
Hari kerja pun sudah tiba, setelah tiba di perusahaannya arfha tidak lantas menuju kantornya, namun pergi menuju kantor bagian keuangan tempat haya bekerja.
Begitu arfha masuk ke ruangan itu, semua menjadi terkesima, lalu tak lama mereka pun berdiri memberi salam kepada arfha.
Seperti biasa selalu erna lah yang paling berani berbicara dan mencari muka pada arfha.
“Pagi pak, apa ada yang bisa kami bantu?,” tanya erna yang kini sudah berjalan menghampiri arfha.
“Iyah, saya mau meminjam teman kalian sebentar, semoga kalian tidak keberatan,” ucap arfha.
Haya yang dari tadi melihat arfha sudah memiliki pirasat buruk, haya hanya menundukkan wajahnya.
“Oh silahkan pa, kalau boleh tau anda ada perlu dengan siapa?,” tanya erna lagi.
“Haya, saya ingin meminjam haya sebentar, ada yang harus saya bicarakan dengan nya,” jawab arfha tanpa basa-basi dan langsung menghampiri meja haya, membuat haya semakin tidak nyaman.
“Haya, kamu ikut aku sebentar,” ajak arfha
Haya tidak bergeming haya sungguh tidak enak dengan kelakuan arfha itu, apa kata teman-teman sekantornya nanti.
“Ayo haya ikut aku, apa kamu mau aku tarik lagi,” bisik arfha, yang berhasil membuat haya langsung berdiri.
“Saya pinjam teman kalian dulu yaa, oh satu lagi kalian jangan heran dengan kedekatan saya dengan haya, saya sudah mengenal haya dari kecil,” ucap arfha tegas.
Semua karyawannya pun melongo mendengar ucapan arfha, terlebih erna yang sudah kelihatan kesal mendengarnya.
Begitu arfha dan haya keluar dari ruangan nya, erna masih saja berdiri di tempatnya tadi.
“Orang cantik memang beda yaa, pagi-pagi udah di ajak keluar ajah sama pak presdir,” nyinyir erna.
“Hei kamu gak denger tadi pak arfha bilang ada perlu sama haya, siapa tau urusan pekerjaan,”. Sela ara yang selalu kesal dengan ucapan erna.
Erna kali ini tidak mau menanggapi ara dengan wajah kesal dia kembali duduk dikursinya.
Arfha dan haya pergi menuju ruangan arfha, haya yang hendak memakai lift karyawan segera arfha tarik. “Pakai lift ini,” ucap arfha. Haya hanya menurut tidak mengucapkan sepatah kata pun. Sebenarnya haya masih kesal dengan arfha karena kejadian dirumah arfha waktu itu, makanya haya jadi malas berbicara dengan arfha.
Didalam lift arfha terus memperhatikan haya, berbeda dengan haya yang selalu memalingkan wajahnya. “Kamu masih marah sama aku hay?,” tanya arfha memecah kesunyian diantara mereka.
Haya sama sekali tidak menjawab pertanyaan arfha, bahkan menoleh pun tidak.
“Haya, maafkan aku, aku sungguh minta maaf hay,” ucap arfha lagi. Lalu pintu lift pun terbuka haya langsung saja keluar dari lift kemudian arfha pun menyusul.
“Masuklah hay,” ucap arfha sambil membuka pintu kantornya, haya pun masuk tapi masih tidak mau berbicara.
Ardi yang dari tadi melihat boss nya dan haya menjadi bingung melihatnya, tapi dia juga tidak mau ikut campur.
__ADS_1
“Duduklah hay,”
“Arfh, sebenarnya kamu mau apa ngajak aku kesini?, ini jam kerja arfh,” tanya haya yang sudah tidak tahan ingin bertanya mau apa sebenarnya sahabat kecil nya itu membawa dia keruangannya di jam seperti ini.
“Aku mau minta maaf haya, aku gak sanggup kalau kamu gini sama aku, maafin aku hay,”
“Iyah aku maafin kamu arfh, apa sekarang aku sudah boleh kembali ke kantorku?,”.
“Enggak,”
“Apa maksud kamu enggak?, arfh jangan mentang-mentang ini perusahaan kamu, kamu jadi seenaknya, kamu harus profesional arfh, kamu gak bisa langsung ajak aku ke kantor kamu karena urusan pribadi seperti ini, dan lagi aku juga gak enak sama temen-temen sekantorku, mereka pasti berpikir yang tidak-tidak.
“Aku gak peduli haya, aku gak peduli pikiran dan omongan orang, yang aku peduliin cuma kamu, aku gak mau kamu marah lagi sama aku,” jawab haya semakin membuat haya kesal.
“Kamu bisa gak peduli arfh kamu boss nya, tapi aku, pasti orang-orang bergosip tentang aku diluaran,”.
“Siapa yang ngomong macem-macem soal kamu, aku akan langsung pecat orang itu hay,”
“Arfhaaaa...!!!,” teriak haya yang benar-benar kesal dengan jawaban seenaknya dari arfha.
Haya dan arfha terus berdebat, tanpa mereka sadari tadi arfha lupa menutup pintu, jadi ardi yang ada didepan sana bisa mendengar percakapan mereka.
“Ternyata ada yang berani marahin pak arfha, hebat banget haya, hehehe,” gumam ardi dalam hatinya sambil tertawa kecil takut arfha mendengarnya.
“ahh engga pak, tadi saya kepikiran hal lucu aja, sekarang saya panggilkan pak,” jawab ardi.
Arfha pun kembali ke kantornya kali ini dia menutup pintu kantornya.
“Haya mulai besok kamu akan bekerja sebagai sekertarisku, aku berbicara sebagai atasan kamu haya bukan sebagai arfha sahabat kamu,” ucap arfha dengan tegas, takut haya segera menolaknya.
“Tapi kenapa arfh ?,” tanya haya.
“Apa seperti itu cara kamu berbicara dengan presiden direktur?,” ucap arfha lagi, sekarang haya bisa melihat kewibawaan dan jiwa kepemimpinan dari arfha yang biasanya selalu bercanda dan jarang serius di depannya.
“Aku..bukan begitu maksud nya tapi,” ucap haya yang bingung harus menjawab apa.
“Di dalam kontrak kerja sudah disepakati kalau perusahaan bisa memindahkan atau memutasi posisi karyawannya, jika dianggap karyawan tersebut mampu, untuk meningkatkan kinerjanya, dan sebaliknya perusahaan juga bisa memindahkan karyawan ke posisi lebih rendah jika di nilai kinerja karyawan tersebut buruk atau kurang memuaskan,” ucap arfha tegas.
Tak lama pintu ruangan arfha pun di ketuk, “Masuklah,” jawab arfha. Pak anton dan ardi pun masuk ke ruangan arfha.
“Pak arfha memanggil saya,?,”
“Iyah pak anton, saya mau minta tolong, tolong urus pemindahan haya dari departement keuangan menjadi sekertaris saya, mulai besok haya akan bekerja sebagai sekertaria saya,”
“Oh baiklah pak, saya urus sekarang,”
__ADS_1
“iyah terimakasih,” jawab arfha. Anton pun bergegas pergi mengurus berkas-berkas pemindahan haya.
“Ardi tolong kamu urus untuk meja kerja haya yaa,”ucap arfha pada ardi asistennya.
“Kamu benar-benar seenaknya arfh,” ucap haya dengan memandang jengah pada arfha.
Arfha hanya tersenyum membalas perkataan haya, arfha sudah tidak peduli apapun, yang penting dia bisa terus dekat dengan haya, karena tugas utamanya sekarang adalah bisa membuat haya mencintainya.
“Pak meja nya mau di taro dimana?,” tanya ardi
“Disini di ruanganku,” jawab arfha, haya langsung bangkit dari duduk nya dan menghampiri arfha.
“Maaf pak ardi jangan disitu, didepan ajah, didepan pintu masuk ruangan pak arfha,” ucap haya.
“Kamu jangan ngaco arfh, masa aku satu ruangan sama kamu,” ucap haya sambil melotot pada arfha.
“Iyah-iyah terserah kamu deh,”
“Ishh kalah banget sama istri presdir kita ini,”gumam ardi dalam hatinya,
“Arfh, apa aku sudah boleh ke ruanganku sekarang?,”
“Belum,”
“Apalagi arfh?,” tanya kesal haya.
“Kamu masih marah sama aku hay, kamu belum maafin aku,”jawab arfha.
“Aku udah maafin kamu, aku gak marah lagi kok sama kamu,” jawab haya.
“Kalau gitu senyum dong, jangan cemberut terus gitu, yah walaupun kamu cemberut juga tetep cantik, tapi aku mau kamu senyum haya,”
“Ini aku senyum, kamu gak lihat,”
“Yang tulus dong,”
Tapi bukannya senyum haya malah semakin kesel pada arfha.
“Haya, untuk ucapanku yang waktu itu, kamu harap kamu ngasih aku kesempatan buat buktiin kalau aku benar-benar mencintai kamu haya, dan aku tidak mau kamu jadi pacarku aku sangat ingin kamu menjadi istriku haya,” ucap arfha serius dengan tatapan penuh harap, hingga membuat haya bingung harus menjawab apa.
“Aku serius dengan ucapanku ini hay, aku akan membuat kamu bahagia haya,” ucap arfha lagi, kali ini dengan menggegam tangan haya.
“Kita lihat ajah nanti arfh,” ucap haya lalu melepaskan genggaman arfha dan pergi dari ruangan presdirnya itu.
Arfha menatap kepergian haya dengan hati senang setidaknya haya sudah tidak marah lagi, berarti arfha punya kesempatan membuktikan cintanya pada haya.
__ADS_1