Cinta & Benci Bersamaan

Cinta & Benci Bersamaan
BAB 11 #Jadi Pusat Perhatian


__ADS_3

Sementara itu Rina langsung pulang ke rumah dalam keadaan sangat berantakan, penampilan dirinya yang sekarang bukan seperti seorang pelajar.


Sesampainya dirumah, Rina langsung berlari dari pagar hingga pintu rumah yang luasnya masih bisa dibuat lima rumah lagi.


“Hah ... hah ... hah ... syukurlah, ayah dan Kenzo lagi gak ada di rumah.”


Ujar seorang wanita muda dengan terengah-engah memakai seragam sekolah yang acak-acakan, ia adalah Rina.


Beberapa menit kemudian Rina sudah selesai membersihkan dirinya dan terbaring di tempat tidur dengan tangan menopang wajahnya.


“Apa hari ini absen aja? toh sekarang udah jam setengah sepuluh pasti udah masuk,” tutur Rina menatap jam yang melingkar tergantung di dinding.


Rina tiba-tiba langsung bangkit dari tempat tidurnya, menuju lemari baju dan mengambil sebuah seragam sekolah yang terlihat lebih kecil dari seragamnya yang kotor tadi.


“Syukurlah masih muat, walaupun dapat maksa,” ujar Rina memperhatikan dirinya di depan cermin dengan baju sekolah yang ketat karena kekecilan.


“Uh ... gak enak banget pake baju ngpas di badan sama rok yang agak pendek,” lanjutnya menarik-narik rok yang tingginya di atas dengkul


Beberapa jam kemudian Rina yang sudah sampai di depan gerbang sekolah dari tadi belum juga masuk, di karenakan gerbang sekolah terkunci rapat.


Akhirnya Rina putar jalan pergi ke gerbang sekolah belakang dekat kantin, karena cuma di sana gak terlalu di jaga ketat.


“Akhirnya bisa masuk ke dalam juga,” ujar Rina yang sudah masuk ke dalam sekolah.


Kring! kring!


“Oh! sudah bel!” ujar Rina melihat jam yang menempel indah ditangannya.


“Ah ... ternyata bel istirahat ya?” lanjutnya.


Selang beberapa menit semua murid keluar dari kelas masing-masih dan segera menuju kantin, tapi langkahnya terhenti di depan kelas mereka.


Rupanya pandangan mereka tertuju pada gadis cantik yang tengah berjalan indah bak sedang fashion show di depan kelas mereka. Dengan tubuh yang langsing, kaki yang jenjang dan kulit putih natural


Sayangnya wajah wanita itu seperti canggung dan tak nyaman ketika menjadi pusat perhatian semua murid SMA BERLIAN CEMERLANG JAKARTA khususnya yang cowok-cowok.


“Eh ... kenapa semua murid jadi kayak patung gini?” Haikal menatap heran dan merasa bingung.


“Loh?” lanjutnya kembali setelah tau apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


“Abian, cewek yang di depan jadi pusat perhatian semua murid cowok kok kayak gak asing ya wajahnya,” ujar Ajril yang juga menyadari keberadaan wanita itu.


“Bro, lu mah semua cewek di anggap kayak pernah ketemu! gak asinglah! dasar playboy mata keranjang lu, Jril!” ejek Haikal menutup wajah Ajril dengan bercanda.


“Gak, Kal, apa yang di bilang Ajril ada benarnya.” Abian membuat Ajri dan Haikal memberi tatapan yang menusuk pada dirinya.


“Apa? nanti cewek lu bisa cemburu, Bro. Udah tutup wajah lu dan ayo kita pergi ke kantin." Haikal menutupi wajah Abian dan berjalan melewati wanita yang berhasil menarik perhatian semua murid cowok.


“Rina!” Abian memanggil nama perempuan yang tak lain adalah kekasihnya


Deg!


Wanita yang masih jadi pusat perhatian itu tertegun sejenak karena Abian memanggil nama Rina, namun kakinya melangkah kembali berjalan menjauh dari Abian.


Tentu saja, panggilan itu juga membuat Ajril dan Haikal sempat menghentikan langkahnya dan menengok menatap gadis itu yang sudah berjalan menjauh dari mereka.


“Maksud lu apa, Yan?” tanya Haikal bertanya dengan lirih kebingungan.


“Iya, gara-gara lu semua cowok jadi melihat ke arah kita nih,” ujar Ajril yang tak kalah lirihnya dan melihat sekeliling.


“Semua orang jadi berpikir cewek tadi Rina,” lanjutnya.


“Apa? lu serius, Bro?“ ujar Haikal dan Ajril bersamaan seakan tak percaya.


“Rina? masa sih? apa iya Rina yang tadi pagi itu?” tanya seorang siswa dari kelas lain.


“Kayaknya iya soalnya di sekolah ini yang namanya Rina cuman ada di kelas lu, kan?” ujar siswa satunya lagi menunjuk teman sebelahnya.


“Iya benar, tapi gak mungkin kalau cewek tadi Rina,” ujar siswa yang satu kelas dengan Rina


“Bentar ... tapi kalau diperhatikan baik-baik mukanya emang agak mirip Rina,” ujar siswa satunya lagi dari kelas Rina.


Gak cuma Ajril dan Haikal yang terkejut mendengar pengakuan Abian, bahkan semua cowok yang berada gak jauh dari Abian juga terkejut tak percaya.


Faktanya Rina yang mereka kenal biasa saja tapi siswi tadi aura kecantikannya melewati Aadina, si primadona sekolah.


“Kayaknya gak mungkin deh, gua yakin tuh cewek pasti murid baru atau murid pindahan,” ujar Haikal dengan pendapatnya.


“Ya kali Rina, jelas-jelas dia masih bawa tas yang ada kena hukum baru datang pas jam istirahat,” lanjutnya.

__ADS_1


“Benar juga apa kata si Haikal,” ujar salah satu siswa yang masih menguping menyetujui pendapat Haikal, dan siswa satunya lagi menganggukkan kepala tanda sependapat.


Kantin Sekolah


“Kalo dia anak baru gua mau deketin ah sekalian minta ID WeChat-nya,” ujar Ajril senyum semringah.


“Gak! jangan ada dari kalian yang deketin cewek tadi,” ujar Abian menatap tajam Ajri dan Haikal secara bergantian.


"Serakah amat sih lu, bro. Kan lu udah punya Rina, gua sama Haikal kan masih jomblo,” ujar Ajril tak terima.


“Kalau di antara kalian ada yang deketin tuh cewek, aku gak mau berteman sama kalian lagi,” ujar Abian mengancam.


“Iya udah lupain soal cewek tadi, sekarng kita kenyangin perut dulu, kan sayang nih kalau di anggurin cuma gara-gara ributin cewek,” ujar Haikal menengahi.


Sementara itu di kelas XII-3 hanya ada seorang siswi yang sedang merenung di tempat duduknya, tanpa beranjak pergi ke kantin untuk mengisi kekosongan perutnya akibat terlalu keras berpikir selama beberapa jam.


Kemudian datang seorang wanita yang beberapa menit lalu menjadi pusat perhatian diluar kelas, wanita itu kini telah masuk ke kelas XII-3 dan menghampiri wanita yang sedang melamun itu.


Tampaknya siswi itu adalah Sari, sahabat Rina yang sekarang sedang diujung tanduk perpisahan tali persahabatan mereka.


“Sari!” panggil siswi itu yang sudah berdiri di samping meja Sari.


Sari tak menjawab, namun saat mendongakkan kepalanya ia tertegun, ternyata wanita yang memanggilnya memiliki wajah persis seperti sahabatnya itu.


“Neni kemana? apa dia lagi pergi ke kantin,” ujar siswi itu kembali.


“Neni?” ujar Sari bertanya dan yakin kalau wanita yang berdiri disampingnya itu adalah Rina.


“Kamu ... Rina?” lanjutnya bertanya.


“I—ya, aku Rina,” timpal siswi itu mengaku.


“Seragam kamu kok ...” ujar Sari tak jadi melanjutkan rasa penasarannya itu karena ada hal penting yang harus dia bicarakan dengan Rina.


“Ah! lupakan soal seragam, kamu duduk dulu sebelum lanjut mengobrol,” lanjutnya mempersilakan Rina untuk duduk di kursi yang kosong di sebelahnya.


Ngobrol? apa aku gak salah dengar? apa Sari udah maafin aku?


Rina merasa senang juga kaget secara bersamaan, kini hatinya sedang bersorak gembira karena Sari sudah mau mengobrol dengannya.

__ADS_1


__ADS_2