
Duduk termenung sendiri melihat hiruk pikuk orang-orang di sekelilingnya membuat dirinya semakin merasa kesepian.
Anak-anak berlari di pinggir pantai menyapu kaki mungil mereka, tertawa lepas sangat bahagia, mengingatkannya pada putri yang sudah di Syurga sana. " Mama sangat merindukan mu sayang, apakah kau juga merindukan ku? mama sangat kesepian tampa mu" lirihnya, sambil menyeka air mata yang mengalir dengan tiba-tiba.
Dari jauh Aditya terus memperhatikannya dan tahu, bahwa wanita itu lagi bersedih, "Ah.. aku ingin mendekati tapi aku takut mengganggunya" gumamnya frustasi.
"Haha! rasain ternyata baru sekarang kamu kena batunya, mana rasa percaya diri mu yang begitu tinggi kala mendekati para mangsa mu?" cibirnya, mentertawakan sambil memeluk pacarnya.
"Sialan, kamu selalu meremehkan ku" balasnya sambil menendang kaki sahabatnya.
"Haha, itu kenyataan, sang Casanova Aditya tak punya nyali mendekati wanita lagi" ledeknya makin jadi.
Dengan kesal Aditya meninggalkan sahabatnya, berjalan pelan-pelan, dan pura-pura tak melihat Sandra, tapi dengan sengaja duduk di sebelah Sandra.
Aditya tercengang melihat sandara menangis, dengan perlahan menyapanya, "Mbak sandara! anda di sini?" ujarnya basa basi.
__ADS_1
Sandra yang kaget namanya di panggil langsung menghapus air matanya, dan langsung menoleh ke arah sumber suara itu, betapa terkejut dia adalah Aditya, "kau ada di sini? apa kau tak bekerja?" tanya Sandra
"Aku lagi libur mbak" jelasnya.
"Hehe! aku kira kau tak ada hari libur, karena aku lihat kau selalu bekerja" guraunya.
Dengan senyum lepas Aditya menanggapi gurauan Sandra, Oh ya, aku mau tanya, apa boleh?" ucapnya hati-hati.
"Silahkan, jika aku bisa menjawabnya akan aku jawab"
Dengan lama berpikir mulai dari mana untuk bertanya, Aditya mengalihkan pandangannya ke arah laut, dan kembali tersenyum.
"Oh.. itu, aku tinggal sendiri, dan aku tidak sedang kuliah, aku sudah lulus beberapa tahun lalu" jawabannya dengan senyuman.
"Maksudnya? oh..maaf, aku terlalu ingin tahu, tentangmu!" dengan kikuk menjawab.
__ADS_1
"Tidak apa, tapi untuk saat ini, aku belum bisa terbuka, maaf" sela Sandra dengan sungkan.
"Tidak! jangan minta maaf, justru aku yang minta maaf, aku terlalu lancang bertanya" sesalnya tak enak hati.
"Kau pasti heran melihatku menangis, setiap orang punya cerita hidup yang berbeda-beda, aku malu orang tahu, kalau pun aku bercerita, belum tentu mereka menanggapinya dengan bijaksana, itulah sebabnya aku selalu menutup diri, sungguh! aku minta maaf" mohonnya dengan tulus.
"Aku melihat, wanita sesempurna kamu, mana mungkin ada cela, mbak terlalu sempurna" puji Aditya.
"Haha! kau belum tahu saja diriku seperti apa Aditya, aku tak sebaik dan sesempurna seperti yang kau lihat, andai kai tahu, kau akan lari terbirit-birit, dan mungkin tak akan sudi lagi menyapa ku" selanya dengan tulus.
Aditya makin heran dan makin merasa tertantang pada wanita cantik di dekatnya itu, dengan diam dia mengagumi senyum itu, "kau terlalu sempurna untuk di sakiti" batinnya.
Makin sore makin kencang hembusan angin, meniup helai rambut panjang dan sedikit bergelombang nan lembut, bahkan Aditya bisa menghirup aroma rambutnya yang di tiup angin.
Dengan diam-diam terus mengamati wajah cantiknya yang membuatnya begitu kagum.
__ADS_1
Aditya menghirup napasnya dan membuangnya dengan perlahan, untuk menetralkan gejolak dalam hatinya, "Tuhan baru kali ini aku benar-benar payah tidak berani mengencani wanita yang aku suka secara langsung, biasanya sekali aku goda mereka dengan senang hati membuka diri" batinnya meronta, sesekali melirik Sandra yang melihat laut lepas.
BERSAMBUNG...