Cinta & Benci Bersamaan

Cinta & Benci Bersamaan
BAB 3 #1001 Cara Menggaet Hati Ibu Mertua


__ADS_3

“Oh ya, Rin! tadi pas lagi cari buku 9 cara untuk menjadi sukses aku nemu buku yang menarik, dan sepertinya cocok buat referensi ide komik kamu nih, Rin.” Sari langsung menunjukkan buku itu pada Rina.


“Wow! thanks ya, Sar.” Dengan antusias, Rina langsung mengambilnya dari tangan Sari.


“Ee ... tapi, Sar. Kok judul bukunya gini amat ya!” lanjut Rina menatap sampul bukunya.


Rina yang begitu semangat, dalam sekejap ekspresinya langsung menjadi datar, setelah melihat bukunya dengan judul 1001 Cara Menggaet Hati Ibu Mertua.


Sari tersenyum lugu. “Judulnya emang gak masuk akal, tapi isinya cocok kok buat kamu, Rin.”


“Cocok dari segi mana sih, Sar? lah aku aja masih sekolah, ibu mertua mana yang mau di luluhkan hatinya?” seru Rina menggelengkan kepala.


“Ya kali aja kamu mau langsung jadi istrinya Abian setelah lulus kuliah nanti,” ujar Sari dengan polos.


Mendengar kalimat itu, Rina seketika tersendat. Jalannya menjadi kaku, bak sedang menyeret beban berat dipundaknya.


“Kan banyak banget tuh, cewek yang suka sama dia. Dan bisa juga kamu diam-diam naksir, tapi gak berani gabung sama fans-fansnya Abian,” sambung Sari melanjutkan bicaranya.


Dengan tangan menunjuk-nunjuk buku, Sari melanjutkan ucapannya. “Nah! ini nih, cara teralternatif yang gak kepikiran semua cewek yang ngerjar Abian, di jamin pasti berhasil deh, Rin.”


“Emang mau di jamin pake apa? udah ada buktinya, gitu?” tanya Rina iseng tak percaya.


“Ada! kan kamu sendiri yang bilang, kalo anak tetangga kamu berhasil merebut tunangan temannya sendiri, karena berhasil merebut hati ibunya si cowok,” ujar Sari dengan semangat menceritakannya pada Rina.


Rina menghela nafas tak percaya, kalo dirinya pernah cerita begituan sama sahabatnya sendiri.


“Ya deh, terserah kamu ajalah, Sar!” Dengan mukanya yang kembali datar.


“Lah! kok jadi terserah aku?” seru Sari merasa heran.


Setelah mengobrol panjang lebar selama perjalanan akhirnya sampai juga, meski jarak tempat tinggal mereka dengan sekolah lumayan jauh, mereka tetap jalan kaki setiap pulang sekolah karena alasan menghemat uang jajan.


Rina bisa saja pulang menaiki kendaraan umum karena ayahnya seorang pengusaha dan tak pernah kekurangan uang sekalipun, tapi hal itu tidak Rina lakukan karena baginya pulang bersama teman itu hal yang paling berharga dan menyenangkan.


Tentu saja, Rina bisa mengajak Sari dan mentraktir uang ongkosnya, namun Sari sering kali menolak. Sebab, saat SMP uang ongkos pulang baliknya selalu di traktir Rina.


“Kita berpisah di pertigaan lagi nih, Rin,” ujar Sari melambaikan tangan tanda perpisahan.


“Hahaha! iya, Sar. Sampai jumpa besok ya di pertigaan lagi,” ujar Rina membalas lambaian tangan sahabatnya.


Timpal Sari. “Wkwkwkwk.”

__ADS_1


Rina merasa bersyukur, karena pertemanannya dengan Sari begitu awet sampai SMA, padahal hubungan Rina dengan teman SMP lainnya menjadi renggang dan asing.


Selain karena gak satu sekolah, Rina juga punya masalah dengan mereka. Pasalnya dulu Sari pernah di bully, dan Rina saat itu sangat berani seperti pangeran berkuda.


***


Rina akhirnya sampai di rumah, tapi gak pernah bisa lepas dari buku gambar dan pensilnya. Setelah makan siang, kini Rina sedang asyik corat-corat-coret di atas kertas putih yang kosong sampai ketiduran, hingga senjapun lenyap di telan langit yang gelap tak berawan.


Karena kelelahan Rina sampai melupakan kalo hari ini les-nya mulai masuk jam tujuh malam, karena kelas Rina yang jadwal masuknya jam empat sore sedang di renovasi sehingga harus bergabung dengan kelas malam.


“Uuuhh!” sinar matahari menembak matanya yang masih tertutup rapat sampai mengernyitkan alisnya.


“Astagaa!” Rina tersentak dari tempat tidur tanpa menunggu nyawanya berkumpul.


Telapak tangan Rina langsung menembak dahinya. “Aduh, mati aku! kemarin ketiduran dan lupa kalo jadwal les-nya di gabung sama kelas malam.”


Rina menyesal kenapa dirinya bisa ketiduran dengan pulas tanpa merasa ada beban. Kerena bagi Rina yang suka menggambar, melewatkan kelas menggambar adalah seperti menemukan permata ditengah jalan, tapi kita tidak mengambilnya dan malah pergi ninggalin gitu aja, sehingga permata itu di ambil oleh orang lain.


“Oke, sekarang lupakan dulu pertama itu. Anggap saja cuman kehilangan satu permata.” Berusaha menenangkan diri sendiri.


“Tidak! cukup satu saja! jangan sampai kehilangan lagi!” lanjutnya dengan wajah serius dan mengepalkan tangannya.


Yang dimaksud Rina seperti kita melewatkan kesempatan untuk mengetahui hal baru, sedangkan orang lain terus mengambil kesempatan itu, dan itu akan membuat kita menjadi tertinggal dari orang-orang yang dulunya sama-sama tidak tau. Walaupun Rina baru kali ini tidak mengikuti les menggambar tapi tetap saja itu berharga bagi Rina.


...Beberapa menit kemudian...


Rina menghela nafas panjang, “Aku gak bisa melupakan permata itu, hiks.” Wajahnya langsung menekuk meringis di atas kursi belajarnya.


“Aku butuh refreshing, tapi Abian lagi gak bisa. Oh ya! pergi sama Sari dan Neni aja, kan jarang banget weekend bisa jalan-jalan bareng mereka,” serunya kembali dengan ceria.


Setiap weekend, Rina biasanya menghabiskan waktunya dirumah dengan menggambar, atau pergi kencan bersama Abian. Tapi, kali ini Rina merasa bosan karena Abian sedang ada acara keluarga, dan selesai sampai tengah malam, sehingga weekend ini mereka gak bisa kencan.


Rina yang gak bisa konsentrasi akibat kelalaian semalam, mempengaruhi semangatnya untuk menggambar, dan memutuskan untuk pergi bersama Sari dan Neni, sahabatnya.


“Aku chat mereka di grup BFF aja deh, biar cepat.” Beranjak menuju laci mungil dekat tempat tidurnya.


“Tumben banget dua-duanya gak ada yang online. Mungkin masih sibuk bantu mak bapak mereka kali, ya! Aku tinggal mandi aja deh,” lanjutnya kembali sambil mengambil handuk bersih di dalam lemari.


Sambil menunggu balasan, Rina membersihkan diri dulu di kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Beberapa menit kemudian, Rina sudah keluar dari kamar mandi dan langsung bersiap-siap agar tinggal cus otw ke tempat janjian mereka. Rina yang sudah selesai bersiap-siap melihat ponselnya bergetar.


“Maaf ya, Rin. Hari ini aku lagi jaga di minimarket, karena kakak yang biasa tugas lagi sakit jadi aku yang gantikan dia, maaf ya!” Isi chat Sari di akhiri emoticon tangis.

__ADS_1


Balas Rina, “Ya gak apa-apa, Sar.”


“Mau gimana lagi, kan!” lanjutnya membalas menggunakan emot sedih tangis sebelah di akhir kalimatnya.


Kemudian di susul dengan balasan dari Neni.


“Oke, gua juga lagi mager nih! di rumah terus, bosen!” timpal Neni membalas ajakan Rina lewat chat.


“Kalo gitu ketemu di tempat biasa kita kumpul aja ya!” balas Rina.


“Oke, Rin!” jawab Neni memberi emot jari melengkung di akhir kalimatnya.


...Berubah jadi mode video call grup BFF...


“Ishh.” Sari mendesis.


“Kalian masa tega pergi berdua aja ninggalin aku,” sambungnya.


Mendengar keluhan Sari, Neni langsung menjawab, “Ya udah ayok, Sar. Hari ini lu bolos kerja aja.”


“Oke! nanti kamu yang bayar upah kerja ku ya, Ni,” balas Sari di balik ponsel.


“Emang lu aja yang butuh duit?”


“Hahaha! ya udah aku tutup video call-nya ya, udah ada pelanggan nih! aku lanjut kerja lagi ya guys. Have fun my BFF,” ujar Sari.


“Oh ya, besok senin kalian wajib banget ya harus traktir aku cemilan. Bye!” lanjutnya.


“Oke!” sahut Rina.


Sari yang sudah mendengar jawaban Rina langsung keluar dari panggilan grup.


“Kok lu malah oke-oke aja sih, Rin,” timpal Neni tak habis pikir dengan teman barunya.


“Gak apa-apa kok, Ni. Sari emang suka gitu, tapi besok juga dia lupa,” balas Rina.


“Kalo gak lupa?” tanya Neni.


“Kalo Sari ingat, dia bakal nolak,” ucap Rina.


“Kok nolak? kan dia yang minta di traktir?” tanya Neni yang wajahnya terpana kebingungan.

__ADS_1


Rina tersenyum. “Nanti besok kamu juga bakal tau kok, Ni.”


__ADS_2