Cinta & Benci Bersamaan

Cinta & Benci Bersamaan
Hati Yang Tersakiti


__ADS_3

Hari ini, kebetulan Ayah Rina datang ke sekolah dengan Kenzo, karena Kenzo resmi jadi murid pindahan pada hari ini juga. Semua guru dan murid sibuk bergosip membicarakan kejadian di taman beberapa menit yang lalu, tak lupa juga mereka membicarakan tentang nyokap Rina yang mereka dengar dengan jelas.


Di sebuah lorong sekolah, Martin dan Kenzo yang baru keluar dari ruang kepsek, tak sengaja mendengar salah satu siswi menyebut nama putrinya, sontak Martin dan Kenzo menoleh ke arah siswi itu dan bertanya tentang perkara yang mereka gosipkan.


“... kasian banget ya si Ajril. Aku gak nyangka kalo si Rina punya nyokap kayak gitu,” ujar salah satu siswi berjalan melewati Martin dan Kenzo.


“Rina? ... nyokap? ... maksud mereka apa?” ujar dalam hati Martin dan langsung menghentikan langkahnya memanggil 2 siswi itu.


“Tunggu sebentar, Dek.” ujar Martin menahan ke-dua siswi itu, dan Kenzo ikut berhenti menatap sang Ayah yang tiba-tiba menghentikan langkah siswi yang ada di hadapannya.


“Kenapa, Om?” sahut salah satu siswi menoleh ke belakang.


“Tadi Om gak sengaja dengar kalian lagi ngomongin Rina sama nyokapnya!” ujar Martin memulai obrolan.


“Kalo Om boleh tau, emang Rina sama nyokapnya kenapa, ya?” lanjutnya bertanya.


“Oh, tadi ada orang yang berantem, Om. Dan katanya nyokap Rina selingkuh sama ayahnya dia, gara-gara itu nyokapnya dia sampai berbuat nekat untuk bundir.” ujar sal satu siswi menerangkan apa yang ia dengar


“Apa?” sontak Martin dan Kenzo langsung kaget dan saling pandang


“Iya om, terus Rina yang nguping obrolan mereka langsung syok dan jatuh pingsan,” ujar salah satu siswi lagi menjelaskan.


“Sekarang Rina ada di mana?” ujar Martin diliputi rasa khawatir dan cemas.


“Ri-Rina ada di ruang UKS dekat perpus, dari sini om lurus aja nanti belok kanan,” ujar salah satu siswi memberi arah jalan.


Jawab Martin, “Oh! makasih ya, Dek.”


“Ayo Kenzo,” lanjutnya mengajak Kenzo untuk ikut


“Jangan-jangan itu om-om ayahnya Rina,” ujar salah satu siswi menduga.

__ADS_1


“Kayaknya sih iya, soalnya pas dengar Rina pingsan mukanya langsung syok dan khawatir,” ujar salah satu siswi yang ada di sebelahnya.


“Ya udahlah, kita pergi ke kantin aja yukk!” ujar salah satu siswi menarik siswi yang di sebelahnya menuju kantin.


Setelah mengikuti instruksi siswi tadi akhirnya Martin dan Kenzo sampai di depan ruang UKS, sesampainya di sana Martin dan Kenzo langsung masuk menghampiri Rina yang sedang terbaring masih tak sadarkan diri.


“Rina!” ujar Martin berlari menghampiri putri semata wayangnya.


“Om Martin?” ujar Sari dan Abian menoleh ke asal suara.


“Kita pamit keluar dulu ya om, Kenzo!” ujar Sari mengajak Neni keluar dari ruangan itu.


“Iya kak.” timpal Kenzo menoleh ke arah Sari beberapa detik, dan langsung mengalihkan pandangannya kembali menatap kakaknya-Rina


Kringgg~ Kringgggg~


Bel istirahat pun berakhir, Haikal yang masih menemani sahabatnya itu langsung ijin pergi ke kelas duluan, sedangkan Abian masih menatap wajah Rina yang masih terpejam untuk beberapa saat.


“Kak Abian masuk kelas dulu ya!” ujar Abian menghampiri Kenzo sambil menepuk pundak adik pacarnya


“Om, Abian pamit ya!” ujar Abian berpamitan kembali dan pergi meninggalkan ruang UKS.


Martin menoleh kepada anak muda itu, membalas pamitnya dengan anggukkan kepala, dan kembali menatap putrinya yang juga belum sadarkan diri. Selang beberapa menit setelah Abian keluar, akhirnya Rina sadarkan diri, pandangan Rina tertuju pada pria paruh baya yang duduk di sampingnya, dan pria muda yang tengah berdiri di dekatnya.


“Ayah ... Kenzo ...” ujar Rina menatap Martin dan Kenzo dengan bergilir.


“Kak Rina,” timpal Kenzo menoleh menatap Rina, kakaknya


“Ayah kenapa nangis, Rina kan cuma pingsan bukan lagi sekarat.” ujar Rina bercanda.


“Rina, maafin Ayah, ya! Ayah gak bermaksud buat sembunyikan sifat busuk mama mu, Ayah hanya gak mau konsentrasi mu yang sebentar lagi mau ujian jadi buyar.” Martin menatap wajah putrinya dengan raut wajah cemas dan merasa bersalah.

__ADS_1


“Ayah juga baru tau kemarin dari Kenzo, kalo mama mu berhubungan lagi dengan pria itu.” lanjutnya kembali.


“Jadi, sebelum pertengkaran waktu itu dan mama yang minta cerai ...” ujar Rina menghentikan ucapannya karena langsung di jawab oleh Martin, ayahnya.


“Ya, Nak! selama ini mama mu gak pernah putus hubungan dengan pria itu, ayah kira mama mu sudah berubah dan gak menghubunginya, makanya ayah menerima mama mu lagi,” ujar Martin menjajarkan dengan jelas.


“Iya, Kak! apa yang ayah bilang itu benar. Kenzo sendiri yang melihatnya dengan kedua mata kepala Kenzo, waktu pergi dari rumah dan ngikutin mama diam-diam,” ujar Kenzo ikut buka suara.


“Awalnya Rina gak mau percaya kalo mama bisa setega itu sama Ayah, bahkan bisa sekejam itu merusak keluarga temannya Abian,” ujar Rina dengan raut wajah murung dan kecewa.


“Tapi ternyata semua itu benar, Rina gak tau lagi harus gimana untuk menebus kesalahan mama, untuk minta ma'af atas perbuatan mama pun Rina gak punya muka untuk bertemu dengannya, Yah!” cerocos Rina mengeluarkan semua kata-kata dalam hatinya.


“Rina benar-benar kecewa sama mama, selama ini Rina selalu sayang dan peduli, nurutin semua kata mama agar Kenzo aja yang sekolah di luar negeri, tapi kenapa hari ini mama hancurin hati Rina tanpa bersisa yah,” pekik Rina menangis tersedu-sedu di pelukan Martin, ayahnya.


“Maafin Ayah, Rina. Ayah udah gagal jadi imam yang baik buat mama mu, Ayah gagal menuntunnya, maafkan Ayah,” ujar Martin ikut meneteskan air mata.


“Udah kak, jangan nangis untuk mama yang bahkan udah gak peduli dan ngebuang kita, harusnya Kenzo nurut apa kata Ayah bukannya bela mama dan nyalahin Ayah, maafin Kenzo ya, Yah!”


“Iya, gak apa-apa.” Mengelus lembut rambut anak laki-lakinya.


“Mamanya Ajril bunuh diri gara-gara mama, Yah.”


Rina mendongak menatap wajah Martin sang ayah, tangannya bergetar, menceking roknya karena menahan rasa sakitnya. Sedangkan Martin dan Kenzo tertegun mendengar fakta mengerikan ini.


“Kenapa, Yah! kenapa mama bisa setega ini! padahal sama-sama perempuan.” Tangannya melemas, sehingga cengkeraman pada roknya terdapat celah.


“Apa ada rasa penyesalan terbesit di hati mama walau sedikit? atau hati mama udah mati?” lanjutnya menahan tangis.


Martin dan Kenzo langsung memeluk Rina, dalam rangkulan dua pria itu, Rina menangis histeris, nafasnya tersendat-sendat.


Ruang UKS itu menjadi tangis pecah berjama'ah tanpa peduli ada orang yang lalu lalang di depan pintu, atau bahkan ada yang curi dengar obrolan mereka.

__ADS_1


Kesedihan yang berasal dari keluarga kecil itu, karena hati mereka telah dihancurkan oleh satu wanita yang paling mereka cintai, paling mereka sayangi.


Diantara derita hati mereka, terselip siluet pria tengah berdiri di balik pintu, tanpa bergerak untuk pergi ataupun masuk ke dalam, ia berdiri diam mematung seakan jantungnya ikut tertusuk dan menjadi satu dalam ruangan.


__ADS_2