Cinta & Benci Bersamaan

Cinta & Benci Bersamaan
Kehangatan Keluarga


__ADS_3

Setelah obrolan yang menyisakan pertanyaan dan kebimbangan. Mereka pun pulang ke rumah masing-masing, sedangkan Rina di antar oleh Abian.


Sesampainya dirumah Rina, Abian langsung berpamitan karena masih harus ikut jadwal pemotretan yang selalu rutin Abian lakukan selepas pulang sekolah.


“Mau mampir dulu?” ujar Rina menawarkan setelah turun dari motor


“Gak usah, hari ini mau langsung ke studio,” ujar Abian menolak ajakan kekasihnya


"Oh, ya udah. Hati-hati ya." ujar Rina melambaikan tangan kepada Abian di sertai senyuman yang manis


"Iya." ujar Abian yang sudah menyalakan kembali mesin motornya dan membalas senyuman Rina


Kriettt~ suara pintu


Rina yang sudah masuk kerumah mengedarkan pandangannya pada rumah yang megah namun sunyi, dan pandangan Rina terhenti di sofa yang berada di ruang tamu, di mana ada seorang pria paruh baya yang sedang menikmati secangkir kopi, dan secarik koran sedang di bacanya.


"Pah, Kenzo udah pulang?" ujar Rina memanggil pria paruh baya itu yang ternyata Martin, ayahnya


"Udah, sekarang lagi tidur di kamarnya." timpal Martin menghentikan aktifitas membacanya dan menoleh ke arah pintu dimana anak gadisnya baru pulang sekolah


"Syukurlah kalo dia udah gak ngambek lagi." ujar Rina menghembuskan nafas lega


Pasalnya setelah kejadian itu Kenzo langsung pergi dari rumah, beberapa hari ini dia selalu menolak untuk pulang setiap kali Rina dan Martin menghubunginya, atau saat Martin datang langsung ke rumah temannya selalu ditolak oleh Kenzo. Tapi hari ini Kenzo pulang atas kemauannya sendiri, tanpa harus dipaksa oleh Rina ataupun ayahnya, Martin.

__ADS_1


"Ayah kenapa?" ujar Rina menghampiri Martin karena wajahnya terlihat lesu, padahal Kenzo sudah pulang kerumah


"Maksud mu nak? apa ayah terlihat kurang sehat." ujar Martin yang fokusnya teralihkan oleh pertanyaan Rina


"Ya, wajah ayah terlihat tak bersemangat hari ini, ada apa yah." ujar Rina menatap Martin penuh dengan kecemasan


"Gak apa-apa kok sayang, mungkin ayah hanya kelelahan." ujar Martin menatap anak gadisnya yang langsung duduk disampingnya


"Ayah jangan terlalu memaksakan diri, aku sama Kenzo gak apa kok jika harus tinggal dirumah yang sederhana." ujar Rina berbicara dengan lapang agar ayahnya tak harus mencemaskan mengenai tempat tinggal


"Iya yah, Kenzo juga gak masalah kalo harus pindah ke sekolahannya kak Rina." ujar pria muda yang baru menuruni tangga dan menyebut dirinya Kenzo


"Lho, Kenzo? Kata ayah bukannya kamu lagi tidur?" ujar Rina menoleh ke pria muda itu yang tingginya melebihi dirinya


"Kalo kalian bilang gitu ayah akan berusaha lebih keras lagi mencari pekerjaan, agar kalian tetap bisa tinggal di sini dan sekolah sampai tinggi." ujar Martin yang kini raut wajahnya sudah berubah menjadi ceria dan bersemangat


"Ya yah, tapi jangan dipaksakan. Seperti kata ku dan Kenzo, kita gak keberatan jika rumah ini harus dijual dan pindah kerumah yang lebih sederhana." ujar Rina mengulangi kembali perkataannya


"Iya yah, kan lumayan tuh uang hasil penjualan rumah ini bisa buat ngontrak, buat bayar sekolah kak Rina sama aku sampai lulus serjana, dan ayah santai aja di rumah, hehe." ujar Kenzo dengan semangat dan di akhiri tawa bahagianya


"Lho kok ngontrak sih ken?" ujar Rina dan Martin bersamaan


"Ya kan kalo beli rumah uangnya jadi berkurang banyak, jadi nanti ayah harus kerja lagi buat tambahin untuk biaya sekolah kita sampai bisa sarjana." ujar Kenzo dengan wajah polosnya

__ADS_1


"Oh ayolah Kenzo, kalo ngomong yang agak masuk akal dikit, jika kita ngontrak ayah tetap harus kerja.


"Di kira untuk biayain kalian sampai lulus kuliah itu kecil? Dan lagi harus bayar kontrakan setiap bulan, jika di total sampai kamu lulus kuliah uang sewanya bisa buat beli rumah. Dan belum lagi Ayah harus melunasi sisa hutang ayah di bank." ujar Martin menjajarkan dan kembali lagi menjadi murung


"Ayah gak usah mikirin kita dulu, Kenzo juga masih setahun lagi kuliahnya. Rina juga setelah lulus mau cari kerja biar Rina biayain sendiri kuliahnya, jadi ayah jangan khawatir ya, untuk sekarang ayah lunasin aja dulu hutangnya, baru kita pikirin lagi sisanya nanti." ujar Rina mencoba mengurangi beban Ayahnya


"Iya yah, Kenzo juga bakal kerja paruh waktu jadi ayah gak usah banyak pikiran, nanti bisa-bisa malah jatuh sakit." ujar Kenzo diakhiri dengan mulut yang di manyun-manyun kan


"Kamu ini do'ain ayah ya." ujar Martin menjewer telinga Kenzo


Rina yang melihat pemandangan itu, bukannya menghentikan Martin yang masih menjewer telinga Kenzo sampai merah, tapi Rina malah tertawa di atas penderitaan adiknya.


"Ampun yah, Kenzo cuman bercanda kok." ujar Kenzo memohon ampun sambil memegangi telinganya seakan takut lepas dari kepalanya


"Dasar bocah ini, sana balik lagi ke kamar dan belajar yang benar." titah Martin namun tak digubris oleh Kenzo


"Awas aja kalo besok bangun telat, ayah suruh kamu datang sendiri ke sekolahan kak Rina." lanjutnya mengancam Kenzo


Setelah keributan yang membahagiakan ini Rina pergi ke kamarnya, sedangkan Kenzo dan Martin masih mengobrol di bawah tangga.


"Ayah mau kamu jangan bocorin hal ini sama Rina ya, ayah cuman gak mau dia down karena selama ini dia sayang banget sama mama kamu, walau mama mu hanya peduli sama kamu." ujar Martin dengan wajah serius diliputi rasa kasihan


"Iya yah, ma'afin Kenzo udah bersikap keterlaluan sama ayah waktu itu, Kenzo gak tau kalo mama adalah wanita yang seperti itu." ujar Kenzo dengan wajah sedih hendak menangis

__ADS_1


Dikamar Rina yang penuh dengan warna serba pink berlist putih, lampu kamar yang masih redup dengan sinar matahari berhasil masuk ke celah-celah dalam kamar, Rina yang berjalan menuju lemarinya dan segera mengambil pakaian yang akan dikenakannya hari ini. Kini Rina mulai menuruni tangga dan bergabung kembali dengan Martin juga Kenzo.


__ADS_2