
Begitu sampai di ruangannya semua teman sekantor haya menatap haya dengan tatapan yang hanya mereka sendiri yang tahu apa maksud mereka menatap haya seperti itu, yang jelas haya merasa tidak nyaman.
“Hay, ngapain tadi dipanggil ke sana?,” tanya ara. “Tadi pak arfha bilang aku mau dipindahkan jadi sekertarisnya ra,” jawab haya. “Oh yaa hebat dong, kamu jadi sekertaris pertama pak arfha hay,”.
“Maksudnya gimana ra?,” tanya haya heran.
“Maksudnya selama ini pak arfha gak pernah pake sekertaris hay, Cuma ardi ajah asisten nya selama ini,” jawab aline.
“Ohh begitu,”
“terus mulai kapan hay, kita pisah dong,” ucap ara lagi.
“Mulai besok ra, iyah kita pisah yahh, padahal selain kalian berdua aku gak punya temen lagi disini,” jawab haya.
“Iyah,” sambung aline.
Arfha
“Hay, makan siang sama aku yahh,”
Haya menerima chat dari arfha yang mengajaknya makan siang bersama.
My Wife 💗
“gak usah arfh, gak enak dilihat yang lain,”
“Please,”
“Enggak arfh, aku biasa makan siang bareng temen sekantorku,”
“Makan dimana?,”
“Dikantin,”
“Yaudah pulang kerja aku anterin kamu pulang yah,”
“Iyah, tapi jangan tarik-tarik aku yah arfh, nanti aku tunggu di depan ajah,”
“Ok, istriku 😘,”
“Arfhaaaa....😠,”
Arfha yang membaca chat dari haya pun tertawa sendiri di kantornya, “Tunggu ajah, kamu pasti jadi istriku haya,” .
“Hay ayo kita makan siang,” ajak aline
“Ahh iyah,” jawab haya. Lalu mereka bertiga dengan ara pergi ke kantin perusahaan untuk makan siang bersama.
Setelah selesai memesan makanan mereka bertiga duduk di meja yang sama.
Ketika mereka asik makan, mereka mendengar yang lain berbisik-bisik tentang arfha sang presiden direktur.
“Ehh eh lihat itu pak arfha ama pak ardi asistennya,”
“Iyah, ko tumben mereka kesini yahh,”
“Iyah tumben banget yaa,”
“Yausah ga apa-apa deh biar kita cuci mata sekalian,”
__ADS_1
Seperti itulah karyawan-karyawan arfha berbisik melihat arfha.
Haya pun melihat ke sekitarnya dan tatapannya kini bertemu dengan arfha, tapi haya langsung pura-pura tidak melihat. “Hay, beneran loh ada pak arfha,” sahut aline.
“Iyah emang kenapa lin, dia mau makan juga kayanya,” jawab haya. “Iyah tapi biasanya gak pernah hay,” ucap aline lagi.
“Boleh aku duduk disini,” ucap arfha yang sudah berdiri dihadapan haya.
“Silahkan pak arfha,” ucap haya dengan lembut sebisa mungkin haya bersikap sewajarnya.
Arfha pun duduk disebelah haya, dan dususul ardi yang duduk di sebelah aline.
Tak lama makanan arfha pun datang, arfha pun bersiap untuk menyantap makanan yang sudah tersedia didepannya. Tanpa sengaja haya melihat makanan yang ada didepan arfha dan arfha sudah siap untuk makan.
Haya langsung mengambil piring arfha menggesernya hingga kini piring arfha berada dihadapan haya, dan arfha juga yang lainnya hanya bisa bengong melihat haya. “Arfh ini ada udangnya, kamu gimana sih pesen makanan kok yang ada udangnya, kamu kan alergi udang, sini garpunya,” tanpa basa-basi lagi haya mengambil garpu ditangan arfha.
Masih tidak menyadari tatapan orang-orang disekitarnya haya masih tetap fokus memisahkan udang di piring arfha, “Ini arfh, udah gak ada udang nya, kamu boleh makan,” ucap haya sambil menyodorkan makanan arfha.
Arfha hanya tersenyum bahagia melihat tingkah haya sedari tadi, berbeda dengan aline, ara dan ardi yang masih saja melongo. Haya pun yang baru menyadari nya jadi malu sendiri dan kikuk harus ngomong apa. “Makasih yah hay, aku gak nyangka kamu masih inget, aku alergi udang,” ucap arfha memecah keheningan yang terjadi akibat sikap spontan haya.
“Sudah ayo lanjutkan makannya, biar saya yang traktir yahh,”ujar arfha.
“Wahh makasih yah pak arfha,” ucap ara dan aline hampir berbarengan.
Mereka pun melanjutkan makan, tapi ara dan aline masih saja senyum-senyum sendiri melihat kejadian tadi.
Haya yang masih merasa malu gara-gara tadi segera menyelesaikan makannya dan pamit undur diri duluan.
“Pak arfha, pak ardi saya permisi ke kantor duluan, dan terimakasih atas makan siangnya,” ucap haya
“Eh iyah kami juga undur diri yah pak arfha,pak ardi,” ucap ara dan aline yang ingin segera menggoda haya.
“Iyah ra, so sweet bnget gak sihh, istri idaman, mana suaminya senyum-senyum gitu liatin istrinya yang sewot karena khawatir,” timpal aline
“Apa sih kalian ini, aku tadi cuma refleks ajah, soalnya aku kan udah cerita arfha temen aku dari kecil, dulu dia suka langsung bengkak-bengkak kalau gak sengaja makan udang, malahan tadi aku gak sengaja liat di piring nya ada udangnya walaupun kecil-kecil,” jelas haya.
“Iyah-iyah nyonya presdir kami percaya,” ucap ara
“Hay, aku sih yakin arfha ada hati sama kamu, arfha gak anggap kamu itu sahabatnya deh hay, aku bener kan?,” tanya aline.
“Iyah bener lin, jangan-jangan pak arfha lagi usaha deketin kamu hay, makanya dia jadiin kamu sekertaris nya,”.
“Sudah-sudah kalian jangan bahas aku terus, ayo cepetan kita ke kantor,” ucap haya yang sebenernya membenarkan omongan teman-temannya itu.
“Aku sudah didepan, kamu masih dimana?,”
“Iyah sebentar aku kesana,”
Haya pun bergegas pergi karena arfha sudah menunggunya, sebenarnya haya merasa canggung dilihat yang lain jika dia diantar pulang oleh arfha, tapi entah kenapa haya mencoba tidak pedulu untuk ini, karen haya memang merasa nyaman kalau dia diantar pulang oleh arfha.
“Masuklah,” ucap arfha begitu haya tiba didekat mobilnya.
Tidak ada percakapan di awal-awal haya memasuki mobil arfha. Arfha hanya melirik sesekali haya yang berada disampingnya. “Kamu sangat cantik haya, bahkan sepulang kerja pun masih sama cantik,” gumam arfha dalam hatinya.
“Arfh,”
“Iyah sayang,” jawab arfha spontan
“Kalau bawa mobil lihat ke depan, kamu mau kita kenapa-kenapa,” ucap haya
__ADS_1
“Ah iyah, aku lupa, eh tapi kamu gak keberatan aku panggil sayang?,”
“Keberatan pun percuma, kamu kan si paling suka seenaknya,” jawab haya.
“Hehe emang iyah yah aku begitu?,”
“Gak sadar, tadi di kantor kamu juga seenaknya kan pindahin posisi aku, itu Cuma salah satu contoh,” jawab haya.
“Aku gak seenaknya, aku memang butuh sekertaris,”
“Ishhh dasar,”.
“Haya, apa kamu pernah suka sama seseorang?,” tanya arfha tiba-tiba.
“Aku gak ada waktu arfh buat memikirkan hal itu, terlebih ketika kakek ku meninggal, aku hanya hidup sendirian, yang aku inginkan hanya aku bisa lulus kuliah dan bekerja nantinya,” jawab haya dengan tatapan sedih.
“Haya maafkan aku, aku tidak tau keadaan kamu disana, aku sangat menyesal tidak mencari kamu lebih awal,”
“Ini sudah jalan takdir yang harus aku jalani arfh, aku percaya akan ada kebahagian nanti untuk ku”
“Aku akan memberikan kebahagian itu haya, asalkan kamu mau menerima aku sebagai suami kamu,”
“Haya, maafkan aku selalu bertanya begini, jujur saja aku sudah ingin menikah dan memiliki seorang istri, tapi dari dulu yang ada di hati ku Cuma kamu haya, tidak ada gadis lain selain kamu,” ucap arfha
“Arfh, apa kamu sungguh-sungguh dengan ucapan kamu itu?,”tanya haya.
“Aku sungguh-sungguh hay, mamah sama papahku pun setuju aku menikahi mu, malah mamah sama papah bilang mereka gak mau menantu yang lain,” jawab arfha sambil tertawa dan haya pun ikut tertawa mendengarnya.
“Dasar aunty sama uncle ada-ada ajah,” ucap haya.
Arfha melihat haya tertawa kecil , arfha lalu meraih dan menggenggam tangan haya. “Aku akan buktikan haya aku benar-benar mencintai kamu,”. Ujar arfha.
Haya pun kini tersenyum pada arfha, “Entah apa yang aku rasakan arfh, yang pasti aku nyaman dan merasa aman dekat kamu, tapi aku belum tau perasaan aku arfh,” ucap haya dalam hatinya.
“Arfh udah pegang tangannya, aku sudah mau turun,” ucap haya sambil berusaha menepis tangan arfha.
Sedari tadi haya membiarkan arfha menggenggam tangannya, entah apa yang haya pikirkan yang pasti haya sangat senang bersama arfha.
Bukannya melepaskan genggaman nya arfha malah mempererat tautan tangannya. “Arfh,” ucap haya lagi.
“Iyah ini aku lepas, hati-hati yahh sayang, mimpiin aku yaa nanti malam,” ucap arfha lalu mencium tangan haya.
“Arfha..kamu mulai genit lagi,” seru haya.
“Sedikit hehe,” jawab arfha sambil tersenyum usil.
“Yaudah aku pulang, kamu hati-hati dijalan yaa,”ucap haya lagi. “Iyah sayang,” jawab arfha.
“Dasar anak itu, gak pernah berubah, tapi kenapa aku jadi deg-degan gini yahh, apa jangan-jangan aku juga mulai...,ahh entahlah,,” gumam haya dalam hati.
“Heii, kenapa kelihatannya bahagia sekali?,” tanya kate begitu haya masuk apartement nya.
“Aku bahagia?, enggak ko biasa ajah,”
“Cuma orang rabun yang bilang biasa ajah, udah jelas kelihatan kok,”
“Aku ngantuk sekarang besok aku ceritain yaa,” jawab haya seenaknya meninggalkan sahabatnya yang penasaran
“Dasarr menyebalkan,” gerutu kate pada haya yang meninggalkan nya sendirian dalam keadaan penasaran.
__ADS_1