
"Sayang ayolah tidur ini sudah malam, kamu sedang apa diruang belajar," ajak renata ibu dari arfhatan anak laki-laki berusia delapan tahun yang kini sedang sibuk dengan celengan miliknya.
"Ya ampun sayang, kamu sedang membuka celengan?, "seru renata begitu membuka pintu ruang belajar anaknya dan mendapati anaknya sedang berkutat kesusahan membuka celengan.
"Iyah mah, tolong bantu arfha buka celengannya mah, nanti tolong itung juga uangnya ya mah," jawab arfhatan.
"Tapi untuk apa sayang?, apa kamu membutuhkan sesuatu?,"
"Engga mah, arfha mau beli hadiah untuk haya, besok haya bakalan pergi dari arfha, bukannya mamah yang bilang haya mau pindah ke london, kerumah daddy nya,".
"Emang anak mamah ini mau membelikan apa untuk haya?,".
"Arfha sudah pikirkan mah, nanti besok arfha mau cari di mall sepulang sekolah, dianterin pa agus mah,".
"Sayang, kalau kamu emang mau beli hadiah kenang-kenangan untuk haya biar nanti mamah yang anterin yahh, terus gak usah buka celengan kamu segala sayang, biar mamah yang belikan yaa sayang," terang renata pada arfha.
"Engga mah, arfha mau beli pake uang arfha sendiri mah, ini hadiah special dari arfha untuk haya, supaya haya gak akan lupa sama arfha," jawab arfha, entah apa yang dipikirkan anak usia delapan tahun itu.
"Baiklah sayang, mamah tau haya adalah sahabat kamu satu-satunya pasti arfha mau yang special yaa untuk haya, yasudah besok pulang sekolah mamah ikut pak agus jemput kamu yaa, nanti kita bareng-bareng beli hadiah buat haya, nah sekarang sini celengannya mamah bukain,".
Sepulang sekolah renata menepati janjinya menemani arfha ke mall untuk memilih hadiah buat haya, "sayang mau beli apa kamu untuk haya?, mainan?,". "Engga dong mah, terlalu kekanak-kanakan kalau beli mainan," jawab arfha seenaknya membuat ibunya tertawa.
"Hahaha kamu ini sayang ada-ada ajah, kamu sama haya kan memang masih anak-anak,".
"Iyah tapi arfha gak mau mah, arfha mau beli gelang untuk haya,". Jawab arfha pasti.
"Baiklah sayang, kamu ini mirip sekali dengan papah kamu nak, tidak pernah bingung memilih dan tidak pernah membuat pilihan," ucap renata sambil tersenyum, renata pun membawa anaknya ke toko perhiasan langganannya.
"Mah, arfha mau ini, apa uang arfha cukup?," tanya arfha pada renata. "Cukup ko sayang, gelangnya cantik sekali sayang, pasti bakalan bagus dipakai haya, cuma masih kegedean,".
"Ga apa-apa mah, arfha mau haya pakai gelang ini sampai haya jadi perempuan dewasa,".
"Haha sayangku, kamu ini ada-ada saja, yasudahlah terserah anak mamah yang ganteng ini saja,".
Setelah selesai membeli hadiah arfha dan ibunya pun pulang ke rumah, mereka akan bersiap-siap pergi kerumah haya nanti malam bersama ayah arfha juga, untuk mengucapkan perpisahan pada haya dan kedua orangtuanya.
Dimalam hari arfha dan ibunya sudah rapi, mereka sudah siap, apalagi arfha yang sedari sore sudah sibuk bersiap-siap dia sangat bersemangat. Arfha dan ibunya tinggal menunggu ayah arfha pulang dari kantor.
__ADS_1
Tak berselang lama, ayah arfha pun datang, "wahh kalian sudah siap yahh, maafin papah yaa, tadi meetingnya alot sekali, jadi papah datang telat,". Ucap Alvin Gunadhya ayah arfha, yang merupakan anak sulung dari keluarga gunadhya, keluarga yang sangat terpandang dan memiliki jaringan bisnis dimana-mana itu.
"Iyah sayang ga apa-apa, kamu pasti cape, sudah makan belum sayang ?," ucap renata sambil menghampiri dan mengambil tas kerja suaminya.
"Sudah sayang nanti saja makannya, lihatlah cowok gantengmu itu sudah pasang muka tidak bersahabat begitu,".
"Kenapa sih jagoan papah ini?, sudah gak sabar ketemu haya yah?,".
"Iyah, arfha nungguin papah dari sore, tapi ga apa-apa kalau papah lagi sibuk,".
"Pinter banget anak papah ini, yasudah ayo sekarang kita berangkat,".
Mereka bertiga pun segera pergi menuju rumah haya dan keluarganya.
Sesampainya di rumah haya, arfha yang sudah tak sabar dari sore segera berlari mencari dimana sahabat kecilnya itu, Renata ibu arfha dan Alesha ibu haya berteman sejak sekolah, makanya arfha dan haya pun sudah berteman sejak mereka masih sangat kecil.
"Hei arfha, sayang jangan berlari begitu, kamu belum izin sama aunty alesha kan," teriak renata yang kaget anaknya arfha langsung berlari kedalam rumah sahabatnya itu begitu pintu rumah dibuka.
"Aku izin ketemu haya yaa aunty," teriak arfha pada alesha. "Iyah sayang, haya ada ditaman, dia juga menunggu kamu dari tadi," jawab alesha.
"Hai arfh, kenapa kamu semangat sekali ada apa?," tanya haya, gadis kecil berusia enam tahun, haya hanya berbeda dua tahun dari arfhatan, Haya wilson gadis kecil yang sangat cantik, begitu pun malam ini, gadis cilik itu memakai dress dan cardigan yang senada, haya tampak imut dan cantik.
"Hay, ini hadiah dari aku untuk kamu, aku beli pakai uang aku sendiri hay,"
"Benarkah?,"
Arfha pun segera memakaikan gelang yang dia beli untuk haya.
"Sayang ayo ucapkan makasih sama arfha," ucap alesha pada puterinya.
"Makasih," jawab singkat haya
"Arfha, haya malam ini berangkat ke inggris, apa arfha sedih sayang?," tanya alesha.
"Engga aunty, nanti kalau sudah besar arfha akan cari haya, karena haya akan jadi istrinya arfha,"
"Apa...?!!!" Semuanya kaget mendengar ucapan arfhathan, bocah kecil itu bicara sembarangan sekali, entah dia mengerti atau tidak yang dia ucapkan, sedangkan haya yang masih polos tidak menanggapi apa yang arfha katakan.
__ADS_1
"Haha hebat sekali anak papah ini, sudah menentukan istri dari kecil, tapi sayang kamu sudah izin uncle edward belum, takutnya ucle edward ga setuju,"
Edward wilson ayah haya adalah warga negara inggris, dia adalah guru muda di sekolah alesha dan renata dulu semasa sma di sekolah international.
"Uncle, am i allowed to marry your daughter?," tanya arfha pada edward yang kebetulan baru bergabung dengan mereka di taman.
"Of course you can, but you have to promise me you will never hurt her," jawab edward
"Ya uncle, I promise," ucap arfha membuat semua orang tertawa.
"Sudahlah sayang kenapa sepertinya kalian menganggap ini serius, ini hanya celotehan anak-anak," timpal alesha pada edward.
"Arfha serius aunty,"
"Iyah alesha puteraku serius, suamimu juga sudah setuju, aku juga setuju," timpal alvin
"Kalian ini, ada-ada saja," ucap renata yang hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan suami dan anaknya itu.
Selesai acara makan bersama mereka pun mengucapkan perpisahan,
"kabari aku jika sudah sampai ya sha, aku pasti akan merindukanmu, apa kamu yakin ga akan pamit dulu sama om danu sha?," ucap renata pada sahabatnya alesha.
"engga ren, bukannya aku gak mau, tapi papah masih keras, yang ada nanti aku disuruh pisah lagi sama edward,"
"yasudah, jangan lupa selalu kabari aku ya sha,"
"pasti ren, aku mohon jangan memberi tahu siapapun aku sekeluarga pindah ke london ya ren, aku takut keluargaku mengambil haya jika mereka sampai tau,"
"iyah tenang saja, aku pasti akan merahasiakannya sha,".
Mereka pun saling berpisah dan mengucapkan kalimat perpisahan tak terkecuali arfha.
"Hay, kamu jangan pernah lepas gelang ini yaa, nanti jika sudah besar kita pasti akan ketemu lagi, aku pasti akan cari kamu hay,"
"iyah arfh, makasih untuk gelangnya,"
Haya kemudian mencium pipi kanan arfha, sebuah ciuman yang haya pikir sebagai ucapan terimakasih atas hadiah dari arfha, tapi bagi arfha ciuman haya itu adalah suatu yang luar biasa yang akan melekat di hati dan pikiran arfha sampai dia dewasa nanti.
__ADS_1