CINTA BEDA USIA.

CINTA BEDA USIA.
TERUS MENOLAK.


__ADS_3

        Sandra lalu menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebalnya, dan terus menunduk, mengatur nafasnya yang masih memburu, karena perbuatannya Aditya.


"Pergi lah, jangan pernah masuk ke kamar ku lagi, nanti tetangga malah curiga dengan kita dan kita terusir dari sini, biar kan aku hidup tenang, dulu aku sudah di kecewakan mantan suami ku dan sahabat ku, aku belum bisa membuka hati lagi, aku tidak mau terluka seperti sebelumnya" lirihnya.


"Aku sungguh-sungguh mencintaimu Sandra! percayalah!" mohon Aditya memandang wajah Sandra, tapi tetap saja Sandra menggeleng kan kepalanya.


"Tidak! aku tak percaya, kamu masih muda, jangan sia-siakan hidup mu, kamu hanya penasaran dan terobsesi karena nafsu saja, itu bukan namanya cinta, kamu hanya mau menikmati tubuh ku saja, kalau kamu beneran mencintai aku, kamu tidak akan berani menyentuh ku begitu cepatnya" sindir Sandra.


"Maaf kan aku, aku benar-benar tak tahan, maaf kan aku" ujarnya menunduk.


"Ya.. itulah nafsu, bukan cinta, jadi berhentilah mengatakan cinta, apa kamu berjanji tidak akan menyentuh ku sedikit pun lagi?" tanya Sandra.


Aditya antara berjanji dan tidak, Aditya benar-benar di beri pilihan yang sulit, sementara dia tak tahan dengan tubuh Sandra, sudah menjadi candu baginya, kalau dia menolak, berarti dia tidak akan bisa mendekatinya lagi.


"Baik aku berjanji" ucapnya terpaksa.


     Untuk mengetes Aditya Sandra sengaja berjalan indah dengan pakaian tipisnya, melewati Aditya yang terpana sambil menjambak kepalanya dengan frustasi.


Sandra bolak balik melewatinya mengambil handuk untuk mandi, dengan susah payah Aditya menelan air liurnya sendiri, melihat tubuh molek Sandra. "Sama saja kamu mau membunuh ku sayang! ah.. aku tak tahan, ini sakit banget!" gumam Aditya.


"Terserah! jika berani saja kamu menyentuh ku, maka aku tidak akan percaya lagi kamu mencintai ku, untuk mu tak akan pernah ada kesempatan, mau kamu bukti kan?" tanya Sandra, tapi Aditya langsung menggeleng kan kepalanya.


"Aku tidak berani, aku.. aku janji tidak akan sentuh kamu lagi!" ujarnya terus menunduk sambil memejamkan matanya, untuk meredam gairahnya sendiri.


Sandra tersenyum melihat wajah Aditya yang sudah memerah.

__ADS_1


"Baiklah, keluar sana! aku mau, mandi, jangan sampai kamu tergoda lagi melihat ku" perintah Sandra sambil menahan senyumnya.


Dengan menghela nafas kasarnya sambil terus menunduk tak berani melihat Sandra. "Baiklah sayang, aku keluar saja, telpon aku kalau kamu lapar, aku akan memasak untuk mu, tadi pagi aku sudah belanja ke pasar membeli sayur mayur buat aku masak untuk mu" ujarnya sambil berdiri tapi masih memejamkan matanya.


Sedangkan Sandra kaget mendengar ucapan Aditya yang sudah bela-belain ke pasar belanja bahan masakan khusus untuknya.


"Hem.. terima kasih atas semua masakannya, rasanya sungguh lezat, ternyata kamu sangat berbakat dalam memasak" puji Sandra sehingga membuat Aditya tersenyum bahagia.


"Terima kasih atas pujiannya sayang ku, besok pagi jangan beli sarapan apa-apa, aku akan masak untuk sarapan kita" pesan Aditya.


"Ok, dengan senang hati aku memakan semua masakan lezat mu"


"Tapi sekarang apa kamu belum lapar? biar aku masak sesuatu untuk mu, takutnya malam-malam kamu kelaparan" sela Aditya sedikit khawatir.


"Tidak usah, aku masih kenyang, makan malam membuat aku makin gemuk, nanti lama-lama aku kayak bola" ujarnya sambil tersenyum.


"Tuh kan mulai deh! cepat sana pergi, aku mau mandi nih" usir Sandra.


"Boleh aku ikut tidak, hehe!"


"Aditya! baiklah semuanya batal saja!" teriak Sandra.


"Tidak! maafkan aku, aku cuma bercanda kok, baiklah aku pergi dulu, ingat nanti kalau lapar telpon saja aku" pesannya tampa melihat wajah Sandra, dan langsung pergi.


Sandra merasa lucu melihat tingkah Aditya, sambil mengunci pintunya dari dalam, dan bersiap-siap untuk mandi.

__ADS_1


"Kenapa aku di pertemukan dengan laki-laki brondong sih, kenapa tak pria matang saja, agar bisa lebih serius" gumamnya.


Aditya keluar dari kamar Sandra terlihat begitu lesu, Tio melihatnya dari arah pintunya, hanya merasa semakin heran padanya.


"Woe! sini!" teriaknya pada Aditya.


Dengan langkah gontai sambil menendang-nendang batu kecil yang ada di halaman kontrakan, Aditya menghampiri Tio yang lagi berdiri di depan pintunya. "Ada apa sih!" ujarnya.


"Muka mu napa? rupamu kayak nggak bisa keluar kentut, haha!" goda Tio.


"Sialan lo, ganteng gini ngatain begitu!" dengus Aditya.


"Makanya jelasin tuh muka kenapa?" desak Tio.


"Sandra terus menolak, aku jadi frustasi! dia terus marah-marah pada ku" keluh Aditya sambil mengacak-acak rambutnya.


"Terus kenapa lo dari semalem bolak balik kamar Sandra! apa yang lo lakuin ke dia hingga buat dia begitu marah!" selidiki Tio.


"Eh.. anu.. itu.. aku hanya salah bicara saja kok!" kilah Aditya dengan salah tingkah.


"Kita sama-sama lelaki, punya nafsu besar, apalagi melihat wanita cantik montok begitu aduhai, aku yakin kamu lancang padanya sehingga dia marah, Adit Adit! jangan begitu lah, bila memang kamu tulus mencintainya, jaga dia dengan baik, hargai dia, ayo kita bersaing dengan sehat, tampa harus merusak anak orang, ingat seperti kata sohib ku, harus halal dulu bro, biar pas malam pertama menjadi momen yang terindah" nasehat Tio begitu bijak, sehingga membuat Aditya malu sendiri.


"Ya! aku salah, pantas Sandra mengusir ku, aku terlalu bernafsu" ujarnya.


Tio hanya geleng-geleng kepala melihat Aditya, tak habis pikir dengan jalan pikirannya.

__ADS_1


BERSAMBUNG..


__ADS_2