
Sesampainya di kamar setelah membuatkan minuman rempah buat arfha haya bingung tidak melihat arfha, tapi dia mendengar suara shower di kamar mandi.
“Arfh kamu di dalam?,” tanya haya setelah dia meletakan dulu minuman rempah yang sudah dia buatkan untuk arfha.
“Arfh,” tanya haya lagi tapi arfha yang sedang asik mandi tidak mendengar haya. Haya pun memutuskan untuk menunggu karena dia yakin arfha sedang di dalam kamar mandi karena haya melihat sepatu arfha masih disana.
Tak berselang lama arfha pun keluar dengan sudah menggunakan piyama tidur nya. “Arfh kamu..” ucap haya yang heran melihat arfha yang sepertinya habis mandi di kamarnya.
“Ohh haya, maaf aku numpang mandi disini yahh, di kamarku tadi kran nya macet,” ucap arfha
“Owhh yahh,” ucap haya yang sama sekali tidak percaya ucapan arfha, tapi dia tidak mau mempermasalahkan karena sudah malam dan kasihan pada arfha yang sudah lelah bekerja.
“Sudahlah, ini arfh minumannya,” haya pun segera memberikan minuman yang sudah dia buatkan untuk arfha.
Arfha pun segera duduk di sofa dan meminum minuman dari haya.
“Ini minuman apa hay ?, kamu bilang tadi rempah tapi ko enak,”
“Benarkah ?,”
“Iyah ini enak, aku kira tadi aku tidak akan suka “
“Oh yaa, syukurlah kalau begitu cepet habiskan minumannya yaa, biar kamu bisa cepet istirahat “
Setelah selesai meminum minuman yang dibuatkan haya arfha kembali mencari akal agar dia bisa tinggal di kamar haya lebih lama, bahkan kalau bisa dia ingin tidur di kamar haya.
Arfha pun berlagak memijit-mijit tengkuk dan kepalanya seakan masih sangat lelah.
“Kenapa arfh?, apa kepala kamu pusing?,”
“Iyah sedikit, tengkuk ku juga sangat pegal hay,”
“Aku pijit kamu sebentar ya arfh tapi nanti kamu langsung istirahat ke kamar kamu yaa,” ucap haya yang sepertinya sudah menebak sikap aneh arfha itu
Dengan perlahan haya pun memijit kepala dan tengkuk arfha. “ Sayang, kamu pintar memijit juga yaa,” ucap arfha
“ Enggak ko aku Cuma asal pijit ajah, sudah sekarang kamu tidur, besok pasti kamu seger lagi badannya,”
“ Haya apa jawaban kamu tadi siang itu serius ?,”
“ Tentu saja, memangnya kenapa?,”
Bukannya menjawab pertanyaan haya, arfha malah langsung memeluk haya.
“ Arfh lepasin, jangan begini terus, kita belum menikah,”
“ Haya kalau kita menikah lusa apa kamu setuju?,”
“ Apa,,kenapa cepat sekali ?,” tanya haya heran
“ Haya, kamu harus setuju, aku tidak mau terjadi hal-hal yang tidak seharusnya sebelum kita menikah,”
“ Arfha,...!!!,”
“ Hushhh jangan berteriak nanti mamah dan papah ngira aku lagi ngapa-ngapain kamu lagi,”
“Memang iyah kan, kamu pelukin aku terus kaya gini, lepas dulu arfh besok aku jawab, aku mau ngobrol sama aunty dulu,” ucap haya lalu melepaskan dirinya dari arfha.
“ Kamu gak akan bohong kan ?,”
“ Engga aku janji, sekarang kamu istirahat yaah,”
“ Yaudah aku tidur disini yaa malam ini,” ucap arfha lalu berlari dan langsung menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur haya.
__ADS_1
“ Arfha, jangan macam-macam, kalau kamu macam-macam besok aku gak mau jawab,”
“ Jangan dong, yaudah iyah aku ke kamarku sekarang,”
Arfha pun dengan lemas bangun dari tidur nya dan berjalan menuju pintu kamar haya, “Sayang apa boleh aku minta night kiss,” ucap arfha yang tiba-tiba berbalik
“Arfh masih mau jawabannya besok kan ?,”
“Iyah..iyah..” ucap arfha lalu keluar kamar haya dengan langkah gontai.
Alvin dan renata yang sengaja menunggu di dekat kamar haya, seketika tertawa melihat putera nya keluar dengan lesu nya, padahal tadi dia sudah semangat sekali mengambil piyama.
“Lihat kan mah kita bisa percaya sama haya, walaupun anak kita sangat nakal,” ucap alvin
“Bener pah, sudahlah ayo kita tidur juga,”
Pagi hari sekali setelah subuh haya segera menuju dapur haya memang berniat untuk berbicara dengan renata mengenai permintaan arfha, haya pun menemui renata di taman nya.
“Aunty, boleh haya bicara sama aunty,”
“Sayang kemarilah, tentu saja boleh, ada apa sayang?,”
“Aunty arfha bilang ingin cepat menikah dengan haya, malah dia bilang dia ingin menikah lusa, haya bingung aunty haya harus bagaimana?,”
“Apa, ? Itu bagus dong sayang, aunty sangat bahagia sekali, kamu bingung kenapa?,”
“Apa ini tidak terlalu cepat aunty ? Apa tidak akan apa-apa?,”
“Sayangku, lebih cepat lebih baik, memangnya kamu tidak kerepotan dengan sikap mesum kekasih kamu itu?,” tanya renata sambil tertawa
Haya pun membenarkan ucapan renata itu, “Apa haya harus setuju aunty?, tapi haya tidak punya wali, haya tidak punya siapa-siapa untuk bertanya,” ucap haya yang kini sudah berkaca-kaca karena sangat sedih di saat dia harus mengambil keputusan besar di hidupnya haya tidak memiliki tempat untuk bertanya.
“Uncle akan jadi wali kamu sayang, kamu jangan sedih yaa, serahkan semuanya sama aunty dan uncle, pasti kami akan membuatkan pesta pernikahan yang mewah untuk kalian berdua,” ucap alvin yang baru saja datang dan mendengar percakapan antara haya dan istrinya.
“Iyah sayang, sudah jangan menangis yaa, ini hari bahagia kalian,”
“Iyah uncle, tapi kalau boleh haya minta sesuatu..,”
“Minta apa sayang, aunty sama uncle pasti memberikan apapun yang kamu mau, jika kami bisa melakukannya,”
“Haya tidak mau pesta yang mewah uncle, haya Cuma ingin pernikahan yang khidmat, tidak usah terlalu meriah,” ucap haya ragu.
“Tenti saja sayang, apapun yang kamu inginkan, ini adalah pernikahan kamu, kami akan pastikan semuanya sesuai keinginan kalian berdua,” ucap alvin
“Terimakasih aunty, terimakasih uncle,”
“Hei sekarang panggilnya mamah dan papah seperti arfha dong,”
“Emmhh,, iyah makasih mah pah,” ucap haya ragu
“Nah gituh dong, akhirnya aku mempunyai seorang puteri pah,” ucap renata lalu memeluk haya dengan bahagia.
“Iyah mah,” jawab alvin
Setelah sesi mengharukan haya dan kedua orang tua arfha di taman, kini haya sedang sibuk mempersiapkan sarapan sedang renata sedang sibuk menghubungi kerabat dan juga orang-orang yang sekira nya akan dia butuhkan dalam persiapan acara pernikahan puteranya.
Setelah beberapa saat haya pun selesai haya lalu menata semuanya di meja makan.
Arfha yang sudah tidak sabar ingin menanyakan keputusan haya segera berlari mencari ibunya yang kebetulan sedang duduk di ruang makan.
“Heiii kamu kenapa arfha?, kalau mau olahraga sana diluar dengan papah kamu, ngapain kamu lari-lari dalam rumah bikin mamah kaget ajah,” seru renata pada puteranya itu.
“Mah apa mamah udah bicara dengan haya?, haya bilang apa mah?,” tanya arfha lalu dia sadar kalau haya sedang berdiri tak jauh dari nya, karena haya sedang meyiapkan makanan untuk sarapan.
__ADS_1
“Hai sayang,” sapa arfha pada haya
Haya pun hanya membalas dengan tersenyum pada arfha
Arfha kembali melihat kepada ibunya, “Bagaimana apa kalian sudah membicarakan nya? Apa keputusannya?,”
“Kamu ini selalu tidak sabar,”
“Mah ayolah, jangan bikin arfha semakin penasaran,”
“Haya sudah setuju tapi sepertinya tidak bisa juga sesuai keinginan kamu mau menikah lusa,”
“Loh kenapa mah?,”
“Hehh bocah tengik, mamah gak mau yaa pernikahan kalian kurang persiapan dan dilakukan seperti pernikahan janda dan duda,” ucap renata sambil menjitak kepala arfha.
“Aduh mah, maksud mamah apa?,”
“Yah walaupun haya tadi bilang tidak ingin pernikahan yang mewah tapi mamah tetap akan membuat pernikahan kalian special dan khidmat seperti yang diinginkan haya, jadi mamah putuskan kalian akan menikah sabtu ini, Cuma beberapa hari doang memangnya kamu tidak bisa sabar,” jelas renata
“Iyah mah arfha bakalan sabar kok,”
“Nah gitu dong, lagian kamu juga kan harus mengkondisikan dulu pekerjaan kamu di kantor, memangnya kamu gak mau bulan madu apa?,”
“Mau dong mah, kalau bisa yang lama, iyah kan sayang,” ucap haya lalu mengerlingkan matanya pada haya.
Haya langsung bergidik ngeri melihat sikap konyol arfha itu.
“Yah makanya kamu selesaikan dulu pekerjaan kantor kamu, supaya kamu bisa libur beberapa hari, dan untuk haya mulai hari ini mamah mau minta cuti untuk haya, mamah mau bawa haya ke keluarga mamah,” ucap renata
“Biar arfha yang antar mamah dan haya kesana,”
“Gak bisa, mamah sama haya mau menetap disana, sampai hari pernikahan kalian,”
“Menetap disana, lalu arfha ?,”
“Ya kamu disinilah berdua papah kamu, kamu sama haya mamah pingit, biar kalian nanti kangen toh beberapa hari doang kalian pisah, nanti pas hari H pernikahan kalian ketemu lagi,”
“Mah, mamah jangan bercanda dong mah, masa arfha gak ketemu haya terus mah?, mamah kan tahu arfha udah cukup lama berpisah dari haya, belasan tahun,”
“Alah kamu itu drama banget, Cuma beberapa hari doang,” ejek renata pada puteranya itu.
“Yasudah terserah mamah ajah,” dengan lemas akhirnya arfha menyerah.
“Aunty, sarapan nya udah siap, haya panggil uncle dulu yaa,” ucap haya tiba-tiba memecah lamunan arfha.
“Sayang kan tadi udah sepakat, panggilnya mamah sama papah, jangan lagi manggil begitu, ok “
“Ahh iyah maaf haya lupa,” ucap haya dengan malu
Arfha menatap bahagia percakapan ibu nya dan haya itu.
Tak lama mereka sekeluarga pun sarapan bersama, setelah itu arfha yang hendak berganti pakaian dan berangkat ke kantor menarik tangan haya di hadapan kedua orang tuanya.
“Arfha ada apa?, lepasin aku arfh,” seru haya tapi arfha tidak mendengarkan haya.
“Hei mau kamu bawa kemana menantu papah itu?,” teriak alvin
“Tanya sama istri papah, dia mau jauhin arfha sama haya beberapa hari, jadi sekarang arfha mau isi bensin dulu,” jawab arfha dengan ceplos nya membuat haya membulatkan matanya dan merasa sangat malu jadinya.
“Anak itu benar-benar, sudahlah pah kali ini kita maklumi saja,” ucap renata.
Arfha pun sudah jauh meninggalkan mereka menuju ke kamarnya.
__ADS_1