CELESTIEAL RAY "Loving You Is A Sin"

CELESTIEAL RAY "Loving You Is A Sin"
SUARA TERAKHIR KANA


__ADS_3

Sena sudah mengunjungi banyak toko di pusat kota namun ia masih tak menemukan boneka itu. Sekarang sudah sore, saat ia membuka ponselnya jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, kalau begini ceritanya ia akan terlambat bekerja shift malam. Tapi ia masih belum menemukan boneka itu, bagaimana jika ada orang lain yang sudah membelinya mendahului Sena? Ini bisa gawat. Tidak, pekerjaannya juga penting. Akan ia lanjutkan misi ini besok sama seperti hari ini. Masih banyak toko yang harus ia kunjungi, Sena optimis bahwa ia pasti akan segera menemukan boneka terkuat itu. Jika dibilang boneka terkuat, energi negatifnya pasti lebih besar daripada boneka yang biasa, dan itu akan bisa menyerang hingga puluhan orang sekaligus. Sena berharap hari ini ia sempat bertemu dengan Satan, ia ingin meminta keringanan dalam misinya, seperti informasi lokasi atau semacamnya. Jika hanya untuk melacak lokasi, Sena yakin iblis itu pasti bisa melakukannya, mungkin. Sena hanya mengambil kesimpulan lewat cerita-cerita fantasi yang pernah ia baca. Jangan terlalu percaya.


Sena berjalan ke stasiun untuk mencari trem. Ia memutuskan untuk menaiki trem saja karena akan lebih cepat sampai di tempat kerjanya. Sena berpikir untuk langsung ke kafe bar karena tidak ada waktu untuk bersiap-siap dari rumah.


Saat sudah didalam trem Sena berdiri didekat pintu keluar saja. Ponselnya berbunyi dari dalam saku kardigan yang ia gunakan lalu segera menempelkan ponsel itu di telinganya. "Halo, Kana?"


"Sena, kau dimana sekarang?" Suara temannya itu terdengar panik, disana juga terdengar sangat berisik.


"Aku dalam perjalanan, aku tiba 10 menit lagi. Ada apa disana? Kau sudah di bar kafe?"


"Ya, sesuatu yang aneh terjadi disini. Aku tidak bisa menjelaskan padamu di ponsel, aku harap kau segera datang dan melihat" suara Kana terdengar semakin panik ketakutan.


Tiba-tiba sambungan telepon terputus.


"Kana?! Hallo? Kana kau masih disana?!" Sena menjadi khawatir tentang apa yang terjadi di bar kafe mereka, ia berharap trem ini bisa melaju lebih cepat.


Tiba-tiba Sena tersentak dengan suara kaca pintu masuk trem yang dipukul dari luar sontak ia sedikit berteriak. Itu membuat orang-orang yang ada didalam trem melempar pandangan heran kepadanya. Sena menatap orang-orang yang memandangnya lantas menoleh ke arah pintu. Itu Satan. Ia terbang disamping trem yang Sena tumpangi.


"Satan?!" Sena mendekat pada pintu melihat Satan yang berada diluar, ia seolah memberi kode kepada Sena untuk segera mengikutinya, tidak biasanya Satan menghampirinya langsung untuk ikut dengannya, itu berarti hal serius telah terjadi. Apa ini ada kaitannya dengan telpon dari Kana?.


Pria kantoran yang berdiri disebelahnya lantas melihat kearah luar namun tak ia dapati apa-apa lalu menatap Sena bingung.


"Nona apa kau baik-baik saja?" Pria itu bertanya ada Sena. Sena lalu menyadari tingkahnya yang sedikit heboh. Ia baru ingat bahwa Satan tak terlihat oleh orang-orang kecuali dirinya, ia pun tak tau alasannya.

__ADS_1


Sena mengatur sikapnya sedikit santai. Kemudian terdengar bisik-bisik kecil disekitar nya mengata-ngatai Sena. Tak sedikit yang menutup mulut mereka menahan tawa bahkan dapat Sena dengar suara tawa-tawa kecil.


"Gadis zaman sekarang terlalu suka melamun dan membayangkan skenario mustahil hingga berhalusinasi"


"Ya, itu mungkin wajar untuk anak-anak tapi tidak untuk orang yang sudah dewasa. Pfft, Satan? Tokoh apa itu? Iblis? Setan?"


"Diam lah, dia melihat kearah kita"


Kira-kira seperti itulah yang Sena dengar dari beberapa orang didalam trem ini. Ada juga yang tidak peduli, lebih baik begitu.


Sena mulai tak merasa terganggu dengan apa yang orang bicarakan tentang dirinya. Ia ingin segera keluar dari trem ini saat mencapai stasiun berikutnya lalu segera menuju bar kafe. Ia kembali melihat keluar namun Satan sudah tidak ada lagi.


-


"Dengan penuh hormat, tuanku. Hamba menyarankan untuk mengirim Asmodeus atau Mammon untuk membantu Satan" Barbatos dengan hormat menyampaikan saran dengan tangan kanannya yang menyentuh dada kirinya.


Raja Diavolo berbalik menghadap Barbatos. Ia berusaha tenang, ia tak ingin terlihat ketakutan dengan ancaman bangsa Nost. Dia adalah raja Diavolo yang bengis, sadis, kejam dan juga angkuh.


"Tidak, Barbatos. Satan bisa menangani ini seorang diri. Kita beri dia waktu"


"Baiklah, jika tuanku berpikir seperti itu" Sekali lagi Barbatos membungkuk hormat. Tangan kanannya itu selalu ia tempatkan di dada kirinya kala berada dekat dengan raja Diavolo menandakan kesetiannya.


-

__ADS_1


Belphegor tergopoh masuk ke kamarnya dimana ketiga saudaranya telah berkumpul disana. Mammon dan Asmodeus terlihat saling memijat tubuh masing-masing karena hukuman yang diberikan oleh Barbatos. Badan mereka terasa pegal setelah digantung semalaman. Beelzebub? Ia sibuk menikmati makanannya dan entah kapan akan berhenti.


"Hei, dengar!. Aku mendengar pembicaraan Barbatos dan ayah di ruangannya"


Kalimat Belphegor sontak membuat ketiganya beralih untuk mendengarkan.


"Apa yang kau dengar?" Asmodeus penasaran.


"Satan mengalami masalah di dunia manusia. Sepertinya ia melewatkan kutukan terkuat yang disebarkan oleh Nost dan menciptakan kekacauan disana. Kira-kira seperti itulah" Belphegor menceritakan apa yang ia dengar.


"Satan membuat kesalahan? Bagaimana dia bisa melewatkan kutukan terkuat itu?" Mammon membulatkan matanya. Setau mereka Satan adalah yang paling perfeksionis kedua setelah Lucifer. Tugas yang pernah diberikan kepadanya hampir tak ada yang mengecewakan.


"Bagaimana dengan Satan saat ini? Apa yang akan dia lakukan?" Beelzebub berhenti mengunyah kali ini. Walaupun terkesan selalu diam dan tak menyambung dengan topik, Beelzebub selalu menghawatirkan saudara-saudaranya.


"Aku yakin Satan sedang berusaha mengatasinya. Barbatos menyarankan untuk mengirim Mammon dan Asmo untuk membantu Satan" mendengar itu Mammon dan Asmodeus terlihat sangat bersemangat. "Namun ayah menolaknya" kalimat lanjutan dari Belphegor mengubah ekspresi mereka seketika.


"Satan bisa menangani ini" Beelzebub berkata yakin.


"Aarghh! Misi penting selalu diberikan kepada Lucifer, Levi dan juga Satan. Kita tidak pernah mendapatkan kepercayaan seperti itu!" Asmodeus mendudukkan tubuhnya kasar di sofa panjang milik Belphegor. Rahangnya yang bisanya selalu santai itu kini tampak mengeras.


"Aku juga ingin pergi!" Mammon ikut mendudukkan dirinya kasar disamping Asmodeus. Bagi Mammon misi dan kepercayaan tidaklah penting, tujuannya hanya untuk bersenang-senang dengan penuh kemewahan kala ia berhasil mencapai dunia manusia.


-

__ADS_1


Sena turun dari trem lalu langsung bergegas menuju bar kafe mereka yang tak jauh lagi dari sana. Setibanya disana ia melihat beberapa orang yang menatap kedalam bar kafe mereka dengan tatapan takut. Sena segera mendekat dan menerobos keramaian itu untuk dapat masuk. Betapa kaget Sena melihat hal yang sudah terjadi di tempat ini. Sungguh kacau, Sena menutup mulutnya yang sudah menganga.


__ADS_2