
Setelah ngobrol panjang, Rina segera pergi menuju ke caffe depan warnet, tempat biasa mereka berkumpul. Selama perjalanan, Rina senang banget karena dia gak bakal di ledek ratu siput lagi oleh Neni, dan bakal ledek Neni balik karena pasti Rina duluan yang sampai.
...30 menit kemudian...
Rina terpaku tanpa berkata-kata melihat seorang gadis tomboy tengah berdiri di depan caffe.
“Hai Rina!” Sapa gadis itu melambaikan tangan kearahnya.
“Kok udah sampai duluan?” Rina berjalan menghampiri gadis itu.
“Oh iya dong jelas! kan gua gak selambat lu sama Sari,” sahutnya masih berdiri depan caffe.
“Lain kali lu sama Sari dong yang nungguin gua, jangan gua mulu yang jamuran nunggu kalian,” lanjutnya.
“Ini juga udah maksimal banget tau gak?! habis vc langsung ke sini, tapi ya emang kamu-nya aja yang gesit,” ujar Rina yang kini ikut berdiri depan pintu caffe.
"Setiap kamu ke sini naik apa sih?” sambungnya bertanya.
“Bukan karpet terbang, kan?” lanjutnya kembali.
“Haha ... ya bukanlah! lu pikir ini dunia aladdin?” sahut Neni.
“Lah terus naik apaan dong?”
Jawab Neni sambil bercanda, “Naik sandal, alias jalan kaki, wkwk.”
“Halah bo-ong ya?” sahut Rina tak percaya.
“Idih, tadi nanya! giliran di jawab malah gak percaya. Sekalian aja lu gak usah nanya!” pekik Neni dengan ketus.
“Yang masuk akalan dikit napa, liat aja noh!” Rina meunjuk sekelilingnya.
“Samping kanan kiri depan semuanya jualan,” lanjutnya masih mengedarkan jari telunjuknya yang lentik.
“Haish! apa lu gak lihat tuh, ada gang kecil belah warnet?” tutur Neni menunjukan.
Rina menatap arah yang di tunjuk. “Ya, aku lihat kok.”
“Nah di sana!” pekik Neni meninggikan suaranya karena kesal.
“Itu rumah gua, di belakang warnet dan toko video game!” lanjutnya masih dengan nada yang sama.
“Oh oke! tahan ya bos, gak usah nggas gitu,” ucap Rina mengacungkan kedua telapak tangannya.
“Ya lu mancing-mancing gua!” seru Neni dengan nada yang masih kesal.
Rina tertawa. “Haha! ya udah, maaf ya.”
“Oke! gua maafin karena hari ini lu yang traktir,” sahut Neni menunjukkan satu gigi gingsulnya.
...***...
__ADS_1
“Mbak!” panggil Rina melambaikan tangan, yang kini sudah berada di dalam caffe.
“Kita mau pesan cake coklatnya dua, sama minumannya frappe satu, cappuccino satu ya, Mbak!” sambungnya.
“Baik, Mbak.” Menulis menu pesanan.
“Ini saja? ada lagi tambahannya?” lanjutnya bertanya.
“Itu aja, Mbak!” timpal Rina.
“Baik, silahkan menunggu!” sahutnya dengan sopan dan pergi meninggalkan meja Rina.
Beberapa menit kemudian, suasana menjadi sunyi, hanya di meja Rina dan Neni tanpa ada obrolan atau curhatan, sedang meja di sekitarnya penuh dengan emosi, ada yang sedang curhat, bercanda, merengek pada ibunya, ngobrol biasa, dan emosi lainnya.
Rina bingung mau ngomong apa dulu untuk jujur pada Neni, karena Rina tau kalo mereka kumpul bertiga akan sulit bagi Rina buat jujur.
Dan ini kesempatan untuk Rina agar pertemanannya dengan Neni gak canggung seperti sekarang yang Rina rasakan, walau beberapa menit lalu mereka asyik mengobrol dan bercanda.
“Ee ... Ni!” panggil Rina terus memainkan jari tangan.
“Hmm?” sahut Neni menatap Rina.
“Se-sebenarnya ... pria yang aku gambar kemarin adalah pa-”
“Kalo lu gak bisa jujur sekarang gak apa-apa kok, Rin. Kita juga gak akan maksa lu buat jelasin!” sergah Neni dengan cepat.
“Oh, oke!” ucap Rina mengurungkan niatnya.
“Lah, kan tadi aku mau kasih tau! kenapa kamu malah tiba-tiba nyela omonganku di tengah jalan?" ucap Rina sedikit emosi.
“Terus cowok itu siapa?” tanya Neni merasa puas sudah berhasil memancing Rina.
Rina yang tadi gugup dan ragu-ragu langsung menjawab pertanyaan Neni. “Abian.”
“Oh pantes aja! gua kek pernah liat gitu mukanya, tapi gak tau siapa, ternyata si Abian?!” pekik Neni.
“Terus lu diem-diem naskir sama Abian, gitu? atau kalian pacaran?” lanjutnya bertanya dengan asal.
Rina membenarkan pertanyaan Neni. “Iya.”
“Hah! apa?!” sergah Neni merasa syok.
“Iya ... iya apa?” lanjutnya melongo.
“Aku sama Abian pacaran!” ungkap Rina.
Neni terbelalak terkejut. “Serius? padahal tadi gua cuma asal tanya, lho.”
“Terus, kalian kapan jadian? gimana ceritanya? dan siapa yang suka duluan?” lanjutnya dengan pertanyaan bertubi-tubi.
“Kita jadian pas akhir semester 2 waktu selesai ujian, terus gak sengaja tabrakan, lalu Abian mau ngomong sesuatu dan kita pergi ke atap sekolah, di sana dia nembak aku,” ungkap Rina merasa malu dan langsung menutupi wajahnya yang memerah.
__ADS_1
“Kalo siapa yang suka duluan aku pernah tanya, kata Abian dia udah tertarik sama aku pas awal-awal mos,” lanjutnya bercerita dengan tangan yang masih menutupi wajah.
“Wow! gak nyangka kalo si Abian yang naksir lu duluan. Gua kira lu duluan, secara gitu dia prince sekolah,” timpal Neni menyeruput minumannya yang sudah datang sejak tadi.
“Kamu juga suka sama Abian?” tanya Rina penasaran.
“Hah! ya kali, nggaklah! gua, kan udah punya Derry. Si Abian sih emang cakep, tapi gua gak suka tampangnya muka-muka playboy!” tutur Neni dengan tegas.
“Oh ya, si Sari pasti udah tau juga ya?” lanjutnya.
“Belum! dia belum tau.”
“Hah?! kalo gitu besok kamu harus udah kasih tau dia, Rin! entar si Sari ngambek kalo tahunya telat,” timpal Neni.
Rina merasa lega karena yang menumpuk di pikirannya sudah mulai berkurang, dan hari esok dia harus jujur kembali tentang hubungannya dengan Abian. Selama ini mereka berdua selalu berangkat bareng tapi ntah kenapa hari ini Sari berangkat duluan.
...Dalam kelas...
“Eh, Sar! tumben lu udah ada di kelas, Rina mana?” tanya Neni berjalan ke tempat duduk.
“Iya nih! hari ini jadwalku piket, jadi gak bareng sama Rina,” sahut Sari yang lagi duduk di tempat duduknya.
“Owh!” timpal Neni.
Sebentar lagi bel masuk akan bunyi tapi Rina belum juga dateng. Sementara Neni saat ini merasa bimbang, haruskah dia aja yang kasih tahu ke Sari?
Tapi, mengingat Sari yang begitu bangganya bisa kenal dan berteman dengan Rina lebih awal, membuat Neni kepikiran.
Kalo Sari tahu dari gua pasti akan bakal tersinggung. Lebih parah kalo sampai ngamuk karena si Rina kasih tahu aku lebih dulu dari pada Sari.
Neni menghembuskan nafas. Semoga aja Rina udah kasih tau Sari selepas pulang kemarin.
“Nah, itu Rina!” Tunjuk Sari melihat ke arah pintu kelas.
“Tumben dia telat,” seru Neni menoleh ke arah pintu.
Tap~ tap~ berjalan ke tempat duduk
“Tumben lu, Rin! datengnya telat?” tanya Neni.
“Iya, Rin. Jalanan macet ya!” timpal Sari menebaknya.
“Gak, Sar. Cuma tadi pagi aku bangun kesiangan,” jawab Rina langsung duduk di kursinya.
“Tumben banget lu kesiangan?” timpal Neni menoleh ke teman duduknya, Rina.
“Iya, Rin. Semalam habis begadang ya?” sahut Sari menebaknya kembali.
“Iya! karena, kan sekarang les ku pindah jadwal jadi malam, terus semalam pulangnya sekitar jam sepuluhan sampai rumah tengah sebelas,” seru Rina mengeluarkan buku untuk pelajaran pertama.
“Oh, pantes aja! kamu, kan gak bisa tidur di atas jam 10 selalu jam 9 malam,” timpal Sari.
__ADS_1