
Pagi hari di kantor haya terlihat pertama datang. “Wah meja ku bagus banget sekarang,” ucap haya sambil melihat-lihat meja kerja baru nya sebagai sekertaris arfha.
“Pagi,” Sapa ardi
“Pagi Pak ardi,” sapa balik haya.
“Gak usah pak ardi, panggil ajah ardi kita kan rekan kerja sekarang, sama-sama ngurusin pak arfha,” ucap ardi
“Iyah betul, mohon bimbingannya yaa ardi,” ucap haya
“Siap nyonya,” jawab ardi membuat haya jadi bingung.
“Kok nyonya,”
“Karena saya merasa kalau kamu bakal jadi Nyonya Arfhatan Gunadhya,” ucap ardi membuat haya malu.
“Kamu pintar sekali ardi, aku transfer bonus kamu siang ini,” ucap arfha yang baru saja datang dan mendengar percakapan antara ardi dan haya.
“Wahh yang benar?, makasih banyak bos,” ucap ardi dengan wajah sumringah nya.
“Tentu saja, mana mungkin aku bohong, teruskanlah memanggil haya seperti itu yaa,”
“Siapp boss,” jawab ardi dengan semangat.
Haya sangat kesal mendengarnya tapi tidak mau terlalu menggubris, ini adalah hari pertamanya bekerja sebagai sekertaris, jadi haya ingin bekerja secara profesional.
“Selamat pagi pak arfha,” sapa haya dengan tersenyum pada arfha.
“Pagi sayang,” jawab arfha dengan senyum jahil dan langsung masuk ke ruangannya.
“Sabar haya, walaupun dia itu sangat menyebalkan, tapi dia adalah boss kamu, jangan sampai kegeeran dulu haya, atur jantung kamu jangan pecicilin begini iramanya,” ucap haya dalam hatinya yang dari semalam dia selalu deg-dengan bila mengingat arfha.
Baru saja duduk di kursinya telpon haya sudah berbunyi, dan itu merupakan panggilan dari arfha untuknya.
“Sayang, masuklah aku ingin tau jadwalku hari ini,” ucap arfha.
“Baiklah,” jawab haya
“Ada apa nyonya?,” tanya ardi yang melihat wajah kesal haya.
“Ardi mana jadwal pak arfha,”
“Oh ini nyonya, silahkan,” ucap ardi lalu bergegas memberikan map berisi jadwal arfha.
“Terimakasih,”
“Dengan senang hati nyonya,” jawab ardi yang memang sangat senang pekerjaan nya berkurang gara-gara ada haya, ditambah dia dapat bonus gara-gara manggil haya nyonya.
“Masuklah,” ucap atfha begitu mendengar haya mengetuk pintu ruangan nya.
__ADS_1
“Jadi sayang, apa saja jadwalku hari ini,”
“Arfha, kenapa kamu manggil aku sayang disini, ini kan kantor,”protes haya pada arfha
“Loh memangnya kenapa?, wajar kan manggil sayang sama calon istri sendiri, pokoknya aku mau manggil kamu seperti itu,” jawab arfha kekeuh.
“Yasudahlah terserah kamu ajah arfh,” ucap haya yang memilih menyerah berbicara dengan arfha.
Haya pun segera membacakan jadwal arfha hari ini.
“Oh ok, terimakasih sayang,”
Haya pun mengangguk menatap arfha lalu dia hendak pergi keluar.
“Hei, mau kemana sayang?,” tanya arfha
“Ke meja ku lagi pak, banyak hal mesti saya pelajari, hari ini kan hari pertama saya bekerja sebagai sekertaril,” ucap haya.
“Oh baiklah, silahkan,”
Haya pun kembali ke meja nya dan bekerja dengan serius, haya memang selalu sungguh-sungguh dalam bekerja, sehingga tidak membutuhkan waktu lama haya sudah bisa menguasai pekerjaannya.
“Selamat siang, boleh saya bertemu dengan pak arfha,” tanya seorang wanita kepada haya yang sedang asik dengan komputernya.
Haya pun berbalik melihat asal suara itu, dan ternyata haya terkejut melihat seorang wanita muda yang wajahnya tidak asing untuknya dan satu lagi seorang nenek yang lumayan sudah tua, tapi masih terlihat sehat.
“Kamu...” ucap wanita itu yang ternyata adalah rania chandra, rania dan haya pernah bertemu sekali di rumah arfha waktu itu.
“Iyah, kami pernah bertemu sekali waktu dirumah arfha nyonya,” jawab haya dengan sopan.
“Oh, kamu sekertaris nya arfha?,” tanya ny. Farida
“Iyah nyonya saya sekertaris nya pak arfha,”
“Oh, selain sahabat kalian juga ternyata bos dan karyawannya?,” ucap rania sedikit menekankan kata bos dan karyawannya berharap haya mengerti posisinya.
Ardi yang melihat nyonya boss nya seperti tidak nyaman oleh ulah dua wanita beda usia itu segera menghampiri haya.
“Maaf saya Ardi asistennya pak arfha, kebetulan pak arfha sedang tidak ada tamu, mari nyonya saya antar ke dalam,” ucap ardi.
“Baiklah, terimakasih,” ucap farida pada ardi.
Farida dan rania pun masuk ke dalam kantor arfha, “Halo sayang,”ucap farida begitu masuk ke ruangan arfha.
“Nenek,” ucap arfha yang terkejut melihat kedatangan tiba-tiba neneknya itu.
“Sayang, bagaimana kabar mu?, “
“Arfha baik nek,” jawab arfha
__ADS_1
“Ah iyah arfha ini nenek kenalkan kamu dengan rania, dia anak keluarga chandra,” ucap farida lagi.
“Hmm,” jawab arfha singkat tanpa mau berjabat tangan dengan rania. Rania pun membalas dengan tersenyum walaupun hatinya kesal, kenapa arfha sangat dingin sekali, padahal tadi dia sudah berdandan secantik mungkin.
“Ada apa nenek sampai mengunjungi arfha ke kantor ?,” tanya arfha tanpa basa-basi.
“Nenek Cuma mau ngingetin lusa hari ulang tahun nenek, kamu jangan lupa dateng yaa sayang,” ucap farida.
“Oh iyah, gadis didepan itu sekertaris kamu ?,” tanya farida.
“Iyah dia Haya sekertaris arfha,”
“Tumben kamu pakai sekertaris, biasanya gak mau pakai sekertaris bukan,”
“Bukan gak mau tapi arfha belum menemukan yang tepat ajah nek,” jawab arfha tegas, menandakan kalau haya lah orang yang tepat menjadi sekertarisnya.
Farida yang memang tidak terlalu dekat dengan arfha, tidak mau lagi memperpanjang masalah soal haya, farida datang hanya untuk mengenalkan rania pada arfha, tapi sikap dingin arfha membuat farida tidak bisa berbuat banyak.
“Yasudah nenek pulang dulu yaa arfha,” pamit farida.
“Iyah nek, biar arfha antar ke depan,”
Arfha pun mengantar farida dan rania keluar kantornya, haya dan ardi yang melihat arfha dan neneknya keluar pun langsung berdiri memberi salam.
Rania yang tidak suka dengan haya sengaja memperlihatkan kedekatan nya dengan farida di hadapan haya. “Sayang kami pergi dulu,” ucap farida lagi.
“Iyah hati-hati nek,” jawab arfha
“Sampai jumpa besok lusa di pesta nenek yaa arfha,” ucap rania sengaja agar haya mendengarnya.
Bukannya menjawab rania arfha malah salah fokus melihat haya yang kembali duduk dan sibuj dengan komputernya.
Rania pun mendengus kesal lalu mengikutj farida pergi.
Begitu nenek dan rania masuk lift arfha langsung mendekati haya, “Nanti temani aku yaa ke acara ulang tahun nenek,” bisik arfha
“Kenapa aku, bukannya tadi kamu sudah janjian dengan gadis tadi,” ucap haya.
“Enggak aku gak janjian ko, aku mau nya pergi sama kamu, kalau kamu gak ikut, aku gak akan datang,” ucap arfha lagi
“Mana boleh kamu gak dateng, nenek kamu sampai sengaja kesini buat ngingetin kamu, kamu malah gak akan dateng,”
“Makanya temenin aku yaa sayang,” ujar arfha dengan tatapan penuh harap dan memainkan blezer yang dipakai haya.
“Arfha,” seru haya lalu menepis tangan arfha di baju nya.
“Pokoknya kamu harus dateng, Ardi agendakan kedatanganku dan haya sebagai tugas kerja yaa,” ucap atfha pada ardi lalu dua pun masuk kembali ke kantornya.
“Baik pak,” jawab ardi
__ADS_1
Haya pun menatap arfha dengan kesal, karena haya tidak bisa lagi menolak kalau itu memang tugas kerja.