
Selama perjalanan Rina terus bertanya pada hati kecilnya.
Kalau emang Abian gak cinta kenapa dia nembak aku? terus perhatiannya selama ini apa artinya?
Rina benar-benar bingung, karena gak nemu satupun jawaban.
Rumah Sari pukul 19:45
“Kok, perasaan dari tadi kayak ada yang kelewat terus yah, tapi apa ya?”
Ujar Sari menempatkan jari telunjuk dan tengah di pelipisnya yang sedang berusaha keras untuk mengingat namun tak juga menemukan jawabannya.
Waktu berlalu begitu cepat dan kini sudah hari Rabu lagi, juga berakhirnya masa skorsing Neni.
Di kelas dan tempat duduk yang masih sama juga teman-teman sekelas yang gak berubah, Neni yang baru datang ke kelas di sambut dengan suasana yang hangat di sekitar tempat duduknya.
“Cieee, udah ada yang baikkan nih?” ujar Neni mendekati teman-temannya yaitu Sari dan Rina.
“Haha, iya dong. Gak boleh marahan lebih dari 3 hari, kan dosa,” ujar Sari membalikkan tubuhnya.
“Hai, Ni! maaf ya gara-gara aku kamu jadi di skors dan dapat catatan deh,” ujar Rina menyapa Neni sambil meminta ma'af dengan wajah yang sedikit ditekuk karena merasa bersalah.
“Gak apa-apa kok, Rin, kan ini juga kemauan gua jadi gak perlu ngerasa bersalah ya, malah gua kurang puas tau gak?” ujar Neni dengan wajah penuh semangat.
“Malah gua sampai mau mukul wajah nih anak kalo gak ingat dia sahabat lu, Rin,” lanjutnya menatap Sari tak lupa juga jari telunjuknya menunjuk ke arah Sari.
“Ish, kamu masih belum puas maki-maki aku, marah-marahin aku? hah!” ujar Sari yang sedikit sewot merasa terpancing oleh ucapan Neni.
“Ya lu juga sih bikin gua makin naik darah, malah santai-santai duduk manis di kursi,” ujar Neni yang kini sudah duduk ditempat duduknya.
“Siapa yang duduk santai, orang aku lagi memperhatikan sesuatu,” ujar Sari yang kini membalikkan tubuhnya menghadap belakang ke arah meja Rina dan Neni.
__ADS_1
“Ya, memperhatikan Rina di bully sama gua yang ngehajar mereka sampai babak belur,” ujar Neni yang masih terbawa suasana.
“Udah Ni, jangan di panjang-panjangin,” timpal Rina menengahi sebelum keadaan semakin memanas.
“Maaf Rin, gua masih ke bawa emosi gara-gara kejadian waktu itu,” ujar Neni.
“Gak apa-apa kok Rin, apa yang di bilang Neni benar kok,” ujar Sari dengan wajah yang kini sudah merubah raut wajahnya menjadi murung karena rasa bersalah yang belum hilang meski Rina sudah mema'afkannya
“Tapi benar kok, aku bukan liatin kamu atau Neni yang berantem,” lanjutnya.
“Waktu kamu lari ada satu siswa diantara kerumunan itu dan aneh banget gerak geriknya, dia menyeringai gitu seakan-akan puas liat kamu di bully habis-habisan,” lanjutnya lagi.
“Itu mah lu kali Sar,” ujar Neni yang masih belum mema'afkan sikap Sari pada hari itu.
“Emang kamu liat aku senyum menyeringai gitu?” sahut Sari dengan sewot.
“Ya kali aja kan pas gua lagi gak merhatiin lu, terus pas lu sadar gua ngliat lu, lu langsung pasang wajah melamun,” ujar Neni yang semakin memprovokasi Sari.
“Sampai gak merasa bersalah dan mengalihkannya ke siswa yang berada di luar kelas,” lanjutnya.
“Udah, kalian jangan berantem gini dong, baru ajakan kita baikan kok malah mau dipecahin lagi,” ujar Rina menengahi di tengah-tengah api yang sama berkobar dengan besarnya.
"Hah ...” menarik nafas dengan dalam.
"Ma'af ya sar, gua udah provokasi lu jadi meledak-ledak gitu." lanjut Neni mengulurkan tangannya meminta ma'af.
"Ya gak apa-apa ni, ma'afin aku juga ya karena sikap ku bikin kamu jadi emosi." ujar Sari menjabat tangan Neni
"Ya gak apa-apa sar." ujar Neni dengan tersenyum yang kini apinya telah padam
"Jadi gimana sar kelanjutannya dari apa yang kamu liat tadi." ujar Rina merasa penasaran sejak Sari menceritakannya
__ADS_1
"Terus kan habis kamu lari gak lama lagi si Neni langsung hajar teman sekelas yang bully kan." ujar Sari
"Iya, terus." ujar Rina dan Neni secara bersamaan
"Anak-anak kelas maupun yang di luar cuma menonton dan gak ada yang manggil guru BK, tapi setelah siswa itu pergi gak lama kemudian guru BK datang." ujar Sari melanjutkan ceritanya
Tak lama kemudian bel pun berbunyi dan pelajaran pertama di mulai, Rina dan Neni masih kepikiran tentang siswa yang baru saja di ceritakan oleh temannya, Sari. Ya, mungkin saja yang memanggil guru BK adalah siswa lain, dan bisa jadi cuma kebetulan aja waktu guru BK datang pas siswa itu pergi meninggalkan kerumunan, tapi balik lagi ke cerita awal Sari, kalo dia menatap puas melihat Rina di bully, walau wajahnya gak jelas karena ia berada dalam kerumunan tapi auranya kebenciannya tersebar dengan jelas.
Beberapa jam kemudian bel istirahat berbunyi, menandakan pelajaran pertama dan kedua telah berakhir
"Kira-kira siapa ya cowok itu? Dan kelas mana?" ujar Neni yang sedang memasukkan buku yang digunakan pada jam ke dua
"Gak tau juga, dari tinggi badan pun gak bisa mastiin kalo dia anak kelas 2 atau 3 " ujar Sari yang juga masih merapihkan buku-buku di mejanya
"Kok kamu bisa berpikir kelas 2 atau 3 ? kan bisa juga kelas 1 ?" ujar Rina yang sudah selesai membereskan bukunya
"Karena kalo kelas satu kecil kemungkinan dia punya masalah sama lu, dan ini juga masih awal satu semester, kalo dia dendam lu kasih tau petugas karena tuh anak nyontek kan gak mungkin. Jadi lebih ke kelas dua, dan kelas tiga lebih besar lagi kemungkinannya." sahut Neni yang juga sudah selesai membereskan bukunya
"Betul apa kata Neni rin, kan lu hobi banget bilang ke petugas kalo ada siswa/i bawa contekkan." ujar Sari yang juga sudah selesai membereskan bukunya
"Bukan hobbi sar, tapi gak suka aja liat orang yang ada di sekitar kita berbuat curang." ujar Rina
"Ya udah yukk kita ke kantin aja dulu, bahas ini nanti lagi pas perut udah kenyang biar bisa mikir dan ketemu solusinya." ujar Neni yang sudah bangkit dari tempat duduknya
"Tumben banget nih kamu yang ngajak ke kantin duluan, biasanya-kan Sari." ujar Rina mendongakkan kepalanya melihat ke arah Neni karena masih duduk
"Ya nih tadi pagi gak sempat sarapan jadi udah laper banget mana pas jam dua udah kekuruyukan." ujar Neni sambil memegangi perutnya
"Pantesan dari tadi kayak ada suara, haha." ujar Sari di iringi tawanya yang renyah memenuhi kelas yang sudah kosong
"Rese ya lu, sar." ujar Neni senyum tipis merasa malu akan ejekkan Sari
__ADS_1
Ke tiga sahabat itu akhirnya pergi meninggalkan kelas, seperti murid lainnya yang pergi menuju kantin setiap bel istirahat berbunyi. Meski saat ini makanan kantin yang terlintas di pikiran mereka karena pasalnya menu hari ini ada sup iga dan seblak juga sebagai bonus tambahan, namun hal itu tidak membuat Rina, Sari dan Neni melupakan tentang siswa itu.