Cinta & Benci Bersamaan

Cinta & Benci Bersamaan
BAB 13 #Ruang BK


__ADS_3

Kringg!


Kringg!


Semua murid bersorak karena bel pulang sudah berbunyi, kelas Rina juga tak kalah paling hebohnya.


“Oh ya, Rin!” ujar Daniya yang duduk di samping meja Rina menahan tangannya.


“Ya kenapa, Niya?” timpal Rina menengok ke arah Daniya.


“Tadi pagi setelah kamu pergi si Neni hajar semua anak kelas ini yang ikut ngebully kamu, dan aku yang ketua kelas juga di panggil ke ruang BK sebagai saksi.”


“Neni bilang dia bertindak kayak gitu demi membela sahabatnya, meski pak guru sempat memberi pujian tapi tidak juga membenarkan tindakan Neni yang mukul teman sekelas sampai babak belur.”


“Apalagi ada yang sampai jatuh pingsan juga, sampai akhirnya guru BK memberinya skorsing selama seminggu, dan guru BK juga minta kamu untuk ke ruangannya setelah pulang sekolah.”


Ujar Daniya menjelaskan dengan jelas sejelasnya tanpa ada kata yang dikurangi ataupun dilebih-lebihkan.


Rina dan Sari hanya terdiam mendengar apa yang Daniya jajarkan sampai selesai.


Sari juga jadi makin merenungkan dirinya mendengar Neni yang sangat berani ngorbanin nama baiknya dan rela di skors demi balas dendam untuk Rina, orang yang baru Neni kenal.


Sedangkan dirinya, yang sudah mengenal Rina lebih lama malah diam saja gak berani melangkah satupun dan malah mementingkan egonya, dibanding persahabatan yang sudah lama mereka bangun.


Setelah Daniya yang sudah selesai dengan tugasnya untuk menyampaikan pesan guru BK ke Rina, segera mungkin Sari dan Rina langsung bergegas menuju ruangan BK.


Sesampainya di pintu Rina berpapasan dengan Abian dan teman-temannya di luar pintu.


Tanpa basa-basi dan tegur sapa, hanya tatap mata yang saling bertemu Rina langsung masuk ke ruang BK, dan Sari menunggu di luar pintu.


Tok


Tok!


Tok!


“Permisi, Pak!” ujar Rina dari balik pintu dengan ramah, tak lupa juga mengetuk pintu.


“Masuk,” sahut orang dari dalam ruangan yang tak lain adalah guru BK.


Rina yang sudah masuk benar-benar berdebar dibuatnya, karena ini pertama kalinya Rina masuk ke ruang BK.

__ADS_1


Biasanya yang pergi ke ruang BK hanya murid yang suka melanggar aturan, tapikan disini Rina sebagai korbannya.


“Duduk dulu,“ titah guru BK yang melihat Rina masuk.


Rina langsung menganggukan kepalanya dan menarik kursi itu untuk ia duduki.


“Kamu ... Rina?” ujar guru BK yang terduduk di kursi putar membolak balik kertas.


“Iya, Pak,” timpal Rina dengan sopan.


“Bapak mau tanya sama kamu dan jawab yang jujur, jangan ada yang di tutup-tutupin,” ujar guru BK yang gini beralih menatap Rina.


Rina yang menatap lurus ke lantai. “Iya Pak.”


“Apa benar kamu di bully oleh teman sekelasmu,” ujar guru BK bertanya dengan serius kepada Rina.


“Benar, Pak.”


Rina membenarkan pertanyaan guru BK dengan wajah yang masih menunduk ke bawah, menatap jari jemarinya yang kini sedang di mainkan.


Sangat di sayangkan, pengakuan Rina membuat guru BK cukup kecewa, pasalnya mereka sudah kelas tiga dan akan lulus.


Tapi tentu saja, guru BK juga tak membenarkan anak didiknya melakukan bullying sampai kekerasan terjadi pagi tadi.


Di mana semua orang tua menitipkan anaknya untuk dididik, untuk menambah pengetahuan, bukan untuk menjadi sampah masyarakat.


Pertanyaan demi pertanyaan terus terlontar dari guru BK, dan pernyataan terus keluar dari mulut Rina dari siapa saja anak sekelasnya yang sudah membully Rina, dan ada dendam pribadi apa diantara mereka dengan Rina.


Tentu saja Rina menjawab semuanya, sampai memberitahu nama-nama teman sekelas yang sudah membully-nya kepada guru BK.


Tapi Rina tak bisa berterus terang tentang alasan kenapa mereka membully Rina, karena Rina gak mau Abian sampai terlibat.


Sedangkan selama ini Abian selalu punya reputasi yang baik, di tambah dia juga seorang ketos.


Tanpa Rina sadari, sebenarnya Abian sudah terlibat lebih awal atas terjadinya pembullyan yang Rina alami.


"Untuk nama yang kamu sebutkan, Bapak akan menelpon orang tua mereka masing-masing, dan memberitahukan perbuatan anak mereka. Bapak juga akan memberi skorsing yang sama seperti Neni."


Ujar guru BK sambil mencatat beberapa anak yang terlibat dalam pembullyan. Dan mereka semua adalah daftar nama yang mendapatkan tinju Neni.


“Kalo nanti mereka mengganggu kamu dan sampai melakukan bullying lagi, kamu langsung lapor saja ke bapak,” lanjutnya menatap Rina dengan tangan yang masih bergerak memegang pena.

__ADS_1


“Iya, Pak.”


“Ya sudah, sekarang kamu boleh pulang,” Guru BK mengarahkan tangannya yang masih megang pena ke pintu.


Rina bangkit dari kursinya. “Terimakasih, Pak.”


Saat Rina keluar dari ruang BK, Rina langsung menghampiri Sari yang masih menunggunya di depan pintu.


“Tadi Abian ada tanya sesuatu gak ke kamu, Sar?”


“Gak ada, dia langsung pergi sama teman-temannya,” timpal Sari


“Syukurlah, berarti dia gak tau.” Rina merasa lega dan segera beranjak pergi.


“Kok kamu ngomong gitu, bukannya si Abian harusnya udah tau ya, kejadian tadi pagi? kalau belum pasti sudah dengar desas desusnya,” tutur Sari yang juga ikut beranjak pergi ngikutin Rina


“Dia bukan tipe orang yang suka gosip, sebagai ketos juga dia pasti punya banyak tugas,” ujar Rina murung.


“Terus ceritanya gimana? kok kamu bisa jadian pake acara backstreet segala sama si Abian?” tanya Sari yang sudah menahan rasa penasarannya dari tadi


Seperti yang Rina jelaskan ke Neni, awal mereka jadian sampai siapa yang suka dan nembak duluan, hingga backstreet adalah ide Abian.


Sampai sekarang Rina masih belum tau alasannya kenapa, dan gak pernah menyinggung pasal ini setiap kali mereka berhubungan lewat telpon.


Walaupun pernah terbesit dalam hati Rina untuk menanyakannya, tapi Rina memilih lebih baik Abian yang kasih tau duluan.


“Ini aneh banget,” ujar Sari berpendapat setelah mendengar semua penjelasan dari Rina.


“Apa jangan-jangan si Abian udah punya pacar sebelum nembak kamu, Rin?” lanjut Sari bertanya dengan pertanyaan bagai busur panah yang di lepas tepat mengenai sasaran.


“Ma—masa sih? kok aku jadi negatif thinking gini setelah dengar kamu ngomong gitu, Sar!” ujar Rina yang kini mereka sudah berada di luar gerbang sekolah.


“Maaf, Rin, aku gak bermaksud gitu! cuman ya aneh aja mau dipikir kayak gimana juga!” ujar Sari yang sedang memberhentikan angkot dengan satu tangan.


"Terus si Abian juga gak kasih penjelasan lagi sama kamu selain alasan karena fans fanatiknya itu." lanjutnya yang kini sudah masuk kedalam angkot


"Gak ada rin, emang menurut kamu Abian masih punya alasan lain lagi ya." ujar Rina yang ikut masuk naik angkot


"Ya iyalah rin, coba lu pikirkan baik-baik. Si Abian tau kalo dia punya fans fanatik, tapi kekeh banget maksa dirinya nembak kamu, terus gak mikirin konsekuensinya apa yang bakal terjadi sama kamu kalo sampai ketahuan sama fans-nya itu. Bahkan keramaian tadi juga gak ada yang sampai ke telinganya." ujar Sari menjelaskan dengan panjang lebar


"Si Abian ini benaran cinta apa cuma cinta-cintaan doang." lanjutnya

__ADS_1


Rina hanya mendengar keluh kesah dari sahabatnya ini tentang kekasihnya, Rina juga gak bisa menyangkal karena hari ini Rina baru menyadari sesuatu setelah pulang kerumah untuk ganti seragam, kini dalam hati Rina memiliki pertanyaan yang sama seperti sahabatnya itu.


__ADS_2