
Aditya langsung menyusul Sandra yang sudah berjalan menyusuri pantai, deburan ombak membasahi kaki mulusnya, di tambah sinar jingga di sore hari membuat pantulan Sandra makin menawan.
Disaksikan matahari yang malu-malu kembali ke peraduannya, seakan menertawakan Aditya yang tak berani mengutarakan perasaannya secara langsung.
"Ah.. sungguh aku payah, padahal tinggal bilang saja, apa susahnya sih!" gerutunya sendiri.
Aditya pun mengejar Sandra, dan mensejajarkan langkahnya.
"Hem.. mbak, saya min maaf tentang yang tadi" gumamnya salah tingkah, begitu pun dengan Sandra.
"Ya, aku juga minta maaf, aku tak sengaja mencium pipi mu" cicitnya dengan suara kecil dan malu, sambil melihat laut lepas.
"Apa itu ciuman pertama mu?" tanya Aditya.
Sandra tercengang dengan pertanyaan itu, malu untuk mengatakan, bahwa dia seorang janda.
"Aditya, kau umur berapa?" tanya Sandra penasaran.
"Kenapa mbak tanya umurku? apa itu penting?" tanya Aditya penasaran.
"Jawab saja"
"Hem.. baiklah, umurku dua puluh tahun mbak" jelasnya dengan polos.
__ADS_1
"Jadi kita terpaut sepuluh tahun!"
Aditya tercengang mendengar ucapan Sandra dan merasa tak percaya.
"Sungguh mbak?"
"Ya, sebelumnya aku sudah menikah, mempunyai satu anak tapi di sudah meninggal, namanya Arumi, dan sekarang aku janda, apa kau masih mau berteman dengku?" jelas Sandra, sambil melihat laut tampa melihat wajah Aditya.
Sementara Aditya masih terdiam, terus menatap wajah Sandra yang berpaling darinya, "Aku sungguh tak percaya mbak seorang janda, apa lagi melebihi umurku!" kukuhnya.
Sandra menoleh dan memandang wajah Aditya "Hihi! kenapa kau tak percaya? mau lihat bukti tanda pengenal ku, dan foto-foto pernikahan ku?' ledeknya terkikik geli.
"Karena wajahmu tak sesui umurmu mbak" keluhnya frustasi.
Aditya makin tercengang, benar-benar di luar dugaannya.
"Berarti, aku menyukai seorang janda muda? oh Tuhan.. baru kali ini aku menyukai begini gilanya, dan ternyata dia sudah lebih dewasa dariku" batinya, sambil melihat semua yang ada di ponsel Sandra.
"Haha! kenapa wajahmu begitu tegang? sekarang kau pasti akan menjauhi ku, malu berteman dengan janda" ledek Sandra, terus berjalan sambil menedang nendang air laut.
"Jadi umur mbak sekarang berapa?" tanya ulang Aditya dengan lesu.
"Kan aku sudah bilang tadi, beda sepuluh tahun, berarti sekarang mbak umur tiga puluh tahun dong" jelasnya tersenyum.
__ADS_1
"Sungguh sama sekali tak kelihatan, mbak umur segitu, mbak seperti umur dua puluh seoerti ku, apa mbak operasi plastik?" pujinya de sungguh-sungguh.
"Kau pintar menggombal Aditya, mbak yakin sudah tak terhitung cewek yang kamu taklukan, mbak bisa lihat dari gayamu, mana punya mbak uang untuk begituan, hihi" ledeknya makin terkikik.
"Ayo kita pulang, sudah mau gelap, mbak takut dengan gelap" jelasnya, sambil berjalan menuju Aditya, yang masih tercengang dengan kecantikan alami dan awet mudanya Sandra.
"Beri aku sendalku! kenapa kamu menatap mbak seperti itu? kau terlihat menyeramkan Aditya! apa kau kesurupan!" teriak Sandra makin menjauh, karena melihat reaksi Aditya bengong terus menatapnya seakan ingin menerkamnya, dan membuatnya benar-benar takut.
"Haha! mbak takut padaku?" teriaknya terbahak-bahak.
Sandra maju berlari lalu memukul Aditya karena kesalnya di permainkan.
Bug bug bug.. "Sakit mbak, ampun" mohonnya sambil tersenyum.
"Rasain.. aku takut dengan mahluk astral, aku kira kamu kesurupan setan, kamu permainkan aku" semburnya marah.
Aditya langsung menangkap tangannya, sambil menenangkannya. "Maafkan aku!" ucapnya tulus, lalu membawa Sandra kedalam pelukannya.
Sandra yang memang dasarnya takut, langsung menjadi gugup, tubuhnya sedikit bergetar, sehingga membuat aditya merasa bersalah.
"Tenang lah, tidak apa-apa, aku minta maaf" mohonnya sambil terus mengelus kepala dan pundak Sandra dengan sayang.
"Ayo kita pulang, ini sudah gelap, bukan kah kau takut gelap? cepat pakai sendal mu" ajak Aditya, tapi Sandra masih bergetar dan terus diam, Aditya yang panik langsung menggendongnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...