Cinta & Benci Bersamaan

Cinta & Benci Bersamaan
BAB 5 #Nenek Sihir


__ADS_3

Kringg! kringgg! bel masuk pun berbunyi, menandakan kelas belajar mengajar akan segera di mulai.


Guru pelajaran pertama mulai memasuki kelas, mengabsen semua murid kelas XII-3. Dan, di sela-sela penyampaian materi jam pertama, Neni dan Rina bisik-bisik melontarkan kalimat.


Karena yang mengajar sekarang gurunya terkenal galak, jadi sebisa mungkin Neni dan Rina jangan sampai ketahuan ngobrol ditengah pelajaran.


Jika ketahuan ada murid yang tidak memperhatikan pelajarannya atau mengobrol di kelas, gak tanggung-tanggung hukumannya langsung mengurangi nilai di mata pelajarannya.


“Rin, lu udah kasih tau ke Sari?” tanya Neni dengan pandangan lurus kedepan memperhatikan pelajaran dan tangan yang menutupi mulutnya memberi sedikit celah agar tak ketahuan kalo sedang ngobrol dengan Rina.


“Belum, Ni. Kemarin selepas pulang mau kasih tau lewat telpon, tapi selalu gagal karena pembeli selalu berdatangan, dan pagi ini malah gak berangkat bareng!” ungkap Rina dengan cara yang sama seperti Neni lakukan.


Beberapa jam kemudian. Kringg! kringgg! bel pun berbunyi dan kini memasuki pelajaran jam ke-dua.


“Males banget pergi ke ruang seni hari ini! mana sekarang jadwalnya belajar alat musik lagi!” seru Sari tak bersemangat.


“Emang lu gak suka musik, Sar?“ tanya Neni yang juga masih duduk di kursi belakang meja Sari.


“Kalo musik sih suka, malah hampir tiap hari dengerin musik, tapi kalo main alat musik gak banget!” Sari menjatuhkan kepalanya di atas meja seakan hari ini mau bolos kelas seni.


“Lah! kenapa?” tanya Neni merasa heran.


“Karena Sari pernah luka tangannya pas main gitar,” sahut Rina yang masih duduk di samping Neni.


“Oh gitu. Ya udah gua sama Rina ke ruang musik duluan ya!” seru Neni segera bangkit dari tempat duduknya.


“Lu mau ijinkan? nanti gua ijinin deh!” sambungnya.


“Eh, siapa juga yang mau ijin! sayang banget kalo ijin hari ini ....”


“Emang ada apa dengan hari ini, Sar?” tanya Rina penasaran.


“Aku denger-denger kelas seni kali ini bakalan di gabung sama kelas XII-1, dan Abian sama Aadina bakal unjuk bakat, dari yang aku dengar sih gitu!” ujar Sari yang kini meraka sudah meninggalkan kelas.


“Abian sama Aadina?! emang Abian masuk ke kelas pintar ya, Rin?” tanya Neni yang hanya penasaran saja.


“Ngapain kamu tanya sama Rina, Ni? emang dia pacarnya Abian? hahaha ....”


Deg!


Neni terkejut mendengar kalimat Sari, sedangkan Rina jauh lebih terkejut lagi, seperti sihir Elsa Frozen mempengaruhi dirinya.


Aduh! gua lupa lagi, kan si Sari masih belum tau!

__ADS_1


Kedua tangan Neni refleks langsung menutup mulutnya ketika mendengar pernyataan Sari. Kini kedua bola matanya menembak ke arah Rina yang membeku.


“Sar!” Rina tertunduk dan diam mematung.


“Ya! kenapa, Rin?” Sari memalingkan tubuhnya ke belakang menghadap Rina, dan ikut menghentikan langkahnya.


“Sebenarnya ... aku-”


Sari langsung menarik tangan Rina dan masuk ke ruang seni. “Udah, Rin! ngomongnya nanti lagi aja, yuk kita masuk ke kelas nanti kalo ketahuan masih berdiri di luar bisa berabe.”


Lagi-lagi Rina gagal bicara dengan Sari, sekarang Rina bertekad seperti tahu bulat. Saat jam istirahat, gimanapun caranya, ia harus ngomong sama Sari. Dan kali ini, gak akan membiarkan gangguan datang lagi.


“Wah! akhirnya selesai juga dan bisa makan sepuasnya di kantin,” ujar Sari menuju kelas bersama Rina dan Neni.


“Btw, kalian tadi liat gak? waktu si Abian main drum terus si Aadina main gitar, mereka keren banget yah!” lanjutnya menyatukan kedua tangannya serta mata yang berbinar-binar mengagumi.


“Sari! aku mau ngomong sesuatu, dan kali ini dengerin baik-baik, ya!” seru Rina dengan muka yang serius.


“Emang penting banget ya? apa gak bisa di kantin aja gitu ngomongnya!” timpal Sari yang kini sudah di depan pintu kelas.


Kesabaran Rina mulai menipis. “Gak bisa, Sar! aku harus lanjutin omonganku dulu yang sempat tertunda tadi. Lagian di kantin ...."


Rina tau, di kantin begitu banyak telinga yang menguping, sedangkan yang mau Rina sampaikan adalah sesuatu yang gak boleh semua orang tau. Ya, teman-temannya adalah pengecualian yang Rina buat.


“Sepenting itu ya, dari pada isi perut!” timpal Sari yang tak sabar ingin pergi ke kantin.


“Ya udah. Kalo gitu kamu mau ngomong apa, Rin?” ujar Sari yang kini mereka sudah berada di tempat duduk masing-masing.


Karena merasa gugup, Rina memainkan kuku tangannya. “Sebenarnya aku sama Abian-”


“Abian? kok jadi bawa-bawa Abian?” timpal Sari yang merasa bingung.


“Dengerin Rina dulu ngapa, Sar! jangan main potong aja!” ujar Neni yang mulai merasa kesal.


“Iya-iya! santai aja dong, Ni. Jangan ngegas gitu!” timpal Sari dengan ketus.


Rina yang mau melanjutkan bicaranya jadi pending lagi gegara anak siswi menerobos masuk ke kelasnya.


“Di antara kalian siapa yang namanya Rina?” tanya seorang cewek yang langsung nimbrung.


“Eh, lu siapa? kayaknya bukan anak kelas XII-3 deh!” timpal Neni mendongak menatapnya.


“Aku, Rina! ada apa ya?” tanya Rina menujuk diri sendiri dan merasa bingung.

__ADS_1


Begitu juga Neni dan Sari yang tak kalah bingungnya dan hanya memperhatikan siswi itu.


“Woy! nih yang namanya Rina guys!”


Dengan suara yang lantang di iringi dengan kerumunan para siswi masuk ke kelas mereka.


“Mana-mana. Gue juga mau liat dong!” seru salah satu siswi di belakang kerumunan tersebut.


"Biasa aja! masih cantikan kak Aadina kemana-mana," kecam salah satu cewek yang sudah ada tepat di dekat meja Rina.


Brakkkk!


Neni bangkit dari kursinya, dan tak lupa gebrakan meja yang berhasil membuat mereka tersentak kaget.


“Eh, siapa kalian? main masuk kelas orang seenaknya aja, pake banding-bandingin teman gua sama Aadina lagi, si nenek sihir!” pekik Neni dengan sewot.


“Enak aja! yang nenek sihir tuh si Rina-Rina teman lu tuh!” senggaknya dan menatap Neni, juga tak lupa jari telunjuknya mengarah ke Rina.


“Pasti kak Abian udah di sihir sama lu, kan. Makanya mau jadi pacar lu!” lanjutnya lagi berujar dengan mata yang sudah beralih menatap Rina.


“Dari tadi lu manggil Aadina kakak-kakak! lu adik kelas yah? gak punya sopan santun banget sih lu, sama senior!” hardik Neni nang kini sudah mendekat kepada junior itu.


Di tengah-tengah keributan itu dengan Neni yang melindungi Rina dari cemo'ohan mereka yang juga pernyataan mereka membuat Sari sangat terkejut dan tak berkedip sama sekali.


Bagaimana tidak? pasalnya Rina tak pernah membahas tentang Abian ataupun curhat tentang asmaranya selama ini kepada Sari.


Bahkan Sari pernah menyinggung tentang Abian dan menggoda Rina saat di perjalanan pulang dari perpus sabtu kemarin.


“Pacar?” Sari terperangah terlonjak mematung di kursinya.


“Rin, betul apa kata junior tadi?” tanya Sari tak percaya.


“Iya, Sar. Aku sama Abian pacaran,“ ungkap Rina yang tertunduk merasa bersalah sama Sari.


Sari yang mendengar pengakuan langsung dari mulut Rina hanya meresponnya dengan diam mematung di tempat duduknya, seakan dia sedang mencerna semua itu.


“Kyaaaaa!” jeritan semua siswi tanpa berkedip menatap ke 1 arah.


Mendengar jeritan itu Sari langsng tersadar dari lamunannya dan pergi meninggalkan kelas tanpa bersapa dengan Rina.


Sedangkan Rina hanya memandangi Sari yang sudah beranjak pergi dari kelas dan segera melerai perkelahian yang terjadi karena dirinya.


“Akh! lepasin gue pshyco!" teriak siswi yang rambutnya terjambak.

__ADS_1


“Neni! udah, Ni, nanti kalo ketahuan guru kamu bisa kena skors!” ujar Rina menahan Neni agar berhenti menjambak rambut junior itu.


Seketika terdengar suara guru dari luar kelas dan kerumunan pun mulai berkurang sedikit demi sedikit.


__ADS_2