Cinta & Benci Bersamaan

Cinta & Benci Bersamaan
Martin Masuk Rumah Sakit


__ADS_3

Karena jarak rumah Rina dengan rumah sakit lumayan agak jauh di tambah macet di perjalanan, membuat Rina dan Kenzo sampai di sana langit sudah mendung tak berawan, matahari berganti dengan bulan.


“Abian!” Berlari menghampiri pria yang tengah mematung di depan ruang ICU.


“Gimana Ayah? Ayah gak apa-apa, kan?” sambungnya dengan wajah penuh cemas, mendongak menatap pria itu yang tingginya melebihi Rina.


“Om Martin dari tadi masih di tangani sama dokter, kita tunggu aja, mungkin sebentar lagi,” tuturnya.


Pandangan Rina dan Abian teralihkan saat Kenzo menghampiri dan menghajar pria yang tengah berdiri tak jauh dari pintu.


“Ngapain lu disini? pasti Ayah masuk rumah sakit gara-gara lu, kan?” hardik Kenzo kepada pria itu yang sedang memapah diri sendiri untuk berdiri.


Pria itu diam mematung, tak membalas pukulan Kenzo yang sampai membuat sudut bibirnya berdarah, sedangkan Rina langsung menghampiri Kenzo, khawatir adiknya akan membuat keributan lagi mengingat saat ini mereka sedang di rumah sakit.


“Kenzo! hentikan!” Menahan tubuh Kenzo.


“Lu gak apa-apa, kan?” Menghampiri pria yang telah dipukul Kenzo tadi.


“Gak apa!” ucapnya menyeka darah di sudut bibirnya.


“Kamu kenapa bisa ada di sini, Jril?” tanya Rina menatap pria itu yang ternyata adalah teman sekolahnya sekaligus orang yang bermasalah dengan Rina.

__ADS_1


“Kenzo!” Menahan Kenzo yang hendak memukul Ajril kembali.


“Lepasin tangan Kenzo, Kak. Biar Kenzo pukul wajah nih orang. Kenzo yakin, ayah masuk rumah sakit itu gara-gara dia!” sentaknya menuding Ajril.


“Gua minta maaf ....” ucapnya lirih.


“Tuh, kan, Kak! dia ngakuin sampai minta maaf se-”


“Kenzo!” sergah Rina menghentikan celoteh adiknya.


“Kita itu lagi di rumah sakit, kendaliin emosi kamu, jangan bikin keributan,” sambungnya.


Setelah memarahi adiknya, pandangan Rina tertuju pada Ajril. “Kamu gak salah kok, Jril! seharusnya kita yang minta maaf sama kamu, gara-gara mama ki-”


Rina termangu. “Apa? ma-maksudnya?”


“Ayah lu dengar kalo ....” Ajril mengalihkan pandangannya tak berani menatap Rina.


“Dengar apa?” tanya Rina menatap Ajril yang sepertinya ragu untuk bicara.


“Mama lu dan Ayah gua ... mereka bersekongkol untuk menjatuhkan perusahaan ayah lu,” ungkap Ajril memberanikan diri menatap mata Rina.

__ADS_1


“Ayah gua juga sampai memfitnah ayah lu korupsi, demi memonopoli mama lu,” sambungnya lebih mengejutkan.


Rina dan Kenzo tersingahak mendengar fakta kalo ayahnya telah di fitnah oleh kekasih gelap mamanya. Lebih parah lagi Julia, mama mereka bekerja sama dengan selingkuhannya untuk menjatuhkan Martin, suaminya sekaligus ayah dari anak-anaknya.


“Gua minta maaf karena udah berbuat keterlaluan sama lu, padahal lu juga korban karena keegoisan mereka.” Ajril menatap Rina yang tertegun di kursi dekat ruang ICU.


“Seperti kata mu, kita sama-sama korban. Dan kamu juga gak tau kebenarannya, kan! jadi mari kita lupakan masalah di antara kita.” Rina tersenyum memberi perdamaian dalam tangan yang di julurkan.


“Ya.” Menyahuti tangan Rina.


Sambil menunggu kabar dokter tentang keadaan Martin, ayahnya. Rina termenung, termangu-mangu, seakan ini hanya mimpi buruk buat Rina dan keluarganya. Dan esok ia akan terbangun menyaksikan keluarga yang harmonis walau Julia tetap mengabaikan Rina, itu tak masalah baginya.


“Dok! apa Ayah baik-baik saja? sekarang gimana kondisinya, Dok?” Kenzo langsung menghampiri dokter yang baru keluar dari ruangan dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.


“Tenang dulu ya, Dek! ayah kamu mengalami serangan jantung, tapi sekarang sudah membaik dan hanya perlu istirahat saja.”


Pernyataan sang dokter membuat Rina tersentak, kalo ini bukan mimpi, tapi kenyataan yang pahit buatnya. Bahkan ini seperti racun baginya.


“Dok, apa sekarang kita boleh masuk, jenguk Ayah?” Sambar Rina secepat kilat menghampiri sang dokter.


“Boleh! tapi gak bisa banyak-banyak, cuman boleh satu atau dua orang saja. Dan jangan menganggu waktu istirahat pasien, ya!”

__ADS_1


“Iya, Dok! Terimakasih.” Rina dan Kenzo bergegas masuk melupakan orang-orang yang masih berdiri di depan pintu ruang ICU.


__ADS_2