Cinta & Benci Bersamaan

Cinta & Benci Bersamaan
Menemui Julia


__ADS_3

Setelah Rina sadarkan diri, Martin meminta ijin kepada guru yang mengajar di jam ke 3 dan ke 4, juga kepada wali kelas Rina, untuk membawa pulang putrinya. Setelah ijin di dapatkan, Rina, Martin, dan Kenzo langsung pulang kerumah dengan naik taksi, sesampainya di rumah Rina langsung kembali beristirahat, sedangkan Kenzo dan Martin masih berdiri di dekat pintu kamar Rina.


“Kenzo! ayah titip kakak mu dulu sebentar ya.” Martin menepuk pundak putranya dan berjalan melewati Kenzo.


“Ayah mau kemana?” ujar Kenzo berbalik menatap punggung Martin yang langkahnya menjadi terhenti.


Ketika Kenzo membuka suaranya, seakan dia bisa membaca gerak gerik ayahnya dengan tepat, sehingga Martin membalikkan tubuhnya dan menatap Kenzo, yang masih berdiri di dekat pintu kamar sang kakak. Kenzo perlahan mendekati Martin, karena tak ingin obrolannya dengan sang ayah terdengar oleh Rina, kakaknya. Dan khawatir akan menganggu istirahatnya.


“Ayah tidak berniat untuk menemui mama, kan?” ujarnya yang kini sudah berdiri dekat di hadapan ayahnya yang jauh dari pintu kamar Rina.


“Kamu ini memang anak ayah banget ya!.” Martin mengelus kepala putranya itu dengan agak kasar tapi penuh kasih sayang.


“Ayah hanya ingin menjalankan tugas seorang suami untuk terakhir kalinya, karena hari ini mama dan ayah akan resmi bercerai,” sambung Martin menatap wajah sang putra yang terlihat sedang mencemaskan dirinya.


Kenzo sudah tau, kalo orang taunya akan resmi berpisah dalam kurun waktu dekat ini, tapi tak menyangka kalo akan secepat ini.


Setelah berpamitan dengan putranya, Martin langsung pergi dengan taksi yang masih menunggu di depan rumahnya, tak berlama-lama supir taksi langsung mengantar penumpangnya sampai tujuan dengan selamat.


“Sudah sampai, Pak!”


“Terimakasih, Pak! ini uangnya.” Turun dari mobil.


Pemberhentian Martin tepat didepan sebuah restoran, langkahnya bergegas masuk kedalam, pandangannya tertuju pada wanita paruh baya yang cantik nan mewah, seperti nonya bangsawan. Toleh wanita cantik itu menatap pria paruh baya yang baru memasuki restoran, yang tak lain adalah Martin.


“Maaf, sudah membuat mu menunggu lama, Julia!” sapa Martin memanggil wanita paruh baya itu, yang sebentar lagi akan menjadi mantan istrinya.


“It's oke! jadi kamu ngajak ketemuan mau ngomong apa?” tanya Julia dengan dingin.


“Rina jatuh pingsan di sekolah saat tau kamu merebut ayah teman pacarnya.” Menatap Julia yang seperti tidak peduli.

__ADS_1


“Dan gara-gara itu, dia membalas dendam atas rasa sakit ibunya kepada Rina, anak kita,” sambungnya menatap wajah Julia yang tak merespon apapun.


Bisik dalam hatinya, “Apa benar? wanita yang duduk di depan saat ini, Julia yang dulu sangat peduli pada seekor kucing yang terluka di tengah jalan? sungguh tak percaya, mendengar anaknya di sakiti tak menggerakkan hati keibuannya.”


“Jadi cuma itu aja yang mau kamu bicarakan!” tegasnya menatap Martin sedingin es.


“Julia, kamu boleh sama pria mana aja. Tapi jangan yang sudah beristri, seperti yang aku bilang tadi, Rina yang jadi korban karena dosa yang kamu lakukan!” ujar Martin.


“Kalo gak ada lagi yang mau kamu bicarakan, aku pergi.” Beranjak dari tempat duduk dan pergi meninggalkan Martin.


Selang beberapa menit, setelah Julia keluar dari restoran, di susul oleh Martin yang mulai pergi meninggalkan restoran tempat mereka berbincang beberapa menit lalu.


Di sebuah parkiran depan restoran, berdiri seorang wanita dan pria tengah berbincang dengan mesra, Martin terhipnotis ketika melihat wanita itu, yang ternyata adalah Julia.


“Ayolah, Sayang. Jangan cemburu gitu! seperti yang kamu liat, kan. Aku langsung keluar dan gak sempat makan bareng dengan Martin,” ujar Julia menepelkan kepala pada pundak pria yang tengah bersamanya.


“Kalo aku tak membuat perusahaan suami mu bangkrut, kamu pasti enggan untuk tetap tinggal bersama ku,” ungkap pria paruh baya itu menatap Julia yang sedang bermajna.


“Jika kamu masih berhubungan dengan pria itu, aku tak segan-segan akan melakukan hal yang lebih buruk dari sekedar menuduhnya korupsi ....”


Apa? jadi dia ... dan Julia juga sudah tau? Martin yang tak sengaja mendengar langsung syok berat dan mendadak jantungnya sesak.


Datang seorang pria muda di penuhi amarah, dan langsung menghajar pria yang tengah bersama Julia. "Dasar pria biadab! seumur hidup ku, aku gak akan pernah memaafkan semua perbuatan mu pada mama! aku benci mengakui mu sebagai Ayah ku!"


“Astaga! tolong! tolong!” ujar Julia berteriak.


“Dasar wanita ******!” menoleh menatap marah melihat Julia.


“Berhenti! jangan buat keonaran disini!” ujar satpam menahan pria muda itu yang hendak memukul wajah Julia.

__ADS_1


Di tengah perkelahian yang telah di lerai, terdengar suara ambrukan seseorang jatuh pingsan, semua orang yang berada di tempat menoleh serempak menatap ke asal suara, tak terkecuali Julia. Julia menatap kaget ketika melihat wajah yang ia kenali. “Martin ...” ucapnya lirih.


Pria paruh baya langsung membawa Julia meninggalkan kerumunan dan juga anak muda itu, yang di duga adalah anaknya. Semua orang langsung berlari mendekati pria yang masih tak sadarkan diri itu, dan segera menelpon ambulans rumah sakit yang terdekat.


“Dek, sana pulang! jangan bikin keributan lagi,” usir satpam kepada pria yang beberapa menit lalu membuat keributan.


“Tidak, Pak! saya akan ikut dengan pria itu.” Tatapannya tertuju melihat Martin yang sedang di angkat oleh tandu.


“Apa kamu mengenal orang itu?” ucap satpam.


“Ya! dia ayah teman saya.” Berjalan mendekati mobil ambulans.


Sementara itu, di waktu yang sama.


“Kenzo ...” ujar Rina terbangun dari tidurnya.


“Ayah mana?” sambungnya.


Kenzo yang sedang fokus pada bukunya, konsentrasinya langsung pecah ketika mendengar pertanyaan Rina, dan kini fokusnya tertuju pada sang kakak yang sedang duduk di atas ranjang.


“Kenzo! Kakak lagi nanya, lho. Kenapa malah melamun?” ucap Rina.


Sontak terbangun dari lamunannya, Kenzo menjawab tergagap, “A-ayah ... pergi nemuin mama, Kak.”


Rina langsung turun dari tempat tidurnya dan berdebat dengan Kenzo, “Kenapa kamu gak cegah ayah, Zo? gimana kalo ayah sampai lepas kendali?”


“Biarin aja Kak, biar mama sadar! kalo perbuatannya itu salah dan merugikan buat orang lain juga!” pekiknya tak kalah lebih lantang.


“Tapi, Zo!”

__ADS_1


Suara ponsel tiba-tiba berdering, dan meredam perdebatan kakak adik ini. Segera Rina memeriksa ponselnya dan ternyata panggilan masuk dari Abian.


Rina terpangah terkejut saat menjawab telpon dari kekasihnya, yang menyatakan kalo Martin, ayahnya masuk rumah sakit. Tanpa membuang waktu Rina dan Kenzo langsung pergi menuju rumah sakit.


__ADS_2