
"Permisi, belanjaan ini milikmu?"
Sena menoleh kala suara pria tinggi itu menegurnya. "Boleh ku singkirkan sedikit? Tidak ada ruang untuk duduk". Lanjut pria itu.
"Oh, maafkan aku". Sena membungkukkan kepalanya sekilas berkali-kali tanda tidak enak. Segera ia menarik kantong belanjaannya yang ia taruh di bangku memberi ruang untuk pria itu duduk.
Suasana hening setelah pria itu duduk. Sena masih menatap ponselnya setelah pria itu sudah duduk. Tak lama kemudian bus yang sudah Sena tunggu dari tadi akhirnya tiba.
Sena menaiki bus dengan barang-barang belanjaannya diikuti dengan pria yang duduk bersamanya sejak beberapa menit yang lalu. Supir bus tampak tersenyum tipis melihat Sena yang menenteng barang belanjaannya. Segera bus itu bergerak meninggalkan halte.
"Boleh aku duduk disini?"Suara itu menolehkan Sena. Itu pria tadi yang duduk di halte bersamanya.
Sena mengangkat kantong belanjaan yang ia taruh di bangku sampingnya untuk mengizinkan pria itu duduk, namun segera pria itu menarik kantong belanjaan itu kembali.
"Tidak usah, biar aku yang pegang saja". Pria itu lalu mengangkat kantong belanjaan Sena dan memangkunya.
Sena terheran dengan orang yang tidak ia kenali ini. Apakah tidak apa-apa ia memangku kantong belanjaannya seperti itu? Sena menjadi tidak enak.
"Em, tuan, biar ku taruh disini saja kantong itu, disini masih muat". Kata Sena sembari menunjuk sedikit ruang yang tersisa disudut tempat duduknya dimana masih ada satu kantong belanjaannya yang lain.
"Tidak apa-apa". Jawaban pria itu singkat padat dan jelas. Tak ingin ambil pusing, akhirnya Sena biarkan saja, toh dia juga jadi tidak kerepotan.
Sena diam-diam memperhatikan orang yang duduk disebelahnya ini, wajahnya sulit untuk dilihat karena ia memakai masker. Ditambah lagi tudung jaket nya yang hampir menutupi wajahnya itu. Sena pikir ia adalah seorang berandal karena gaya berpakaian nya yang seperti itu. Namun ternyata Sena salah, itulah mengapa orang bilang jangan menilai hanya dari tampilan depannya saja.
"Omong-omong tuan ini mau kemana?" Sena berusaha mencari topik seadanya agar tak terlalu terasa hening.
Namun sepertinya ia diabaikan, orang yang ditanya tak menoleh atau menjawab sedikitpun, sebaliknya hanya fokus menghadap depan. Merasa diabaikan Sena diam saja, mungkin dia dianggap terlalu ramah hanya karena dibantu memangku barang belanjaan.
"Dimana rumahmu?" Pria itu berbalik bertanya setelah beberapa detik Sena diabaikan.
Sena kembali menoleh. 'Bukannya menjawab pertanyaan malah balik bertanya' batin sena.
"Aku berhenti di pemberhentian selanjutnya, rumahku masuk perempatan halte itu" Bodoh. Mengapa juga harus Sena katakan alamat rumahnya kepada orang yang baru saja ia temui bahkan berkenalan saja belum. Mati Sena! seketika Sena berpikir bahwa pria ini benar-benar orang jahat.
"Emm, tapi rumahku jauh masuk ke perempatan, memasuki jalan-jalan kecil dan agak susah ditemukan" Sena menambah perkataannya. Sejujurnya itu ia lakukan untuk memalsukan alamatnya, padahal rumahnya tak sesulit itu ditemukan di perempatan halte.
Pria itu tak menanggapi melainkan hanya diam menghadap depan. Sena semakin merasa takut jika pria ini benar-benar akan merampoknya.
Bus berhenti di pemberhentian tujuan Sena. Sena mengambil kantong belanjaan yang di pangku pria itu sejak tadi.
"Aku turun disini. Terimakasih". Namun pria itu segera menarik kantong belanjaan Sena kembali.
"Akan ku antar kau sampai rumahmu"
Seketika bulu kuduk Sena bergidik. Sepertinya dugaannya tentang orang ini tidak salah, ia memang akan merampok Sena.
"Tidak usah, rumahku sudah tidak jauh lagi dari halte ini"
"Tapi tadi kau bilang rumahmu memasuki jalan-jalan kecil, kan?" Sial. Sena termakan kebohongan nya sendiri.
"Berbahaya jika kau pulang sendirian malam hari seperti ini, akan ku antar" Pria itu sudah berdiri dengan kantong belanjaan yang masih ditangannya.
Sena hanya bisa pasrah, ia tak memiliki alasan lagi untuk menolak bantuan pria ini, karena jujur ia juga agak kewalahan membawa barang-barang belanjaannya. Tapi memikirkan apa yang akan pria ini lakukan padanya membuat Sena bergidik ngeri dan berusaha untuk berpikir positif.
Bus sudah berlalu sejak mereka turun. Sekarang Sena sedang berjalan menyusuri perempatan menuju rumahnya bersama pria asing itu. Tak ada percakapan, Sena terlalu takut untuk memulai percakapan lagipula ia tak tau harus membicarakan apa.
"Shigesada". Ucap pria itu tiba-tiba memecah keheningan diantara mereka.
Sena menoleh karena tak mendengarkan betul apa yang pria ini katakan karena ia sibuk berkutat dengan pikirannya sendiri.
"Shigesada". Pria itu sekarang memberhentikan langkahnya menghadap pada Sena.
"Shigesada?"
"Itu namaku. Kau terus memanggilku tuan, apa aku terlihat setua itu?" Ucap pria itu lagi lalu melanjutkan langkahnya kemudian Sena hanya mengekor dibelakangnya.
__ADS_1
Ah, ternyata ia sedang memperkenalkan dirinya. Tapi benar juga, Sena baru menyadari sejak tadi ia selalu memanggil nya tuan. Tapi bukankah itu lebih sopan jika harus berbicara pada orang yang baru dikenal, kan?. Sena manggut-manggut saja setelah perkenalan itu.
"Namamu?" Pria itu bertanya lagi tanpa mengehentikan langkahnya.
"Sena" jawab Sena singkat.
Hening kembali. Tak ada percakapan lagi diantara mereka setelah itu. Hanya terdengar suara langkah kaki mereka yang beradu dengan trotoar.
Tak lama rumah Sena sudah terlihat. Sekarang ia bingung bagaimana caranya agar pria ini pergi saja, tak perlu menghantarkannya hingga rumahnya. Ia akan ketahuan berbohong.
"Tuan-...em, Shigesada. Sampai disini saja, rumahku tidak jauh lagi, kau tidak perlu menghantar ku sampai rumah". Padahal sebenarnya sekarang ini mereka tepat ada didepan rumah Sena.
Shigesada menghentikan langkahnya "Begitukah?, Baiklah" Shigesada menyerahkan kantong belanjaan kepada Sena.
"Terimakasih, ya"
Shigesada menanggapi dengan anggukan kecil. Ia mungkin tersenyum tipis, tapi Sena tidak dapat melihatnya karena tertutup masker.
"Emm, kau bisa pergi sekarang" Sena menerima kantong belanjaannya.
"Kau duluan saja"
Sial. Mengapa dia tidak pergi saja, sekarang Sena harus berpura-pura masuk ke jalan kecil yang ada beberapa meter dari rumahnya. Sena berjalan ragu sesekali menoleh kebelakang, Shigesada masih memperhatikannya. Sena menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tanpa ragu ia melangkah mantap menuju jalan kecil itu agar Shigesada segera pergi dari depan rumahnya.
Sena merutuki nasibnya hari ini, seharusnya ia bahagia penuh seharian, namun harus terkena sandiwara seperti ini sejak bertemu Shigesada. Bahkan ia harus berbohong demi menyelamatkan dirinya.
"Huh! Ada-ada saja". Sena berbelok memasuki jalan kecil yang bahkan bukan jalan menuju rumahnya.
Segera punggung Sena menghilang dari pandangan Shigesada setelah gadis itu memasuki jalan itu. Shigesada berbalik untuk pergi dari sana. Namun baru beberapa langkah ia bergerak, teriakan seseorang menarik perhatiannya, terlebih lagi teriakan itu berasal dari jalan yang baru saja Sena masuki. Shigesada langsung berlari ke arah jalan itu memeriksa apa yang terjadi.
Sena hampir tak bisa menggerakkan kakinya untuk berlari. Hal yang ia lihat didepan matanya saat ini sangatlah menyeramkan. Seseorang tergeletak ditengah jalan dengan keadaan yang sangat tidak wajar. Ia mengenal orang ini, dia adalah tetangga yang tinggal tak jauh dari rumah Sena. Ya, ia kenal betul paman ini. Ozawa.
Darah segar menggenang di sekeliling tubuh paman Ozawa. Mata serta mulutnya terbuka seolah sesuatu dari dalam perutnya telah ditarik keluar dari mulutnya. Perutnya mengeluarkan cairan merah yang terus mengucur dari luka yang menganga di perutnya hingga kemeja putih yang ia kenakan telah berubah warna. Tangan dan kakinya terlihat kaku kering. Apa yang terjadi dengan paman ini hingga sampai seperti ini. Di samping kepalanya tergeletak sebuah boneka. Itu boneka trend yang sedang banyak dibeli oleh orang-orang, termasuk Shigeyo. Tapi boneka itu tampak sedikit berbeda, wajah nya tak lagi seimut awalnya karena telah dipenuhi darah.
"Sena!" Suara Shigesada berhasil membuat Sena tersentak dengan keadaannya yang hampir mati rasa karena melihat hal mengerikan didepan matanya.
Shigesada akan memeriksa jasad itu namun Sena menahan tangannya untuk jangan mendekat. Shigesada melepas cengkraman Sena dari lengannya dengan lembut hingga akhirnya gadis itu membiarkan Shigesada memeriksa jasad itu.
Baru satu langkah Shigesada mendekat tiba-tiba sesuatu muncul didepan mereka dengan sangat cepat dan tiba-tiba. Sosok itu membelakangi mereka namun berada di jarak yang sangat dekat dengan jasad itu.
"Satan..." Shigesada terhenyak saat sosok bersayap hitam dengan tanduk itu muncul dihadapan mereka.
"Apa itu!" Sena mulai panik dibelakang Shigesada.
Segera Shigesada menyadari bahwa ia sekarang masih bersama Sena. Ia berniat akan segera membawa Sena pergi dari sana namun Sena menolak. Tentu saja, sudah dua kali ia melihat rupa seperti ini, ia ingin memastikan bahwa semua ini bukanlah mimpi.
"Tidak, aku tidak mau pergi!"
"Sena, ini berbahaya, ayo pergi sekarang"
"Tidak, mengapa kau menyuruhku pergi sedangkan kau tetap disini?! Sudah dua kali aku melihat sosok seperti ini, siapa mereka sebenarnya?!"
Sena menghempaskan cengkraman tangan Shigesada di lengannya. Ia menolak untuk pergi.
"Kau sungguh...bisa melihat semua ini?"
Sena terdiam. Ia tak mengerti apa yang diucapkan oleh Shigesada. Apakah hanya dirinya yang bisa melihat sosok ini?.
Shigesada mengalihkan perhatiannya pada sosok yang ia sebut Satan itu. Ia mengabaikan Sena dan membiarkan Sena melihat semuanya untuk menjawab semua pernyataan Sena itu.
"Satan!" Suara Shigesada lantang menyebut nama itu. Bersamaan dengan itu Shigesada berubah bentuk. Bentuk yang sama dengan sosok itu, bersayap hitam dan bertanduk.
Sena terhenyak hampir tak percaya. Ini adalah sosok yang ia lihat disamping rumahnya waktu itu. Ternyata itu adalah Shigesada? Jadi Shigesada adalah...
"S-Shige-sada..." Suara Sena serak menyebut nama Shigesada terbata-bata. Ia tak percaya pria yang baru saja ia temui ini bukanlah manusia.
__ADS_1
Sosok yang dipanggil Satan itu berbalik menghadapnya. Ah! Tidaakkk! Sena semakin besar membuka mulutnya dan segera menutupnya dengan telapak tangannya. Matanya membulat tak percaya kala melihat wajah Satan. Itu, bukankah dia adalah pria tampan yang mampir di bar kafe mereka siang ini?, Batin sena.
"Aku mengingatmu, nona. Namun sayang kita harus bertemu kembali dengan cara seperti ini". Satan berpaling pada Sena yang ada dibelakang Shigesada tanpa memperdulikan Shigesada yang sudah menatapnya marah.
"Satan! Mengapa kau datang!" Shigesada melantangkan suaranya hingga mengalihkan perhatian Satan.
"Lucifer, aku datang bukan karena dirimu. Ada sesuatu yang harus aku bereskan, ini perintah dari Raja Diavolo" Satan berbicara penuh hormat kepada Shigesada tanpa ada penentangan sedikitpun.
Sena sungguh tak mengerti percakapan antara mereka. Tunggu, apa tadi? Lucifer? Siapa Lucifer?.
"Kau mengetahui keberadaan ku disini?" Entah itu Lucifer atau Shigesada. Sena hanya mencoba mengerti saja.
"Aku sudah tau sejak lama. Putri bungsu Celestial itu benar-benar membuatmu hilang akal"
"Jaga ucapanmu!" Lucifer mengarahkan pedang panjangnya tepat didepan wajah Satan. Namun mendapat tanggapan santai dari Satan. Satan tau itu hanyalah ancaman saja, Lucifer tidak akan pernah menyakiti saudaranya sendiri.
Saudara?. Mereka adalah bangsa demon yang tinggal di Devildom. Dibawah pimpinan raja Diavolo yang merupakan ayah dari 7 demon bersaudara. Lucifer adalah putra pertama dengan avatar kebanggaan. Sedangkan Satan adalah putra keempat dengan avatar kemarahan. 5 saudara lainnya juga memiliki avatar mereka masing-masing. Dan avatar itu adalah ciri khas sekaligus kebanggaan yang harus selalu dijaga oleh masing-masing dari mereka.
"Kau beruntung karena aku yang mengetahui ini, Lucifer. Aku tidak akan mengatakan hal ini kepada siapapun di Devildom, tapi tetap saja kau harus berhati-hati. Karena Leviathan dan lainnya juga mulai memutuskan untuk mencari mu"
Satan adalah saudara Lucifer yang selalu bertolak belakang dengan apapun keputusan yang dibuat oleh Lucifer, namun kali ini ia malah seperti berada dipihak Lucifer.
"Apa rencanamu?" Tentu saja Lucifer menanyakan itu karena ia tau betul sikap Satan yang selalu menyangkalnya namun tiba-tiba bersikap baik.
"Kau masih mencurigai ku?". Satan berbalik membelakangi Lucifer dan menghadap jasad yang hampir terlupakan itu.
"Bangsa Nost telah mengambil tindakan. Dan aku tidak akan membiarkan balas dendam mereka berjalan seperti yang mereka harapkan".
Satan kemudian membalikkan posisi jasad mengenaskan itu dan segera menemukan pola aneh yang ada di tengkuk jasad paman Ozawa.
Satan menyentuh pola aneh berbentuk segitiga itu dan pola itu segera menghilang. Ia juga meraih boneka yang tergeletak itu dan segera melenyapkannya hanya dengan menyentuhnya dan boneka itu terbakar. Sena antara kaget, kagum, tak percaya, dan juga ketakutan melihat keajaiban yang terjadi tepat didepan matanya sendiri.
"Ini adalah kutukan yang dibuat oleh Nost itu untuk mengelabui manusia sehingga mereka bisa menyerap energi negatif dari tubuh manusia, lalu mendapat kekuatan untuk menjadi lebih kuat".
Bangsa Devildom tau bahwa Nost adalah iblis tingkat bawah yang telah dibuang dari Devildom karena penghianatan mereka terhadap raja Diavolo, itu sebabnya mereka mencari energi negatif untuk mendapatkan kekuatan agar bisa membalaskan dendam kepada seluruh bangsa Demon terutama 7 demon bersaudara beserta ayah mereka.
"Pola-pola aneh dan boneka-boneka itu?" Lucifer mulai memperhatikan Satan.
"Ya, ini adalah sumber dimana mereka bisa menyerap energi negatif itu. Aku harus segera melenyapkan semuanya"
"Dengan membunuh mereka seperti itu?!" Sena kali ini ikut campur. Ia sudah cukup mengerti sejak menjadi pendengar sedari tadi.
"Bukan aku yang membunuh mereka. Tapi boneka-boneka ini, tugasku hanyalah menghapus pola pada tubuh manusia yang sudah meninggal karena boneka-boneka kutukan ini"
Tiba-tiba Sena berlari meninggalkan tempat itu. Barang-barang belanjaannya ia tinggalkan begitu saja dan yang ia lakukan hanyalah berlari sekuat mungkin. Lucifer terbang mengikutinya saat menyadari langkah kaki Sena yang berlari menjauh.
"Sena!"
Sena tak berhenti sedetikpun sampai akhirnya Lucifer berhasil melampauinya dan Sena berhenti.
"Ada apa?, Apa kau takut padaku?"
"Teman-temanku, mereka memiliki boneka itu"
Raut wajah sena sangat panik dan ia bahkan hampir menangis. Ia mencoba mengatur napasnya yang tersengal. "Jika yang dikatakan Satan itu benar, aku harus segera menemui mereka, jika tidak..."
Sena tak melanjutkan perkataannya dan segera berlari lagi melewati Lucifer.
Lucifer segera terbang mengikuti Sena lagi dan kemudian meraihnya.
"Aku harap kau terbiasa dengan ketinggian"
"Hei! Tidak, tunggu-...Aaaaaa"
Lucifer membawa Sena terbang tinggi sementara gadis itu terus berteriak di pelukan Lucifer.
__ADS_1
Lucifer melesat membawa Sena membelah angin malam untuk segera mencapai rumah teman-temannya.