Cinta & Benci Bersamaan

Cinta & Benci Bersamaan
BAB 7 #Sari Bolos


__ADS_3

Saat masuk ke kelas, pandangan keduanya tertuju pada kursi di barisan ke dua paling tengah.


Dimana di situ, ada Seorang siswi yang tengah sibuk dengan buku pelajaran untuk jam ketiga tanpa peduli dengan sekitarnya.


Melihat pemandangan itu Neni melirik Rina, dengan matanya yang terus tertuju pada siswi yang rajin.


Kini mereka telah sampai di mana siswi rajin itu duduk dan langkah Rina terhenti di sampingnya, sedangkan Neni sudah duduk di kursi belakang siswi rajin itu.


“Sar!” panggil Rina kepada siswi rajin itu yang tak lain ialah sahabatnya sejak SMP.


“Aku minta maaf! karena sudah menyembunyikan ini dari kamu, tapi aku benar-benar gak bermaksud! aku udah coba mau bilang, tapi kamu—”


“Kamu!” Sari menukas ucapan Rina dengan lantang, dan segera berdiri dari tempat duduknya.


“Kamu nyalahin aku karena kamu gak bisa berterus terang! begitu maksudmu?!” lanjutnya menatap Rina dengan tajam.


“Sedangkan sama Neni yang baru kamu kenal kelas 3 ini, dengan gampangnya kamu kasih tau. Dan aku! sahabat kamu dari SMP, malah tau dari para junior bukan dari kamu sendiri, Rin!” sambungnya lagi dengan emosi menunjuk Rina yang berdiri di depannya.


“Bukan gitu, Sar, kan tadi lu sendiri yang selalu motong Rina buat jujur!” timpal Neni yang ikut terbawa arus.


“Gak usah ikut-ikutan ya, Ni. Ini urusan ku sama sahabatku, dan kamu cuman orang luar yang tiba-tiba masuk ke dalam persahabatan kita!”


Pekik Sari yang kini berbalik menatap Neni dengan emosi yang semakin memuncak.


“Kalo kamu merasa aku sahabat kamu, Rin ... banyak cara kok untuk kamu kasih tau aku! lewat telpon, sms, bisa, kan?!" sambungnya yang kini berbalik menatap Rina.


“Ternyata kamu dari dulu gak pernah berubah ya, Rin!” sambungnya lagi dan pergi melewati Rina meninggalkan kelas.


Siswa/i yang melihat dan mendengar perseteruan 3 sahabat ini merasa bingung dan heran bagi mereka yang belum tau permasalahannya, sambil bertanya-tanya.


Ada apa? kenapa mereka berantem di kelas? bukankah mereka selalu akur-akur saja? apa yang sebenarnya terjadi?


Sedangkan bagi mereka yang suka bergosip hanya menonton perseteruan ini karena sudah tau perkara apa yang mereka perdebatkan.


“Udah, Rin, percuma lu ngomong sekarang, gak akan di denger sama si Sari. Mending lu jelasinnya nanti aja pas si Sari udah mulai tenang," ujar Neni menenangkan Rina.


“Tapi, Ni ...” timpal Rina dengan raut wajah yang sedih.


“Udah! mending lu sekarang cepat duduk mumpung guru belum masuk,” titah Neni.


Beberapa menit setelah perseteruan itu, dan Sari yang pergi meninggalkan kelas kemudian disusul guru pelajaran ekonomi yang mulai masuk dan mengabsen nama-nama siswa/i nya.

__ADS_1


Saat nama Sari di panggil tak ada satupun sahutan, hanya pernyataan dari salah satu anak kelas yang menyatakan kalo Sari masih di luar.


Dan akhirnya pun Sari di nyatakan absen pada pelajaran ekonomi karena tak kunjung datang sampai pelajaran selesai.


Kringg!


Kringgg!


Kini memasuki pelajaran terakhir, dan Sari masih belum juga masuk kelas. Ntah kemana Sari pergi? sedari tadi pikiran Rina di penuhi dengan sahabatnya.


Ya, bagaimana tidak? mereka sudah menghabiskan waktu selama 5 tahun bersama dalam keadaan suka duka yang terikat tali persahabatan.


Apakah persahabatan Rina dan Sari akan berakhir sampai di sini?


Beberapa jam kemudian, pelajaran jam terakhir pun selesai. Sekarang semua siswa/i telah pulang meninggalkan Rina yang masih setia menunggu Sari.


Rina sangat berharap kalau Sari bakal balik lagi ke kelas untuk mengambil tas selempang miliknya.


Senja telah menyapa, tapi belum juga ada jejak ataupun penampakan Sari balik ke dalam kelasnya.


“Rin, lu yakin mau nunggu Sari sampai malam?” Neni yang belum beranjak dari tempat duduknya.


“Kalau memang harus, aku akan nunggu Sari. Karena aku yakin dia pasti balik lagi!” tutur Rina penuh percaya diri.


“Lu juga mengatakannya dengan penuh percaya diri,” lanjutnya.


Sayang seribu sayang, Sari tak kunjung datang dan hanya langit yang kini mulai gelap.


“Rin, kita pulang aja yuk?” Ajak Neni yang masih setia menemani Rina dengan seragam sekolah masih lengkap


“Lu juga, kan entar malam jam tujuh harus les,” ujarnya kembali.


Dengan wajah yang sedih, Rina segera bangkit dari tempat duduknya dan mengambil tas selempang milik Sari.


Neni yang melihat Rina tak bersemangat sama sekali, meski les menggambarnya menggerakkan tubuh Rina. Namun tidak dengan hatinya, Rina seperti enggan melakukan sesuatu.


Bahkan, di sela-sela mereka menunggu, ada panggilan masuk dari pria yang kini sudah menjadi pacarnya.


Juga salah satu penyebab mereka berantem dan labrakan para Fans yang terjadi pada waktu jam istirahat.


Dua sahabat itu sudah pergi meninggalkan sekolah. Namun bukannya segera pulang, mereka justru berkeliaran di jalanan.

__ADS_1


Mendatangi minimarket, bukan untuk beli sesuatu hanya keluar masuk saja begitu juga saat di cafe, bukan untuk makan atau minum tapi hanya keluar masuk.


“Aku gak tau harus gimana lagi, Ni ... semua tempat kerja paruh waktunya bilang kalau hari ini Sari bolos kerja,” ujar Rina dengan wajah murung dan langkah kaki lemas.


“Kalau gitu kita cari ke rumah dia aja, siapa tau Sari langsung balik kerumah,” ujar Neni yang masih setia menemani Rina.


Lanjutnya dalam hati, “Ternyata Rina orang yang lebih mementingkan sahabatnya dari pada hal-hal yang dia cintai, menggambar dan Abian.”


Kini langkah kedua sahabat itu yang masih memakai seragam sekolah dengan lengkap menuju pemberhentian bus. Tapi mereka bukan mau naik bus, mereka sedang menunggu taksi online.


***


Beberapa menit kemudian mereka sampai pada tujuan, Neni yang masih menemani Rina ikut naik taksi yang berhenti di depan sebuah rumah.


“Permisi!” panggil Rina yang sudah turun dari taksi sedari tadi.


“Ya, tunggu sebentar!” sahut orang dalam rumah.


Cklek!


Suara pintu di buka, bukan Sari temannya melainkan seorang wanita paruh baya berdiri di tengah pintu.


“Oh! Rina ya?” ujar wanita itu yang ternyata adalah Mawar, mamanya Sari.


“Iya, Tante!” timpal Rina dengan ramah dan sopan.


“Sari nya ada di dalam gak, Tan?” sambungnya kembali.


“Lho! Tante kira dia lagi main sama kamu, Rin! dari siang dia belum pulang,” ungkap Mawar yang kini menjadi khawatir.


“Hari ini Sari pulang lebih awal, Tante. Saat jam pelajaran ketiga, dan kita juga udah cari di semua tempat kerjanya tapi katanya sari bolos gak masuk kerja,” ujar Neni yang berdiri di samping Rina.


Raut wajah Mawar semakin bertambah cemas. “Aduh! kemana sih anak ini? bikin khawatir teman-temannya aja!”


“Kalau gitu Rina pamit pulang ya, Tan.” Rina memberikan tas milik Sari pada Mawar. “Ini tas Sari yang tertinggal dalam kelas,” lanjutnya.


“Oh, makasih ya, Nak! nanti kalo Sari pulang tante kabarin ya,” ujar Mawar menerima tasnya.


“Makasih Tante Mawar,“ ujar Rina dengan sopan sambil bersalaman dengan Mawar kemudian di susul oleh Neni yang ikut bersalaman.


“Iya. Kalian hati-hati di jalan ya.” Mawar melambaikan tangan.

__ADS_1


“Iya, Tan,” tutur Rina dan Neni bersamaan.


Selang beberapa menit setelah kepergian mereka tiba-tiba ada ojek yang mebawa penumpang wanita dengan seragam sama persis seperti Rina dan Neni.


__ADS_2