Cinta Berkedok Persahabatan

Cinta Berkedok Persahabatan
Episode 12


__ADS_3

Hari ini tiba waktunya haya ikut menemani arfha ke acara ulang tahun nenek nya arfha di sebuah ballroom hotel mewah, dari pagi arfha sudah mengingatkan haya, arfha akan mengajak haya kerumah nya karena disana renata sudah menyiapkan baju dan juga perias untuk dirinya dan haya. Haya pun hanya bisa mengiyakan terlebih itu adalah permintaan renata.


“Haya, ayo kita pulang,” ajak arfha


“Pulang ?, ini kan masih siang arfh, bukannya acara nya juga malam, nanti sorean ajah kita pulangnya, aku belum selesai bekerja,” jawab haya.


“Siapa bos nya disini haya, kamu atau aku ?,”


“Yah kamu,” jawab haya lagi.


“Terus kenapa kamu gak nurut sama aku ?, aku bilang pulang yaa pulang, kalian wanita kan butuh waktu lama untuk berdandan, tadi mamah pesan padaku agar kita tidak terlalu sore datang ke rumahnya,” jelas arfha.


Haya hanya menarik menarik nafas panjang mendengarkan ocehan arfha, “Baiklah ayo kita pulang,” ucap haya


“Ayo sayang,” ajak arfha sambil memengang tangan haya.


“Arfh,” ucap haya sambil melotot pada arfha.


“Iyah maaf,” haya pun melepaskan genggaman tangannya dan berjalan mendahului haya.


Selalu saja ketika haya dan arfha berjalan beriringan tatapan orang-orang selalu tertuju pada mereka, sekarang haya sudah membiasakan diri, karena mau bagaimana lagi, sekarang pekerjaannya malah jadi lebih dekat dengan arfha.


“Halo sayang, kemarilah sini ayo ikut ke kamar mamah,” ajak renata dengan semangat begitu haya sampai dirumahnya.


“Mah, haya ikut ke kamar arfha dulu, buat pilihin baju arfha,” ucap arfha lalu menarik tangan haya. Seketika haya kaget mendengar ucapan arfha, haya pun langsung menghempaskan tangan arfha.


“Enggak arfh, aku ikut aunty ajah,”ucap haya segera, haya masih trauma masuk ke kamar arfha akibat kejadian terakhir kali.


“Tuh kan, haya milih mamah, udah sana kamu ke kamar kamu sendiri, lagi pula gak usah pilih-pilih baju, baju kamu udah mamah siapin,” ucap renata.


“Yasudahlah,” arfha pun segera pergi ke kamarnya.


“Haya sayang kamu mau mandi dulu kan, itu udah aunty siapin yaa handuk dan bathrobe,” ucap renata pada haya.


“Iyah aunty haya mau mandi dulu biar fresh,” jawab haya. Seketika haya teringan ucapan sahabatnya kate yang mengatakan kapan lagi mempunyai mertua seperti aunty renata.


Dengan perlakuan renata padanya haya memang menjadi sangat bahagia, kebahagian yang dari kecil tidak pernah dia dapatkan, setelah kedua orang tuanya meninggal.


Setelah selesai mandi haya melihat renata yang sedang di make up oleh seorang make up artis langganannya.


“Sayang habis aunty giliran kamu yaa,” ucap renata pada haya.

__ADS_1


“Iyah aunty,”


“Waww cantik banget itu nyonya renata, calon mantu yaa?,” tanya arni make up artis langganan renata.


“Amin, semoga haya mau jadi menantuku,” ucap renata sambil tertawa.


“Ohh belum memangnya?,”


“Tuh tanya ajah sama anaknya, kapan nerima arfha,”


Haya jadi malu mendengarkan obrolan renata dan mua nya itu. “Nah, sayang ayo sekarang gilirian kamu,” ucap renata pada haya. Haya pun mulai di make up oleh arni, sesuai permintaan haya yang hanya ingin make up tipis saja.


“Nona haya, kenapa belum nerima cinta tuan arfha, padahal tuan arfha cakep loh,,” tanya arni disela-sela dia mendandani haya.


“Ah..itu,” ucap haya bingung menjawabnya.


“Namanya juga anak muda, kamu ini tau apa arni, sudah cepet dandani menantuku itu, yang cantik loh yaa,” ucap renata.


“Tuh non haya, ibu mertua anda sudah sangat tidak sabar, sudah terima saja,”


Haya pun hanya bisa tersenyum menanggapi ocehan arni.


“Dress cantik sekali aunty, makasih banyak yaa aunty,”ucap haya pada renata.


“Sama-sama sayang, cepat pakailah, pasti diluar kedua ayah dan anak itu sudah tidak sabar menunggu kita,”ucap renata sambil cengengesan membayangkan anak dan suaminya yang pasti sudah kesal menunggunya selesai make up.


Haya pun memakai dress yang sudah disiapkan renata itu, ternyata ukurannya pas sekali di tubuh haya. “MashaAllah, kamu cantik sekali nak,”


“Iyah non haya cantik sekali,”


“Makasih mah, makasih mba arni,” jawab haya tak lama terdengar pintu kamar diketuk.


“Siapa?,” tanya renata


“Ini arfha mah, apa mamah sama haya sudah selesai?,” tanya arfha.


“Lihatlah sayang, betapa tidak sabarnya fans kamu itu menunggu pujaan hatinya selesai berdandan, sampai-sampai dia menyusul kemari,” ucap renata.


Haya pun tersenyum malu mendengarnya. Renata lalu membukakan pintu untuk puteranya itu, sekaliaan dia arni berpamitan pulang karena tugasnya sudah selesai.


“Mamah sudah selesai?, haya mana mah, apa sudah selesai juga?,” tanya arfha yang tidak sabar melihat gadis yang sangat dia cintai itu.

__ADS_1


“Masuk saja sendiri, haya masih merapikan diri didalam,”


Arfha pun masuk, lalu melihat haya yang sudah selesai make up dan memakai gaun hitam pilihan mamahnya, arfha begitu terpesona melihat haya, arfha terus memandangi haya dari atas sampai bawah, terus memandangi haya sambil mendekat me arah haya.


Mamah renata yang pengertian pada anaknya pun tidak mau mengganggu moment puteranyaa itu, dia memeilih turun ke bawah untuk menemui suaminya alvin.


Haya yang terus diperhatikan arfha menjadi sangat malu, “Arfh jangan menatapku seperti itu terus dong, bagaimana apa aku cocok memakai ini?,” tanya haya sambil tangannya menggemingkan lengan arfha.


“Sangat cocok, kamu sangat cantik sayang,” ucap arfha lalu mendekat dan memebelai lembut pipi haya.


“Arfh, ayo kita ke bawah, jangan mulai yaa arfh,” ujar haya.


“Ah iyah sayang ayo, kamu harus menggandeng tanganku, jangan dilepas yaa, disana pun begitu,” ucap arfha.


“Loh memangnya kenapa?,” tanya haya heran


“Aku punya banyak sepupu laki-laki yang umurnya tidak jauh denganku, kalau kamu tidak menggandeng tanganku nanti aku takut kamu di incar sama mereka,” ucap arfha sejujurnya.


“Apa ?, kamu punya banyak sepupu arfh, ganteng-ganteng gak?, bagus dong aku bisa cuci mata,” ucap haya yang sengaja ingin menggoda arfha.


Arfha langsung memasang muka tidak senangnya, dia langsung menarik haya ke dalam pelukannya.


“Arfha kamu mau apa?, awas yaa jangan macem-macem arfh,” seru haya yang kaget dengan sikap arfha.


“Kamu yang jangan macam-macam haya, perhatikan wajah ku ini saja, kamu jangan pernah berani melihat laki-laki lain selain aku,” ucap arfha.


“Memangnya kenapa?, apa kamu cemburu arfhatan?,”tanya haya lalu melepaskan dirinya dari arfha. Tapi arfha kembali menarik haya, bahkan kali ini lebih dekat dari sebelumnya sampai-sampai kening mereka pun menempel dan haya bisa merasakan nafas arfha yang sedang emosi tidak berarturan.


Haya merasakan arfha sudah semakin berbahaya, haya sekuat tenaga melepaskan dirinya lalu berlari keluar. “Untunglah aku bisa lolos, aku gak akan mengulangi mempermainkan dia seperti itu, dia sangat pemarah sekali,” gumam haya dalam hatinya, lalu dia segera menghampiri alvin dan renata.


Arfha menyusul dibelakang haya, dengan wajah yang masih kesal, karena wanitanya itu sudah berani membicarakan ketampanan laki-laki lain didepannya.


“Ya ampun, anak gadis papah ini cantik sekali,” ujar alvin begitu melihat haya datang menghampirinya.


“Terimakasih uncle,”


“Yasudah ayo sekarang kita jalan, aunty sama uncle duluan yaa kami pakai sopir, kalau kamu bareng arfha kan sayang?,”


“Iyah mah, tentu saja haya bareng arfha,” ucap arfha yang tiba-tiba datang lalu memeluk pinggang ramping haya. “Ayo sayang,” ajak arfha dengan setengah mendorong tubuh haya agar mengikutinya. Haya pun tidak bisa menolak ajakan arfha itu.


Di perjalanan arfha yang masih kesal tidak mengucapkan sepatah katapun pada haya, tapi arfha tetap sangat protektif pada gadis nya itu. Seperti sekarang mereka sudah sampai, arfha sangat menjaga haya, tangan arfha tidak pernah lepas merangkul pinggang haya.

__ADS_1


__ADS_2