Cinta Berkedok Persahabatan

Cinta Berkedok Persahabatan
Episode 3


__ADS_3

Tepat jam sembilan malam arfha baru selesai menyelesaikan pekerjaannya, dia bergegas pulang, keadaan kantornya pun sudah sepi, hanya beberapa karyawan yang habis lembur saja yang terlihat juga akan pulang.


"Sayang anak mamah, apa kamu sudah makan nak? Kamu pasti lelah yaa pulang dari london langsung bekerja," ucap renata menyambut putera semata wayangnya begitu arfha masuk ke dalam rumah.


"Engga ko mah, arfha sudah makan tadi di kantor, arfha ke kamar dulu ya mah, arfha mau istirahat," jawab arfha yang memang sudah terlihat lelah, sebenarnya bukan pekerjaan yang membuat arfha tak bersemangat, tapi karena usahanya untuk menemukan gadisnya tidak berbuah hasil.


"Iyah nak, istirahatlah, mamah sudah menyiapkan air hangat untuk kamu mandi,"


"Makasih yah mah, arfha ke kamar dulu mah,"


"Iyah sayang,"


"Kenapa sayang?, ko cemberut gitu," tanya alvin pada istrinya ketika istrinya itu memasuki kamar.


"Aku bingung pah, kasian sama arfha,"


"Kasian kenapa?,"


"Arfha masih ajah belum bisa menemukan haya, sedangkan itulah yang selalu dia nantikan, menemukan haya ketika dia sudah sukses,"


"Sudahlah mah, kalau memang mereka jodoh pasti juga akan ketemu, arfha kan sedang berusaha,"


"Iyah pah, tapi masalahnya nenek kamu itu loh,"


"Kenapa nenek ku?, yahh seperti dulu ke kamu, pasti berusaha jodohin arfha, apalagi sebentar lagi acara ulang tahun nenek, pasti dia sudah nyiapin gadis-gadis buat dijodohkan ke cucu-cucu nya yang sudah dewasa,"


"Yahh arfha juga kan bisa menolak mah,seperti aku dulu sama kamu,"


"Iyah kamu dulu nolak karena kamu sudah nikahin aku diem-diem pah, nenek udah gak bisa ngomong lagi, ditambah dulu ibu kamu masih ada, nenek ga berani mendebat ibu, karena latar belakang keluarga ibu,"


"Arfha juga kan masih punya kamu mah, masih ada aku,"


"Iyah pah, tapi aku gak sehebat ibu pah,"


"Sayang, arfha putera kita sudah menjadikan dirinya sendiri kuat, apa kamu pikir arfha butuh dukungan sekarang?, engga mah, arfha sudah berhasil keluar dari bayang-bayang keluarga gunadhya,"


"Iyah pah, kamu bener, anakku memang hebat,"


"Hei, itu juga anakku kan, enak saja anakmu sendiri,"


"Iyah-iyah anak kita,"


Arfha baru saja tiba di kantornya, dia langsung duduk di meja nya dan mengerjakan sedikit lagi pekerjaan yang kemarin belum selesai.

__ADS_1


"Pak, tadi pak anton melaporkan soal rekrutment pegawai baru, data-data nya sudah saya simpan di meja pak,"


"Iyah di nanti aku lihat, tapi aku percaya pada pak anton dia selalu selektif memilih karyawan,"


"Iyah pak,"


"Owhh iyah ardi sampaikan pada pak anton nanti, temani aku untuk kunjungan ke setiap divisi setelah makan siang nanti," ucap arfha pada asistennya itu.


Arfha tidak memiliki sekertaris hanya ardi yang selalu membantunya mengurus jadwal dan semua urusan kantor. Arfha tidak pernah merekrut sekertaris wanita di kantornya alasannya adalah karena arfha selalu risih dekat dengan wanita, mereka terkadang memiliki niat lain pada arfha.


"Hai...hai yang ditunggu-tunggu akhirnya datang, nanti siang pak presdir bakalan kunjungan ke kantor kita," ucap rina.


"Owhh iyah benarkah, ayo kita makan siang nya cepet-cepet terus dandan yang cantik,"


Semua karyawan wanita sibuk membicarakan dan melakukan persiapan untuk kedatangan presdir mereka, tapi tidak dengan haya, aline dan ara mereka santai saja tidak peduli.


"Hadeuuh pada kecentilan banget sih mereka, kebanyakan nonton drakor," ucap ara pelan


"Bener kamu ra, mereka kebanyakan nonton drakor, kisah cinta presdir dan karyawannya,haha"timpal aline sambil tertawa


"Iyah gak tau mereka, hidup itu gak seindah drama, dipikir mereka bisa sepadan dengan presdir, latar belakang keluarga nya ajah beda bumi dan langit, mana ada yang begitu," ucap ara lagi


Haya hanya tersenyum dengan hati sedih mendengarkan ocehan teman sekantornya itu, haya teringat kedua orang tuanya yang memang percis seperti yang ara bilang, cinta itu memang harus sepadan kalau tidak, akan seperti kedua orang tuanya yang hidup dalam pelarian mempertahankan cinta yang tidak direstui.


"Pak sekarang kita ke divisi pemasaran dulu ya," ucap arfha pada pak anton hrd nya.


"Pak anton apa karyawan-karyawan baru kemarin bekerja dengan baik,"


"Iyah pak mereka bekerja dengan baik dan cukup baik progresnya,"


"Baguslah nanti tunjukan padaku karyawan-karyawan yang baru itu, kemarin aku tidak sempat bertemu karena ke london,"


"Baik pak,"


Setelah selesai dari pemasaran lanjut arfha ke divisi-divisi lain nya, di setiap divisi kehadiran arfha menjadi kehebohan tersendiri, terlebih arfha selalu berusaha untuk memperhatikan setiap pegawainya apalagi lagi pekerjaannya.


"Sekarang terakhir kita ke bagian keuangan pak,"


"Iyah,".


Begitu arfha masuk semuannya berdiri dan memberi salam sambil membungkuk kepada arfha termasuk kali ini haya ara dan aline.


"Selamat siang, apa kabar kalian semuanya?," sapa arfha pada semua karyawannya.

__ADS_1


"Baik pak," mereka pun menjawab hampir bersamaan.


Seperti biasa arfha memperhatikan karyawannya satu-satu, itulah yang membuat karyawan-karyawannya yang perempuan baper pada arfha, sampailah mata arfha pada haya, dia merasa asing dengan haya, arfha pun berpikir mungkin ini karyawan baru di divisi keuangan.


Karena di semua divisi ada rekrutment karyawan baru,"


"Oh iyah pak, di divisi keuangan saya cuma merekrut satu karyawan baru, dia keluaran dari universitas oxford pak," ucap pak anton, seketika ruangan pun menjadi gaduh karena mendengar ada alumni universitas oxford.


Erna yang mendengar ucapan pak anton seakan tertampar wajahnya, dia yang selalu menggosipkan haya punya orang dalam, tapi ternyata haya adalah alumni universitas oxford.


"Ohh yaah, oxford..luarbiasa,"ucap arfha


"Iyah dan dari semuanya saya rasa dia yang paling unggul pak, saya perkenalkan sebentar ya pak, ini dia orangnya namanya...," ucap pak anton yang hendak memperkenalkan haya pada arfha.


"Haya..." arfha memanggil nama itu dengan tatapan yang terus terpaku pada gadis yang berdiri tak jauh darinya.


"Loh saya kan belum bilang namanya, ko pak arfha sudah tau," bingung pak anton.


Semua orang diruangan pun bingung memperhatikan sikap arfha yang malah terpaku tanpa kata pada haya.


Arfha kemudian menarik tangan haya, "Ini, gelang siapa ini?, sejak kapan kamu memiliki gelang ini," tanya arfha


"Ini..ini..gelang pemberian sahabat saya pak," jawab haya terbata-bata


"Sahabat?, kapan sahabat kamu memberikannya?,"tanya arfha lagi sambil ingin membuka gelang haya itu.


"Aduh," haya pun memekik kesakitan


"Maaf pak, gelangnya tidak bisa dilepas,"


"Kenapa saya hanya ingin lihat,"


"saya pakai gelang ini dari umur saya 6 tahun pak, sahabat saya berpesan untuk tidak melepas gelang ini, jadi sekarang disaat saya sudah dewasa gelang ini tidak bisa saya lepas karena gelang ini jadi kekecilan ditangan saya,".


Arfha tersenyum bahagia mendengarkan ucapan haya, dia yakin sekarang kalau gadis dihadapannya itu adalah haya, gadis yang selalu dia rindukan.


Tanpa berkata sepatah kata pun dan tanpa menghiraukan pandangan orang-orang disekitarnya, arfha menarik tangan haya dan membawa haya keruangannya.


"Ra.." panggil aline pada temannya itu


"iyah lin," jawab ara yang sama-sama masih dalam mode bengong melihat arfha dan haya.


"Mulai besok kayanya kita harus nonton drakor deh ra,"

__ADS_1


"Bener kamu lin, besok kita nonton drakor bareng yaa,"


Aline mengganggukkan kepalanya, sambil tetap saja bengong.


__ADS_2