
Saat bayangan misterius itu menghentikan penyiksaan Futakuchi-Onna, Akiko menyadari bahwa dia memiliki kesempatan untuk melarikan diri. Dia meraih peluang itu dengan segera, meskipun tubuhnya penuh dengan rasa sakit. Akiko merangkak menjauh dari Futakuchi-Onna, mencoba mengumpulkan kekuatan untuk bangkit berdiri.
Futakuchi-Onna melolong kesakitan dan berusaha menahan serangannya. Dia merasa marah dan terkejut oleh kedatangan bayangan tersebut. Rambut panjangnya kembali menutupi wajahnya, dan dia bergerak mundur, seolah-olah takut akan sosok misterius ini.
Bayangan itu terus berbicara, "Kau telah melakukan kejahatan yang tak termaafkan, Futakuchi-Onna. Kau tidak akan lagi mengganggu penduduk desa ini."
Futakuchi-Onna dengan marah mencoba menyerang bayangan tersebut, tetapi kekuatannya tiba-tiba terasa melemah. Sosok bayangan itu tampaknya memiliki kekuatan yang luar biasa, dan rambut Futakuchi-Onna menjadi semakin tidak terkendali.
Akiko, meskipun masih lemah, berhasil berdiri. Dia melihat sosok bayangan itu dengan penuh kekaguman dan berterima kasih karena menyelamatkannya. Dia tahu bahwa dia tidak bisa tinggal lebih lama di hutan ini. Dengan perlahan, dia mulai berjalan menjauh dari Futakuchi-Onna yang masih sibuk berkelahi dengan bayangan misterius itu.
__ADS_1
Bayangan itu dengan mantap menghadapi Futakuchi-Onna. "Hentikan perbuatanmu, atau kamu akan mengalami nasib yang lebih buruk."
Futakuchi-Onna, meskipun terlihat marah, merasa ketakutan. Dia perlahan mengurangi kekuatan serangannya dan kemudian dengan cepat menghilang ke dalam bayangan pohon-pohon hutan.
Akiko akhirnya berhasil meninggalkan hutan dan kembali ke desa. Dia tidak tahu apa atau siapa bayangan misterius itu, tetapi dia merasa bersyukur telah selamat dari penyiksaan Futakuchi-Onna. Legenda tentang wanita berambut runcing itu akan selalu menjadi peringatan bagi penduduk desa tentang akibat dari keserakahan dan kekejaman.
Tiba-tiba, dia mendengar suara gemericik air dari dekatnya. Dia mengikuti suara itu dan menemukan anak-anak kecil dari desa yang sedang bermain di pinggir sungai. Futakuchi-Onna tersenyum licik, dan rencana kejamnya mulai terbentuk.
Dia mendekati anak-anak itu dengan tampilan yang menenangkan, seolah-olah ingin bermain bersama mereka. Anak-anak itu, tidak menyadari bahaya yang mengintai, menyambutnya dengan senang hati. Mereka tidak tahu bahwa mereka telah jatuh ke dalam perangkap Futakuchi-Onna.
__ADS_1
Tiba-tiba, dengan gerakan cepat dan kejam, Futakuchi-Onna menyerang anak-anak itu. Rambut panjangnya yang tajam bergerak seperti belati, memotong mereka menjadi kecil-kecil dengan sangat cepat. Anak-anak itu berteriak ketakutan, tetapi tidak ada yang bisa melarikan diri dari serangan kejam ini.
Setelah anak-anak itu telah dipotong menjadi potongan-potongan kecil, Futakuchi-Onna menempatkan potongan-potongan itu di dalam keranjang dan membawanya ke tepi sungai. Di sana, dia memulai tindakan mengerikan berikutnya. Dengan nafsu kejam, dia mulai memakan potongan-potongan anak-anak itu satu per satu.
Raut wajahnya terlihat gila dan jijik, tetapi dia tidak bisa menghentikan diri. Hanya darah dan daging yang memadati mulutnya yang kini menjadi moncong seperti pada legenda aslinya. Futakuchi-Onna terus makan dengan nafsu, seperti makanan lezat yang baru ditemukan.
Ketika dia selesai, hanya ada keranjang kosong dan pemandangan yang penuh dengan kengerian. Hanya ada keheningan dan bau darah yang kini menghiasi sungai tersebut. Futakuchi-Onna tersenyum puas, tetapi dalam dirinya, ada rasa kekosongan yang semakin dalam.
Dia menyadari bahwa perbuatannya yang kejam dan sadis tidak akan pernah menghilangkan rasa lapar dalam dirinya. Futakuchi-Onna telah jatuh ke dalam lubang kegelapan yang tidak berujung, menjadi monster yang haus darah dan daging manusia.
__ADS_1