
Inilah salah satu alasan kenapa Rina menyembunyikan kalo dia berpacaran dengan Abian si pangeran sekolah.
Tapi entah kenapa semua orang bisa tau padahal selama di sekolah mereka tak pernah bertegur sapa, bahkan saat bertemu tak sengaja pun mereka pura-pura tak kenal.
“Rin! lu gak apa-apa, kan?” tanya Neni yang mengikuti langkah Rina.
Rina tak merespon temannya dan terus melangkahkan kakinya dengan cepat seakan ingin menemui seseorang.
Tepat di depan pintu kelas Rina menghentikan langkahnya dan Neni pun ikut berhenti mengikuti Rina, bukannya langsung masuk Rina malah menghela napas dengan berat.
Rina mulai masuk ke kelas itu dengan pelan, tapi saat hampir dekat dengan seseorang yang sedang duduk di meja guru berbincang ria dengan teman-temannya.
Rina menghentikan langkah dan membalikan tubuhnya, irama kakinya tak lagi tergesa-gesa ataupun berhati-hati tapi kini mulai berlari kecil meninggalkan kelas yang di atas pintu ada papan bertuliskan XII-1.
“Rina?” ujar seseorang dengan suara lirih dari dalam kelas yang menyadari keberadaan Rina, namun kini sudah berlari meninggalkan kelas.
Rina membiarkan kakinya berlari sesuka hati dan ia hanya mengikuti kemana langkah kakinya akan berhenti, Neni yang selalu setia mengikuti Rina sedari tadi ikut berlari menyusul Rina.
Kini langkahnya mulai menyusut berjalan pelan dan berhenti di sebuah kursi besi panjang berwarna putih yang berada di taman belakang perpus.
Sepertinya kaki Rina mulai lelah karena berlari-lari padahal bukan kelas olahraga, dan kini Rina mulai duduk di atas kursi yang kokoh itu.
Neni yang melihat Rina terduduk dengan wajah hendak menangis karena emosi yang Rina tahan sejak tadi tak berhasil Rina luapkan.
“Rin, kamu kenapa? kok tadi kamu malah pergi dan gak jadi ketemu sama Abian?” tanya Neni mendadak sopan dan mendekati Rina pelan-pelan duduk di sampingnya.
“Aku bukan mau ketemu sama Abian,” ujar Rina memberitahu dengan wajah tertunduk menahan tangis.
“Terus, lu mau ketemu sama siapa?” tanya Neni merasa heran dan balik lagi ke gaya bahasanya.
“Aadina,” timpal Rina.
“Aadina? kenapa lu ingin ketemu si Aadina? gua pikir, lu mau ketemu Abian. Secara yang tau lu pacaran, kan cuma si Abian!” tutunya.
__ADS_1
“Ya walaupun gua juga tahu. Tapi, kan gua gak mungkinlah sebar sana sini buat apa? gak ada manfaatnya juga buat gua,” sambungnya kembali.
“Aku tau, Ni. Kamu gak mungkin sabarin kalo aku sama Abian pacaran,” ujar Rina yang masih tertunduk menatap bebatuan jalan.
“Aku curiga itu ulah Aadina! karena waktu kita masuk ke kelas seni Abian menatap ku dengan girang dan memanggil ku ae-in, panggilan yang Abian kasih untukku,” lanjutnya menjelaskan.
“Kok gua gak denger ya? apa telinga gua budeg ya?” tanya Neni mengorek-ngorek telinganya.
“Abian gak manggil dengan lantang, jadi wajar kamu gak dengar. Meski begitu, panggilannya terdengar jelas di telinga Aadina yang sangat dekat dengan posisi Abian, secara mereka akan memainkan alat musik bersama,” beber Rina.
“Oh, iya juga yah!” timpal Neni menyetujui feeling temannya itu.
“Terus, kenapa lu malah pergi gak jadi nemuin si nenek sihir, Aadina?” lanjut Neni menanyakan dengan wajah bingung.
“Karena aku gak mau Abian tau!” ujar Rina dengan raut wajah di tekuk.
“Lah! gimana maksudnya, Rin? gua gak ngerti,” ujar Neni yang tampak kebingungan.
“Abian pernah cerita kalo fans-nya itu terlalu fanatik, walau gak semuanya. Tapi dia suruh aku hati-hati agar jangan sampai ketahuan kalo aku pacarnya,” tutur Rina menjelaskan dengan detail.
“Ya!” jawab Rina padat dan jelas.
“Si Abian itu bego, apa gimana sih? kalo udah tau konsekuensi pacaran sama dia bakal kayak gini, kenapa masih kekeh nyatain cintanya sama lu? dan malah pacaran, lagi!” Neni mengepalkan tangan dengan keras di sertai wajah yang berapi-api karena amarah.
Rina hanya diam tak memberi jawaban apa-apa karena Rina pun gak tau alasannya kenapa Abian tetap menyatakan cintanya, meski saat awal Abian meminta Rina untuk jadi pacarnya sampai Abian meminta Rina untuk backstreet di hari mereka resmi berpacaran.
Kringg! kringgg! bel istirahat berakhir.
“Udah bel masuk aja nih! ayo, Rin, kita juga masuk kelas,” ujar Neni sudah bangkit dari tempat duduk.
“Ya, Ni ... maaf ya, gara-gara kamu ngikutin aku jadi gak sempat makan siang,” ujar Rina merasa bersalah.
“Ya gak apa-apa kok, Rin! santai aja, lagian hari ini gua juga lagi diet, kok!” timpal Neni di sertai tawanya yang renyah.
__ADS_1
Dua sahabat itupun pergi meninggalkan taman dan segera kembali ke kelas sebagaimana murid-murid lainnya yang segera kembali ke kelasnya masing-masing untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.
pertanyaan demi pertanyaan mulai menumpuk dalam hati Neni. “Sebenarnya apa ya alasan si Abian? terus kenapa si Rina malah diam aja? apa dia juga gak tau? atau belum siap cerita?”
“Haish!” Neni mengacak-acak rambut pendeknya karena gak nemu jawaban satupun dari pertanyaannya.
Rumit banget sih kisah asmaranya teman pertama gua ini.
Rina yang memperhatikan Neni mengacak-acak rambutnya tanpa sebab. “Kamu kenapa, Ni?”
“Hah! ng—nggak apa-apa kok, Rin! cuma tiba-tiba merasa pusing aja nih kepala,” timpal Neni yang melihat Rina dengan wajah cemas.
“Maaf ya, Ni ... kamu jadi berpikir keras karena aku juga gak tau harus jawab apa dari pertanyaanmu tadi,” ujar Rina dengan wajah menekuk dan tertunduk.
Seolah-olah tahu apa yang di pikirkan temannya, Neni langsung merasa bersalah karena dirinya menambah kesedihan temannya itu.
“Ng—nggak apa-apa kok, Rin! gua tadi cuma lagi mikirin sesuatu aja!” timpal Neni yang tak ingin membuat temannya cemas.
“Mikirin sesuatu? apa itu?” tanya Rina.
“Derry!” tukas Neni dengan kilat karena tak ingin temannya ini berpikir yang macam-macam lagi.
“Derry besok ulang tahun, dan gua gak tau harus kasih kado apa. Mana orangnya pemilih banget lagi,” lanjutnya.
“Kasih kue ulang tahun buatan kamu aja, Ni,” ujar Rina menyarankan.
“Boleh juga, tuh! nanti malam gua coba bikin kue dan kasih surprise ke Derry, dia pasti suka,” tutur Neni dengan girang dan berseri-seri.
“Iya.” Rina tersenyum melihat ekspresi Neni.
“Udah sampai kelas aja nih,” sambungnya.
“Iya juga, kirain masih butuh berapa langkah lagi? haha!” Neni mulai memasuki kelas bersama Rina.
__ADS_1
Saat masuk ke kelas pandangan keduanya tertuju pada kursi di barisan ke dua paling tengah.