CELESTIEAL RAY "Loving You Is A Sin"

CELESTIEAL RAY "Loving You Is A Sin"
SELAMAT JALAN, KANA


__ADS_3

Sena berlari mendekat pada Lucifer. Benar, tujuan Lucifer datang ke tempat ini adalah untuk mencari keberadaan Sena namun ia harus terlibat pertarungan dengan Nost itu dan melupakan tujuannya. Bisa ia lihat gadis itu terlihat sangat kelelahan dengan napasnya yang tersengal. Sena kemudian teringat pada Satan yang ada didalam bar kafe masih mengurusi jasad-jasad itu. Segera Sena masuk dan Lucifer mengekor dibelakangnya.


"Satan... Aku tidak bisa menemukan boneka itu" suara Sena terdengar bergetar. Ia merutuki dirinya sendiri yang tak bisa menemukan keberadaan boneka kutukan itu. Ia sudah pergi ke banyak tempat dimana orang-orang berkerumun, seperti bar, karaoke, pusat perbelanjaan, toko-toko besar, bahkan taman hiburan. Namun ia tak menemukan jejak kutukan itu sama sekali.


Sena terduduk didekat jasad Kana dan menangis. Ia tak percaya teman baiknya berakhir seperti ini. Ia menyalahkan dirinya atas kepergian Kana, jika saja ia bisa mendapatkan boneka kutukan itu hari ini maka Kana tidak akan menjadi seperti ini. Satan dan Lucifer mendekat pada Sena.


"Kau tidak perlu melakukan ini lagi. Maafkan aku yang sudah melibatkan mu dalam hal ini. Selanjutnya serahkan saja padaku" Satan berbicara pada Sena yang masih menangis menggenggam tangan jasad Kana.


"Aku ingin mencari boneka kutukan itu! Tolong biarkan aku tetap membantumu! Aku sudah terlibat sejak awal setidaknya biarkan aku berakhir mengenaskan daripada hidup dengan rasa bersalah!" Sena memohon kepada Satan setelah menyeka air matanya. Nada bicaranya naik turun mengimbangi sesak di dadanya.


Satan menoleh pada Lucifer seolah ingin tau reaksi nya. Namun Lucifer segera menganggukkan kepalanya sekilas seolah memberi isyarat kepada Satan. Satan menyentuh pundak Sena "aku mengandalkan mu". Sekali lagi Satan mengatakan itu kepada Sena. Itu artinya Sena akan tetap membantu Satan mencari boneka kutukan yang menyebabkan temannya meninggal.


"Sena..." Suara Lucifer membuat Sena menoleh.


"Aku harap kau akan segera terbiasa dengan ini. Kematian akan datang tak terduga bahkan pada orang-orang terdekat mu, tapi yang bisa kau lakukan hanyalah melindungi mereka selama kau memiliki keberanian"


Satan membuang muka kala mendengar penuturan Lucifer. Lucifer seolah tengah membicarakan diri sendiri yang telah gagal melindungi Lilith. Dan itu sedikit menyinggung Satan karena akibat anak panahnya lah Lilith tiada. Sena mengangguk mengerti, perkataan Lucifer cukup membuatnya termotivasi untuk menjadi lebih berani dan kuat.


Satan telah selesai dengan pola-pola pada jasad-jasad itu. Kini ia tengah menyebarkan mantranya pada setiap jasad untuk segera disucikan dari energi negatif. Jasad-jasad yang telah suci satu persatu menghilang dari tempatnya berubah menjadi debu aneh yang berkilau lalu lenyap. Sena kaget melihat itu lantas segera menghentikan Satan.


"Tunggu! Apa yang kau lakukan?" Sentuhan tangan Sena pada lengan Satan membuat mantranya patah.


"Mereka akan berada di tempat yang layak, apa yang kau khawatirkan?"


"Kau akan menghilangkan Kana juga?"


"Jika tidak Nost akan memanfaatkan energi nya"


Dengan berat hati Sena melepas cengkraman tangannya dari lengan Satan dan membiarkan iblis itu melanjutkan tugasnya.

__ADS_1


Sena memperhatikan tubuh Kana yang perlahan menghilang berubah menjadi debu cahaya. Tatapan nanar nya lagi-lagi berubah menjadi air mata kala jasad terakhir telah menghilang dan proses penyucian berakhir. Bar kafe itu telah rapi kembali, tak ada lagi darah-darah dan jasad-jasad yang tergeletak dimana-mana. Namun Sena kehilangan satu sahabat nya, Kana. Sena mengalihkan pandangannya pada meja kasir tempat biasanya ia bekerja dengan Kana. Menghabiskan waktu seharian dengan bekerja dan tak jarang saling memarahi dan kemudian tertawa bersama. Mesin kopi dan teh serta gelas-gelas itu menjadi saksi kebersamaan mereka. Masih dapat Sena rasakan kehadiran Kana bahkan suara tawanya. Selamat jalan, Kana.


Lucifer menyentuh pundak Sena berusaha menguatkan gadis itu. Ini pertama kalinya bagi Sena mengalami hal seperti ini dan mengharuskan dirinya untuk kehilangan sahabatnya.


Hari sudah gelap saat mereka bertiga sudah keluar dari bar kafe itu. Sepertinya bar kafe ini akan ditutup untuk sementara waktu dikarenakan peristiwa yang sudah terjadi hari ini. Warga sekitar pasti menyangka ini adalah kasus pembunuhan berencana atau semacamnya.


"Aku akan pergi" Satan sudah berbalik untuk meninggalkan tempat itu. Namun segera dihentikan oleh Sena.


"Tunggu dulu!. Apa yang terjadi saat aku tidak disini?. Mengapa kalian berdua terluka?" Sena menyadari kondisi mereka berdua yang penuh dengan luka.


Satan terlihat mengabaikan pertanyaan Sena karena malas untuk membahasnya lagi, itu akan membuat nya kembali mengingat akan kekalahannya.


"Nost datang menyerang" Akhirnya Lucifer menjawab.


"Nost?! Dia menyerang kalian?"


"Lebih tepatnya mereka. Dia membawa pasukannya dan membuat aku dan Satan kesulitan melawannya"


Bersamaan dengan itu Satan sudah berjalan menjauh meninggalkan tempat itu. Sena berbalik untuk melihat reaksi Satan kala Satan sudah menjauh.


"Mengapa dia tidak terbang seperti biasanya?"


"Sayapnya terluka" Lucifer memberikan jawaban. "Aku harap kau tidak membicarakan Nost didepannya lain kali"


"Ada apa?"


"Pokoknya jangan"


Sena mengangguk saja walau tak mengerti apa maksud Lucifer. Ia tak ingin ambil pusing.

__ADS_1


"Aku akan mengantarmu pulang" Lucifer sudah berjalan mendahului Sena. Sena mengekor saja karena ia mengerti kekhawatiran Lucifer jika ia pulang sendirian setelah semua yang terjadi hari ini. Ia juga khawatir jika tiba-tiba bertemu boneka kutukan itu saat berjalan sendirian di jalanan. Mungkin ia akan lebih aman jika bersama Lucifer.


"### Apa sayapmu juga terluka?" Sena bertanya pada Lucifer karena tidak biasanya iblis ini berjalan kaki, biasanya ia akan tiba-tiba membawa Sena terbang.


"Apa kau ingin aku membawamu terbang?"


"T-tidak, bukan begitu. Aku hanya bertanya"


Lucifer hanya diam tak menanggapi. Sikap Lucifer yang sering mengabaikannya seperti ini terkadang membuat Sena merasa kesal. Kira-kira seperti itulah Lucifer dimata Sena sejak pertama kali mereka bertemu.


Mereka sudah tiba didepan rumah Sena. Lagi-lagi malam hari selalu menjadi latar pertemuan Sena dengan Lucifer, ia sangat jarang menemui iblis ini disiang hari, tidak seperti Satan.


"Masuklah, aku akan pergi"


Sena mengangguk setelah itu mengucapkan terimakasih kepada Lucifer. Tiba-tiba terdengar suara sesuatu.


Kreokk!


Seketika pipi Sena memerah. Suara itu bukan berasal dari perutnya, kan?. Setelah ia rasa-rasa, sepertinya bukan. Ia lantas menatap Lucifer. Iblis itu terlihat memerah saat menyadari Sena memperhatikannya. Pfft, Lucifer lapar?.


"Apa kau lapar?" Sena akhirnya menanyakan itu pada iblis yang ada didepannya ini.


"Sedikit" jawabnya singkat tanpa melihat Sena.


Sedikit apanya, toh bunyi perutnya sampai terdengar jelas seperti itu. Sena berusaha untuk tidak tertawa melihat ekspresi Lucifer saat ini, ekspresi yang tidak pernah ia lihat pada wajah dingin dan serius iblis itu. Namun seketika Sena merasa bingung, apa yang biasa dimakan oleh Lucifer? Apakah ia bisa memakan makanan manusia?.


"Em, apa yang biasa kau makan?" Sena memberanikan diri untuk bertanya.


"Manusia" lagi-lagi Lucifer menjawab singkat. Namun jawabannya kali ini membuat sena bergidik ngeri hingga menciptakan keheningan diantara mereka. Gawat, Sena sedang bersama dengan iblis yang sedang kelaparan.

__ADS_1


"Aku bercanda!" Lucifer membuyarkan ketakutan Sena dengan wajahnya yang sedikit tersenyum melihat ekspresi tegang Sena. "Aku tidak selera memakan mu" sambung Lucifer membuat Sena merasa semakin kesal dipermainkan oleh iblis ini. Tidak ia sangka Lucifer juga bisa membuat lelucon seperti itu.


"Kalau begitu, ingin ku masakkan sesuatu?" Sena menawarkan Lucifer. Jika Lucifer berkata seperti itu, artinya dia bisa memakan makanan manusia.


__ADS_2