Cinta & Benci Bersamaan

Cinta & Benci Bersamaan
BAB 1 #Prince & Princess Sekolah


__ADS_3

Rina yang merasa berdebar karena sebentar lagi akan lulus sekolah, dan masuk ke perguruan tinggi yang sudah di impikan sejak di bangku satu SMP.


Tentu saja, pasti ada jalan yang berliku-liku untuk meraihnya. Tinggal bagaimana tekad dan usaha kita untuk menggapainya.


...Kelas XII-3...


“Rin! nanti setelah lulus kamu mau kemana?” tanya Sari.


Rina menoleh dan menjawab pertanyaan itu dengan ramah. “Rencana sih mau kuliah ambil jurusan comic art.”


Salah seorang siswi di samping Rina ikut menyinggahi, “Wow! gua udah duga sih, setelah liat postingan lu di sosmed. Selain art-nya bagus ceritanya juga menarik.”


“Gak sebagus itu kok. Masih banyak yang kurang pas, dan untuk ceritanya dari teman les yang sekelas dengan ku,” balas Rina menoleh ke arah sisiwi yang duduk di sampingnya.


“Oh, pantesan aja setiap komik yang kamu posting selalu tag orang. Tapi gak pernah tag akun ku, sahabat kamu yang selalu nemenin suka dan duka,” ujar Sari dengan wajah di buat meringis.


“Yaelah lebay banget sih lu, Sar!” timpal Neni, siswi yang duduk di samping kursi Rina.


“Kenapa? kamu iri ya, karena baru kenal Rina pas kelas 3 hehee, iri bilang aja boss!” balas Sari sambil mengejek.


Rina yang melihat ke dua temannya berdebat langsung menengahi. “Dah, kalian jangan mulai ya! tapi kalo kamu ada cerita boleh kok, Sar. Nanti aku jadikan komik dan tag akun mu.”


“Ogah! dari pada ngayal, mending kerja part time, jelas menghasilkan uang. Hidup ini udah penuh dengan beban, jadi jangan di tambahin lagi beban pikirannya,” timpal Sari.


Melihat pernyataan Sari, Neni langsung menimpalinya dengan guyon. “Hahahaha, Sari-Sari. Emang seberat apa sih beban lu, sini bagi ke gua.”


“Kamu gak akan kuat, Ni. Mending Puad aja yang nanggung!” balas Sari.


“Hah! kenapa malah bawa-bawa Puad?” tanya Neni lirih merasa bingung.


“Ya gak, Ad?” lanjut Sari dengan lantang mendongak ke tempat duduk siswa.


Puad menengok ke kursi belakang. “Apanya?”


“Kamu nanya?” timpal Sari.


“Idih! gaje banget sih lu, Sar!”


Mendengar perkataan Puad, Sari menanggapinya dengan tawa puas. “Hahahaha.”


Rina yang juga ikut menikmati obrolan teman-temannya, meski tangan Rina sibuk dengan pensil yang terus menggores-gores kertas.


Menggambar seorang pria yang memiliki wajah berbentuk rectangle, dengan hidung yang mancung, mata yang agak sipit, belahan pada dagunya, bibir yang tipis dan memiliki senyum yang manis.


Melihat Rina yang sangat fokus membuat Sari tampak penasaran, apalagi Rina menggambarnya sambil senyum-senyum tersipu.


Tanpa membuang waktu, Sari langsung memberi kontak mata kepada Neni agar dapat mengintip sedikit saja.


Sebab, Neni yang duduknya paling dekat dengan Rina, sehingga tampak jelas gambar apa yang sedang Rina buat. Melihat Neni yang diam saja membuat Sari semakin penasaran.

__ADS_1


“Rin!” Panggil Sari.


“Hah!” sahut Rina melongo.


“Kenapa, Sar?” sambungnya.


Ketika Rina melirik ke arah Neni, rupanya Neni sedang menatap buku gambar Rina. Rina terkejut karena tanpa sadar dia menggambar pria yang tak lain adalah kekasihnya.


Dengan sigap Rina segera menutup buku gambarnya. Tapi tetap saja itu sia-sia, karena Neni sudah tau sebelum Sari memanggilnya.


“Rin, itu yang lu gambar ... siapa?” tanya Neni menatap Rina dengan penuh penasaran.


“Hah! kenapa kamu terkejut gitu, Ni? kayak pertama kali liat Rina gambar orang aja!” sahut Sari.


“Bukan gitu, Sar! kali ini beda!” balas Neni dengan wajah serius di penuhi rasa penasaran.


“Beda? Emang kamu gambar siapa, Rin? Coba tunjukin dong, aku juga pengen liat,” timpal Sari yang ikut penasaran.


Rina mulai berkeringat dan menjadi gugup sampai tergagap-gagap saat menjawab pertanyaan teman-temannya. “Ee ... i-itu ... bu-bukan siapa-siapa kok!"


“Aku cuma asal gambar aja. Beneran kok, cuman ngasal!” sambungnya.


Neni yang terus menatap Rina seperti sedang mengamati sikap dan gerak geriknya. Seolah-olah, Rina tak ingin memberitahukan kepada teman-temannya.


Entah apa yang Rina sembunyikan, meski sangat penasaran tapi Neni jelas tau, bahwa temannya pasti punya alasan dan itu haknya.


Kringg, kringgg!


Berbeda dengan Sari, meski sudah berteman lama Sari bukan tipe orang yang peka terhadap sekitar. Sedangkan Neni, meski baru berteman kurang dari 1 tahun, dia cukup peka terhadap sekitarnya.


...***...


Pelajaran pun berakhir dengan damai tanpa ada tugas rumah ataupun kerja kelompok.


“Guys, gua cabut duluan yah. Pacar gua dah nungguin di gerbang sekolah, hehe.” Neni beranjak dari tempat duduk meninggalkan kelas.


“Enak banget sih yang punya gandengan, bisa kencan sepulang sekolah. Ya gak, Rin?” keluh Sari sambil memasukan buku ke dalam tasnya.


“Hah! oh, i-iya!” sahut Rina yang tiba-tiba panik dan langsung berdiri dari tempat duduknya.


“Kamu kenapa, Rin? lagi gak enak badan, ya?” tanya Sari yang sudah selesai merapikan dan segera bangkit dari tempat duduk.


“Udah yuk, Sar. Kita juga pulang!” jawab Rina mengabaikan pertanyaan Sari dan langsung menariknya keluar dari kelas.


Walau Neni seperti sudah melupakan apa yang dilihatnya, tetap saja membuat Rina merasa tidak tenang. Bahkan, Rina merasa bersalah karena menyembunyikan fakta kalo dia sudah punya pacar.


Sepanjang perjalanan dari kelas, Rina terus kepikiran. Sedangkan Sari, sibuk dengan ponselnya. Bukan membalas chat doi, melainkan dia sibuk dengan jualan online-nya.


...Depan gerbang...

__ADS_1


“Eh ... bentar, Rin!” ucap Sari menahan tangan Rina.


“Kenapa, Sar? ada yang ketinggalan?” tanya Rina menghentikan langkahnya.


“Bukan ketinggalan, tapi kayaknya ada yang kelupaan. Apa yah...” ujar Sari sambil berpikir.


“Oh iya! aku lupa pinjem buku ke perpus,” sambungnya.


“Tumben! biasanya kamu yang paling anti ke perpus,” timpal Rina menatap heran sahabatnya.


“Eits! jangan salah, Rin. Kalo soal bahan untuk masa depan selalu number one!” sahut Sari.


“Haha, bahan untuk ide jualan online shop lagi ya?” timpal Rina.


“Yups. Yuk antar ke perpus untuk cari bukunya.” Ajak Sari menarik tangan Rina.


Rina menyinggahi ajakannya. “Siap, Nyonya.”


Sari yang mendengar itu merasa geli, dan di sambut dengan tawa. “Hahaha, panggilan macam apa tuh.”


Sepanjang perjalanan menuju perpustakaan sekolah, mereka mengobrol tentang toko online shop milik Sari.


Di tengah-tengah obrolan mereka yang seru, Rina tiba-tiba menghentikan langkahnya tepat di depan pintu perpustakaan.


“Eh, Rin! Kok kamu malah diam berdiri di situ?” tanya Sari menoleh kebelakang.


“A-Aku tiba-tiba dapat panggilan darurat, aku ke toilet dulu ya,” sahut Rina menunjuk arah ke toilet.


“Oh gitu, kenapa gak bilang dari tadi. Ya udah sana gih, Rin!” timpal Sari.


Rina pun segera bergegas pergi ke arah toilet dengan perasaan yang gak karuan, bukan karena panggilan darurat, melainkan karena keberadaan seseorang yang duduk di kursi dekat jendela.


...Di waktu yang sama - perpustakaan -...


Terdengar suara samar-samar dalam perpus, karena adanya aturan dilarang berisik ketika berada di dalam perpustakaan.


Penghuni di dalam sana saling berbicara pelan. Melontarkan pertanyaan dan kalimat yang sama. Berbisik dari satu ke yang lainnya, bukan bisik-bisik tetangga ataupun bisikan syaithon.


“lihat-lihat. Itu ada kak Abian sama kak Aadina,” ujar siswi itu dengan lirih menatap kagum.


Salah satu siswi di sampingnya mengedarkan pandangan ke seluruh perpus. “Mana-mana?”


“Itu, kursi ujung dekat jendela.” Jari telunjuk temannya memanah ke arah Abian dan Aadina yang tengah sibuk membaca.


“Kyaaaaa! kak Abian hari ini tampan banget sih!” pekik salah satu siswi hampir memenuhi ruang perpus.


“Wah! mereka benar-benar seperti sepasang kekasih, aku jadi iri deh sama Aadina,” ujar salah satu siswi lagi.


“Kayaknya bukan lu aja deh yang iri, semua adik kelas juga ngerasa iri sama Aadina,” timpal siswi yang duduk di sampingnya tak tergoyahkan dengan kehadiran bintang sekolah itu, dan masih fokus dengan buku di tangannya

__ADS_1


“Mereka serasi banget yah, emang cocok dapat julukan pangeran dan putri sekolah. Selain cantik dan tampan, mereka juga memiliki followers yang paling banyak di antara semua murid sekolah ini,” ungkap salah satu siswi lagi.


Sari yang sudah biasa mendengar keributan setiap kali Abian dan Aadina terlihat bersama hanya mengatakan kalimat ini. Oh! Abian sama Aadina.


__ADS_2