Cinta & Benci Bersamaan

Cinta & Benci Bersamaan
BAB 8 #Curhat


__ADS_3

Namun saat wanita itu turun dia berjalan memasuki halaman yang pagarnya hanya dari bambu, setelah berjalan beberapa langkah wanita itu kini berdiri di depan pintu dan mulai mengetuk pintu dengan pelan.


Tok!


Tok!


Tok!


Terdengar suara ketukan pintu, yang kemudian datang seorang wanita paruh baya di balik pintu berjalan mendekat dan membukakan pintu.


Saat wanita paruh baya itu membuka pintu, dia mendapati seorang wanita muda dengan memakai seragam sekolah yang sama seperti anak-anak tadi yang baru saja pamit pulang.


“Sari!” pekik wanita itu merasa senang saat melihat seseorang yang berdiri di depan pintu rumahnya adalah Sari, anak semata wayangnya.


“Kenapa baru pulang? Mama telponin dari tadi gak di angkat-angkat!”


“Terus teman kamu juga sampai cari-cari kamu di semua tempat yang biasa kamu kerja paruh waktu, tapi kamunya malah gak ada, dan katanya gak masuk!”


Celoteh Mawar yang kini rasa cemas di raut wajah mulai beringsut memudar.


“Teman-teman?“ tanya Sari yang masih berdiri di depan pintu.


“Iya, Rina teman kamu waktu SMP ... sama satu lagi mama gak tau namanya, tapi dari penampilan kayaknya sih dia anaknya tomboy gitu,” terang Mawar.


Sari tak merespon apapun, entah apa yang sedang hatinya bicarakan.


“Udah yuk kita masuk rumah, kamu juga pasti belum makan dari siang,” titah Mawar merangkul anaknya masuk ke dalam rumah


Beberapa menit setelah Sari selesai ganti baju dan mandi kini Sari tengah duduk di meja makan yang ramai dengan makanan kesukaannya.


Namun gak ada satu pun makanan yang Sari sentuh padahal sudah duduk beberapa menit yang lalu. Membuat Mawar tak bingung dengan sikap anaknya.


“Kok malah cuma di liatin aja, kenapa gak di makan sayang?” ujar Mawar yang duduk di samping Sari.


“Mah?” panggil Sari dengan tatapan kosong.


"Menurut Mama ... saat tau ada teman Mama gak jujur dan Mama taunya malah dari orang lain, kalau kayak gitu Mama kasih reaksi apa ke teman Mama?"

__ADS_1


Sari menatap wajah mamanya yang sedang jadi pendengar yang baik


“Reaksi Mama ya?” tanya Mawar dengan tangan kiri menopang dagu


Sepertinya Sari lagi ngomongin masalahnya sama Rina? apa mereka bertengkar hebat makanya Sari bolos sekolah?


“Iya, Mah!” ujar Sari menatap serius untuk mendengar apakah reaksinya akan sama seperti Sari lakukan saat ini kepada Rina.


Mawar memberikan jawaban yang panjang kali lebar pada anaknya, tak lupa jua diakhir kalimat memberikan saran terbaiknya untuk Sari.


“Mama pasti marah banget sih sama teman Mama, tapi balik lagi dari sudut pandangnya teman mama. Mungkin teman Mama ini sudah berusaha mau jelaskan tapi merasa susah untuk berterus terang.”


“Jadi sebelum ambil keputusan apa lagi sampai memutuskan tali persahabatan itu terlalu gegabah, karena mungkin ada hal besar di balik alasan kenapa teman mama gak bisa jujur.”


“Sebaiknya tanya baik-baik alasannya apa? kenapa?” Mawar telah selesai dengan pidatonya. “Kamu lagi berantem ya, sama Rina?” imbuh Mawar mempertegas pertanyaannya.


Sari tak merespon dan itu secara tidak langsung memberi Mawar jawaban 'Iya' di sertai dengan wajah Sari yang di tekuk dan itu menjadi bukti jelas kalo mereka berdua memang sedang bertengkar


“Cerita dong sama Mama, kenapa kalian berantem?” Mawar dengan penasaran tapi gak maksa.


“Sama dengan pertanyaan yang Sari utarakan ke Mama, tapi Sari juga salah. Sari gak seharusnya bersikap kekanakan kayak hari ini yang udah Sari lakuin, tapi Sari benar-benar kecewa banget sama Rina, Mah.”


“Coba cerita pelan-pelan ke Mama, apa yang Rina lakuin sampai kamu merasa kecewa dan marah banget ke Rina,” Mawar menempatkan tangannya di atas meja.


“Dan hal kekanakan apa yang anak mama lakuin hari ini, hmmm?” lanjutnya kembali membuat simpul di sudut bibirnya sembari menatap Sari, anaknya.


“Emmmm ....”


Sari tampak ragu untuk bercerita, namun pada akhirnya Sari bersuara dan menceritakan dengan jelas.


“Siang tadi, waktu istirahat Sari tau kalo Rina backstreet sama Abian si ketos, tapi Sari taunya dari junior Sari yang melabrak Rina,” ungkap Sari.


Mawar hanya menyimak apa yang anaknya ceritakan, namun tak menyangka kalo si ketos ini cukup populer sama junior ikut campur perihal asmaranya.


“Sari marah karena Rina gak pernah cerita soal Abian dan mereka pacaran, tapi sama Neni yang dia kenal belum lama malah di kasih tau,” lanjutnya kembali dengan bibir semakin manyun.


Mawar masih tampak setia mendengarkan curhatan Sari hingga tamat, dalam hatinya ia bergumam.

__ADS_1


Oh ... jadi anak gadis tomboy itu namanya Neni?


“Terus karena itu Sari jadi bolos kelas, Sari gak salah, kan, Mah, kalau Sari ngambek dan marah sama Rina?” ujar Sari menatap Mawar.


“Salah sih nggak, wajar Sari marah dan ngambek ... tapi ya gak harus sampai bolos gitu juga dong!" ujar Mawar menjawab pertanyaan Sari.


“Setelah itu apa Rina memberitahu kamu alasannya? sambungnya.


“Ng—nggak, Mah.” Sari menundukkan kepalanya.


“Tapi Rina emang mau ngomong sama Sari tapi aku-nya yang gak mau denger dan ..." sambungnya kembali dengan cepat namun terhenti di tengah-tengah.


Mawar yang memperhatikan anaknya cerita dengan segala ekspresi yang di buat Sari membuat hal itu lucu.


Tapi jika Mawar ketawa malah akan membuat putrinya berhenti berkisah, jadi Mawar memilih untuk menjadi pendengar yang baik saja.


“Dan ... apa?” tanya Mawar yang melihat Putri tak kunjung melanjutkan ceritanya.


“Ee ... saat Rina mau ngomong Sari selalu menyelanya memotong pembicaraan Rina waktu istirahat juga tapi malah ke duluan sama junior.” Sari kembali menceritakan dengan detail ke Mawar.


“Oh, kalau kayak gitu berarti putri mama juga salah,” ujar Mawar mempertegas ucapannya.


“Lah! kok jadi Sari yang salah, kan jelas-jelas Rina yang salah, Mah!”


Sari berbalik menatap Mawar dengan wajah yang sangat kesal karena mamahnya malah membela sahabatnya, bukan dirinya.


“Gini ya sayang ... dalam hal ini kalian berdua yang salah. Rina gak bisa langsung berterus terang sama kamu sampai junior kalian yang tau lebih dulu, walaupun begitu pasti ada alasannya kenapa. Dan Sari juga salah, harusnya kalo teman mau ngomong serius di dengarkan dulu jangan fokus ke diri sendiri,” ujar Mawar memperjelas.


“Jadi Sari tau gak alasannya Rina apa?” lanjutnya kembali mempertanyakan alasan Rina kepada Sari.


“Sari gak tau, Mah,” timpal Sari menekuk wajahnya menatap meja.


“Kalo gitu besok Sari harus berbaikan sama Rina yah, tanya baik-baik alasannya kenapa biar salah fahamnya gak jadi panjang, pertemanan kalian juga bisa utuh lagi.” Mawar menasehati Sari yang masih tertunduk.


“Iya, Mah, tapi Sari gak janji karena harus tau dulu alasannya kenapa. Kalo cuma sepele Sari gak akan ma'afin Rina.” Sari menyilangkan tangannya dan membuang muka ke arah tembok.


“Iya-iya terserah anak Mama,” ujar Mawar memberi simpul di ujung bibirnya dengan celah sedikit tertawa.

__ADS_1


Malam ini berakhir dengan curhatan Sari dan pengertian yang Mawar kasih untuk anaknya, sedangkan besok masih menjadi tanda tanya apakah Sari dan Rina akan berbaikan secepatnya atau akan ada halangan lagi, entahlah.


__ADS_2