ku, dan saat itu juga Nost akan menyadari kehadiranku di dunia ini" Penjelasan Satan cukup membuat Sena mengerti mengapa iblis ini sampai meminta bantuan kepadanya.
"Baiklah" Setelah mengatakan itu Sena berbalik meninggalkan Satan. Satan tersenyum menatap punggung gadis itu yang berjalan menjauh. Ia sudah menduga Sena tidak akan menolak permintaannya.
Sena sudah tiba di depan rumahnya. Langit sudah memerah tanda hari akan segera gelap. Dari kejauhan Sena melihat orang-orang yang berkumpul di jalanan yang tak jauh dari rumah Sena. Merasa penasaran, ia tak jadi membuka pintu rumahnya dan segera berjalan memeriksa keramaian itu. Begitu tiba, Sena melotot kala melihat jasad yang tergeletak di tengah-tengah kerumunan itu, seorang gadis. Sena mengenal wajah gadis itu walau tak terlalu familiar. Itu adalah gadis SMA yang sempat ia temui di bis waktu itu. Kepalanya berdarah serta badannya penuh dengan luka sayatan. Tampak mengenaskan. Tas gendong yang masih ada dipunggung nya terlihat terbuka menampakkan boneka kutukan yang selalu menjadi biang masalah beberapa hari belakangan ini.
Sena segera berlari meninggalkan kerumunan lantas berbelok arah menuju jalanan halte berharap Satan masih ada disana. Namun sosok yang dicari-cari tak ada disana. Satan pasti sudah pergi.
"Satan!... Kau masih disini?!" Sena berteriak memanggil Satan berharap ia akan segera muncul. Namun tak ada tanda-tanda sosok yang dicari akan muncul. Sena menoleh kesana kemari mencari keberadaan Satan namun nihil. Sena mulai kesal, Satan selalu muncul jika tidak diperlukan, namun saat diperlukan ia malah hilang bagai ditelan bumi.
Sena berbalik lantas berlari menuju kerumunan itu lagi. Namun saat ia berbelok dari jalanan halte, dari kejauhan dapat ia lihat kerumunan itu sudah tidak ada lagi. Secepat itu? Apa yang terjadi?. Baru beberapa menit Sena meninggalkan kerumunan. Ia kembali berlari mendekat pada lokasi kerumunan tadi kala melihat seseorang mendekati jasad gadis itu. Itu Terada. Tidak, tidak, maksudku Satan.
"Satan, kau disini!" Sena dengan napasnya yang tersengal berhasil mencapai Satan.
"Kau lihat?, Jika kutukan itu tidak segera dilenyapkan maka kejadian seperti ini akan terus terjadi termasuk pada orang-orang terdekat mu" Satan berkata sembari menyentuh pola aneh yang berada di tengkuk gadis itu lalu melenyapkan boneka kutukan itu sama seperti yang ia lakukan sebelumnya.
Satan sebenarnya tidak serius memikirkan para korban. Ia sebenarnya tak peduli dengan manusia yang meninggal karena kutukan itu. Yang ia khawatirkan adalah jika ini terus berlangsung, maka Nost akan mendapat kekuatan untuk menghancurkan Devildom. Kalimat itu ia ucapkan hanya sekedar untuk meyakinkan Sena untuk membantunya. Walau terdengar licik, namun posisi ini saling menguntungkan bagi Sena dan Satan.
__ADS_1
"Aku akan mengurusi ini. Putuskan rencanamu secepatnya agar tak memunculkan lebih banyak korban" Satan mengubah bentuknya lalu membawa jasad gadis itu pergi entah kemana.
Sena membuang tatapannya ke aspal itu. Ia harus segera mendapatkan boneka kutukan terkuat itu dan membiarkan Satan melenyapkannya secepat mungkin. Jika tidak yang dikatakan Satan akan menjadi kenyataan.