
Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa Ujian Nasional telah usai. Martin yang masih terbaring di rumah sakit, juga biaya yang tak sedikit, membuat Rina dan Kenzo harus melepas rumahnya yang bagai istana.
“Maafin Ayah ya, gara-gara Ayah uang hasil jual rumah jadi berkurang untuk biaya rumah sakit,” ujar Martin mengerutkan alis merasa bersalah dan sedih.
“Padahal uang itu seharusnya untuk masa depan kalian,” lanjutnya.
“Jangan ngomong kayak gitu, Yah. Rina bisa kok kuliah sambil kerja,” tukas Rina meraih tangan sang ayah.
“Doain Rina ya, Yah. Semoga Rina keterima di universitas yang Rina impikan,” lanjutnya.
Disela obralan Rina dan Martin, muncul seorang pria muda yang sangat mirip dengan Martin sewaktu muda dulu. Ia berjalan mendekati kursi pasien yang tengah di tempati Rina.
“Emang Kak Rina udah daftar?” ujar pria muda itu yang ternyata Kenzo.
“Udah! kemarin hari terakhir penyerahannya, dan katanya lusa akan di beritahu lewat email kalo lolos.” tutur Rina mendongak menatap Kenzo yang berdiri di sebelahnya.
“Semoga di terima ya, Kak.” Doa dan harapan terlontar dari mulut Kenzo untuk sang kakak perempuannya itu.
“Aamiin, makasih ya!”
Rina mengelus agak kasar rambut pendek Kenzo yang berkilau, dan lembut bagaikan bulu itu, juga memiliki warna bak senja menyapa sebelum malam tiba.
“Ah, Kakak! Kenzo bukan anak kecil lagi!”
Pemilik rambut senja itu menangkis tangan yang mencoba merusak model rambutnya, seperti angin yang meniupkan awan mendung berisikan rain.
__ADS_1
Di saat kakak beradik ini bersenda gurau, kedua bola mata mereka merekam wajah yang telah meluluh lantahkan hati mereka. Wanita itu tengah berdiri dekat pintu, dan kini mulai melangkah berjalan masuk mendekat Rina dan Kenzo.
“Ngapain lu ada disini?!” Kenzo langsung bereaksi penuh kemarahan.
“Tahan, Zo! ini rumah sakit, kita gak boleh berisik dan mengganggu pasien yang lain.” Perasaan yang sama seperti Kenzo, namun masih terkontrol dengan aman.
“Ada apa Mama datang kesini?” ucap Rina dengan sopan, meski wanita di hadapannya telah mengikis hatinya, tapi dia tetaplah ibunya Rina.
“Mama cuma mau kasih ini.”
Sebuah surat dari pengadilan agama, yang menyatakan kalo Martin dan Julia resmi bercerai secara hukum.
Rina dan Kenzo sempat menoleh menatap Martin, sang Ayah. Tampaknya Martin sudah tau kedatangan Julia, mantan istrinya. Martin hanya tersenyum tipis menatap Rina dan Kenzo.
“Kalo gitu ... Mama bisa pergi sekarang!”
Suara langkah dari sepatu heels wanita itu mulai menyusut, Rina menatap punggung wanita yang sudah menjauh dari pandangannya, namun mematung untuk beberapa detik di depan pintu.
Kok ekspresi mama ... ah! gak mungkin! aku pasti cuma berhalusinasi.
Selang beberapa menit setelah kepergian Julia, di susul dengan kehadiran Abian. Sosok pria yang Rina cintai setelah ayah dan adiknya, dan juga sudah sangat dekat dengan keluarganya.
“Siang, Om!” Berjalan mendekat dengan tangan yang sudah menggendong seperangkat buah dalam keranjang yang terbungkus rapi.
Kenzo langsung menyambar ketika kedua tangan Abian memberi isyarat, agar segera mengambil keranjang yang masih berada dalam pelukan telapak tangannya.
__ADS_1
“Ya ampun Abian, gak usah repot-repot pake di bawain buah segala,” ujar Martin yang masih diatas ranjang pasien mencoba untuk bangun.
“Hati-hati, Yah!”
“Hati-hati, Om!”
Rina dan Abian langsung sigap dan kompak membantu Martin untuk duduk.
“Kalian tuh udah cocok banget, habis lulus udah nikah aja, ya!” tutur Martin melontarkan senyum bahagia melihat Abian dan Rina.
“Abian sih gak keberatan, Om. Tapi ... gak tau kalo Rina.” Abian tersenyum malu-malu kucing sembari curi pandang menatap Rina.
“Ayah nih apa-apan sih, Rina juga mau kejar mimpi dulu. Belum ada kepikiran untuk nikah,” ucap Rina.
“Abian juga pasti mau kejar mimpinya juga. Iya, kan!” sambungnya menjelangak menatap Abian yang tingginya hampir sama dengan adiknya, Kenzo.
"Tuh, kan! Om bisa liat sendiri, Rina-nya yang gak mau nikah sama saya, Om!” tuturnya memanyunkan mulutnya.
“Kamu jangan bercanda terus dong!” Tangan Rina singgah dan memutar lemak pinggang Abian.
“Aw-aw, sakit ... sakit ae-in. Iya deh, gak bakal bercanda lagi.” Rintih Abian menahan tangan Rina agar tak melanjutkan mencubit pinggangnya.
Martin yang menyaksikan dua insan yang tengah pamer kemesraan bak suami yang takut istri, hanya tertawa terkekeh melihatnya, sedangkan Kenzo justru sibuk mengupas mangga, dan mencocoki telinganya dengan headset.
Waktu berlalu begitu cepat, Rina mendapatkan dua kabar, kabar baik dan kabar buruk. Kabar baiknya Martin sudah diijinkan untuk pulang dari rumah sakit.
__ADS_1
Seperti biasa, Abian ikut serta menjemput sang calon mertua, dengan sebuah mobil yang cukup untuk lima orang. Ya! hari ini Abian datang dengan supirnya, karena gak bisa menyetir mobil dan kemana-mana selalu membawa ninjanya.