Cinta Berkedok Persahabatan

Cinta Berkedok Persahabatan
Episode 4


__ADS_3

Begitu sampai di ruangannya arfha menarik haya agar dekat dengannya, arfha membuka masker yang digunakan haya, lalu membelai pipi haya, "kamu sangat cantik, melebihi yang aku bayangkan,"ucap arfha sambil masih membelai wajah haya.


Haya yang diperlakukan seperti itu menjadi sangat geram lalu menepis dengan kasar tangan arfha,"Maaf pak saya rasa anda sudah keterlaluan, saya tidak mengerti maksud bapak ini apa, yang pasti saya tidak bisa diperlakukan seperti ini, kalau bapak tidak berkenan dengan sikap saya, saya siap mengundurkan diri,"


Haya yang sangat marah lalu bergegas melangkah pergi meninggalkan arfha setelah berkata begitu.


"Haya, apa kamu tidak ingat padaku?, "arfha bertanya pada haya yang sedang berjalan menjauhinya pergi tapi tidak membuat haya menghentikan langkahnya.


"Apa kamu tidak ingat lagi, orang yang memberikan kamu gelang yang kamu pakai itu?," tanya arfha lagi yang kini berhasil menghentikan langkah haya dan berbalik melihat arfha.


"Apa maksud anda?," tanya haya


"Lihatlah aku baik-baik, apa kamu benar-benar tidak mengenaliku?,"


Haya pun memperhatikan arfha dari kaki sampai kepala, memperhatikan wajah arfha dengan seksama, "Arfh, apa itu kamu?," tanya haya dengan mata berkaca-kaca.


"Iyah, ini aku arfhatan sahabat kecil kamu, akhirnya kamu sudah ingat sekarang,"


Haya pun langsung berlari dan memeluk arfha.


"Arfh, maaf aku tidak langsung mengenali kamu,"


Arfha pun memeluk dengan erat haya, "hay aku tidak akan melepaskan kamu kali ini," ucap arfha dalam hatinya.


"Arfh lepas, sampai kapan kamu mau memelukku begini?," tanya haya yang berusaha melepaskan pelukan arfha yang dia rasa sudah cukup lama untuk sebuah pelukan pertemuan kembali.


"Selamanya, aku akan memelukmu selamanya haya," jawab arfha


"Kamu ini dari kecil selalu saja ngomong sembarangan tidak pernah berubah, ayo lepas arfh aku susah bernafas,"


"Baiklah, aku lepas dulu kali ini, sini duduklah aku ada banyak pertanyaan sama kamu hay,"


Arfha pun menarik haya duduk di sofanya, "Haya kamu kenapa bisa ada disini, dan ini kenapa rambut kamu jadi hitam begini?," tanya arfha sambil memegang rambut haya, bukan tanpa alasan arfha bertanya seperti itu tapi karena yang arfha tau rambut haya asli adalah coklat kepirangan seperti daddy nya.


"Aku mengecatnya, karena kalau rambutku pirang, aku gak terlihat indonesia nya, jadi terlalu mencolok," jawab haya.


"Seperti ini juga kamu masih tetep ga indonesia kok hay, malah tambah cantik," ucap arfha sambil membelai rambut haya.


Haya pun menepis tangan arfha yang dari tadi dia rasa terlalu aktif menyentuhnya.


"Arfh kenapa kamu tumbuh jadi cowok genit gini sih, pegang-pegang mulu,"


"Aku genit sama kamu doang,"


"Ikhh bisa gombal lagi sekarang, tapi ngomong-ngomong kamu bisa jadi setinggi ini arfh, padahal dulu tinggi kita gak beda jauh,"


"Yah aku kan olahraga haya, tapi bagaimana apa aku cukup tampan?, apa kamu suka wajahku haya?,"


"Hahah kamu ini, iyah kamu laki-laki indonesia yang cukup tampan arfh, sampai-sampai setiap hari karyawan-karyawan kamu itu mendambakan kamu,"

__ADS_1


"Ohh yaahh, tapi aku cuma mendambakan satu wanita dalam hidupku,"


"Owhh yah, kamu sudah punya kekasih arfh?,"


"Belum, tapi akan, aku baru menemukan gadis yang aku cari," ucap arfha.


Haya hanya menggelengkan kepalanya, sejak kecil haya tidak pernah menganggap arfha serius, karena atfha terlalu sering berbicara sembarangan yang tidak sesuai dengan usianya.


"Arfh gimana keadaan aunty sama uncle, mereka sehat-sehat kan?, aku kangen banget sama mereka,"


"Iyah Alhamdulillah mereka sehat hay, lalu daddy mommy kamu bagaimana? Apa mereka ikut kamu kembali kesini?," tanya arfha membuat haya sedih.


"Kenapa hay, kenapa kamu sedih?,"


"Daddy dan mommy ku sudah gak ada arfh, mereka sudah meninggal,". Ucap haya sambil menangis.


"Apa, bagaimana itu bisa terjadi, dan tidak ada yang memberi kami kabar,"


"Daddy, mommy dan calon adikku meninggal dalam kecelakaan arfh,"


"Adik?,"


"Iyah, mommy ku sedang mengandung saat kecelakaan itu," ucap haya yang semakin menangis menceritakan nya arfha pun langsung menarik haya ke pelukannya.


"Hay, maafkan aku, banyak sekali yang sudah aku lewatkan, aku telat mencari kamu hay,"


"Iyah aku mencari kamu ke london, kemarin aku hampir dua minggu gak ke kantor itu karena aku sedang mencari kamu, tapi sama sekali gak menemukan jejak,"


"Syukurlah ternyata kamu malah ada didekatku haya,"


"Sudahlah hay, kamu jangan sedih lagi yaa, sekarang sudah ada aku dan kedua orang tua kamu, kalau kamu mau manggil mereka mommy dan daddy juga boleh, sebentar lagi mereka juga jadi mommy dan daddy kamu ko,"


"Apa maksud kamu arfh?,"


"Maksudku kalau menantu manggil mertuanya mommy and daddy kan gak masalah,"


"Arfha..." perkataan arfha dianggap bercanda oleh haya, haya pun tersenyum sambil mencubit perut arfha.


"Aduhhh..haya sakit kebiasaan kamu selalu cubit perutku,"


"Iyah tapi sekarang perut kamu keras arfh, gak enak dicubit,"


"Yaudah cubit yang lain ajah yang gak keras,"


"Arfha...." teriak haya sambil mencubit tangan arfha haya kesal selalu saja arfha itu menggodanya dengan bicara yang tidak-tidak.


"Arfh sudah dulu yaa, aku mau ke ruanganku lagi, kamu tiba-tiba narik aku kesini, pasti diruangan ku sedang heboh menggosipkan yang tidak-tidak, aku udah lama disini,"


"Sudahlah gak apa-apa, aku bos nya disini siapa yang berani ngomong macam-macam akan aku pecat,"

__ADS_1


"Arfh gak boleh kaya gitu, udah aku pergi dulu yaa,"


"Tapi aku belum selesai,"


"Arfh aku mohon, aku gak mau terus-terusan digosipin, sebaiknya kalau di kantor kita hanya atasan sama karyawan ajah, jangan kamu ulangi yang kaya tadi tarik-tarik aku sembarangan,"


"Iyah-iyah siapp nyonya,"


"Apa maksud kamu nyonya?, aku belum menikah,"


"Ohh syukurlah, kalau pacar, apa kamu sudah punya pacar ?," tanya arfha yang sebenarnya memang ingin mengecek apa haya single atau tidak.


"Gak ada pacar-pacar arfha, aku belum sukses, sudah yaa aku pergi dulu,"


Arfha pun tersenyum bahagia mendengar ucapan haya, "maafkan aku haya, ternyata hidupmu sangat menderita maafkan aku telat mencarimu, tapi mulai hari ini aku janji hidupmu pasti akan selalu bahagia,"


Begitu haya memasuki ruangannya semua mata tertuju pada haya, ada yang dengan tatapan bertanya-tanya ada yang kesal ada juga yang menyunggihkan senyuman mengejek.


Haya hanya bisa menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkan nya agar dadanya itu lega.


"Hay, cerita dong cerita gimana hubungan kamu sama pak arfha?," ucap ara


"Aku dan dia sahabat dari kecil ra, ibu kami berdua bersahat juga dari kecil,"


"Owhh yahh, wah ini lebih seru dari drakor kayanya nih," ucap aline sekarang.


"Tadi kamu gak langsung kenalin pak arfha hay?, pak arfha ajah langsung kenalin kamu,"


"Iyah aku gak kenalin dia sama sekali, dia berubah cukup banyak soalnya, dia waktu kecil cuma beda sedikit tingginya dari aku walaupun usia kami beda 2 tahun, tapi sekarang lihat ajah," ucap haya sambil tersenyum.


"Iyah pak arfha tinggi, kekar dan ganteng lagi hehe,"


"Terus-terus gimana lagi, kalian ngapain ajah tadi apa ada adegan kissing-kissing ala drakor?," tanya ara lagi.


"Heh, apa nya yang kissing aku sama dia cuma sahabatan, gak usah pake kissing-kissing segala,"


Jawab haya sambil menjitak kepala ara dengan bolpoinnya.


"ikhhh gak seru deh," ucap aline menimpali.


"Otak kalian tuh yaa, udah kerja lagi masih dua jam lagi ke pulang,"


"Iyah deh iyah, ibu presdir," timpal ara dan aline bersamaan.


"Kalian ini.." ucap haya kesal pada kedua teman sekantornya itu.


Pada jam pulang arfha bergegas keluar dari kantornya, tapi tidak lantas pulang arfha malah pergi ke ruangan kantor haya.


Tanpa mengetuk pintu arfha langsung masuk ruangan haya, membuat semua karyawannya kaget dan menatap heran pada arfha termasuk haya.

__ADS_1


__ADS_2