Cinta & Benci Bersamaan

Cinta & Benci Bersamaan
BAB 9 #Bullying


__ADS_3

Rina kini telah sampai di rumahnya setelah mengantarkan Neni pulang lebih dulu.


“Rina pulang.”


Baru satu langkah Rina masuk ke ruang tamu langkahnya terhenti dan mematung di tempat.


Sebuah perkelahian yang datang dari kedua orangtuanya tanpa angin tanpa hujan, kata pisah keluar dari mulut mamanya, Julia.


Sungguh pemandangan tak enak di lihat juga bisa menyakiti gendang telinga, Rina hanya menyaksikan pertengkaran itu di bawah lantai tanpa bergerak satu inchi pun.


“Pokonya aku tetap mau cerai,” teriak wanita paruh baya dengan lantangnya dari lantai atas yang tak lain adalah Julia, mama Rina.


“Kalo kita cerai gimana dengan Rina dan Kenzo,” pekik pria paruh baya tak kalah lantangnya dari lantai atas yang tak lain adalah Martin, ayah Rina.


“Ya mereka urusan kamulah! sudah! jangan halangi aku!" Julia menyingkirkan tubuh Martin yang menghalangi jalannya.


Ayah Rina yang di duga korupsi oleh perusahaan yang bekerja sama dengannya, karenanya perusahaan Ayah Rina kini jatuh bangkrut.


Semua hartanya telah keluar tanpa sisa karena membayar semua kerugian dan denda yang terbilang tak kecil nominalnya.


Meski tak di penjara karena sudah membayar denda akibat kerugian yang di lakukan ayah Rina, kini keluarga Rina sedang di ambang broken home.


Martin membalikkan tubuhnya menatap punggung Julia. “Aku harus jelasin berapa kali sih biar kamu ngerti! aku itu di jebak sama asistenku! Bukan aku yang korupsi, tapi dia!”


“Korupsi? Ayah?” tutur Rina dengan lirih dan masih di tempat yang sama.


“Terserah! pokoknya aku mau kita cerai!” pekik Julia yang masih menarik kopernya menuruni tangga.


“Aku gak mau tinggal bareng pria miskin yang juga seorang korupsi,” lanjutnya kembali yang sudah berada di bawah tangga.


“Mah! aku mau ikut sama Mama!” ujar pria muda yang berlari menuruni tangga dan meraih tangan Julia, yang tak lain adalah Kenzo, adik Rina.


“Gak bisa, kalau kamu ikut yang ada mama tambah repot.” Julia melepaskan tangan Kenzo dengan kasar.


Kenzo meraih kembali tangan Julia tapi terhenti karena melihat Rina tengah berdiri yang tak jauh dari pintu rumah. “Terus gimana dengan sekolahku? kalau aku harus tinggal sama ayah dan kak Rina?”


“Itu terserah ayahmu, Mama gak peduli.” Julia pergi melewatinya.


“Mah, bawa aku! aku juga mau pergi sama Mama! selama ini, kan Kenzo selalu patuh sama Mama!” jerit Kenzo dengan lantang mengabaikan kehadiran Rina, namun tak jua menghentikan langkah Julia.


“Kenzo!” bentak Martin dengan lantang menatap Kenzo yang pandangannya masih menatap punggung Julia.

__ADS_1


“Sudah! jangan mengemis lagi sama wanita yang di pikiran dan hatinya cuma ada uang dan harga diri,” lanjutnya dengan raut wajah merah karena marah.


“Ini semua gara-gara Ayah!” Kenzo membentak balik ayahnya dengan wajah menengadah menatap Martin dari bawah tangga tanpa membalikan tubuhnya.


“Mama jadi pergi ninggalin aku sama kak Rina, harusnya dalam dunia bisnis ayah jangan pernah percaya sama siapapun,” lanjutnya.


“Kenzo, sudah! apa yang kamu lakukan?” Rina yang mulai bergerak dari tempatnya menuju Kenzo.


“Kamu tau ayah, kan? ayah gak mungkin korupsi! ayah juga sudah kasih pengertian ke kita kalau ayah dijebak,” lanjutnya yang kini sudah berhadapan dengan Kenzo.


“Itu cuma alasan ayah doang, Kak, untuk membela dirinya agar gak buruk di pandangan keluarganya, tapi tetap saja itu buruk di pandangan publik,” kecam Kenzo yang kini tatapannya beralih ke Rina.


“Kenzo! gimana bisa kamu bicara begitu soal ayah,” ucap Rina dengan sedikit lantang


“Udah, Rina ... Abaikan saja adikmu, dia sudah terlalu lama di manja oleh mamamu,” tutur Martin yang tak beranjak dari tempatnya.


“Tapi, Yah ...” Rina menengadah menatap Martin dari bawah tangga.


“Sudah, sana masuk kamar ganti baju dan makan,” titah Martin menujuk arah kamar Rina dengan kepala.


“Bagaimana bisa makan dengan suasana hati kayak gini,” gumam Rina dalam hatinya yang kini sedang menaiki tangga meninggalkan adiknya, Kenzo yang masih di bawah tangga membelakangi pundaknya


***


Sinarnya yang berkilau mampu menusuk mata, awal hari yang di sambut oleh cahaya yang paling terang di banding bulan, seakan membawa kabar baik untuk hari ini.


Tapi itu tidak berlaku untuk Rina, pasalnya hari ini sudah ada kejutan besar yang menanti kedatangan Rina.


KELAS XII-3


Seperti biasa, sebelum masuk jam pertama semua murid selalu paduan suara, bukan dalam nyanyian tapi senda guraunya, ada yang asyik mengobrol, berdiskusi, bergosip, tapi hari ini suasananya berbeda, semua murid berbisik-bisik bahkan orang yang lewat di sampingnya gak bisa curi dengar apa yang sedang mereka bisikan.


“Kenapa Neni belum datang juga sih,” ujar Sari dalam hatinya dengan cemas dan terus menatap ke arah pintu kelas.


Beberapa menit kemudian, susana yang hening dalam kelas XII-3 tiba-tiba menjadi berisik dalam sekejap memenuhi ruangan kelas.


“Hei-hei ... si Rina dah datang tuh,” tutur salah satu siswi mengintip dibalik tirai jendela kelas dengan suara yang lirih.


“Rina?” ujar Sari dengan lirih dan menatap ke arah siswi yang tengah naik ke atas meja.


“Oke, ayo kita siap-siap,” ucap salah satu siswi lagi dengan suara lirih tengah berdiri di atas meja dekat pintu.

__ADS_1


Byur!


Sark!


Plok!


“Hahahaha.” Suara tawa memenuhi ruang kelas dan luar kelas seakan mereka sedang menonton sirkus.


“Rin—” panggil Sari namun tertelan oleh suara yang lantang dan tengah berlari ke arah Rina.


“Rina!” sergah seorang siswi bergaya tomboy berlari menghampiri Rina dengan wajah khawatir. Ya, orang itu Neni, teman Rina.


“Lu gak apa-apa, kan?” tanya Neni memakaikan sweater miliknya.


“Iya.” Rina tersenyum. “Aku baik-baik aja kok,” lanjutnya.


Bagaimana bisa Rina berkata baik-baik saja?


Sedangkan baju yang tadinya rapih menjadi lecek basah kuyup karena terguyur air.


Rambut hitam yang tergerai dan tertata indah di hiasai cepit rambut yang membuatnya jadi semakin manis, kini berubah memutih.


Bukan karena faktor usia tapi tepung yang mereka tumpahkan tepat di kepala Rina yang basah.


Serta bau harum yang lenyap dari tubuh Rina karena amis dan busuk akibat telur busuk yang mereka lemparkan.


“Kalian itu benar-benar sudah keterlaluan!” pekik Neni menatap tajam ke siswi yang membully Rina.


“Bau apa ya? busuk banget kayak tempat sampah,” ledek salah satu siswi mengabaikan Neni dan menutupi hidungnya.


“Omong-omong enaknya bikin kue apa ya? udah ada adonannya tuh di depan mata,” ujar salah satu siswi lagi sambil tertawa terkekeh menatap Rina.


“Tapi sayang, gak akan ada yang mau karena baunya busuk!” lanjutnya dengan tajam.


“Hahahahaha.” Tawa seluruh kelas kecuali Sari yang masih mematung di tempat duduknya.


“Mereka benar-benar keterlaluan,” ujar salah satu siswa yang berada di luar kelas merasa iba.


“Betul! tapi seru liatnya, pft!” ucap salah satu siswi yang berada di luar sambil menahan tawa.


Rina yang tak juga beranjak dari pintu kelas dan keramaian di luar kelas yang tidak berkurang sedikit pun, Rina dibuat anak-anak kelasnya benar-benar seperti badut di hadapan seluruh murid SMA BERLIAN CEMERLANG JAKARTA.

__ADS_1


_________________________________________


Note : nama sekolah cuma ngarang ya~ 😉


__ADS_2