
Seorang wanita dewasa berparas cantik, bernama Cassandra, berasal dari Jakarta dia seorang janda, mandiri, pintar dan tegas, dia di karuniai satu putri dari pernikahannya dulu dengan laki-laki tak bertanggung jawab, tapi karena Tuhan lebih menyayanginya, sang putri meninggal karena kecelakaan, setelah itu Sandra lebih suka menyendiri.
Setelah putrinya meninggal, karena tak bisa membendung kesedihannya, selalu membayangkan sang putri, setiap pagi hanya pergi ke makam sang putri, akhirnya Cassandra memilih meninggalkan rumah, ke pulau Dewata Bali sekaligus untuk memenangkan diri.
"Sandra.. apakah benar kamu akan pergi?" tanya sang mama.
Sandra hanya mengangguk sambil merapikan pakaiannya ke dalam koper.
"Biarkan aku pergi ma, aku tidak mau begini terus, Arumi terus membayangi ku, dan aku semakin tak ikhlas dia pergi, dan itu membuatku semakin berdosa" lirihnya sambil merapikan barang-barangnya.
Dengan perasaan sedih sang mama, melihat putri satu-satunya akan meninggalkan rumah, dan memilih menyendiri.
"Sudah sangat lama kamu sendiri, menikah lah, agar ada yang menjagamu, teman hidupmu, dan tempat bersandar mu nak, mama ingin melihatmu bahagia, sayang!" nasehatnya dengan sedih.
"Hem.. aku tak bisa memaksa hatiku ma, aku terlanjur sakit dan trauma karena laki-laki, susah aku memulai lagi, dan kalau memang waktunya aku ada jodoh lagi, nanti juga akan bertemu, tapi mungkin tidak kali ini" ujarnya, jengah karena selalu di tuntut menikah. "Mama tak merasakan apa yang aku rasa, maaf kan aku" batinnya.
"Ok, pergilah, tenangkan hatimu, mama harap kamu mendapatkan yang terbaik di sana" sela buk Hana, sang mama.
__ADS_1
Sampainya Sandra di pulau Dewata, dia langsung mencari tempat tinggal yang murah, karena berencana akan tinggal lama sekalian akan mencari kerja untuk mengisi kekosongannya.
Sebelum mendapatkan kontrakan, Sandara menginap di hotel, sambil bertanya pada setiap orang yang dia temui tentang kontrakan yang murah.
"Permisi mbak, apa kau yang mencari kontrakan? kebetulan di dekat ku ada yang kosong, kamarnya cukup luas, satu kamar dan ruang keluarga, ada dapur kecil juga di samping kamar mandi" jelasnya, seorang pelayan cafe hotel tempat dia menginap.
"Benarkah? bolehkah aku melihatnya sekarang? mas!" ujarnya antusias.
Sambil melihat jam tangannya, Aditya berpikir sejenak, "Begini saja, tunggu aku selesai kerja, aku akan menunjukkan sekalian aku pulang" ucapnya dengan santai, sambil menyodorkan minuman yang di pesan Sandra.
Baru saja Aditya mau pergi, langsung menoleh lagi, sambil tersenyum ramah"Panggil saja Aditya" ujarnya singkat.
"Bli! kemari lah bantu aku!" Dari arah sebelah meja kosong, rekannya memanggilnya untuk membantu membawa piring dan gelas yang kotor.
"Permisi mbak, nanti jam tiga sore, tunggu aku di lobi saja" pesannya singkat.
"Baik Aditya, aku akan menunggu, sampai ketemu nanti, silahkan lanjut kan bekerja!" sahutnya sambil tersenyum.
__ADS_1
Dengan cekatan Aditya mengangkat piring begitu banyaknya, sedangkan rekannya membawa gelas kotor, tampa Sandra sadari dia terus memperhatikan gerak gerik Aditya, sampai menghilangkan di balik tembok itu.
"Dia sungguh tampan, dan masih sangat muda" batinnya, dengan rasa kagum.
Seperti pesan Aditya, Sandra menunggunya di lobi hotel, untuk pergi melihat kontrakan itu.
Beberapa menit menunggu, akhirnya Aditya muncul bersama teman-temannya yang selesai bekerja, Sandra pun langsung berdiri, saat Aditya menghampirinya.
"Ayo berangkat, apakah tidak apa-apa aku bonceng pakai motor?" tanya Aditya dengan sopan.
"Tidak apa-apa, malah aku sangat berterima kasih kau mau membantu ku" dengan menyatukan kedua tangannya mengucapkan terima kasih.
Dengan senyum manis Aditya pun membalas, "Aku senang membantu mu, sudah biasa para tamu luar, aku bantu sebisa ku"
Mereka pun pergi mengendarai motor besar milik Aditya, menuju kontrakan yang akan di tunjukkan pada Cassandra.
BERSAMBUNG..
__ADS_1