Cinta & Benci Bersamaan

Cinta & Benci Bersamaan
BAB 15 #Pelaku Sebenarnya


__ADS_3

Tak habis-habisnya Rina, Neni dan Sari membahas siswa itu sampai makan siang selesai dan jam pulang pun berakhir.


Kini Rina sedang dilanda galau dan gundah gulana, bukan karena rindu kepada sang pujaan hati. Tapi karena memikirkan ucapan Sari, sahabatnya.


“Siapa ya cowok itu...” ujar Rina berfikir dengan keras di meja belajarnya


Di sela-sela lamunan dan bisikannya bersahut suara getaran ponsel memecahkan bayangannya.


Drrrttt!


Drrrttt!


“....”


Rina melirik ke arah ponsel yang tergeletak di atas meja samping tangan kirinya. “Hallo!” jawab Rina menyapa orang di balik ponsel.


“Ae-in apa kamu masih marah sama aku karena waktu itu kita gak bisa kencan?” ucap pria di seberang ponsel yang ternyata adalah Abian, kekasihnya.


“Aku gak marah kok, kenapa nae sarang bisa berpikir seperti itu?” tanya Rina usai membalas pertanyaannya.


“Kalo gak marah kenapa semua chat yang kukirim gak ada satupun balasan dari Ae-in?” timpal Abian dengan memperdengarkan suara sedih.


“Nae sarang kirim pesan?” Rina kembali untuk melihat ikon pesan dengan panggilan yang masih tersambung.


“Astaga, banyak banget! sampai 23 pesan?!” ujarnya sangat terkejut saat melihat isi pesan dari Abian.


“Maaf ya nae sarang, akhir-akhir ini aku lagi gak main ponsel dan selalu tergeletak di atas meja tempat tidur,” lanjutnya berbicara dengan Abian.


“Tumben kamu gak main ponsel? biasanya kamu selalu sempatin pegang HP buat update komik ae-in di insta.”


Cerosos Abian yang berdiri di balik tirai gorden kamar sambil menikmati secangkir kopi.


“Ya, karena akhir-akhir ini aku lagi banyak tugas dari tempat les-ku, jadi beberapa hari ini juga belum sempat update,“ ungkap Rina sambil memutar-mutar pensilnya dan belum tau mau menggambar apa.


“Nae sarang lagi minum kopi?” lanjutnya


Abian menyeruput sedikit demi sedikit kopi panasnya. “Iya,” jawab pria di sebarang sana.

__ADS_1


“Emang nae sarang malam ini mau begadang lagi?”


“Iya, mumpung besok juga sekolah libur.”


“Ya sudah, tapi jangan sampai subuh begadangnya. Itu gak bagus buat kesehatan, besok juga 'kan nae sarang ada jadwal pemotretan untuk cafe yang baru buka di seberang jembatan, kan?!”


Ujar Rina menopang dagunya dan terus menatap kertas putih yang sudah ada sedikit arsiran.


“Gak lama kok paling sampai jam 12 atau jam 1 paling lama. Ae-in mau ikut gak liat aku pemotretan di sana,” tawar pria di sebarang ponsel. Dia menatap lurus keluar jendela kamarnya.


“Emm... next time aja deh, pasti di sana juga banyak fans kamu,” jawab Rina dengan wajah yang tadi serius kini seketika berubah murung dan di tekuk.


“Oh iya aku lupa... kapan ya kita gak usah backstreet terus,” ujar Abian sesekali menarik nafasnya dengan wajah muram nan sedih.


Rina tak menjawab keluhan Abian, karena Rina juga udah capek dan lagi anak sekolah semua udah tau. Jadi, mereka bisa berhenti pacaran diam-diam, gak perlu backstreet lagi.


Tapi Rina hanya diam membisu membiarkan Abian gak tau apa-apa, ditambah satu siswa yang masih belum di ketahui siapa dan ada dendam apa sama Rina.


Pasalnya, selama ini Rina gak punya masalah sama yang lainnya. Dan, kalau apa yang di katakan Sari itu benar, bisa jadi memang begitu.


“Apa cuma kebetulan aja siswa itu yang terperangkap dalam tatapan Sari?” pikir Rina dalam benaknya.


...***...


Keesokan harinya di belakang gedung dekat sekolah.


"Ini semua tuh gara-gara si jangkung, udah masuk rumah sakit, di skors, dapat peringatan, di ceramhin nyokap bokap 5 jam non stop, udah mau pecah nih telinga gua." ujar siswi yang membully Rina


"Iya, gua juga jadi agak nyesel nih, ternyata puas di awal-awal aja." ujar salah satu siswi lagi yang ikut membully


"Tapi kalian juga gak suka kan kalo si Rina pacaran sama Abian? Secara gitu kita lebih cantikkan dia, kenapa Abian kita malah pilih Rina di banding fans-nya." ujar salah satu siswi lagi yang baru datang


"Heh lu sis, kemana aja luh waktu kita ngebully si Rina lu malah gak masuk. Sengaja ya lu biar gak kena hukum." ujar salah satu siswi yang juga baru datang


"Ya sorry rik, gua kemarin lagi sakit. Ceritain dong gimana ekspresinya si Rina waktu di bully


"Lu tau gak, dia kayak badut banget banget sumpah, mukanya iyuhh jelek banget, habis itu dia langsung lari nangis, haha." ujar siswi itu yang bernama Erika, menceritakan dengan semangat

__ADS_1


"Waw, bisa bayangan sih gimana tapi pasti seruan liat langsung dari pada ngebayangin." timpal siswi yang bernama Leysis


"Enaknya hari ini kita apain lagi ya tuh si Rina." ujar Erika


"Hah! Lu serius rik? Masih gak kapok ya lu udah masuk rumah sakit, dapat surat peringatan dan kalo ketahuan kita bisa di keluarin dari sekolah." ujar salah satu siswi merasa khawatir


"Ya elah lu takut banget sih, kayak sekolahan itu ini doang." ujar Erika dengan sewot


"Yah intinya kita jangan sampai ketahuan aja. Jadi kalian berdua mau ikut ngebully si Rina lagi gak?" ujar Leysis


"Gak deh, bisa-bisa orang tua gua kena serangan jantung kalo gua sampai dikeluarin dari sekolah." ujar salah satu siswi itu


"Ya gua juga gak ikutan, takut masuk rumah sakit lagi." ujar salah satu siswi lagi bergidik merinding mengingat Neni yang gak memberi ampun kepada mereka


"Ya udah rik, kalo gitu yukk kita cabut aja males banget kumpul sama pecundang." ujar Leysis menatap rendah dua siswi itu dan berbalik pergi


"Pftt~ " sahut Erika menahan tawa menatap dua siswi itu dan beranjak pergi mengekori Leysis


"Rese banget sih mereka, bukannya dia ya yang pecundang pake pura-pura sakit." ujar siswi itu dengan kesal menatap Leysis


"Iya, si Erika juga ngapain sih betah banget temanan sama si Leysis. Kalo ketahuan kan dia yang rugi sedangkan si Leysis cuman dapat peringatan doang." ujar salah satu siswi lagi


Srakk, srakkk~ suara dari semak-semak


"Hah! suara apa tuh, jangan-jangan ada yang menguping." ujar Siswi itu menengok ke arah semak-semak yang bergoyang


"Ya kali mel, pasti cuma kucing lewat. Di sini kan jarang banget ada orang datang ke sini, apalagi di jam-jam masuk begini." ujar siswi itu yang berdiri di samping Amel


"Udah yukk kita balik ke sekolah, kalo telat bisa gawat mana hari ini pelajaran guru kiler lagi." lanjutnya mematikan r*k*k yang sedari tadi di tangannya


"Hahaha, gila lu ris. Guru cantik gitu lu panggil kiler." ujar Amel yang juga ikut mematikan r*k*k di tangannya


"Tapikan emang kenyataannya kayak gitu." ujar Cleriss beranjak meninggalkan gedung


"Ah, ya juga sih." timpal Amel menyetujui


Selang beberapa menit setelah Amel dan Cleriss pergi meninggalkan gedung, muncul seorang murid dengan seragam sekolah yang lengkap serta tas selempang yang menyilang ditubuhnya. Ntah berapa lama murid itu berdiam diri di balik semak-semak menguping pembicaraan mereka, atau sejak awal orang itu memang sudah ada disana dan mencuri dengar semua perkataan mereka hingga aksi Leysis dan Erika yang akan membully Rina kembali. Ntahlah?

__ADS_1


__ADS_2