
Shigeyo dan Kana mengarahkan pandangan mereka kepada Sena yang masih mematung tegang. Mereka menunggu-nunggu reaksi dari Sena atas sapaan Satan. Terlebih lagi, mereka tidak tau bahwa Sena mengenal pria baru ini.
"Sena, kau mengenalnya?" Kana akhirnya bertanya.
Sena tiba-tiba tertawa sumbang mencoba menghilangkan kecurigaan diantara teman-temannya. Ia terpaksa harus menangani ini karena Satan.
"Hahaha, iya benar! Dia sepupuku yang datang dari jauh. Aku sempat tidak mengenalinya karena sudah lama sekali. Sepupu! Apa kabarmu!"
Sena keluar dari ruangan meja kasir menghampiri Satan dan berpura-pura dekat dengannya sembari menepuk-nepuk bahu Satan.
"Kau sudah banyak berubah, ya!" Tawa sumbang Sena tak berhenti sembari memperlakukan Satan layaknya sepupu yang sudah lama tak bertemu.
"Jadi begitu, sepupu macam apa yang tidak mengenali sepupunya seperti itu" Shigeyo memarahi Sena.
"Benar, Sena. Bahkan kemarin dia sudah datang kemari mengunjungi mu tapi kau bilang tidak mengenalinya. Jahat sekali" Kali ini Kana ikut memarahi Sena.
"Ya, ya, maafkan aku. Sudah lama sekali aku tidak melihat wajahnya. Tidak kusangka telah berubah drastis seperti ini" Sena kembali dengan alasan payahnya, namun dipercayai begitu saja oleh Shigeyo dan Kana. Ia tidak mengerti apakah teman-temannya ini memang payah atau alasannya memang masuk akal.
"Bagaimana dengan keluargamu di Kyoto? Apa semuanya baik-baik saja?". Cih! Apa-apaan itu, Sena hanya mencoba untuk bersikap natural layaknya seorang sepupu.
"Tidak begitu baik" Satan menjawab.
Senyuman sumbang Sena sedikit memudar kala mendengar jawaban Satan. Ia kembali teringat soal cerita Lucifer tentang Devildom. Ya, memang tidak salah jika Satan mengatakan keluarganya sedang tidak begitu baik.
"Jadi, siapa namamu?" Shigeyo mengalihkan topik kepada pertanyaan awalnya.
"Satan"
"Terada!"
Ucap Sena dan Satan bersamaan. Sena membulatkan matanya kepada Satan sebagai bentuk protes karena Satan menyebutkan nama aslinya.
"Satan? Terada? Yang mana yang benar?" Shigeyo mengerutkan dahinya menatap dua orang didepannya ini.
"Terada! Namanya Terada. Dia seorang otaku jadi dia sering mengganti-ganti namanya menjadi tokoh game" Sena memberikan kebohongan lagi dan ditanggapi anggukan oleh Shigeyo dan Kana. Sungguh, Sena bersyukur bertemu dengan teman-teman yang mudah ditipu. Ups!.
Satan menahan tawanya melihat kepanikan Sena. Sebaliknya gadis itu serasa ingin menghabisi Satan karena telah membawanya berada dalam masalah.
__ADS_1
"Ah! Aku baru ingat ada sesuatu yang sangat penting yang ingin ku beritahu" Shigeyo mengubah topik setelah ia meneguk kopi dinginnya. Sena dan Kana memperhatikan, sedangkan Satan meneguk teh melati nya untuk pertama kali setelah ia memesannya.
"Boneka tupai yang aku beli, tiba-tiba menghilang. Aku yakin aku menaruhnya disamping tempat tidurku kemarin. Namun itu sudah tidak ada setelah aku bangun tadi pagi"
Sena tersentak mendengar cerita Shigeyo lalu segera pandangannya teralih pada Satan. Iblis itu terlihat santai meneguk tehnya.
"Benarkah? Kau yakin kau tidak menghilangkannya?" Kana menanggapi cerita Shigeyo.
"Entahlah, akan kutanya pada ibuku saat ia kembali. Mungkin ibuku membuangnya" Shigeyo santai kembali meneguk kopinya.
"Ibumu membuang barang-barang milikmu tanpa izin?"
"Hehe, terkhusus untuk benda-benda tak berguna. Menurutmu bagaimana tanggapan ibuku saat melihat anak laki-lakinya menyimpan benda imut seperti itu?"
Kana mengangguk mengerti. Sena berusaha membuat Satan balas menatapnya untuk memberikan semacam kode penjelasan atau apa. Namun iblis itu tak bergeming sedikitpun seolah tak peka terhadap tatapan Sena. Namun itu bukan masalah, Sena lega karena Satan benar-benar mengambil boneka itu. Perkataan Lucifer yang mengatakan jangan pernah percaya kepada Satan sempat membuat nya khawatir.
"Omong-omong kemarin Sena datang ke rumahku untuk mengambil boneka itu" Kalimat Kana mengalihkan pandangan Sena kepadanya.
"Eh? Benarkah?" Shigeyo tertarik. Ia akan segera menggoda Sena namun secepatnya disangkal oleh gadis itu.
"Hilang! Maaf Kana, sepertinya aku menjatuhkannya di suatu tempat"
"Maafkan aku, akan ku ganti dengan boneka lain yang lebih bagus"
"Hei! Maksudmu boneka pemberianku tidak bagus, begitu?" Shigeyo segera menyangkal Sena.
"Jika kubilang iya?"
Shigeyo mengerucutkan bibirnya kesal, Sena selalu berhasil membuat Shigeyo kesal lalu diam.
-
Tak terasa hari sudah sore, pelanggan yang tadinya sangat padat memenuhi bar kafe sekarang berangsur menyusut. Sekarang saatnya mereka untuk berganti shift dengan karyawan yang lain, itu artinya pekerjaan mereka hari ini sudah selesai. Seperti biasa, Shigeyo jadi ikut membantu mereka bekerja saking banyaknya pelanggan. Satan jadi ikut terlibat melayani pelanggan karena paksaan dari Shigeyo. Ia mengajak Satan melayani pesanan gadis-gadis. Dengan wajah tampan yang Satan miliki, tentu memikat hati para gadis itu. Shigeyo merasa bangga menganggap dirinya sebagai senior Satan dalam hal ini.
Mereka berjalan menuju halte untuk menunggu bis. Satan juga ikut dengan mereka, seharian ini ia menghabiskan waktu di bar kafe itu hingga rela berbaur dengan kenarsisan Shigeyo demi menunggu Sena selesai bekerja. Sena heran mengapa mahkluk ini tak kunjung pergi.
"Hari yang sibuk seperti biasanya!" Shigeyo menarik kedua tangannya keatas melakukan peregangan pada otot-ototnya yang terasa kaku.
__ADS_1
"Shigeyo selalu berguna" Sena memuji temannya itu.
"Tapi kali ini pelanggan datang lebih banyak karena Terada juga membantu" Kana tak lupa memberi apresiasi kepada teman baru mereka itu. Pujian itu lagi-lagi ditanggapi senyum oleh Satan. Sungguh, jika tersenyum bisa menghasilkan uang, mungkin Satan sudah menjadi jutawan bahkan milyarder.
Pujian Kana terhadap Satan ditanggapi biasa saja oleh Sena.
"Kau harus sering-sering datang, Terada" Shigeyo merangkul bahu Satan yang sedikit lebih tinggi darinya itu. Lagi-lagi Satan hanya tersenyum menanggapi.
Mereka sudah mencapai halte. Tak butuh waktu lama bis sudah berhenti di depan mereka. Tapi itu bukan bis yang akan Sena tumpangi, bis ini untuk Kana dan Shigeyo. Sena melambaikan tangannya kala bis yang Shigeyo dan Kana tumpangi berlalu. Sekarang hanya ada dia dan Satan. Suasana sore hari yang sepi membuat Sena menjadi sedikit takut berdua saja dengan mahkluk ini. Jujur Satan agak sedikit menakutkan bagi Sena walaupun Satan tidak pernah melakukan apa-apa. Mungkin melihat kekuatan super yang dilakukan oleh Satan saat melenyapkan boneka kutukan itu, membuat Sena membayangkan bagaimana jadinya jika ia yang ada diposisi boneka itu. Tapi bagaimana mungkin, Satan tidak akan menyerangnya tanpa sebab.
"Manusia memang merepotkan!" Suara Satan memecah keheningan setelah bis itu berlalu.
"Mereka teman-temanku!" Sena tidak terima dengan penuturan Satan.
"Aku membicarakan mu" Ujar Satan santai.
"Apa?"
"Mengapa kau harus berbohong kepada mereka? Dan itu malah membuatku terlibat dalam sandiwara mu itu dan melakukan hal-hal yang tidak penting"
Sena menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia tiba-tiba merasa tidak enak karena telah melibatkan Satan. Tapi bagaimanapun juga Satan bersalah karena menyapanya seperti itu didepan teman-temannya.
"Aku hanya belum siap menceritakan semuanya kepada mereka. Lagipula, aku tidak yakin jika yang aku alami ini adalah kenyataan. Mereka pasti akan menganggap aku gila"
Satan terlihat menghela napasnya pelan lantas tiba-tiba merubah bentuknya. Bentuk itu, Sena belum siap untuk melihatnya. Sena berjalan mundur namun kakinya tersandung trotoar yang ada dibelakangnya. Ia masih belum terbiasa dengan bentuk asli mereka yang seperti itu. Satan berjalan mendekat.
"Mengapa kau takut? Itu bukan ekspresi yang kau tunjukkan saat bertemu Lucifer"
Sena menelan saliva nya berusaha bangkit. Entahlah, mungkin kesan pertama yang ia dapatkan saat bertemu dengan Lucifer dan Satan itu berbeda.
"Satan!"
Suara lantang yang sangat Satan kenali. Suara yang selalu ia benci. Itu Lucifer. Sena ikut menoleh kala mendengar suara itu.
Lucifer berjalan mendekat kearah mereka. Segera Satan mengikis jarak dengan Sena yang masih terduduk di trotoar itu.
Sena telah berhasil bangkit setelah Lucifer berhadapan dengan Satan. Ia tak mengerti apa perselisihan antara kakak adik ini hingga membuat mereka harus melemparkan tatapan tajam satu sama lain setiap kali bertemu. Namun syukurlah, Sena tak pernah melihat mereka bertarung, tidak akan pernah, Sena tidak ingin melihat jika hal itu sampai terjadi. Siapa yang tau, mungkin saja mereka pernah bertarung dimasa lalu. Untunglah Sena tidak hidup dimasa itu.
__ADS_1
Saat sore hari tiba, inilah awal dari mimpi Sena akan segera dimulai kembali. Saat Lucifer muncul, saat itulah Sena merasa ditengah-tengah mimpi dan realita.