Cinta Berkedok Persahabatan

Cinta Berkedok Persahabatan
Episode 15


__ADS_3

Pagi hari di rumah arfha haya sudah bangun dan membantu asisten rumah tangga di rumah arfha menyiapkan sarapan di dapur.


“Aaaaakkhh...”Haya sangat kaget begitu arfha memeluknya dari belakang sampai spatula yang di pegang pun jatuh ke wajan untung lah tidak sampai jatuh ke bawah.


“Arfhaaaaa....,lepasin gak, kamu ngapain sihh gangguin ajah,” seru haya lalu berusah melepaskan tangan arfha yang melingkar di perutnya.


“Gak mau, aku sangat kangen sama kamu aku cari ke kamar tadi kamu gak ada tau nya disini,” jawab arfha sambil terus memeluk erat haya.


“Bi maaf tolong lanjutin dulu yaa,” ucap haya pada asisten rumah tangga arfha, lalu dia bergeser agar posisi mereka tidak di depan kompor.


“Iyah non,” jawab bi marni sambil tersenyum-senyum malu melihat kelakuan tuan muda nya itu.


Sedangkan alvin dan renata yang baru saja tiba pun hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan putranya itu. Alvin dan renata memang sedari tadi berada di taman, seperti biasa setelah subuh, alvin selalu ke taman untuk berolahraga sedang renata selalu menata bunga-bunga di tamannya. Tapi tadi mereka juga kaget mendengar teriakan haya dan langsung berlari ke dalam.


“Pah kayanya memang arfha harus cepat-cepat kita nikahkan,” bisik renata pada suaminya.


“Iyah mah, coba kamu atur yaa dan tanya haya, sepertinya anak kamu itu benar-benar sudah hilang kendali,” jawab alvin


“Mulai kamu yaa, giliran sikap gajelas nya arfha kamu bilang anak aku, giliran yang membanggakan anak kamu,” ketus renata alvin pun tersenyum mendengarnya.


“Lepasin arfh, aku mau masak, arfh aku mohon lepasin,” pinta haya sambil memukul-mukul tangan arfha.


“Enggak, kamu masak ajah, aku gak ganggu ko,”jawab arfha seenaknya.


“Apanya yang gak ganggu, kamu sangat mengganggu, udah lepasin dong,” ucap haya lagi.


“Ehemm...ehem...” alvin yang datang sengaja berdehem agar arfha melihatnya.


“Ah aunty uncle,” wajah haya seketika memerah, dia sangat malu terlihat oleh kedua orang tua arfha dengan posisi seperti itu.


Berbeda dengan haya, arfha malah cuek saja bahkan masih belum melepaskan pelukannya.


“Arfha kamu gak liat ada mamah papah kamu, cepet lepas,” bisik haya pada arfha.


“Arfh lepasin haya, kamu gangguin ajah anak mamah,”ucap renata.


Arfha pun dengan malas melepaskan pelukannya.

__ADS_1


“Oh iyah, kamu ke kantor gak ada baju yaa sayang ?,”tanya renata pada haya tapi belum juga haya menjawab arfha sudah menarik tangan haya.


“Ayo kamu cobain baju aku, siapa tau ada yang cukup di kamu,” ajak arfha tapi menarik haya untuk ke kamarnya.


Haya langsung melihat ke arah renata karena malu, “Ga apa-apa sayang, kalau gak ada yang cocok nanti lihat dilemari aunty yaa,” ucap renata.


“Udah sampe arfh lepasin,” ucap haya lalu melepaskan genggaman tangan arfha.


“Jangan macem-macem yaa arfh, aku nanti bisa marah sama kamu,” ancam haya begitu melihat arfha yang akan mendekatinya lagi.


“Iyah-iyah, yaudah tuh kamu cari ajah baju yang cocok,” ucap arfha.


“Ini ajah aku coba dulu,” ujar haya begitu melihat blezer hitam arfha


“Iyah coba pakai,”


Haya pun menuju kamar mandi untuk berganti baju,


“Gak disini ajah gantinya sayang?,” ucap arfha dengan tersenyum usil pada haya.


“Mau aku hajar kamu arfh,”


“Aku ganti di kamarku ajah, aku sangat takut berada sekamar dengan kamu,” seru haya yang tidak jadi ingin berganti pakaian di kamar arfha.


“Kenapa sayang?, aku gak bakal ngapa-ngapain ko,”jawab arfha.


“Udah aku ganti disana ajah sekalian dandan, rok aku juga kan ada disana,” ucap haya lalu berlalu pergi meninggalkan arfha.


“Dasar awas yaa kamu sayang, tunggu sampai kamu jadi istriku, kamu gak bakal bisa seenaknya keluar kamar,” gumam arfha dalam hati


Setelah haya pergi arfha pun bersiap karena memang mereka harus sarapan dan pergi ke kantor.


Setelah selesai arfha pergi ke kamar yang ditempati haya tanpa mengetuk pintu. Arfha pun sungguh kaget melihat penampilan haya yang memakai blazer miliknya, “Ini memang rumah kamu arfh, tapi memang gak bisa ketuk pintu dulu?,” ucap haya dengan kesal



“Kamu...” ucap arfha sambil berjalan menghampiri haya.

__ADS_1


“Apa?, baju kamu ini gak cocok di aku arfh, jadinya terlalu terbuka, aku mau ganti, kayanya aku pinjam baju aunty ajah,” ujar haya lalu berdiri menghampiri arfha


“Iyah tentu saja kamu harus ganti tapi nanti dulu, aku masih mau lihat kamu pakai ini,” ucap arfha yang terus menatap haya dari atas sampai bawah.


“Kamu mesum, sudah sana keluar!,” teriak haya.


“Aku mau lihat kamu sayang,”


“Arfha, sudah sana tolong pinjemin baju ke aunty buat aku arfh,”


“Iyah-iyah tapi jangan dorong-dorong aku keluar gini dong,” teriak arfha.


“Kamu sangat cantik sayang, nanti kalau kamu sudah menjadi istriku, kamu harus sering-sering pakai baju aku yaa,”bisik arfha di telinga haya, seketika tubuh haya mendesir mendengar perkataan arfha.


“Istriku..” gumam haya dalam hati sambil terseyum setelah arfha pergi dari kamarnya.


Tak lama arfha datang kembali kali ini dia mengetuk pintu terlebih dahulu.


“Sayang ini baju nya,”


“Oh iyah makasih yaa,” ucap singkat haya lalu menutup kembali pintu kamarnya.


“Ka..kamu..benar-benar keterlaluan, lihat saja kamu haya wilson, tunggu pembalasanku,” seru arfha dalam hati.


Haya pun bergegas berganti pakaian nya dengan pakaian dari renata. “Nah ini baru pas,” ucap haya lalu dia pun segera bersiap untuk pergi sarapan ke bawah, tapi begitu baru keluar pintu haya langsung di tarik dan didorongkan ke tembok diluar kamarnya sampai tubuhnya rapat dengan tembok.


“Arfh, ada apa?, lepasin aku nanti ada yang lihat, kamu selalu membuatku kaget,” ucap haya dengan nafas terengah karena masih kaget dan lagi posisi arfha sekarang sangat dekat dengan nya bahkan kening mereka pun menempel sempurna.


Tanpa mendengarkan haya arfha meraih tengkuk haya dan mencium bibir haya, ciuman yang lembut tapi penuh tuntutan membuat haya kaget tapi merasa terdorong untuk membalas ciuman arfha itu hanya saja haya masih malu melakukannya.


Ciuman arfha semakin dalam karena haya pun tidak melakukan perlawanan, haya sesaat terhipnotis dan begitu dia sadar, haya pun segera mendorong arfha.


“Cukup arfh,” ucap haya sambil mengatur nafas nya karena jantungnya sungguh bedetak dengan cepat.


Arfha masih menatap haya dan masih menghimpitnya ke tembok.


“Arfh kamu mau apalagi, kita harus ke kantor,” ucap haya lagi.

__ADS_1


“Haya, ayo kita menikah besok,” ucap arfha dengan jelas terdengar di telinga haya. Haya langsung membelalakan matanya karena kaget mendengar ucapan arfha itu.


__ADS_2