
Sungguh jahat sekali mereka, hanya karena idolanya gak berpacaran dengan cewek tercantik dan terpopuler di sekolah mereka sampai melakukan bullying, sangat kekanakan.
Rina tak menyangka kalo dalam hidupnya akan di bully saat SMA karena kekasihnya yang populer itu. Rina yang saat itu yakin bisa menyembunyikan rahasia ini dari seluruh sekolah sampai lulus dengan tenang.
Tapi nyatanya, Rina merasakannya di kelas 3 SMA. Di mana waktu itu semua siswa harus fokus dan menyiapkan diri untuk uji masuk ke perguruan tinggi.
Drap, drap, darp! suara langkah kaki berlari panjang meninggalkan kerumuman dengan isak tangis tertahan.
“Rin!” panggil seorang siswi yang hanya menatap punggung Rina yang sudah lenyap tertutup kerumuman.
“Kalian ...” lanjutnya yang tak lain adalah Neni.
Neni yang masih berdiri di tempat merasa geram kepada anak-anak yang sudah membully Rina, sahabatnya.
Tanpa pikir panjang Neni langsung menghajar siswi-siswi di kelasnya, semua orang yang tak terlibat hanya menyaksikan tinju Neni yang melayang untuk teman sekelasnya.
“Bagaimana ini? Kalo di biarkan cewek tomboy itu bisa ngebunuh orang,” ujar salah satu siswi yang berada di luar kelas.
“Kamu, kan cowok? buruan maju sana untuk melerai perkelahian mereka,” titah salah satu siswi lagi yang menarik siswa di sebelahnya.
“Gak, ah, gua takut! nanti malah gua yang kena tinjunya si Neni. Dia, kan terkenal banget di sekolah lamanya sebagai preman sekolah,” ujar siswa itu.
“Kalau gitu cepat panggil guru, sebelum banyak korban,” tutur salah satu siswi lagi yang berada di luar kelas.
“Gak, ah! lagi seru-serunya nih! jarang-jarang bisa nonton action secara langsung, haha,” ujar salah satu siswa yang berada di sebelahnya di akhiri dengan tawa.
“Hahaha, gila lu,” timpal salah satu siswa yang berada di sebelahnya.
Setelah puas memberi pelajaran kepada mereka kepalan tangan Neni kini terhenti pada seorang siswi yang dari tadi duduk manis di tempat duduk.
Wajahnya di hiasi dengan netra ketakutan dan rasa cemas menyelimuti, namun siswi itu tak jua beranjak ataupun pergi dari kelas untuk memanggil guru.
“Heh!” Neni menatapnya dengan benci ketika melihat wajah siswi yang sedari tadi duduk manis.
"Lu itu buta apa emang hati lu udah gak ada?! sahabat lu di bully habis-habisan sama teman sekelas tapi lu malah diam aja ikut menyaksikan sahabat lu sendiri menderita!” lanjutnya dengan suara menggelegar merasa marah dan kesal.
__ADS_1
“Gak punya otak ya, lu!” lanjutnya kembali menunjuk otak sendiri lalu beralihlah dengan cepat menunjuk siswi itu.
“Aku—” timpal siswi itu namun langsung tertelan oleh ucapan Neni yang belum selesai.
“Cuma karena kesalahan kecil Rina lu sampai mutusin tali persahabatan yang udah berjalan selama 5 tahun, gak nyangka gua sama lu, Sar!” ujarnya memanggil nama siswi itu, yakni temannya.
“Kamu jangan sok tahu ya! aku gak pernah mutusin tali persahabatanku dengan Rina!” Sari bangkit dari tempat duduk.
“Kalau gitu kenapa lu diam aja! lu pasti udah tau, kan rencana anak sekelas?!” tutur Neni yang masih marah dan emosi.
“Aku ...” timpal Sari tak bisa berkutik karena faktanya memang demikian.
“Kalau lu dari awal larang Rina untuk jangan masuk kelas, Rina pasti gak akan kayak gini, dan di permalukan seluruh satu sekolah.” Neni membalikkan badannya.
Di tengah-tengah perbincangan Sari dan Neni datang seorang pria paruh baya, yang ternyata seorang guru BK.
Kedatangannya membuat keadaan menjadi hening dalam sekejap. Meski ada satu dua atau tiga orang yang berbicara pelan, tidak memecahkan keheningan yang terjadi saat ini.
“Siapa yang namanya Neni?” panggil seorang pria paruh baya berseragam guru memasuki kelas mereka.
“Hah? siapa yang panggil guru BK?” ujar salah satu siswi yang berada di luar kelas dengan lirih.
“Gak tau,” timpal salah satu siswi lagi dengan mengangkat kedua bahunya.
“Kamu yang namanya Neni?” tanya guru BK kepada Neni yang masih membelakangi dan terus menatap tajam ke arah Sari
“Ya, Pak! saya Neni.” Neni berbalik badan
“Ikut bapak ke ruang BK sekarang!” titah guru BK meninggalkan kelas.
Neni mengikuti langkahnya dari belakang dan meninggalkan kelas.
“Kalian bubar, ngapain masih kumpul di sini? sebentar lagi bel pelajaran akan berbunyi,” lanjut guru BK.
“Ya, Pak!” ujar seluruh murid yang berkumpul kini pergi ke kelas masing-masing.
__ADS_1
Di waktu yang sama
“Eh, tumben banget semua anak pada kompak datang ke sekolahnya,” ujar seorang siswa yang baru datang dengan seragam lengkap berdasi dan tak lain adalah Abian.
“Iya, Yan, biasanya kan kita yang datang paling mepet,” timpal salah satu siswa yang berada di sebelahnya dengan baju yang di keluarkan dan tak lain adalah Haikal, teman Abian.
“Makanya kalau datang ke sekolah jangan mepet teruss, biar gak ketinggalan info, ”ujar seorang siswa dari belakang yang tiba-tiba nimbrung di tengah-tengah.
“Kebiasaan dah lu mah, Jril, tau-tau ada di belakang aja,” ujar Haikal menoleh ke arah siswa itu yang tak lain adalah teman sekelasnya, Ajril.
“Emang ada apa, Jril?” tanya Abian yang juga menoleh ke arah Ajril
“Wani piro? hahaha,” ujar Ajril sembari bercanda.
“Rese ya lu, Jril,” tutur Haikal dengan wajah kesal.
"Haha biasa aja kali gak usah kesel gitu, Bro,” ujar Ajril.
“Jadi tadi itu ada ribut-ribut di kelas XII-3 dan siswi yang namanya Neni itu berantem sama siswi sekelasnya sampai mereka babak belur dan ada yang pingsan juga katanya,” lanjut Ajril menjelaskan situasi beberapa menit lalu.
“Lah! katanya?” ujar Haikal meledek Ajri.
“Ya orang gua ke tutupan sama si kembar jangkung, itu juga udah barisan ke dua paling depan,” dalih Ajril.
“Yan, apa gak apa-apa cewek lu main sama cewek modelan kayak si Neni itu?” lanjut Ajril melihat Abian yang dari tadi gak ikut nimbrung.
“Iya, Yan, kalau gua sih udah pasti khawatir. Takut cewek gua terlibat masalah yang gak dia perbuat,” sahut Haikal Memiringkan kepalanya melihat ke arah Abian.
“Ya sebenarnya aku juga khawatir, cuma ya aku pun gak bisa larang Rina buat dekat sama siapapun,” ujar Abian yang sedang mengecek ponselnya.
“Toh selama ini Neni gak bawa-bawa Rina dalam masalahnya, jadi masih gak apa-apalah,” sambungnya.
“Masih belum ada balasan dari cewek lu, Bro?” tanya Ajril tak sengaja melihat ponsel Abian.
“Iya nih. Apa gara-gara weekend kemarin gak bisa kencan ya?” timpal Abian menatap wallpaper di ponselnya.
__ADS_1
Kringg, kringgg! bel masuk pun berbunyi.