
Begitu sampai di kamar, arfha segera mengunci pintu kamar haya yang membuat haya sangat kaget dan sedikit takut.
“Arfh kamu mau apa?, gak usah dikunci segala pintunya arfh,” seru haya
“Sayang sepertinya kamu tidak ada kekhawatiran sekali mau berpisah deganku, aku jadi merasa kamu tidak benar-benar mencintaiku,” ucap arfha sambil merangkul pinggang haya.
“Arfha lepas, jangan begini, ” ucap haya sambil berusaha melepaskan pelukan arfha.
“Aku gak akan lepas, diamlah haya, aku ingin memelukmu lebih lama sebelum kita berpisah,” ucap arfha yang kini sudah mendekap haya dan menghirup dalam tengkuk haya menenggelamkan wajahnya disana.
Haya pun menyerah dan membiarkan arfha mendekap tubuhnya.
“Arfh sudah cukup, kamu harus ke kantor,” ucap haya setelah beberapa saat haya merasa arfha tetap pada posisinya dan belum juga menyudahi dekapannya itu.
“Sebentar lagi sayang,” ucap arfha tapi tak lama mereka pun terkejut dengan suara ketukan pintu dari renata.
“Arfha lepaskan puteriku, nenek dan tante mu ada di bawah untuk menjemput mamah dan haya, cepat kamu lepaskan anak mamah,” teriak renata haya pun kaget dan segera mendorong arfha.
“Kamu ini gak sabaran sekali, ayo ganti baju kamu, terus ikut kebawah nenek sama tantemu ada dibawah,” seru renata begitu haya membuka kamarnya.
“Iyah mah,” dengan cekatan arfha mengganti bajunya dengan setelan yang biasa dia pakai ke kantor.
Begitu sampai di bawah nenek dan juga dua tante arfha begitu terpesona melihat haya.
“Kak ren menantu mu ini beneran cantik yaa,” ucap evelyn adik bungsu renata.
“Apa aku bilang, menantuku cantik sekali benar kan,”
“Sayang kemarilah, ini nenek anne dia ibunya mamah, dan ini tante evelyn dia adik bungsu mamah, nah ini adik pertama mamah namanya tante rossy, mamah ini anak pertama dari tiga bersaudara, mereka berdua adik mamah,kami semuanya perempuan,” terang renata pada haya.
“Salam kenal, saya haya, nenek tante,” haya pun langsung mencium tangan ketiga wanita keluarga renata itu.
“Sayang, kamu cantik sekali sangat serasi dengan cucukku yang juga tampan,” ucap anne
Haya pun tersenyum mendengarnya, “Dimana keponakanku itu kak?,” tanya rossy
“Aku disini tante,” ucap arfha lalu menyalami mereka semua.
“Keponakan ku yang ganteng ini akhirnya mau menikah, pantas saja kamu dari dulu bertahan jomblo ternyata maunya sama yang kaya haya toh, berat banget selera kamu ini arfha,” ucap evelyn
“Iyah dong tante, bagaimana kalian puas kan dengan cucu menantu pertama kalian ?,” tanya arfha
“Tentu saja kami sangat puas hahaha,” jawab rossy semuanya pun tertawa bahagia, apalagi haya yang sangat senang ternyata keluarga calon mertuanya sangat baik, mereka menerima haya apa adanya.
“Sayang kemarilah, nenek mau bicara sesuatu sama kamu,” ajak anne pada haya.
__ADS_1
“Iyah nek,”
“Sayang ini adalah gelang turun temurun, nenek sudah janji akan memakaikan ini pada istri arfha nanti, ulurkan tanganmu sayang,”
Haya pun mengulurkan tangannya, nenek anne segera memakaikan gelang itu pada haya, tapi tidak jadi karena nenek anne melihat haya sudah memakai gelang yang juga cantik ditangan haya.
“Sayang itu gelang dari siapa?, apa sangat berarti untuk mu?, apa bisa kamu lepas, atau nenek tambah saja dengan gelang ini ?,” tanya anne
“Ini gelang dari arfha nek, haya gak bisa melepasnya, soalnya haya pakai ini dari kecil, jadi sekarang gelang ini terjebak ditangan haya,” jawab haya sambil tersenyum.
“Iyah seperti aku sayang, terjebak ditangan kamu juga, hatiku tidak bisa kemana pun selamanya terjebak padamu,” ucap arfha sambil merangkul haya.
“Arfh, lepasin kamu selalu begini,” ucap haya pelan tapi masih terdengan oleh anne.
“Sayang kamu panggil calon suami kamu apa tadi nak?,” tanya anne
“Arfha nek,”
“Sayang kamu kan sebentar lagi mau jadi istri arfha, jadi kamu harus merubah panggilan kamu dong sayang, biar terdengar lebih mesra, oh iyah soal gelang ini nenek tambah saja yaa, jadi kamu memakai dua gelang sekarang,” ujar anne.
“Terimakasih nek, gelangnya sangat cantik, oh iyah nek haya harus manggil arfha apa?,” tanya haya karena haya ingin menuruti semua peraturan di keluarga arfha.
“Gimana kalau kamu panggil aku suamiku atau cintaku,” ucap arfha
“Usia kalian beda berapa sayang?,” tanya rossy
“Hanya sekitar dua atau tiga tahun ross,” jawab renata.
“Oh kalau gituh gimana kalau kakak atau mas ajah,” jawab evelyn
“Nah iyah, mas ajah gimana sayang?,”
“Emhh iyah ga apa-apa nek, gimana nenek ajah,”
“Baguslah kalau begitu,”
“Sayang ayo coba panggil aku mas,” goda arfha haya seketika melotot pada arfha.
“Iyah bener ayo cantik cobain panggil calon suami kamu,” seru rossy yang selalu mendukung keponakannya itu.
Haya benar-benar canggung dan kikuk untuk membuka mulutnya. Tapi dia pasti akan berusaha agar nenek arfha tidak kecewa.
“M..m..mas,..” ucap haya gugup
“Wahh sayang itu terdengar sangat mesra, kenapa aku tidak terpikir yaa dari dulu, mulai sekarang kamu panggil aku begitu yaa,” ucap arfha.
__ADS_1
Haya pun hanya bisa menggangguk dan tersenyum, sedang keluarga arfha tertawa melihat kemesraan dua sejoli ini.
“Hei kamu jangan ganggu haya terus, ayo cepet berangkat ke kantor, nanti kamu telat,” ucap renata
“Iyah sayang nenek juga akan segera berangkat ke bandung, nanti kita bertemu lagi di hari pernikahan kalian yaa,” ucap anne.
“Iyah nek, nenek hati-hati di jalan yaa, kalian bertiga jagain nenek ku satu-satunya ini yaa,” ucap arfha sambil bercanda kepada ketiga puteri anne termasuk ibu nya sendiri.
“Kamu ini dasarrr,” seru rossy sambil mencubit pinggang arfha,
“Sudah sana jalan,”
“Iyah-iyah, sayang ayo antar suami kamu ke depan,” ucap arfha sambil menarik tangan haya dan membawanya pergi keluar.
“Dasar anak itu,” ucap renata.
“Sayang sampai ketemu di hari pernikahan kita yaa, kamu hati-hati disana jangan macem-macem.
“Aku yang seharusnya ngomong gitu arfh,”
“Hei ko arfh ?,”
“Ah iyah aku lupa, maaf aku belum terbiasa,”
“Bagaimana keluarga mamah, mereka baik kan sayang?, kamu jangan segan dengan mereka, mereka asik kok orangnya, gak seperti keluarga papah ku itu,”
“Iyah mereka sangat baik, aku sangat bersyukur untuk itu, owh iyah,”
“Iyah apa?”
“Aku baru tahu sekarang dari mana asalnya wajah agak-agak chinese kamu itu,” ucap haya sambil tersenyum
“Iyah itu dari mamahku, nenek anne chinnese tapi kakek bukan, aku sangat berharap nanti anak kita mirip kamu sayang,” ucap arfha.
“Arfha kamu ini ngomong apa, sudah sana jalan, ini sudah telat,”
“Arfha lagi kan, sepertinya aku harus bilang nenek,”
“Jangan-jangan iyah-iyah aku belum terbiasa, masih canggung,”
“Coba sekarang bilang mas,”
“Hati-hati dijalannya yah ...mas arfha,” ucap haya di dekat telinga arfha lalu dia berlari kedalam rumah karena sangat malu.
“Gadis itu, kenapa menggemaskan sekali, aku jadi tidak sabar, kalau aku masuk ke rumah lagi mamah pasti marah, sudahlah sabar arfha, mengalahlah untuk menang,” ungkap arfha yang berbicara sendiri diluar lalu dia pun pergi ke kantornya.
__ADS_1