
Hari yang di nantikan pun tiba pagi sekali arfha sudah bangun dia bersiap menuju ke bandung untuk datang ke acara pernikahan nya yang akan dilaksanakan siang ini untuk ijab kabul nya dan resepsi di malam hari nya.
Acara pernikahan arfha akan dilaksanakan di sebuah villa milik nenek arfha di bandung yang kebetulan haya sudah tinggal disana dalam beberapa hari ini. Arfha sungguh sangat bersemangat sekali hari ini, itu karena selama beberapa hari ini bahkan untuk chat atau video call haya pun dilarang oleh renata dan keluarganya.
Itulah mengapa arfha benar-benar sangat merindukan haya, cara renata benar-benar berhasil, puteranya memang jadi semakin tidak sabar melihat gadis pujaan nya itu.
Arfha dan alvin pun segera menuju ke bandung. Setibanya disana mereka disambut meriah dengan pesta yang sangat indah, arfha langsung menyapukan pandangannya melihat dan mencari haya tapi dia tidak berhasil, haya tidak dia lihat disana.
“Mah mana haya?,”
“Sayang kamu ini tidak sabaran sekali, kamu harus ijab kabul dulu nanti haya baru turun kebawah dan menemuimu,”
“Ahh iyah, yaudah ayo cepet mah arfha udah siap,”
Dengan tampan dan gagahnya arfha pun menuju ke meja tempat dia akan melakukan ijab kabul, disana segala sesuatunya sudah siap alvin kini menjadi wali nikah haya, mereka melakukan nya dengan khidmat dan lancar, arfha mengucapkan tanpa salah cukup satu kali arfha mengucapkan ijab.
Haya yang mendengarkan suara arfha dari atas tersenyum bahagia, “Aku sudah menikah sekarang,” gumam haya dalam hati.
“Selamat yaa haya,” ucap kate yang ada disana lalu memeluk haya.
“Selamat yaa haya kamu sekarang betulan jadi ibu presdir kami loh,” ucap ara dan aline pun ikut mengangguk membenarkan lalu mereka pun berpelukan bergantian.
Haya memang mengundang beberapa teman dekat nya itu di hari berbahagianya.
“Terimakasih, kalian adalah teman-teman terbaikku,” ucap haya.
Tak lama renata masuk ke dalam kamar haya, “Sayang...sekarang kamu sudah jadi anak mamah, ayo temui suamimu di bawah,” ucap renata sambil membelai lembut kepala haya lalu memeluknya.
Haya benar-benar ingin menangis, betapa bahagia sekali dia bisa memiliki mertua seperti renata dan alvin. Mereka sangat menyayangi haya, hati haya seperti sangat terkejut tapi sangat bahagia mendengar kata suamimu, sekarang arfha sudah jadi suaminya, jantung haya benar-benar tidak bisa di ajak kompromi gugup sekali rasanya mau bertemu arfha dengan statusnya sekarang.
“Ayo sayang,” ajak renata lalu memapah haya, di sebelah nenek anne yang baru saja masuk langsung memegang tangan haya.
“Selamat yaa cucu menantuku yang cantik,”
__ADS_1
“Makasih nek ,” jawab haya mereka pun selangkah demi selangkah menuju tempat ijab kabul dilakukan ara aline dan kate mengikuti mereka dibelakang.
Selama perjalanan rasanya lutut haya lemas dia sungguh grogi untuk bertemu dengan arfha sekarang, “Apa penampilanku sudah cukup cantik sekarang,” gumam haya dalam hatinya.
Haya anne dan renata pun menuruni tangga, arfha bisa melihat dari kejauhan istrinya sekarang. Haya yang mengunakan kebaya yang sangat cantik rancangan disigner terkenal pilihan renata, terbalut sempurna di tubuh indah nya yang ramping, juga hiasan yang digunakan haya, benar-benar seperti bidadari dimata arfha.
Semakin lama haya semakin mendekat pada arfha, ingin rasanya arfha berlari saja dan langsung menghampiri haya, tapi untunglah kesadarannya masih bagus untuk menunggu haya menghampirinya.
Sekarang haya sudah tepat dihadapan arfha haya masih sangat malu dan menundukan pandangannya. “Sayang lihatlah aku, apa kamu tidak mau menatap suami kamu?,” ucap arfha.
Haya pun pelan-pelan mengangkat kepalanya dan menatap arfha. “Kamu sangat cantik sayang,” ucap arfha lagi. “Terimakasih mas,” jawab haya lembut.
Jawaban haya membuat jantung arfha serasa jatuh dari tempatnya, setelah sekian lama tidak bertemu dan tidak mendengar suara haya, kini tiba-tiba dia bertemu sebagai suami istri dan mendengar suara haya memanggilnya seperti itu benar-benar membuat arfha gila.
Ingin rasanya arfha segera menggendong haya menuju kamarnya tapi lagi-lagi arfha harus bisa mengontrol dirinya.
Sekara mc menyuruh haya mencium tangan arfha dan menyatakan mereka pun sah sebagai suami istri.
Dengan anggun haya mencium tangan arfha dan menatap arfha dengan malu. Arfha pun lalu mencium kening haya, ciuman itu turun dengan cepat dan kini arfha memcium bibir haya, haya melotot dibuatnya lalu mendorong arfha. Tamu undangan serta semua yang ada disana pun bersorak ramai dengan kelakuan arfha itu.
“Benar lin, dia ternyata agresif sekali, si haya bakalan kewalahan,” ucap aline dan ara sambil tertawa membicarakan arfha
“Kalian ini, lagian siapa yang bakalan tahan liat sahabat aku itu, haya kan sangat cantik,” timpal kate
“Iyah kamu benar, kita saja cewek gemes liatnya apalagi pak arfha hehe,” tambah ara lagi.
Haya sungguh malu karena tindakan sembarangan arfha itu, begitu pun renata dan alvin mereka hanya bisa menepuk jidat dan menggelengkan kepala mereka melihat tingkah absurd anaknya itu.
“Sepertinya pengantin kita sudah tidak sabar, baiklah kalau begitu kita tidak bisa menunda lagi, untuk tamu sekalian yang saya hormati silahkan bila ingin menyapa dan menyelamati kedua mempelai setelah itu kami persilahkan untuk menikmati pesta dan segala yang sudah tuan rumah yang sedang berbahagia ini siapkan, terimakasih,” ucap mc
Haya semakin malu mendengar kata-kata dari mc itu hingga tidak bisa ditahan lagi tangannya mencubit pinggang arfha dengan keras karena kesal.
“Kamu liat kan akibat kelakuan absurd kamu itu, semua orang jadi mentertawakan kita,” bisik haya.
__ADS_1
“Aduhh sakit sayang, maafin aku, habisnya aku gak tahan lihat kamu,” jawab arfha haya pun kembali melototkan matanya pada arfha.
Haya dan arfha pun menyalami tamu-tamu undangan secara bergantian. Tamu mereka hanya terdiri dari kerabat dan teman-teman dekat saja tapi rasanya pesta pun sudah cukup ramai, bagaimana jika pernikahan mereka dilakukan secara terbuka dan besar pasti akan sangat melelahkan, itulah yang dipikirkan haya.
Tapi berbeda dengan yang dipikirkan arfha yang kesal karena tamu masih saja ada, arfha sudah ingin punya waktu berdua dengan haya.
“Sayang apa kamu sudah lelah ?, bagaimana kalau kita ke kamar ajah,” bisik arfha pada haya.
“Engga mas, belum waktunya kita istirahat, nanti mamah juga ngasih tau kok kalau kita sudah waktunya istirahat dan berganti baju,” ucap haya.
“Apa berganti baju ?,”
“Iyah mamah bilang malam acara resepsi, nanti aku pakai gaun, kamu juga ganti setelannya,”
“aku kira setelah ini acara selesai, jadi aku sama kamu bisa langsung ke villa papah untuk beristirahat,” ucap arfha kecewa haya pun tersenyum karena lucu melihat suaminya itu.
Hari sudah siang akhirnya renata mengajak haya untuk beristirahat dan melakukan persiapan untuk acara nanti malam, “Mah arfha ikut kan?,” tanya arfha begitu melihat istrinya dibawa oleh ibunya.
“Kamu nanti tuh sama reno sana, kalian beda kamar, kamar haya banyak gadis-gadis, gak nyaman nantinya,” jawab renata.
“Whattttt...!, aku masih harus pisah lagi sama haya mah?,” tanya arfha kaget
“Apa sih kamu, lebay banget cuma dandan dan istirahat bentar doang, udah sana pergi sama reno, nanti mamah panggilin si reno nya,”
Sekali lagi arfha pun hanya bisa pasrah melihat istrinya pergi lagi dengan ibunya. Tak lama reno pun datang dan mengajak arfha ke ruangan yang sudah disiapkan.
Di dalam kamar para gadis sekarang sudah sangat ramai. Ada ara kate aline juga sepupu-sepupu arfha yang masih gadis belia.
“Hay, ternyata pak arfha itu tidak sabaran sekali, hati-hati nanti malem kamu hay,” bisik ara di telinga haya.
“Apa sih kamu ra,”
“Ara bener hay, liat deh dia gak sabaran sekali heheh,” tambah aline
__ADS_1
“Kalian Cuma menakutiku saja, sudahlah ayo bantu aku buka kebayanya, aku pengen mandi terus rebahan sebentar,” ucap haya.
Para gadis pun membantu haya membuka baju kebayanya dan membersihkan make up yang dipakai haya, agar haya bisa mandi dan beristirahat sejenak, untuk nanti lanjut di make up lagi untuk acara resepsi.