
Begitu sampai di depan pintu kamarnya haya tidak lantas membuka pintu, haya malah terdiam, arfha pun segera merangkul istrinya itu dan mengajak haya ke dalam.
“Wahh indah sekali kamar kita sayang,” ucap arfha.
“Iyah mas, mamah memang hebat dalam mengatur semuanya, sayangnya kamu menghancurkan acara resepsi yang sudah mamah siapkan, pasti nanti mamah marah mas,” ucap haya.
“Dia gak akan marah kok sayang percayalah, malah akan senang,”
“Mana bisa begitu, orang sudah jelas kita mengecewakan mamah, pesta yang sudah mamah atur dengan baik malah gagal,”
“Siapa bilang gagal, lihatlah ini,” arfha lalu menunjukkan video yang ardi kirim, video itu menunjukkan pesta yang berjalan dengan meriah walaupun pengantin nya tidak ada dalam pesta itu.
Haya membelalakkan matanya melihat video itu. “Sudah lihat kan sayang, aku bilang mamah tidak akan marah malah senang,”
“Senang kenapa?,”
Arfha mendekatkan bibirnya ditelinga haya lalu berbisik “Karena aku mempercepat waktunya untuk memiliki cucu,” bisik arfha.
“Mas...”ucap haya lalu mencubit pinggang arfha.
“Kenapa aku benarkan,”
Seketika jantung haya kembali berdegup kencang, ditambah tatapan arfha padanya yang sangat dalam penuh cinta juga menuntut haya untuk membenarkan.
“Sayang, apa sekarang aku sudah boleh memelukmu seperti ini,” ucap arfha lalu menarik haya dalam pelukannya.
Dalam dekapan arfha haya pun menganggukkan kepalanya. Arfha pun tersenyum dan semakin mendekap haya.
Setelah lama memeluk haya, arfha melepaskan dekapannya, arfha menatap lekat-lekat gadis di depan nya itu. Membelai wajah cantik haya yang tidak pernah berhenti dia kagumi.
“Kamu sangat cantik istriku,” ucap arfha lalu mendekatkan wajahnya pada wajah haya.
Haya yang masih gugup tak sadar sedikit menjauhkan wajahnya ketika arfha hendak menciumnya.
“Sayang apa kamu mau menolakku?,”
“Ahh maaf mas aku..aku tidak bermaksud begitu, aku hanya sedikit gugup dan malu,”ucap haya sambil meremas tanganya. Arfha pun tersenyum dengan tingkah istrinya itu.
“Malu, kenapa kamu harus malu?, kamu sangat cantik,”
“Aku mau mandi dulu mas,” ucap haya yang malu dipandang seperti itu oleh arfha, haya lalu berlari ke kamar mandi.
“Haya-haya, kamu ini tumbuh besar di luar negeri tapi sikap kamu masih sangat polos begini, beruntung sekali aku jadi suami kamu,” ucap arfha sambil memperhatikan pintu kamar mandi yang kini sudah ditutup oleh haya.
Haya pun membersihkan dirinya di kamar mandi, memakai semua wewangian dan segala macam yang di ajarkan mertua nya renata, haya tidak melewatkan satu pun petunjuk dari renata, haya ingin membahagian suaminya di malam pengantinnya ini, karena malam pengantin adalah yang pertama dan tentunya tidak akan terulang lagi.
Cukup lama sekali haya di dalam kamar mandi hingga arfha pun mandi di kamar yang lain, setelah arfha selesai dan kembali ke kamarnya pun ternyata haya masih belum selesai mandi.
Arfha pun menghampiri kamar mandi dan memanggil haya, “Sayang apa kamu sudah selesai?,”. “Sudah tapi aku bingung tidak ada baju yang bisa aku pakai disini, dari tadi aku panggil kamu mas, tapi kamu gak nyahut,”
“Maaf sayang aku dari kamar sebelah, aku habis mandi juga, soalnya kamu lama,”
“Yasudah tolong ambilkan aku baju di lemari yaa,”
“Memang baju yang di siapkan di situ kenapa?” tanya arfha
__ADS_1
“Ini terlalu terbuka, aku tidak berani memakainya,”
“Coba aku lihat,”
“Haya pun mengambil baju-baju tidur itu dan membuka pintu kamar mandinya sedikit, dia menyodorkan baju itu pada arfha,”
Arfha langsung membelalakkan matanya melihat baju-baju itu, dalam hatinya bertanya siapa yang bisa mempunyai ide seperti ini, pastilah kedua bibi usil nya itu pelakunya.
“Cepat mas ambilkan aku baju lain,” teriak haya membuyarkan pikiran arfha.
“Baiklah tunggu sebentar sayang,”
Arfha pun membuka lemari baju tapi tiba-tiba dia mempunyai ide lain.
“Sayang ini bajunya,”
Haya pun membuka pintu kamar mandi dan mengulurkan satu tangannya untuk mengambil baju dari arfha.
Tapi begitu tangan haya keluar arfha menarik tangan haya keluar kamar mandi. Haya yang kaget pun tidak bisa melawan begitu ditarik arfha dan kini dia sudah berada di hadapan arfha.
“Mas kamu..” teriak haya
Arfha langsung melotot lalu menelan salivanya begitu melihat haya yang hanya menggunakan handuk untuk melilit tubuhnya . Arfha bisa melihat leher jenjang paha putih mulus haya juga bagian dada haya yang sedikit menyembul ke atas akibat ikatan handuk.
Haya sadar ke mana arah mata arfha, “Mas kamu sangat mesum,” teriak haya lalu haya menutupi dadanya itu.
“Mesum ?, bukankah itu milikku sekarang ,” ucap arfha lalu menarik haya ke dalam pelukannya dan hendak mencium haya.
“Mas..mas arfha tunggu, aku akan ambil baju dulu,”
Ucapan arfha benar-benar membuat darah haya membeku, apalagi sekarang arfha kembali memeluknya bahkan tangan nya sedang mencengkeram erat pinggang haya sementara sebelah lagi sedang membelai lembut wajahnya.
“Haya, jadilah milikku seutuhnya, aku sangat mencintaimu,” ucap arfha tanpa menunggu jawaban dari haya arfha mencium lembut bibir haya.
Sambil mencengkeram erat handuk yang dia pakai, haya pelan-pelan menutup kedua matanya, berusaha menghilangkan ketakutan dan rasa gugupnya serta berusaha menikmati setiap sentuhan suaminya arfha.
Seperti yang sudah sering melakukannya arfha terlihat sangat ahli menelusuri rongga mulut haya, arfha mlumat bbir haya dengan sangat rakus mengeluarkan apa yang selalu dia tahan selama ini karena haya selalu membatasi dirinya.
“Mas...aku gak bisa bernafas,”ucap haya setelah berhasil mendorong arfha yang tak henti menciumnya.
“Maafkan aku sayang,aku terlalu bersemangat,” jawab arfha lalu menggendong haya menuju tempat tidur.
Haya kaget tapi tetap berusaha tenang, kini arfha adalah suaminya haya harus bisa melayani arfha dalam segala hal termasuk di ranjang. Arfha pun menidurkan haya di tempat tidur yang bertaburan kelopak bunga itu dengan hati-hati.
“Sayang bukalah bajuku,” pinta arfha pada haya yang sekarang berada di bawah kukungannya.
Haya pun mengikuti kemauan arfha, tangan cantiknya perlahan-lahan membuka kancing piyama arfha satu per satu, setelah selesai sampai kancing terakhir haya lalu membuka piyama yang dipakai suaminya itu.
Perlahan haya mengelus tubuh suaminya, dengan tangan lembutnya haya membelai dada arfha. Arfha kini kembali mencium bbir haya, ciuman itu turun ke leher haya arfha menelusuri setia lengkuk leher dan tulang belikat istrinya, tapi kini matanya tidak fokus melihat dua benda yang sangat memikat itu.
Perlahan tangan arfha membuka simpul handuk yang dipakai haya. Tangan haya sontak memegang tangan arfha, “Mas jangan,”. Arfha menatap haya lalu kembali mencium istrinya itu, perlahan arfha tetap membuka handuk yang melilit tubuh haya.
Sambil mencium haya, arfha mengangkat sedikit tubuh istrinya itu, lalu dia menarik handuk itu dan melemparnya ke sembarang arah. Haya yang merasakan kalau tubuhnya kini sudah polos segera mendekap tubuh arfha.
Arfha bisa merasakan tubuh haya kini bersentuhan dengan tubuhnya, pikiran arfha semakin memanas. Celananya sudah terasa semakin sesak.
__ADS_1
Arfha kembali merebahkan haya dengan perlahan melepaskan tautannya.
“Mas jangan lihat aku begitu,” ucap haya begitu dia lihat arfha seperti sedang menscan tubuhnya, arfha benar-benar memandangi tubuh istrinya itu.
“Ini milikku sayang, jangankan hanya dilihat, aku melakukan lebih pun sudah boleh sekarang, apa kamu keberatan?,” bisik arfha ditelinga haya.
Haya pun hanya menggelengkan kepalanya sambil menutup matanya karena malu.
“Gadis baik, patuhlah sayang,” ucap arfha lalu mencium haya.
Haya kini hanya bisa pasrah dan menikmati setiap perlakuan arfha padanya.
Setelah puas memandangi tubuh indah di depannya, kini arfha mulai membelai dua benda yang sedari tadi seperti mengundangnya.
Arfha membelai lembut keduanya, dan sesekali meremasnya, kedua benda itu menjadi kesenangan untuk arfha, arfha benar-benar ketagihan dengan tubuh haya.
Sekarang arfha mulai mencium dan menyesap kedua benda itu secara bergantian, haya pun dibuat mendesah dan menggeliat kan tubuhnya karena sentuhan arfha itu menjadi sebuah kenikmatan yang amat untuk haya.
“Sayang, aku sangat menyukai tubuhmu, kamu sangat cantik juga harum, kamu membuatku benar-benar gila haya,” bisik arfha di telinga haya lalu dia pun melanjutkan menjamah mencium setiap inchi tubuh haya.
Setelah puas membuat haya lemas dengan kenikmatan yang diberikannya, arfha kin membuka celana yang dari tadi masih dia kenakan.
Haya yang melihat sekilas tubuh arfha kembali memejamkan matanya, arfha pun melihat haya menutup kedua matanya begitu tak sengaja dia melihat arfha membuka celananya.
“Sayang bukalah matamu, aku juga ingin kamu melihatku seperti aku sudah melihatmu,”
“Mas aku malu,”
“Sayang ku mohon, apa kamu tidak mau menuruti suamimu?,”
Ucapan pamungkas arfha sudah pasti tidak bisa haya bantah.
Haya dengan perlahan membuka matanya, lalu tampak jelas dimata arfha, kalau haya sangat kaget melihatnya.
“Tuhan apakah nanti benda itu akan memasukiku, apa aku akan baik-baik saja,” pikiran haya seketika berkecamuk.
“Kenapa sayang?” tanya arfha yang kini sudah kembali mengukung haya di bawahnya.
Haya bisa merasakan sekarang kalau benda itu bergesek menyentuh pahanya.
“Arfh..”seketika haya dibuat kembali lupa dengan panggilan untuk suaminya.
“Sayang panggil aku mas arfha ok,”
“Iyah mas, tapi mas itu,”
“Kenapa sayang, kamu bisa merasakan tubuhku kan sekarang,”
“Mas arfha aku takut,”
Arfha pun tersenyum dan mengerti maksud haya, “Apa kamu takut sakit sayang?,” bisik arfha
“Kenapa dia pakai tanya tentu saja aku takut sakit, semua orang juga takut sakit, apalagi kalau tubuhnya akan di masuki benda sebesar itu,” gerutu haya dalam hati.
“aku akan hati-hati,,,sayang aku akan memulainya,aku sangat mencintaimu, haya wilson my beautiful wife,” bisik arfha, seketika rasa takut haya melemah mendengar arfha berkat seperti itu.
__ADS_1