
Sandra masih berada di pelukan Aditya, dia bisa mendengar kan detak jantung Aditya berdetak dengan cepat, begitu pun dengan dirinya.
Sambil bersandar di dinding, Aditya terus memeluk Sandra, seakan baru saja bertemu. Sementara Sandra tak berani bergerak karena takut ancaman Aditya.
Aditya tersenyum melihat Sandra yang diam tak berani bergerak karena ancamannya, semakin erat dia memeluknya. "Aku mencintaimu sandra" gumamnya sambil mengecup pucuk kepala Sandra.
Berlangsung beberapa menit, Sandra pun merasa pegal dan gerah terus berada di pelukan Aditya.
"Lepas kan! aku pegal begini terus" ucap Sandra, sambil mendongak sekilas melihat wajah Aditya.
Aditya terus mengecup kepala Sandra dengan sayangnya, "Apa kamu belum percaya bahwa aku mencintaimu? aku mohon jawab sekarang, apakah kamu mau menjadi kekasih ku?" desak Aditya.
Sandra yang mendengar Aditya menembaknya merasa tak percaya.
"Ayo kata kan! apa kamu mau?" desak Aditya.
"Aku.. aku.. antara percaya dan tidak percaya" gagap Sandra.
__ADS_1
Aditya merasa tak puas mendengar ucapan Sandra, semakin eratnya dia peluk pinggang ramping sandra.
"Apa kau mau buktinya lagi?" bisiknya pelan.
Reflek Sandra mendongak, "Bukti apa?" ujarnya belum selesai bicara tapi Aditya langsung mencium bibirnya.
Sandera yang kesal langsung memukul dada Aditya. "Kamu terus mencuri ciuman ku, aku tak suka kamu begitu terus" keluhnya dengan kesal.
"Makanya ayo jawab" desak Aditya.
"Baiklah, tapi janji dulu baru aku lepas kan"
"Ok, ok!" jawab Sandra dengan pasrah.
Dengan hati yang lega Sandra lepas dari pelukan Aditya, sementara Aditya menunggu jawaban dari Sandra, yang dia tak tahu, bahwa Sandra pura-pura akan menerimanya.
Sandera membuka pintu kamarnya dengan lebar, lalu dengan sekuat tenaga mendorong Aditya keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Sandra berkacak pinggang tersenyum mengejeknya, "Itu hukuman untuk mu, karena sudah lancang mencium ku, dan maaf! aku tidak bisa menerima mu, usia kita berbeda jauh, dan aku kasih tahu yang sebenernya aku pernah menikah dan aku seorang janda, aku tekan kan sekali lagi aku tidak bisa menerima mu, jadi buang jauh-jauh perasaan mu itu!" ucap Sandra dengan lantang, dan langsung menutup pintunya.
Aditya yang berdiri di luar pintu melongo mendengar ucapan Sandra, dan merasa benar-benar tak percaya, bahwa Sandra adalah seorang janda, karena badannya yang mungil dan ramping, wajah oval bersih seperti remaja dua puluh tahun.
Aditya tersadar setelah Sandra menutup pintunya, Aditya langsung menggedor pintunya dengan tampa jeda.
"Sandra! Sandra! buka pintunya, buka Sandra! aku tidak percaya semua itu, jangan buat alasan yang tidak masuk akal ya!" teriak Aditya dengan frustasi, tapi Sandra tetap tidak mau membuka pintunya.
Dengan kesal Aditya mengacak rambutnya lalu duduk di teras Sandra. "Ah.. aku tak percaya itu, kamu menipu ku Sandra! tadi kamu bilang mau menerima ku, tapi malah kamu isir aku keluar" gumamnya frustasi.
Sandra mengintip Aditya dari balik jendela dengan sendu, "Kenapa kamu malah menyukai ku? aku malu karena status ku, dan seharusnya kita tidak saling mengenal" lirihnya.
Sandra duduk dan mengabaikan Aditya, sambil menyantap sarapannya yang sudah dingin, seperti perasaannya yang sudah dingin.
Aditya merebahkan tubuhnya di teras depan kamar Sandra, dan terus memanggilnya. "Sandra! ayo buka pintunya sayang! sebentar lagi aku akan berangkat kerja, ayo buka! jelasin padaku, aku juga tidak percaya apa pun kamu ucapkan!" teriaknya sambil tiduran di teras sandra, namun Sandra tetap tak perduli
BERSAMBUNG..
__ADS_1