
Lucifer sudah duduk dimeja makan rumah Sena sejak gadis itu memasuki dapur dan berkutat dengan masakannya. Ini kali kedua Lucifer memasuki rumah Sena dan untuk pertama kalinya gadis itu mengundangnya makan.
Tak lama kemudian Sena datang dengan nampan berisi dua mangkuk nasi beserta lauk terpisah. Segera Sena menyajikan kepada Lucifer yang sudah menunggu sejak tadi. Ia meletakkan satu dihadapan Lucifer dan satu untuknya.
"Silahkan" Sena mempersilahkan iblis itu untuk mencoba masakannya.
Lucifer menunduk berterimakasih atas pelayanan Sena lantas meraih sumpitnya.
Sena memperhatikan suapan pertama Lucifer lantas tersenyum, ternyata ia makan seperti manusia pada umumnya.
Sena kemudian pergi ke dapur lagi untuk mengisi teko air yang nyaris kosong. Begitu ia kembali ia terkejut melihat mangkuk Lucifer telah kosong.
"Cepat sekali!" Sena membelalak tak percaya menggenggam teko air itu lalu segera menuangkan air untuk Lucifer.
Bahkan Sena belum menyentuh makanannya sedangkan Lucifer sudah menghabiskan bagiannya. Apakah iblis selalu makan secepat itu?.
"Aku terlalu lapar" jawab Lucifer jujur setelah Sena menuangkan airnya.
"Kalau begitu kau bisa makan punyaku" Sena mendorong mangkuk nasi dan wadah lauknya kepada Lucifer dengan senang hati. Lucifer menatap makanan itu lantas melirik Sena.
"Lalu kau?"
"Aku tidak begitu lapar. Masih banyak sisanya dibelakang, akan ku ambilkan untukmu" Sena kemudian berjalan ke dapur lagi untuk mengambil sisa masakannya yang lumayan banyak tersisa. Begitu ia kembali mangkuk itu sudah kosong lagi dihadapan Lucifer.
'Cepat sekali! Sepertinya dia tidak akan pernah kenyang jika belum memakan manusia' Batin Sena menelan saliva nya. Seketika Lucifer terlihat seperti Beelzebub dengan nafsu makan yang sangat tinggi.
"Saudaraku Leviathan sudah tiba di dunia ini" Lucifer berbicara saat Sena meletakkan mangkuk sisa lauk yang ia masak.
"Saudaramu yang sempat menyerang mu itu?" Sena sudah paham dari cerita Lucifer sebelumnya. Dia tau siapa Leviathan dan kekhawatiran Lucifer terhadap Leviathan saat ia telah tiba di dunia manusia.
"Ya, dia datang saat aku dan Satan kalah melawan Nost"
__ADS_1
"Dia membantu kalian?"
"Hanya Satan. Dia membantu Satan, bukan aku. Misi ku dan Satan jelas berbeda. Satan diberi misi langsung atas nama Devildom dan raja Diavolo, sedangkan aku menjalani misi jauh dari itu semua" Lucifer menarik menghela napasnya menjeda perkataanya "Leviathan mengusir Nost itu pergi" sambungnya.
"Dia mengusir Nost pergi? Jadi itu artinya Nost tidak akan kembali lagi?" Sena mulai tertarik.
"Bukan seperti itu. Selama kutukan itu masih ada di dunia ini, Nost tidak akan pernah pergi" Sena mengangguk mendengar penjelasan Lucifer. Ia sedikit kecewa, padahal ia sangat berharap segalanya berakhir secepat mungkin agar ia bisa segera bangun dari mimpi buruk ini.
"Apa Satan akan baik-baik saja?" Pandangan Sena jatuh di meja makan minimalis didepannya saat ini.
"Kau menghawatirkan Satan?"
"Dia pergi dengan keadaan terluka. Seharusnya aku membawanya makan juga"
Lucifer menghela napasnya. Nafsu makannya sudah hilang sejak tadi membahas Leviathan. Namun Sena ada benarnya juga, Satan pergi sendirian dengan keadaan terluka.
"Tidak perlu khawatirkan dia. Satan cukup kuat untuk meregenerasi luka-luka ditubuhnya"
Lucifer beranjak dari duduknya. Ia segera mengganti bentuknya lagi. Dapat Sena lihat sayapnya yang sudah lusuh sekali, sayapnya terluka. Tidak bisa Sena bayangkan betapa banyaknya luka yang ada ditubuh Lucifer. Itu pasti sangat menyakitkan, namun wajah iblis didepannya ini masih saja seperti itu, wajah dingin dan serius seolah tak merasakan apapun, benar-benar Lucifer yang Sena kenal.
"Kau akan pergi?" Sena juga ikut berdiri dari duduknya.
"Aku akan menemui Satan"
"Dengan keadaan seperti itu? Apa sayapmu baik-baik saja?"
"Cukup mengganggu, tapi ini baik-baik saja" Lucifer menggerak-gerakkan sayapnya memastikan bahwa sayapnya sudah lebih baik daripada tadi.
"Tunggu disini sebentar" Sena berlalu meninggalkan Lucifer di ruang makan. Tak lama kemudian ia kembali dengan kotak putih bertanda plus yang tak Lucifer kenali.
Sena mengeluarkan perban lantas Lucifer sudah berwaspada sejak tadi setelah melihat Sena membawa benda aneh yang tak dia kenali.
__ADS_1
"Ada apa? Duduklah" Sena memerintahkan Lucifer untuk duduk. Segera iblis itu duduk dengan waspada, matanya tak habis melihat kain putih yang Sena pegang.
Sena mendekat lalu melilitkan perban itu pada atas sayap Lucifer yang terluka. Lucifer sempat menghindar namun ia segera mengerti bahwa Sena mencoba untuk merawat sayapnya.
"Kau tidak perlu melakukan itu, sayapku akan sembuh dengan sendirinya"
"Begitukah? Tapi akan lebih baik seperti ini. Setidaknya akan meringankan rasa sakitnya" Lucifer terdiam, Sena sudah beralih pada guratan yang ada di lengan dan rahangnya. Ia hanya diam menurut sepanjang Sena merawat luka-lukanya, walau sebenarnya Sena tak perlu melakukan itu. Iblis bisa menyembuhkan diri mereka sendiri dalam waktu sekejap.
Lucifer melepaskan pandangannya pada meja makan. Membiarkan Sena melilit lengannya yang terluka dengan perban. Ingatan saat ia diselamatkan oleh Lilith kembali melintas di kepala Lucifer. Ia ingat bagaimana Lilith menyentuh lukanya untuk menyalurkan jiwa kepadanya. Tangisan Lilith, suaranya, wajah Lilith yang begitu mencemaskan dirinya. Lalu, bayangan Lilith yang sudah tak bernyawa di udara dengan anak panah menancap di dadanya. Beribu kali ia mencoba untuk melupakan itu, Lucifer tidak akan pernah bisa.
Sena sudah selesai mengikat simpul pada perban di lengan Lucifer kala iblis itu tersentak dari lamunannya.
"Sudah selesai. Jiwamu akan lengkap kembali" Lucifer menoleh kala Sena mengucapkan kalimat itu. Seolah Sena tau apa yang sedang ia pikirkan. Namun Sena hanya berbicara saja.
"Jiwa?" Lucifer seolah menginginkan Sena melanjutkan perkataannya dengan kalimat yang lebih jelas.
"Jiwa. Sayapmu bagian dari dirimu, kan? Jika satu bagian dari diri kita yang terluka, maka jiwa kita tidak akan lengkap. Kau tau? Seperti meteran power yang ada pada game-game pertarungan. Semakin terluka maka powernya akan semakin berkurang"
Lucifer mengalihkan pandangannya dari Sena. Ia salah tentang gadis ini. Malah membicarakan hal yang tidak ia pahami. Mengetahui Lucifer yang tidak tertarik, Sena sadar bahwa perkataannya terlalu melantur. Lagi-lagi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Rasanya sulit bagi Sena untuk memahami iblis ini dengan cepat.
"Aku akan pergi" Lucifer kembali beranjak.
"Tunggu-.." Sena berusaha menghentikan Lucifer namun iblis itu sudah pergi. Ia selalu tak berhenti saat Sena menyuruhnya untuk berhenti. Dan lagi-lagi, ia terbang melewati jendela, membuat Sena semakin kesal.
"Huh! Apakah di Devildom tidak ada pintu sehingga ia selalu terbang lewat jendela?!" Sena menggerutu sendiri.
-
Lucifer mendarat di perempatan jalan halte. Itu belum jauh dari rumah Sena. Ia melirik sayapnya yang sudah diperban dengan baik oleh Sena, juga lengannya. Lucifer menghela napas, baru kali ini ia dirawat setelah terakhir kali Lilith merawatnya.
"Lilith, sudah 100 tahun sejak kau pergi dan aku berhianat. Dimana kau sebenarnya, setidaknya beri aku tanda. Tidakkah kau ingin kembali?"
__ADS_1
Lucifer mengubah bentuknya kembali menjadi manusia. Sayapnya memang masih terasa sakit, lalu ia berjalan menyusuri kota untuk menemukan dimana keberadaan Satan.