
Sekitaran bar kafe tempat Sena bekerja sudah diamankan oleh polisi. Sekelilingnya sudah terpasang garis polisi tanda tempat itu tidak boleh didekati.
"Tidak ditemukan jejak apapun, pak. Seluruh jasad yang diketahui berdasarkan laporan warga sekitar telah menghilang" ujar salah satu pria berbadan kekar yang mengenakan seragam polisi.
"Ini sangat aneh. Siapa yang mengurus jasad-jasad itu dalam waktu satu malam?" Pria berpangkat inspektur itu bergumam.
"Inspektur Kou!" Suara seorang pria memanggil inspektur itu tergopoh keluar dari dalam bar kafe. "Tim kami menemukan boneka ini di sebuah kursi bar kafe ini!" Lanjut pria berusia 29 tahun berprofesi sebagai detektif itu dengan boneka yang ada ditangannya. Ya, itu adalah boneka kutukan terkuat yang menyerang orang-orang sebelumnya.
"Tidak ada hal lain lagi?" Inspektur Kou bertanya kembali.
"Tidak, Inspektur. Hanya ini yang dapat kami temukan"
Inspektur Kou kemudian melangkah untuk sekedar memeriksa bar kafe yang sudah sangat rapi, bahkan tak ada tanda atau bekas seperti tempat insiden pembunuhan massal.
"Detektif Yamada, serahkan laporan mengenai jasad korban meninggal yang menghilang di tempat kejadian. Kita akan segera melakukan pemeriksaan di masing-masing keluarga korban" ujar Inspektur Kou memberi perintah.
"Dimengerti, Inspektur!"
-
Drrtt! Drrtt!
Ponsel yang berada di samping kepala Sena bergetar. Lantas sang pemilik terbangun dan meraba-raba samping kepalanya mencari sumber getaran.
"Sena! Apa kau dirumah?" Suara yang Sena kenali. Suara Shigeyo. Sena hanya mengerang menanggapi pertanyaan Shigeyo, matanya masih terpincing sebelah.
"Ini darurat! Jasad-jasad penyerangan massal di tempat mu bekerja, semuanya menghilang! Sena, Kana juga menjadi korban penyerangan itu!" Suara Shigeyo panik sekali di seberang telpon.
Sena mendadak bangun. Perasaannya tak karuan saat mendengar perkataan Shigeyo. Bukan karena ia kaget tentang jasad-jasad yang menghilang, tapi ia tak terpikirkan bagaimana ia akan menghadapi Shigeyo setelah semua ini.
"Sena?! Sena! Kau mendengar ku? Reporter datang kerumah ku menanyakan banyak hal, sepertinya reporter lain akan segera datang kerumah mu! Sena! Jawab aku!" Suara Shigeyo masih berlanjut di seberang telpon namun Sena sudah tak fokus lagi pada telponnya hingga akhirnya telpon itu berakhir dengan sendirinya. Sena segera bangun dan menyalakan televisi untuk melihat berita. Benar saja, seluruh saluran televisi sedang membahas perihal jasad-jasad yang menghilang misterius di bar kafe. Sena melihat ibu Kana yang sudah tak muda lagi tersiar di televisi. Wanita tua dengan dua anak itu terlihat menangis kala ditanyakan beberapa hal oleh reporter.
Tak lama kemudian bel rumah Sena berbunyi disertai dengan suara berisik. Sena sudah menduga itu adalah reporter yang Shigeyo maksud. Sena menaiki tangga kayu itu menuju ruangan atas rumahnya, perlahan ia intip dari balkon untuk memastikan bahwa yang datang benar-benar reporter itu. Sialan, itu memang mereka. Sena tidak tau harus berkata apa saat ditanyakan nanti, ia memutuskan untuk menghindar.
Sena sudah berada di halaman belakang rumahnya setelah menutup pintu. Ia memutuskan untuk melarikan diri dari belakang, layar ponselnya sudah tertera kontak Shigeyo untuk segera ia hubungi.
__ADS_1
"Sena?" Suara Shigeyo terdengar setelah telpon itu diangkat.
"Ayo bertemu"
"Sekarang? Tapi dirumah ku sedang sangat ramai, aku tidak mungkin meninggalkan nya"
"Ada yang ingin kukatakan kepadamu, ini penting. Temui aku di bar bawah tanah secepatnya"
"Baiklah kalau begitu"
Sena sudah menutup telponnya. Ia menghela napas, ia merencanakan untuk memberitahu Shigeyo segalanya, semua yang dia alami.
Sena sudah menyimpan ponselnya, ia sesekali memeriksa kerumunan reporter itu didepan sana lewat samping rumahnya tanpa memperlihatkan keberadaannya sedikitpun. Saat dirasa aman, tiba-tiba seseorang membekap mulutnya dari belakang saat tepat ia hendak berbalik.
"Diam dan jangan berteriak" ucap seseorang yang tak bisa Sena lihat wajahnya ini.
Seketika kaki Sena melayang di udara dan semakin tinggi. Ia hendak berteriak namun tangan ini masih membekap mulutnya. Setelah jauh dari lokasi komplek perumahannya, Sena menggigit tangan sosok yang mengajaknya terbang ini lantas tangan itu terlepas membekap mulutnya.
"Sialan kau!" Sosok itu mengumpat saat Sena menggigit tangannya.
"Mengapa kau membawaku?!" Tanya Sena setelah mengetahui iblis ini tidak asing lagi baginya.
"Aku mempermudah pelarian mu, seharusnya kau berterimakasih"
"Aku tidak memintamu untuk membantuku" Sena menyangkal kebaikan Satan. Satan melonggarkan dekapannya pada pinggang Sena sehingga berhasil membuat gadis itu berteriak ketakutan.
"Satann!! Kau ingin membunuhku?!"
"Itulah yang akan kulakukan jika kau tidak kunjung diam"
Sena mengerucutkan bibirnya kesal. Iblis yang satu ini sungguh kejam. Sena merasakan perbedaan saat ia terbang bersama Lucifer. Lucifer menggendongnya hingga Sena tidak dapat melihat ketinggian disekitar nya, yang dapat ia lihat hanyalah sayap Lucifer yang mengepak dibelakangnya. Namun cara Satan? Iblis ini hanya mendekap pinggangnya dengan satu tangan hingga membuat Sena merasa seperti digantung diketinggian. Sena melihat pemandangan kota yang berlalu begitu cepat dibawahnya. Hal itu membuatnya sedikit pusing bahkan mual.
"Huek-.." Sena mulai mengeluarkan bunyi aneh saking mualnya.
"Payah! Akan ku jatuhkan kau jika sampai mengotori diriku" Satan malah mengancam Sena sedangkan gadis itu setengah mati menahan mualnya, jika tidak Satan benar-benar akan menjatuhkannya. Ia sungguh berharap mereka cepat mendarat.
__ADS_1
Akhirnya mereka mendarat di sebuah tempat. Lokasi bar bawah tanah yang Sena janjikan kepada Shigeyo di telpon. Sena terhuyung kesana kemari lalu menabrak sebuah kotak sampah. Satan hanya menyaksikan kekacauan gadis ini, bahkan ia tidak meminta maaf.
Sena segera mencari toilet umum untuk segera melepaskan mualnya, sementara Satan tetap menunggu ditempat itu tanpa mengubah bentuknya. Ia sedang malas berinteraksi dengan orang-orang yang akan menyapanya nanti. Bentuk iblis terlihat lebih baik untuk saat ini.
Beberapa saat kemudian Sena telah kembali. Ia sudah merasa lebih baik sekarang. Satan tersenyum kecil melihat keadaan Sena yang kacau, ia senang mengerjai gadis ini hingga seperti ini.
"Tidak lucu!" Ucap sena menyadari Satan tengah meremehkan dirinya. "Lain kali jangan bawa aku terbang seperti itu" sambung Sena.
"Aku bukan Lucifer" Satan menanggapi singkat.
Sena baru ingat tentang Lucifer. Apakah ia benar-benar menemui Satan semalam? "Apa kau bertemu dengan Lucifer tadi malam?" Akhirnya Sena menanyakan itu pada Satan.
"Ya" Satan menjawab singkat. Wajahnya terlihat seolah malas untuk membahas ini. Namun Sena tidak bisa menahan rasa penasarannya.
"Apa kau baik-baik saja? Kau pergi tanpa mengatakan apapun, aku melihat banyak luka di tubuhmu" Satan menoleh saat Sena menanyakan itu kepadanya. Ia tak menyangka Sena juga menghawatirkan dirinya.
"Aku tidak selemah itu. Lagipula-.." Satan seperti menahan perkataannya "Lucifer memberiku ini" ia kemudian melanjutkan perkataannya sembari mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Itu adalah perban yang Sena gunakan untuk merawat luka pada sayap Lucifer semalam. Sena tersenyum saat melihat perban itu ada pada Satan. Ia sendiri tau bagaimana hubungan Lucifer dan Satan yang tidak baik, Lucifer sudah menceritakan segalanya kepadanya, jadi tidak ada yang tidak ia ketahui mengenai keluarga iblis itu.
-
Semalam Lucifer menemukan Satan disebuah rumah. Ia sudah cukup jauh berjalan sejak ia pergi dari rumah Sena. Cahaya hijau yang berasal dari suatu tempat membuat Lucifer tertarik dan segera berjalan ke arah cahaya itu berasal. Saat tiba, didapatinya Satan dengan bentuk sigma tengah melakukan kultivasi singkat terhadap dirinya sendiri. Ia melakukan kultivasi dengan menyerap energi spiritual disekitarnya demi mempercepat pemulihannya. Satan tidak bisa terus terluka jika tidak misinya akan terganggu.
Lucifer menyaksikan hingga kultivasi Satan berakhir. Hingga akhirnya Satan menyadari keberadaan Lucifer yang sejak tadi memperhatikannya.
Lucifer berjalan mendekat pada Satan "Untuk apa melakukan kultivasi singkat?"
Satan tidak menjawab, ia yakin Lucifer tau alasannya melakukan itu, jadi ia tak perlu menjawab. Ia tau Lucifer hanya sekedar basa-basi saja. Satan melangkah masuk ke rumah itu saat sudah mengubah bentuknya kembali ke bentuk manusia. Ini adalah rumah Satan sejak datang kerumah manusia, walau bagaimanapun Satan tidak seperti Lucifer yang sanggup mengembara tanpa tujuan. Tentu ia membutuhkan rumah.
"Satan aku bisa membantumu" Lucifer sedikit meninggikan suaranya untuk menghentikan langkah Satan.
"Levi sudah datang, dia bisa membantuku. Sebaiknya kau urusi dirimu sendiri jika tidak mau ditaklukkan oleh Levi"
Lucifer mendekat pada Satan. Ia mengeluarkan perban putih dari sakunya yang ia lepas dari sayapnya tadi lalu mengikatkan itu di lengan Satan. "Jiwamu akan lengkap kembali" ucap Lucifer setelahnya.
Satan termangu. Ia menatap punggung Lucifer yang berjalan menjauh lalu beralih pada perban yang melilit tangannya. Mengapa Lucifer tak lakukan ini saat ia hampir mati dimasa lalu karena perbuatan Lucifer sendiri? Dadanya terasa sesak, ia berharap setidaknya Lucifer bisa bersikap lebih buruk sehingga ia mampu membenci Lucifer sepenuhnya. Satan telah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak pernah memihak Lucifer yang telah mencoba mencabut avatar kemarahan dari dirinya. Avatar yang sangat ia banggakan.
__ADS_1