
Akhirnya Rina duduk di sebelah kursi, samping Sari. Keheningan terjadi beberapa menit, hanya ada suara denting jam yang mengisi keheningan antara Rina dan Sari, saat keduanya belum jua mengobrol.
Setelah beberapa menit, Sari memutuskan untuk bicara lebih dulu, dan meminta maaf atas sikapnya yang diam saja melihat Rina di bully teman-teman sekelas.
Sari berujar dengan panjang lebar menyesali tindakannya yang hanya diam melihat Rina.
"Aku minta maaf soal kejadian tadi pagi, gara-gara aku kamu jadi dipermalukan seluruh sekolah,” ucapannya lirih.
“Andai aku cegah kamu untuk masuk, kamu pasti gak akan di permalukan dan pakai seragam mu yang dulu, itu pasti sangat gak nyaman untukmu,” sambungnya.
“Gak apa-apa kok sar, aku tau kamu masih marah sama aku. Aku senang kamu mau ngobrol lagi sama aku, dan maafin aku juga ya karena gak bisa jujur lebih dulu sama kamu.”
Ujar Rina yang sudah duduk di samping Sari dengan membuat simpul di ujung ke dua bibirnya di akhir ucapannya.
“Iya gak apa-apa, tapi kamu harus cerita semuanya sama aku dari awal sampai akhir, janji ya? Sari mengacungkan jari kelingking
Rina melilitkan jari keliling mereka. “Haha, iya aku janji.”
“Oh ya, kok kamu datang ke sekolah lagi, Rin? sampai belain pakai baju lama kamu segala lagi,” ujar Sari melihat Rina yang saat ini ekspresinya berubah seperti pertama kali datang tadi.
“Sebenarnya ... aku gak mau datang ke sekolah, Sar, tapi aku jadi teringat sama Neni yang saat itu dia seperti marah banget sama teman sekelas,” terang Rina dengan raut wajah mencemaskan Neni.
“Ee—Neni, dia ...” Sari ragu-ragu untuk menyampaikannya ke Rina
“Neni kenapa, Sar?” tanya Rina menatap Sari yang saat ini wajahnya menunduk ke bawah.
“Dia ketahuan sama guru BK karena berantem sama anak kelas dan dia di skors selama seminggu,” ungkap Sari melanjutkan bicaranya yang tertunda tadi
“Apa?!“ Rina terkejut dengan mata terbelalak tak berkedip mendengar Neni di skors.
“Maaf ya aku gak bisa cegah Neni berkelahi sama mereka, karena saat itu aku bingung harus gimana ...” Sari tertunduk.
“Disatu sisi aku masih marah banget sama kalian berdua, disisi lain aku takut mereka malah ikut ngbully aku,” lanjutnya yang masih menundukkan kepala sambil memainkan jari jemarinya.
__ADS_1
“Ya gak apa-apa kok, Sar, aku tau kamu masih trauma. Jadi santai aja ya, aku juga gak marah kok,” timpal Rina meraih tangan Sari untuk menenangkan.
“Terimakasih ya, Rin, kamu selalu ngertiin aku,” ujar Sari merasa baikan.
“Iya, sama-sama.” Rina tersenyum karena akhirnya mereka berdua sudah baikkan.
Selang beberapa menit setelah Rina dan Sari mengobrol bel masuk berbunyi, menandakan pelajaran ketiga akan segera di mulai.
Mengingat pelajaran ketiga adalah Ekonomi, membuat Sari begitu antusias menantikan guru Ekonomi agar segera masuk.
Pasalnya Sari begitu suka menghitung tapi membenci pelajaran Matematika, karena bagi Sari lebih mudah pelajaran Ekonomi dibanding Matematika.
Kring! kringgg!
“Wah! akhirnya masuk juga,” ujar Sari dengan antusias begitu mendengar bel masuk.
“Hahaha, senang banget yang mau ngitung duit,” ejek Rina yang kini sudah pindah tempat duduk di meja belakang Sari.
“Eh! kamu Rina, kan?” ujar salah satu siswi sekelasnya bernama Daniya
“Ya ampun, Rin, kamu cantik banget! aku sampai pangling liatnya loh,” ujar Daniya terkagum-kagum melihat Rina terlihat berbeda.
“Ma—masa sih?” timpal Rina tergagap-gagap sekaligus malu di puji oleh teman sekelasnya yang menurut Rina lebih cantikan dia.
“Iya, Rin, aku kira kamu anak kelas mana gitu karena dari jauh kayak bukan kamu. Dan aku juga baru tau loh ternyata kamu tuh langsing banget yah, aku jadi insecure deh liatnya.”
Ujar salah satu siswi sekelasnya teman Daniya dengan wajah cemberut masam.
“Aku kira cewek yang hobi gambar itu kerjaannya cuma duduk didepan kertas, mikirin sketsa sambil nyemil yang banyak,” lanjutnya.
“Enak aja, Rina tuh gak kayak gitu ya. Malah sampai lupa makan kalo lagi asyik bikin komik,” tukas Sari menyangkal sanggahan teman sekelasnya.
“Sari ...” ujar Rina lirih dengan wajah yang semakin malu.
__ADS_1
“Ups! maaf, Rin,” timpal Sari menempelkan kedua tangannya sambil merendahkan kepala menghadap Rina.
“Wah! ternyata kamu jago bikin komik juga ya?” ujar salah satu siswi sekelasnya yang tiba-tiba nimbrung dari belakang bernama Sayla.
“Gak jago sih, cuman masih belajar karena itu juga tugas praktek dari tempat les,” ujar Rina dengan merendah.
.
“Tapi menurut ku itu udah keren banget sih, sebagai pencinta komik 2D aku senang aja ternyata ada teman sekelasku yang bikin komik juga,” terang Sayla dengan antusias.
“Kamu unggah di platform mana? nanti aku sekalian baca komik kamu juga ya,” sambungnya.
"Aku biasanya unggah di insta sih." ujar Rina yang masih malu-malu
“Wah! serius? aku mau dong, nama instamu apa? biar langsung kufollow.” Sayla mengeluarkan ponsel dari kantung bajunya
Awalnya Rina sempat ragu namun melihat ekspresi Sayla yang begitu antusias dan penggemar 2D jadi tak tega untuk menolak.
Pada akhirnya Rina memberi tau nama akun insta nya, dan benar saja Sayla begitu heboh dan mengomentari secara langsung komik buatan Rina.
Mereka bertiga pun meminta maaf karena gak bisa nolongin Rina yang di bully pagi tadi.
Tentu saja Rina memaafkan mereka karena Rina tau, seperti yang sahabatnya khawatirkan tentu saja mereka juga mengkhawatirkan hal yang sama.
Juga mengingat mereka yang tak dekat, dan baru ngobrol panjang hari ini. Setelah itu mereka kembali ketempat duduknya masing-masing.
Karena guru Ekonomi juga sudah masuk kelas dan menyampaikan materi hari ini tentang menghitung laba dan rugi.
Waktu berlalu begitu cepat, jam pelajaran ke 3 yang sudah berganti ke pelajaran ke 4 dan kini tinggal 5 menit lagi bel pulang akan berbunyi. Rasanya aneh jika seorang murid pulang tanpa tugas rumah.
Yah, pelajaran keempat yang di isi mata pelajaran bahasa inggris, minggu depan semua siswi kelas XII-3 akan presentasi menggunakan bahasa inggris.
Yang gak mahir dalam berbahasa inggris pasti sudah ada niatan lebih awal untuk gak masuk sekolah, begitu juga Rina yang sangat gak suka bahasa inggris.
__ADS_1
Namun Rina gak akan mempersiapkan presentasi yang lebih baik walaupun gak mahir berbahasa inggris, pasalnya dia punya guru yang sangat mahir dalam bahasa inggris dan bisa diandalkan.