
“Haya, ayo kita menikah besok,” ucap arfha dengan jelas terdengar di telinga haya. Haya langsung membelalakkan matanya karena kaget mendengar ucapan arfha itu.
“Kenapa kamu diam?, jawab haya, apa kamu mau menikah denganku?,” ucap arfha dengan tegas.
“Lepasin dulu arfh, nanti ada yang lihat bagaimana?, jangan begini,” ucap haya yang sangat tidak nyaman dengan posisinya yang dihimpit oleh arfha, haya sangat takut kalau-kalau ada yang melihat, apalagi kalau yang melihat orang tua arfha, pasti sangat memalukan.
Arfha pun melepaskan haya, “Sudah aku lepas, sekarang ayo jawab,” ujar arfha lagi
“Aku..aku..ini kayanya harus dibicarakan dulu arfh gak bisa sembarangan,” ucap haya
“Apalagi yang harus dibicarakan?,”
“nanti kita bicara lagi, kita harus cepet-cepet sarapan nanti kita telat ke kantor,” ujar haya
“Kamu pasti menghindariku haya,” gerutu arfha sambil pergi menyusul haya yang sudah berjalan didepannya.
“Kalian sudah selesai?, wah sayang kamu pantas sekali pakai baju itu,”
“Iyah aunty makasih yaa baju nya,”
“Iyah sayang ayo makan sayang,”
Setelah selesai sarapan arfha dan haya pun pergi ke kantor.
“Jadi kapan kamu ngasih aku jawaban haya?,” tiba-tiba arfha bertanya pada haya diperjalanan mereka ke kantor.
“Jawaban apa?,”
“Kamu jangan pura-pura begitu haya, tentu saja yang tadi aku tanyakan,”
“Aku masih bingung arfh, apa ini tidak terlalu cepat?, walaupun kita kenal dari kecil, tapi kita tidak tumbuh bersama, bisa dibilang sekarang kita seperti kembali menjadi orang asing, apa tidak sebaiknya kita saling mengenal dulu?,” jawab haya.
“Menurutku itu tidak perlu, kita bisa saling mengenal lagi setelah menikah,”
“Tapi aku takut kamu menyesal nantinya arfh, bila suatu saat nanti aku ternyata tidak seperti yang kamu harapkan,”
“Aku tidak akan pernah menyesal menikahi orang yang aku cintai,”
“Arfha kamu itu keras kepala sekali,” dengus haya kesal.
“Nanti kita bahas lagi, aku turun di depan ajah arfh,”
“Loh kenapa?, kantor kan masih jauh didepan,”
“Gak apa-apa biar aku jalan kaki ajah ke kantornya gak begitu jauh kok, aku gak enak kalau datang ke kantor bareng kamu juga,”
“Mana bisa aku membiarkan kamu jalan kaki, sudahlah siapa yang berani bicara macam-macam, memangnya kenapa?, toh nanti kamu akan jadi istriku juga,”
“Arfha, tapi ini sangat tidak nyaman untukku, aku kan pulang selalu bareng kamu, masa sekarang datang pun dengan kamu, nanti apa kata mereka,”
“Aku gak peduli, pokoknya aku gak bisa liat kamu jalan kaki, duduk yang baik,” ucap arfha pada haya yang sudah mengambil posisi karena ingin turun dari mobil arfha.
Benar saja apa kata haya, begitu mereka turun para karyawan seperti berbisik-bisik memperhatikan haya dan arfha, dan tanpa sengaja haya pun berpapasan dengan kedua temannya di divisi lama ara dan aline.
“Hai kalian baru datang juga,”
“Iyah haya kami kangen banget sama kamu,”
“Aku juga, eh tunggu sebentar,”
“Arfh,.maksudku pak arfha bapak boleh duluan saja, saya masih ada perlu dengan teman-teman kerja saya sebentar boleh kan?, saya janji tidak akan telat, hanya sebentar,” ucap haya mencoba untuk formal pada arfha dihadapan semua orang.
“Baiklah, aku duluan yaa, ingat jangan lama-lama,” ucap arfha
Ara dan aline pun mengangguk dan tersenyum pada arfha, arfha pun membalas mereka, karena arfha memang cukup ramah sebagai seorang atasan.
“Presdir kita itu sepertinya tidak bisa lepas dari kamu hay, masa liat kita ngobrol ajah dia berdiri menunggu disamping kamu, hehe,” ucap ara
“Bener-bener, kalian juga datang nya barengan, wahh sepertinya kemajuan kalian pesat sekali yaa,” tambah aline
“Kalian ini tidak bisa kalau tidak bergosip,”
“Itu bukan gosip hay, kan barusan kita lihat sendiri,”
“Kalian ini,”
“Eh..eh sebentar kenapa sepertinya ada yang tersipu malu?,” ujar aline
“Benar kalau dulu dicandain gini kamu bakal marah kan, tapi sekarang malah malu-malu jangan-jangan kalian..”
“Kalian apa, sudah dulu ah aku mau kerja,”
__ADS_1
“Jadi gak mau cerita nih?,”
“Nanti ajah aku ceritanya,”
“Wah beneran ada sesuatu nih, yasudah nanti kita makan siang bareng yaa,”
“Ok “ jawab haya lalu langsung bergegas ke tempatnya bekerja karena takut terlalu lama mengobrol dan membuat arfha marah.
Begitu keluar lift haya langsung melihat arfha di dekat meja kerja nya.
“Sudah ngobrolnya?, katanya gak akan lama,” ucap arfha dengan ketus
“Maaf pak, saya kira tidak lama, sekali lagi maaf,”
“Sudahlah nanti kamu ke ruanganku, bawakan berkas-berkas kerja sama dengan PT. Taruma,”
“Baik pak,” ucap haya
Arfha pun segera masuk ke kantornya dan haya segera menyiapkan berkas-berkas yang arfha minta.
“Boss kenapa nyonya?, ko tumben pagi-pagi sudah marah-marah,”
“Entahlah, bukannya kamu yang harusnya lebih mengerti dia dari pada aku, kamu kan yang selalu nemenin dia,”
“Yah sebenarnya aku tau sih nyonya, tapi hanya ingin tanya saja,”
“Kamu ini, kalau tau terus kenapa dia menurut kamu?,”
“Beneran mau tau ?,”
“Ardi, kamu jangan bikin orang kesel yaa,”
“Yasudah-yasudah aku bilang yaa, kalau menurut pengamatan saya, sepertinya pak arfha itu kurang kasih sayang dan sentuhan dari nyonya,”
“Apa?, kasih sayang dan sentuhan, maksud kamu apa?,”
“Iyah, si boss itu sepertinya membutuhkan booster dari nyonya, maunya di sayang-sayang di manjakan di sentuh, tau kan nyonya disentuh seperti apa?,”
“Seperti apa?,”
“Nyonya ini masa gak ngerti, kiss etc ,”
“Ohh kiss, terus etc nya apa ajah?,”
“Kamu ini, ada-ada saja ardi,”
“Percayalah sama saya nyonya, kalau sudah begitu, dia pasti akan jinak,”
“Sudahlah aku masuk dulu yaa ardi,”
“siap nyonya,”
“Masuklah,” ucap arfha begitu haya mengetuk pintunya.
“Ini pak berkas-berkasnya,”
“Ok,” ucap arfha lalu dia pun segera membaca berkas-berkas itu dengan serius, haya hanya memperhatikan sambil berdiri didepan arfha.
“Aku sudah selesai, ada yang aku ganti point-point nya tolong kamu rubah berkasnya yaa, dan minta ardi mengirimnya langsung ke PT. Taruma,” ucap arfha sambil memberikan berkas-berkas itu kembali pada haya.
“Baik pak, kalau begitu saya permisi,”
Arfha hanya mengangguk pada haya.
Setelah kembali ke meja nya haya segera bergegas mengerjakan apa yang arfha perintahkan, setelah selesai haya pun memberikan berkas itu pada ardi.
“Apa ini nyonya?,” tanya ardi
“Berkas kerja sama dengan PT. Taruma, pak arfha menyuruh kamu anterin kesana langsung,”
“Oh baiklah nyonya, saya pergi dulu yaa,”
Begitu ardi pergi haya kembali ke meja kerjanya, tak lama arfha pun menelponnya, “Iyah pak,” jawab haya.
“Apa ardi sudah pergi?,”
“Sudah pak,”
“Kalau begitu, kamu kemarilah,” ucap arfha
“Baik pak,”
__ADS_1
Haya pun kembali keruangan arfha, begitu masuk haya melihat arfha sedang berdiri memandangi keluar lewat jendela kantornya yang full kaca itu.
“Iyah pak,” ucap haya
“Kemarilah,”
Haya pun berjalan menghampiri arfha.
“Aku tidak akan menggigit mu haya kemarilah lebih dekat,” ucap arfha lagi
Haya pun mendekat pada arfha lagi, begitu haya sudah dekat arfha tidak berkata apapun, arfha hanya memandangi haya dengan penuh perasaan. “Kenapa pak arfha ?, apa ada yang harus saya kerjakan?,” tanya haya , yang sudah sangat malu diperhatikan terus oleh arfha.
“Boleh aku memelukmu haya?,” ucap arfha tiba-tiba mengejutkan haya.
Haya kemudian mengingat omongan ardi, “Ternyata anak itu benar, arfha memang ingin di manja mungkin,” ucap haya dalam hatinya.
Haya sungguh malu harus berkata apa, serba salah rasanya, kalau ditolak dia tidak mau arfha kecewa tapi kalau di iyahkan apa arfha akan menganggapnya cewek genit.
“Haya, kamu tidak mau yaa?,”
“Maaf pak, ini di kantor sebaiknya kita tidak melakukan hal yang aneh-aneh,” jawab haya
“Aduuhh, apa jawabanku sudah benar atau terkesan munafik yaa, kan tadi dicium aja aku diem masa dipeluk gak mau, ah sudahlah sudah terlanjur ngomong juga,” gumam haya dalam hatinya.
“Yah sudahlah, sepertinya sudah menjadi kebiasaan kamu menolakku, kembalilah ke meja kerja kamu,” ujar arfha yang entah kenapa semakin lama dia selalu semakin ingin dekat dengan haya, makanya arfha ingin segera menikahi haya, agar mereka menjadi pasangan yang halal. Tapi haya tak kunjung memberi kepastian walaupun dia sudah mengakui cintanya.
Haya dapat melihat wajah kecewa arfha, yang sekarang sedang berjalan melewatinya hendak duduk kembali di meja kerjanya.
“Kenapa aku ini, dia kan hanya ingin memelukku,” pikir haya dalam hati dan langsung berlari mengejar langkah arfha lalu memeluk arfha dari belakang.
1274
“Maaf...” ucap haya yang sekarang sedang memeluk erat punggung arfha.
Arfha tertegun dengan apa yang dilakukan haya, tapi dia sangat senang haya berinisiatif memeluknya seperti ini.
Arfha melepaskan tangan haya yang melingkar di perutnya, lalu dia berbalik untuk menatap haya. “Maaf arfh,” ucap haya lagi.
“Kamu gak salah ko hay, aku saja yang terlalu ingin dekat dengan mu,” jawab arfha sambil membelai lembut pipi haya.
Haya langsung menghamburkan dirinya pada arfha, hayalah yang kini memeluk arfha duluan dengan erat. Arfha pun membalas pelukan itu, rasanya sangat nyaman bisa memeluk gadis yang selalu dia rindukan itu. Tapi belum lama mereka berpelukan handphone arfha berbunyi seseorang menelpon di saat yang tidak tepat.
Haya seketika melepaskan pelukannya, “Arfh angkat telepon nya,” ucap haya.
“Biarkan saja, aku gak mau di ganggu,” ucap arfha yang kembali hendak memeluk haya, tapi kali ini haya segera menghindar.
“Angkat dulu arfh, siapa tau penting,” ucap haya
“Baiklah,” jawab arfha dengan malasnya dan mengambil hp nya itu.
“Ren, ada apa sihh kamu menggangguku saja,” seru arfha begitu mengangkat telponnya dan mengetahui kalau reno adik sepupunya lah yang menelepon nya.
“Arfha cepat buka majalan atau surat kabar atau internet,” seru reno
“Ada apa memangnya?,”
“Kamu bukalah sekarang sendiri,” ucap reno lalu menutup telepon nya.
“Ada apa arfh?,”
“Entahlah reno menyuruhku melihat surat kabar atau internet,”
“Oh yaa, yasudah biar aku yang lihat,” ucap haya lalu bergegas berdiri di depan komputer arfha dan mulai membuka situs berita.
Haya sangat terkejut begitu melihat berita yang terpampang disana.
GADIS TIDAK DIKENAL MEREBUT TUNANGAN PUTERI BUNGSU PENGUSAHA SUKSES CHANDRA GROUP
KISAH CINDERELLA DI KEHIDUPAN NYATA
CALON NYONYA ARFHATAN GUNADHYA TERNYATA HANYA ORANG BIASA
KISAH CINTA PENGUSAHA MUDA ARFHATAN GUNADHYA BAK DRAMA KOREA
DEMI SEORANG GADIS TAK DI KENAL PEWARIS KELUARGA GUNADHYA RELA DI CORET DARI DAFTAR PEMIMPIN KELUARGA
Begitulah terpampang headline berita-berita yang haya lihat belum lagi yang lainnya.
“Ini...sudah aku tebak ini akan terjadi padaku,”ucap haya dengan mata yang sudah berkaca-kaca sekarang.
“Kenapa sayang?,” tanya arfha lalu menghampiri haya dan membaca berita itu.
__ADS_1
“Brengsek siapa yang berani menulis semua ini ?,